NovelToon NovelToon
Mencintai Sahabatku

Mencintai Sahabatku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Patahhati / Perjodohan / Nikahmuda / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:90.9k
Nilai: 5
Nama Author: yati ayung

Naima jatuh cinta kepada Vino, mereka tidak mengetahui bahwa mereka memiliki ayah yang sama. Naima lahir karna kekhilafan seorang tuan besar 19 tahun silam. sejak lahir Naima hanya tau bahwa ayahnya sudah meninggal.

Naima memiliki 2 sahabat bernama Ana dan Alan, namun sayangnya Ana harus pindah ke belanda mengikuti orang tuanya yang di pindah tugaskan. Alan menjadi satu-satunya sahabat yang selalu ada buat Naima.

peristiwa 19 tahun itu terungkap ketika Vino dan Naima mempertemukan kedua orang tua mereka.

Untuk memisahkan Vino dengan Naima, Lastri menikahkan Naima dengan Alan. Akankah Alan mampu mempertahankan pernikahannya yang tercipta tanpa cinta?

bagaimana kisahnya?
let's chek it out..! jangan lupa tinggalkan like and vote untuk karya pertamaku.. kritik dan saran dari kalian sangat penting untuk selalu memperbaiki karya ini.

selamat membaca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati ayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 Alan adalah jawaban

Sudah beberapa hari Naima tidak masuk kuliah, banyak materi kuliah yang tertinggal. Alan mencari-cari keberadaan Naima ke tempat kost, ke tempat kerja tapi Naima tidak ada. Alan juga sudah mencoba mengirim chat juga menelpon Naima namun tidak ada jawaban. Alan merasa khawatir kemudian dia mencoba untuk mencari Naima ke rumah ibu nya. Alan ingin memberikan materi kuliah yang tertinggal kepada Naima.

mobil di lajukan, macet, suara bising sudah menjadi makanan sehari-hari. dengan badan yang lelah, Alan sampai ke rumah ibu nya.

tok... tok.. tok..

"Assalamu'alaikum" dengan jaket jeans dan ransel Alan berdiri di depan pintu, berharap dengan sangat Naima baik-baik saja

"Wa'alaikum salam.." Lastri membuka pintu

"Alan.. Spa kabar nak? lama sekali enggak main kesini"

Alan mencium tangan Lastri dengan hormat dan Lastri mengusap punggungnya.

"Alan baik-baik bu, Alan jarang kesini karna sibuk kuliah, ibu apa kabar?"

"Ibu baik-baik saja nak, ayo silahkan masuk" Lastri mempersilahkan Alan masuk kemudian duduk

"Bu, apa beberapa hari ini Naima ada disini? sudah beberapa hari Naima nggak masuk kuliah. Alan ingin meminjamkan buku materi kuliah yang ketinggalan untuk Naima. sebentar lagi ujian, Alan khawatir Naima enggak bisa mengerjakan soal ujian kalau tidak mempelajari materi ini" Alan memegang sebuah buku hendak di berikan ke Naima

"Alan anak yang baik, perhatian. Alan pasti bisa membahagiakan Naima. ya Tuhan, apakah Alan adalah jawaban dari semua masalah ini, apakah Alan orang yang tepat untuk Naima?" dalam hati Lastri menerawang dengan pikirannya sendiri, hingga Alan membuyarkan lamunannya.

"Bu, ibu baik-baik aja?" Alan melambai-lambaikan tangannya di depan muka Lastri. hingga Lastri mengedipkan matanya.

