Dara adalah gadis cantik berusia 22 tahun. Dia harus terjebak dalam situasi yang sangat rumit di mana dia harus menghadapi dua pria yang sama-sama mencintainya. Yang satu sebagai tunangannya, sedangkan yang satu adalah adik dari tunangannya.
Dara selalu dihadapkan dalam sebuah situasi yang sulit dan rumit karena sang calon adik ipar begitu pemaksa dan suka mengambil keuntungan darinya. Namun siapa yang menduga jika akhirnya Dara malah terjebak dalam perasaan tak wajar itu.
Akankah dara bisa lepas dari jerat cinta calon adik iparnya, atau dia tetap menikahi calon tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessica_226, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koma
Ken hanya mampu terpaku sambil menatap ruang operasi yang tertutup rapat. Di dalam sana kekasihnya, gadis yang sangat dicintainya tengah bertaruh nyawa seorang diri. Tembakan yang bersarang di dadanya membuat Dara kehilangan banyak darah. Apalagi peluru itu nyaris menembus jantungnya.
Jia yang merasa tidak tega melihat keadaan Ken saat ini terlihat berdiri dan menghampiri putranya. Wanita itu menepuk pundak sang putra, membuat dia mau tidak mau menoleh padanya.
"Kuatkan hatimu, Nak. Kau harus kuat demi Dara. Jika kau lemah, bagaimana kau akan menghadapinya nanti?" Ucap Jia memberi nasehat.
Namun tidak ada jawaban sama sekali. Ken diam 1000 bahasa, dia bingung harus berkata apa. Otaknya kosong, pikirannya kacau sehingga Ken tidak bisa berpikir dengan jernih.
Menit demi menit berganti. Detik demi detik telah terlewati. 4 jam telah berlalu, namun masih belum ada satu pun dokter maupun perawat yang keluar dari ruang operasi sehingga tidak ada satu orang pun yang tau bagaimana keadaan Dara saat ini.
"Ini semua karena diriku. Jika saja Dara tidak menghadang peluru itu untukku. Pasti hal semacam ini tidak akan terjadi, dan dia baik-baik saja. Seharusnya aku yang melindunginya, bukan dia yang melindungiku." Ujar Ken lirih.
"Berhenti menyalahkan dirimu, Ken. Apa yang terjadi pada Dara bukanlah salahmu, tapi salah bajingan itu. Dia gila, dia psycho, dia yang menyebabkan Dara seperti ini." Sahut Devan menimpali.
"Dan aku tidak akan pernah mengampuni dia jika hal buruk sampai menimpa Dara!!" Kilatan kemarahan terlihat jelas pada sepasang biner Ken yang tajam dan penuh intimidasi, membuat Devan sedikit merinding melihat tatapan tajam mematikan tersebut.
Semua bungkam dan diam mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir Ken. Melihat dari apa yang dia katakan dan sorot matanya yang tajam. Membuat dua orang yang bersamanya hanya mampu terdiam.
Mereka tau jika Ken tidak main-main dengan kata-katanya, dan Jia tidak tau tindakan seperti apa yang akan Ken lakukan untuk membalas perbuatan Kai.
Pemuda itu kembali diam, dia terlihat seperti cetakan patung yang bahkan jika disentuh sedikit saja bisa retak. Devan mengurungkan niatnya untuk menghampiri pemuda itu dan terus mondar mandir di depan ruang operasi.
Selama menunggu di depan ruang operasi, kurang lebih enam kali Devan pergi ke serambi lalu menyulutkan rokoknya.
Kemudian dia menuju mesin penjual otomatis untuk mengambil 5 gelas kopi, lalu meminumnya. Dan puluhan kali ia duduk-bangkit lalu mondar-mandir di ruangan yang sempit itu.
Apa yang Devan lakukan sangat berbanding balik dengan apa yang Ken lakukan. Karena pemuda itu hanya terus diam sambil menatap kosong ke depan.
Cklek...
Tepat saat itu pintu ruang operasi terbuka, saat itu pula Ken bangkit dari kursinya. Seorang dokter keluar dari dalam sana seraya melepaskan maskernya. "Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Ken tanpa basa-basi.
"Kami berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di dadanya. Terjadi kebocoran pada jantungnya, beruntung kami masih bisa mengatasinya. Tapi keadaan pasien belum stabil. Dia belum melewati masa kritisnya, dan Nona Dara... Dia mengalami koma!!"
Jlederrr...
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Hati Ken, Devan dan Jia hancur berkeping-keping. Ken dan Devan terutama, rasanya mereka tidak percaya jika keadaan Dara ternyata seburuk itu.
Ken yang kehilangan kesabarannya tiba-tiba meninggalkan ruang operasi dan pergi begitu saja. Kedua tangannya terkepal kuat dan matanya berkilat tajam. Dia bersumpah akan menghabisi Kai. Ken tidak peduli meskipun nantinya dia akan menjadi seorang kriminal. Dan imbalan yang setimpal bagi Kai adalah kematian.
-
Kai duduk di lantai kamarnya sambil memeluk kedua lututnya. Tubuhnya gemetar hebat dan peluh terlihat mengalir dari pelipisnya, bukan karena sakit, tapi karena rasa takut yang hinggap di tubuhnya.
