Liana adalah seorang gadis
yang terlahir
dari keluarga
sederhana, sehari-hari
ia bekerja sebagai karyawan
biasa di kantor tempat ia
bekerja.
suatu hari semua karyawan mendapat undangan untuk menghadiri acara pernikahan bos muda, tanpa terkecuali.
Liana adalah salah satu karyawan yang hadir di acara itu.
Diacara yang sangat mewah itu tiba-tiba
seorang laki-laki yang tidak Liana kenali secara tiba-tiba menariknya secara paksa, hingga tubuh Liana sedikit terseret. Liana yang sebenarnya bisa bela diri memilih untuk tidak melakukan perlawanan karena ia tidak ingin membuat keributan di acara penting bagi bosnya itu.
Liana dipaksa untuk menjadi pengganti pengantin wanita yang telah pergi melarikan diri.
Apakah Liana bersedia menjadi pengantin pengganti atau mungkin ia akan membuat keributan disana dan siapakah laki-laki misterius itu?
Terus ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lena Laiha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Setelah selesai makan malam Rendy mengajak Liana ke taman kecil yang ada dibelakang rumahnya untuk sekedar mencari angin.
Liana masih cemberut karena suaminya itu sering membuatnya kesal.
"Ogah," sautnya singkat.
Rendy tak menjawab ucapan istrinya, ia berjalan sendiri menuju taman kecil itu! malam ini cuacanya sangat cerah, rembulan malam menampakkan sinarnya dan bintang-bintang turut menghiasi langit malam ini.
Rendy duduk dengan menyandarkan tubuhnya dikursi yang ia duduki pandangannya mengarah ke langit malam yang kian terlihat indah dengan cahaya bulan dan kerlip bintang.
Liana berjalan santai menuju tempat dimana Rendy berada saat ini, dilihatnya sang suami sedang memandangi langit malam yang begitu indah dengan hiasan rembulan dan bintang-bintang.
Tanpa diminta, Liana duduk disebelah suaminya itu dan ikut memandang langit malam yang cerah.
"Pemandangan yang indah," lirih Liana.
Rendy tidak mengalihkan pandangannya dari langit malam yang cerah.
"Tadi kamu bilang gak mau nemenin aku? aku tidak memaksa kamu untuk duduk disini menemaniku. Kamu istirahat saja," ucap Rendy dengan nada lirih.
"Aku tidak merasa dipaksa. Aku duduk disini karena kemauanku sendiri, " ucap Liana, "kamu sering melihat bintang-bintang itu ya?" sambil Liana.
Liana terus berbicara tanpa menatap Rendy, ??pandangannya terus tertuju pada sang rembulan yang dikelilingi bintang-bintang yang kian menambah keindahan langit malam itu.
"Tidak. Aku akan melihat bintang hanya kalau aku sedang rindu pada Papa saja. Aku tahu Papaku juga sedang memandangiku dari atas sana," saut Rendy.
Rendy memang sudah ditinggalkan oleh Papanya sejak beberapa tahun lalu.
Liana menatap laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya itu dengan tatapan sendu.
Liana memang tidak pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Rendy, tapi ia tahu merindukan seseorang yang sudah pergi menghadap ilahi akan terasa lebih sakit dibandingkan dengan merindukan orang yang masih hidup. Seseorang yang sudah pergi untuk selamanya tidak mungkin kembali walau untuk sekedar melepas rindu berbeda dengan orang yang masih hidup, jika mereka merasa rindu mereka masih bisa bertemu kapan saja untuk sekedar melepas rindu.
Liana mengelus bahu sang suami, "sabar ya, Mas. Maaf jika pertanyaanku membuat kamu menjadi sedih," ucap Liana.
Rendy mengalihkan pandangannya, kini ia menatap netra sang istri, "kamu gak salah, gak usah minta maaf," ucap Rendy dengan senyum tipis di bibirnya.
Liana membalas senyuman sang suami, "aku yakin Papa pasti sudah bahagia disisi yang kuasa," ucap Liana.
Kini keduanya duduk bersebelahan seraya memandang langit malam yang begitu indah.
Ditempat lain.
Kendra baru pulang dari kantor, setelah seharian bekerja dan harus lembur juga kini Kendra sudah dalam perjalanan pulang. Ken yang selalu fokus saat sedang berkendara kini ia terusik saat melihat beberapa orang yang sedang kejar-kejaran.
Saat ini memang kondisi jalan sedang sepi. Awalnya Ken bersikap biasa saja seolah tidak melihat apa-apa tapi lama-kelamaan ia mendekati suara seorang wanita berteriak minta tolong.
Ken menghentikan laju mobilnya lalu segera turun dari mobilnya untuk memastikan bahwa tadi ia tidak salah dengar.
Ken mengedarkan pandangannya ke semua arah dan ia melihat bayangan orang-orang yang sedang mengerumuni sesuatu. Terdengar suara seorang wanita berteriak minta tolong dari arah bayangan itu.
Ken berlari menghampiri suara itu.
"Woi! lagi ngapain lu pada? lepaskan wanita itu!"
Dua orang yang sedang mencoba mengikat tangan dan kaki wanita itu terkejut kala melihat sosok Kendra.
"Jangan ikut campur urusan orang, mending lu pergi dari sini sebelum gue habisin lu," ucap salah satu dari laki-laki itu.
