NovelToon NovelToon
KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU

Status: tamat
Genre:Horor / Sudah Terbit / Eksplorasi-misteri dan gaib / Misteri / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Junan

Juara Pertama "Lomba Menulis Novel Cerita Seram" yang diadakan oleh Noveltoon.

Mbah Arni dan suaminya bersahabat dengan seorang penari tradisional. Saat menginap di rumah Mbah Arni, penari itu tiba-tiba lenyap ditelan bumi.

Semenjak hilangnya penari itu, setiap malam Mbah Arni merasa ada yang berkelebatan di sekitar rumahnya. Terlebih, ketika suaminya sudah meninggal dan Mbah Arni tinggal sendirian, bayangan itu semakin intens mengganggu perempuan tua itu.

Apa yang terjadi dengan penari itu? Mengapa sahabat lain Mbah Arni yang bernama Lastri memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri?

Mengapa Imran dan Parto takut dengan Mbah Arni?


SEASON KEDUA

Imran yang baru masuk SMP bertemu dengan seorang gadis misterius yang hanya ia temui di hari pertama ia bersekolah.

Ke mana perginya gadis itu?

Mengapa nama gadis itu sama dengan nama teman kedua orang tuanya yang tewas kecelakaan puluhan tahun yang lalu?

Apa yang dilakukan ayah Imran dan teman-temannya ketika SMP?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Junan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 21 TEMAN KECIL

"Mengapa jam tangan ini bisa ada di tangan bapakmu, Nduk?" tanya Mbah Nur kepada ibuku.

"Saya tidak tahu, Pak Kyai. Yang saya tahu bapak sering termenung dan menangis sambil memandangi kotak coklat ini. Setiap saya tanya bapak tidak pernah menjawab." Tutur ibu.

"Kotak ini diserahkan kepada saya di saat bapak sakit keras sambil berpesan kepada saya untuk menyimpan kotak ini baik-baik dan membukanya pada saat yang tepat suatu hari nanti. Bapak juga sempat berkata Lastri-Lastri begitu tapi saya kurang paham apa maksudnya." Sambung ibu.

Beberapa menit kami semua terdiam berusaha mencerna cerita ibu.

"Bapakmu dan saya adalah sahabat baik mulai bujang, kemana-mana kami selalu berdua. Suatu hari kita berdua pergi ke kota bareng naik sepeda bajong milik bapakmu, kita berboncengan secara bergantian. Sesampai di kota bapakmu membelikan saya jam tangan ini. Ini jam tangan bekas sebenarnya makanya talinya yang harusnya logam diganti kulit oleh penjualnya. Mungkin karena tali aslinya rusak." Kata Mbah Nur kepada ibuku.

"Bapakmu membelikan saya jam tangan supaya tidak minder kalau saya mau melamar Lastri kata bapakmu. Waktu itu bapakmu saja yang tahu kalau saya suka sama Lastri." Cerita Mbah Nur kembali.

Kami kaget mendengar pengakuan Mbah Nur.

"Tapi ternyata Agus lebih berani melamar Lastri duluan, jadinya Agus yang menjadi suami Lastri. Mereka menikah ketika kamu ini masih bayi. Waktu itu saya agak shock tapi mau bagaimana lagi namanya juga bukan jodohnya. Lama saya patah hati sampai ketemu istri yang sekarang ini baru sakit hati saya bisa sembuh. " Lanjut Mbah Nur.

"Waktu kamu ini usia sekitar 6-7 tahunan, saya yang menyusul menikah. Waktu itu ibumu saja yang ikut rombongan mempelai pria soalnya bapakmu nggak tahan naik dokar. Agus juga ikut malah menjadi pendamping mempelai pria." Lanjut Mbah Nur lagi.

"Nah saat itulah Agus meminjam jam tangan pemberian bapakmu itu katanya dia kurang percaya diri kalau tidak memakai jam tangan. Agus memang necis orangnya, dia suka menggoda para gadis yang ia jumpai, termasuk si Cempaka itu yang juga akhirnya diperistri olehnya. " Sambung Mbah Nur.