Tubuh Dara yang berlumur cairan merah dengan aroma besi berkarat yang begitu khas kembali memenuhi otak dan mata Kai. Pria itu mengangkat tangannya yang tampak gemetar, dengan tangannya itu dia menembak Dara.
Kai menggeleng. Berusaha menyakinkan pada dirinya sendiri jika Dara baik-baik saja. "Dia tidak akan mati, gadis itu tidak mungkin mati. Kai, kau bukan pembunuh, kau bukan pembunuh!!"
"Kau tidak membunuhnya, kau tidak membunuhnya. Itu bukan salahmu, tapi salah Ken. Dia yang menyebabkan Dara tertebak. Dialah yang bersalah."
Kai berusaha menyakinkan dirinya sendiri jika dia tidak bersalah, dan apa yang menimpa Dara bukanlah kesalahannya. Berkali-kali Kai melakukan perbuatan yang tidak pantas, seperti tidur dengan banyak wanita, tapi membunuh seseorang dengan tangannya, ini adalah pertama kalinya.
Dia merasa takut. Kai takut jika Dara sampai mati kemudian dirinya akan membusuk dipenjara. Kai menggeleng, dia tidak hal itu sampai terjadi, pemilik mata hitam itu tidak ingin sampai membusuk di dalam penjara.
"KAI!! KELUAR KAU BAJINGAN!!"
Kai terkesiap mendengar teriakan nyaring seseorang dari arah luar. Pria itu bangkit dari posisinya dan kemudian mengambil pistonya yang tergeletak di lantai untuk berjaga-jaga.
BRAKKK...
Dorr..
Dorr..
Pintu kamar Kai di dobrak dari luar. Ken yang dipenuhi amarah terlihat masuki ruangan sambil melepaskan dua tembakan pada paha Kai, dan membuat pria itu roboh seketika.
Ken langsung menerjang tubuh Kai lalu menghajarnya dengan brutal. Memukulinya hingga babak belur. Sedangkan Kai yang tidak mampu melawan hanya bisa pasrah dengan apa yang pemuda itu lakukan.
Jangankan untuk melawan. Untuk bergerak saja dia tidak mampu. Diam-diam Kai meraih vas bunga yang ada di samping kanannya lalu memecahkannya. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Kai menusuk bahu dan mata Ken dengan pecahan Vas itu.
Kai berencana untuk membutuhkan kedua mata Ken, tapi pecahan itu hanya melukai salah satu matanya. Darah segar seketika memenuhi sisi wajah Ken dan juga bahunya.
"Ka..Ka..I.. Kau memang pantas mati!!" Ucap Ken terbata-bata.
Ken menarik sebuah belati dari pinggangnya yang kemudian dia arahkan pada bagian sosis berurat milik Kai dan...
Craas...
"AARRRKKHHHH!!!"
Ken memotong sosis berurat milik pria itu. Membuat lolongan panjang keluar dari mulutnya. Darah segar menggenangi tubuh Kai yang tidak berdaya.
Dengan menahan sakit pada bahu dan mata kirinya, Ken berjalan meninggalkan kamar saudaranya tersebut.
Tidak ada penyesalan tersirat dari tatapan dan sorot mata Ken, meskipun dia telah melakukan hal dan tindakan yang sangat keji. Karena menurutnya Kai memang layak dan pantas mendapatkannya.
-
"Aaahhh, di mana ini?"
"Ken, kau sudah sadar?!" Seru Jia saat melihat pergerakan dari putranya.
Ken membuka matanya, namun hanya mata kanannya yang bisa melihat cahaya. Sedangkan mata kirinya hanya bisa melihat kegelapan. Mata itu berdenyut nyeri, begitu pula dengan bahu kanannya.
"Ma, ini ada di mana? Kenapa mataku yang sebelah tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan?" Tanya Ken sambil memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.
"Ken, mata kiri-mu mengalami kerusakan parah, dan Dokter terpaksa harus mengangkat bola matanya, guna menghindari hal yang tidak diinginkan. Karena gumpalan darah pada mata kananmu bisa memicu terjadinya kanker dan tumor." Tutur Jia.
Ken mencoba mengingat apa yang terjadi dan telah menimpa dirinya. Dan ingatannya membawanya kembali pada insiden yang terjadi malam itu.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri, Ma? Lalu bagaimana dengan bajingan itu. Dan Dara, apa dia baik-baik saja dan sudah melewati masa kritisnya?" Tanya Ken meminta penjelasan.
"Devan menemukanku tak sadarkan diri di depan kamar Kai dalam keadaan tak sadarkan diri dan berlumur darah. Dia juga menemukan pria itu yang tengah sek*rat dilamarnya. Dan kemudian Devan membawa kalian berdua ke rumah sakit."
"Kau tidak sadarkan diri selama 3 hari. Kai selamat, namun dia harus kehilangan kedua kakinya dan juga harta karun-nya. Bagian ujung sosisnya ikut diamputasi karena hampir patah. Sedangkan Dara... Dia masih koma!!"
"Apa? Jadi Dara benar-benar Koma?!" Ken menatap Jia tak percaya. Dan wanita itu mengangguk sebagai jawabannya.
"Dan hanya keajaiban saja yang bisa membawanya kembali!!"
-
Bersambung.