Ken tetap melangkah kakinya menuju dua orang itu. Akhirnya perkelahian pun tak bisa terelakkan, Ken memang tidak tahu apa masalah di antara mereka namun karena melihat seorang wanita yang sudah terikat kencang, ia menyimpulkan bahwa dua orang ini adalah orang jahat.
Ken terluka dibagian tangan karena terkena gurisan senjata tajam yang mereka bawa. Karena Ken sudah terlatih akhirnya ia bisa mengalahkan dua laki-laki itu.
Ken segera bergegas menuju wanita itu lalu membuka tali yang mengikat tangan dan kakinya! " mba gak papakan?" tanya Ken.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir.
"yasudah, mari saya antar pulang!" Ken mengulurkan tangannya kepada wanita yang tak dikenalnya itu.
Wanita yang masih duduk dengan tubuh gemetaran itu menggelengkan kepalanya lalu ia menyeret tubuhnya kebelakang menjauhi Kendra.
"Tidak ada jaminan kalau anda tidak akan melakukan hal yang sama seperti merek," lirih wanita itu.
"Saya tidak akan pernah menyakiti wanita," ucap Kendra mencoba meyakinkan wanita itu.
"Saya gak mau." wanita itu masih terlihat ketakutan, mungkin karena perbuatan dua laki-laki tadi yang hendak berbuat jahat kepadanya.
"Kalau gak gini aja deh, Mbak telpon keluarga atau siapa kek, suruh mereka datang kesini buat jemput Mbak. Sebelum mereka datang, saya akan tetap disini," ucap Kendra.
Wanita itu menundukkan kepalanya sebenarnya ia hidup sendiri disini sementara keluarganya tinggal di kampung halamannya.
Kendra berjongkok dihadapan wanita itu! "saya janji gak akan apa-apain kamu. Saya berani bersumpah demi apapun," ucap Ken sembari mengulurkan tangannya lagi.
Setelah lama mencoba membujuk wanita itu, akhirnya wanita itu bersedia diantar pulang oleh Kendra.
Ken mengajak wanita itu masuk ke mobilnya, setelah keduanya berada di dalam mobil Kendra segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Tak ada percakapan diantara keduanya, hanya ada keheningan didalam mobil yang dikendarai oleh Ken.
Dikediaman Rendy.
Malam kian larut namun Rendy masih asyik memandangi langit yang terlihat cerah sedangkan Liana sudah tertidur pulas kepalanya ia sandarkan dibahu Rendy.
Rendy melirik kearah Liana yang sudah tertidur pulas dibahunya, ia tidak tega jika harus membangunkan Liana akhirnya Rendy memangku Liana lalu mengantarkan istrinya ke kamarnya.
"Gadis aneh kadang galak kadang lembut. Aku jadi semakin tertarik padamu Li," ucap Rendy dalam hati sembari terus menaiki anak tangga.
Setelah tiba di kamar istrinya, Rendy membaringkan tubuh istrinya di ranjang lalu menutupinya dengan selimut.
Rendy segera meninggalkan Liana di kamar tersebut.
Rendy melangkahkan kakinya menuju kamarnya, ia juga merasa sudah mengantuk.
Rendy membaringkan tubuhnya di tempat tidur miliknya lalu segera pergi kealam mimpi.
Ditempat lain.
Kendra terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, "Rumahnya dimana, Mbak?" Tanya Ken kepada wanita yang baru ia tolong itu.
Setelah terdiam beberapa saat kini wanita itu mulai membuka suaranya, ia memberitahu kepada Ken dimana alamat rumahnya.
Ken melajukan mobilnya ke arah rumah wanita itu.
"Siapa mereka?" tanya Ken.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Saya tidak tahu. Yang saya tahu mereka ingin menculik saya, saya juga tidak tahu apa alasan mereka ingin menculik saya," jelas wanita itu kepada Ken.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya mobil yang dikendarai oleh Ken tiba didepan sebuah kontakan yang ukurannya sangat kecil.
"Mbak, tinggal disini?" tanya Ken.
"Ya," saut wanita itu singkat.
Setelah memastikan wanita itu baik-baik saja, Ken segera pergi melanjutkan perjalanan pulangnya.
Rekomendasi novel yang bagus untukmu.
Cinta saja tak pernah cukup, begitulah kata para pepatah. Binar dan Albiru tidak pernah menyangka ujian cinta mereka justru hadir setelah mereka menikah. Masalah bertubi-tubi menghampiri rumahtangga mereka. Ada mertua dan ipar binar yang terus mengganggu kenyamanan Binar. Belum lagi masalah orang ketiga yang selalu mencari celah untuk masuk di kehidupan mereka. Saat batas kesabaran Binar sudah diambang batas namun tidak ada satupun yang memihaknya. Lantas salahkah Binar bila ingin menyerah?
liana tidak merasa kedekatan dengan satya adalah kesalahan
*dari memilih bersama satya didepan suaminya
*pergi menemui dan makan berduaan dengan satya
*curhat pada lelaki lain
*tidak mengakui suaminya didepan pria lain
*meremehkan dan merendahkan suaminya didepan pria lain
jelas semua itu kesalahan besar tapi author tidak berani mengakui itu sebuah kesalahan
terpaksa menikah
menikah ny dgn siapa
sukses
semanagt
mksh