"Saya tinggal selama satu bulan di rumah istri, ketika pulang ke kampung ini tau-tau Lastri sudah gantung diri. Bapakmu yang menemukan jenazahnya pertama kali, ibumu histeris waktu itu." Lanjut Mbah Nur sambil menghela nafas panjang.

Aku terhenyak mendengar penuturan jujur Mbah Nur.

"Berarti benar memang Agus yang membunuh Mbah Lastri. Di jam tangan itu ada noda seperti bercak darah, mungkin waktu dijerat lehernya dengan tali, Mbah Lastri sempat memberontak hingga jam tangan Agus tertarik olehnya. Noda darah di jam tangan itu mungkin berasal dari pergelangan Agus dan juga tangan Mbah Lastri." Kataku berapi-api.

Semua orang mendengarkan analisaku.

"Awalnya Agus tidak menyadari kalau jam tangannya terlepas makanya dia tidak sempat mengamankannya, mungkin ia baru menyadarinya setelah orang-orang menemukan mayat Mbah Lastri. Dan setelah menguping pembicaraan kita waktu itu maka ia semakin yakin bahwa jam tangan itu masih ada dan ia ingin memusnahkan satu-satunya bukti pembunuhannya itu." Kataku kembali.

"Tapi kenapa kakekmu tidak memberikan ke polisi sewaktu polisi memeriksa kasus bunuh dirinya Lastri?" tanya Mbah Nur kepadaku.

"Apakah almarhum kakek tahu kalau arloji Mbah Nur dipinjam Agus belum dikembalikan?"

"Tidak. Kakekmu tidak tahu itu. Kalau dia tahu pasti saya dimarahi."

"Nah. Mungkin kakek bingung mengapa ada arloji milik Mbah Nur di sekitar lokasi jenazah. Kakek mungkin takut Mbah Nur nanti ditahan polisi. Makanya kakek memilih menyimpan arloji itu. Kakek mungkin juga menunggu hasil analisa polisi tanpa arloji itu. Ketika polisi mengatakan Mbah Lastri bunuh diri, kakek tidak memberikan arloji itu ke polisi."

"Almarhum kakek sering menangis mungkin beliau juga sebenarnya ragu apakah Mbah Lastri mati bunuh diri atau dibunuh. Tapi untuk menyerahkan arloji itu ke polisi almarhum kakek takut Mbah Nur ditahan, tapi aku yakin almarhum kakek juga tidak yakin Mbah Nur tega membunuh Mbah Lastri."

Mbah Nur tampak sedih mendengar perkataanku.

"Ayo kita segera berangkat saja ke polsek, supaya segera mendapat jawaban pastinya." Kata Bapak.

Setelah menjemput Parto kamipun berangkat naik sepeda ontel ke Polsek. Jarak Polsek dari kampung kami sekitar lima kilo meter. Aku membonceng sama bapak sedangkan Parto membonceng sama Mbah Nur.

"Pegangan ke pinggang bapak biar tidak jatuh! Kakinya berpijak yang benar jangan sampai masuk ke ruji."

" Iya, Pak."

Sekitar satu jam melewati jalan berbatu-batu alias tol ngantol barulah kami sampai di jalan aspal. Lega rasanya sampai di jalan aspal karena bokong tadi sakit sekali gara-gara terpental ke kiri dan ke kanan selama perjalanan.

"Bannya kok kayak kempes yan Im? Coba kamu tengok!"

Aku menengok ke bawah.

"Wah iya, Pak. Bannya kempes. Ayo turun dulu saja biar tidak rusak ban luarnya."

Kamipun turun.

"Kenapa, Im?"

"Bannya kempes, Mbah."

"Wah itu ada pakunya nongol," kata Parto.

"Iya... Harus ditembel dulu nich. Dimana ya ada tukang tembel?"

"Itu di depan sepertinya ada gubuk. Mungkin itu tukang tembel ban."

Kamipun menuntun sepeda menuju gubuk itu dan benar saja ternyata memang tempat tembel ban. Syukurlah kami tidak perlu menuntun jauh-jauh.

Tukang tambalnya duduk membelakangi kami.

"Saya sama Parto menunggu di toko depan itu ya? Parto haus katanya."

"Iya sudah Pak Kyai nanti kalau sudah selesai kami langsung ke sana juga."

Bapak memarkirkan sepedanya di sebelah tukang tambal.

"Ini, ban belakangnya yang kecocok paku. Ban depannya sekalian ditambah angin saja sedikit."

Tukang tambal mengangguk.

"Pak, di belakang ada kamar mandinya? Saya numpang buang air ya?"

Tukang tambal ban menggerakkan tangan kanannya mempersilakan bapak. Bapakpun berjalan ke arah yang ditunjuk tukang tambal ban sambil mengucap kata terimakasih.

Tukang tambal ban mulai memegang sepeda bapak. Tangannya gempal sekali mungkin karena setiap hari sering digunakan bongkar pasang sepeda. Agak buluk iya namanya juga bersentuhan dengan sepeda pastinya sering terkena benda-benda yang kotor. Ada bekas luka di pergelangannya, mungkin luka karena terkena benda tajam saat bekerja. Tukang ban ini juga dari tadi tidak banyak bicara jadi aku yang sekarang sedang sendirian sungkan juga untuk mengajaknya berbicara

Tukang tambal langsung mengerjakan tugasnya menambal ban sepeda bapak. Ketika berusaha mencongkel ban dalam dengan alat pencongkel tiba-tiba alat pencongkel itu terlempar tepat di depanku. Aku mengambil alat pencongkel itu untuk diberikan kepada tukang tambal ban tersebut.

"Ini, Pak."

Tukang tambal ban diam.

"Ini, Pak"

Aku menjulurkan alat pencongkel itu lebih dekat lagi, tukang tambal menoleh ke arahku. Kali ini baru aku bisa melihat dengan jelas wajah tukang tambal ban itu di balik topi fedora yang ia gunakan. Aku terkesiap.

-Bersambung-

1
LyssLonely
uda baca 2020,sekarang balik lagi di tahun 2026
LyssLonely
uda baca 2020,kembali di tahun 2026
intan naysila
kesimpulanku :
pak rengga melecehkan mita karna minta cantik dan makaya ada cerita anak dilecehkan saat masuk ruang lab pak rengga, mita hamil dan pak rengga gak mau tanggung jawab makanya dia coba bunuh Mita dgn menabrak mita
Junan: baca sampai tamat kak
total 1 replies
Evellyn Decianaa
Udah baca pas 2020, 2024 sekarang baca lagi.. 😂😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣˢᵗᵃʳ💫ℛᵉˣ
padahal baca ini siang2, tapi ntah kenapa ada rasa takut membacanya.
baru beberapa chapter aja udah buat sakit jantung
Tantina Wyvaldia
gimana kalau p anton nikahi sepupunya parto?
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Tantina Wyvaldia
ceritanya terinspirasi "LIMA SEKAWAN", ya kak?
Tantina Wyvaldia
penuh kesenduan
Tantina Wyvaldia
get soul
Tantina Wyvaldia
astagfirullah
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Mini Upa
lumayqn bagus aku tungu dgn dgn kish selanjutx
Tantina Wyvaldia
kak author sukses bikin takut
Tantina Wyvaldia
semakin menarik dan pantas jadi yang terbaik, sayang, aku terlambat tahu cerita ini
van aridanaa
Kecewa
van aridanaa
Buruk
Fadlan
Luar biasa
cristian cris
kok aku yang patah hati ya gamonnya dari 2021 sampai 2024
Eka Pratiwi
sangat menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!