"Oh iya, ada nak, Naima ada di kamar. Temuilah dia, hibur dia, dia butuh kamu Lan"

"Memangnya Naima kenapa bu?" Alan penasaran

"Dia hanya butuh teman untuk menghibur Lan, masuklah"

Alan pun bangkit dan masuk ke kamar Naima tanpa mengetuk pintu. Alan terenyuh melihat keadaan Naima, rambutnya lusuh, mukanya pucat juga terlihat kurus, Alan bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada diri Naima

"Naima, ini aku Alan" Alan mendekati perlahan Naima masih memejamkan matanya

"Nai, hey ini Alan Nai"

Alan mengusap kening Naima yang berkeringat juga dari rambut yang menutupi wajahnya. Perlahan Naima membuka matanya, bangun dari tidurnya kemudian langsung memeluk Alan

"Alan.. hiks hiks Alan!" Naima merengek tak ubahnya seorang gadis kecil

"Kamu kenapa hemm? kamu sakit?"

Alan mengusap-ngusap punggung Naima mencoba menenangkan sahabat yang di cintainya.

Lastri menyaksikan dari balik pintu kamar Naima, Lastri tersentuh dengan pembawaan Alan yang begitu tenang. Tak terasa air matanya mengalir, ada sedikit rasa lega di hatinya karna akhirnya Naima mau bicara walaupun bukan dengan dirinya. Lastri akhirnya meninggalkan kamar Naima, memberikan tempat dan waktu untuk Alan bisa menghibur Naima.

"Alan.. hiks hiks, aku benci sama ibu Lan... ibu enggak sayang lagi sama aku" Naima terus menangis di pelukan Alan.

"Hey,, Enggak boleh ngomong kayak gitu, ibu sangat sayang sama kamu Nai. Sebenarnya ada apa dengan kamu Nai, kenapa kamu jadi berantakan kayak gini sih" Alan mengurai pelukannya, memperlihatkan kondisi badan sahabatnya yang tak tertata rapih.

Dengan tenang akhirnya Alan berhasil membuat Naima menceritakan apa yang telah terjadi beberapa hari ini. Alan senang karna akhirnya Naima tak jadi menikah dengan Vino, tapi juga sedih melihat keadaan Naima yang berantakan. Bagi Alan melihat Naima bahagia adalah kebahagiaannya juga. Dengan lemah lembut Alan memberi pengertian ke Naima.

"mungkin ibu punya alasan yang kuat kenapa bisa melakukan ini Nai," Alan mengusap air mata di pipi Naima

"Ibu jahat Lan"

Naima menggenggam tangan Alan. Naima sedang patah hati, ini pertama baginya. Dia pertama kali jatuh cinta namun ibunya tak merestui hubungan keduanya. baginya ini sangat menyakitkan dimana ibunya selalu mendukung setiap apapun jalan yang di pilihnya, tapi kini bagi Naima ibunya telah berubah menjadi jahat.

"Enggak Nai, enggak ada satupun di dunia ini ibu yang jahat akan anak-anaknya.. Mungkin kamu belum mengerti, mungkin ibu punya alasan yang kuat. Kamu enggak boleh membenci ibu kayak gini. Ibu sangat menyayangi kamu Nai, percaya sama aku ya!"

Alan kembali melabuhkan kepala Naima ke pelukannya, dia merasa punya tanggung jawab untuk membahagiakan Naima.

"Kamu mandi ya, badan kamu bau banget" Alan mencoba menggoda Naima

"Aahh Alan menyebalkan" Naima memukul Alan dengan manja, beberapa tahun bersahabat membuat kedua nya tak sungkan satu sama lain.

"aAw.. oke oke,, aku minta maaf.. Kamu mandi ya, bersihin badan kamu, mana Naima aku yang cantik dulu? mandi ya, aku akan nunggu kamu di luar"

Alan berhasil membujuk Naima untuk mandi, dan dia keluar duduk di ruang tamu menemui ibu Naima

"Bu, apa benar apa yang Naima ceritakan ke saya?" Dengan ragu Alan bertanya kepada Lastri, dia khawatir di sebut lancang oleh Lastri

"Iya Lan, tapi ibu sulit memberi tahu alasannya. Suatu saat ibu akan ceritakan semuanya, tapi ibu butuh waktu" Mendengar jawaban Lastri, Alan tak berani bertanya lebih jauh, ia takut malah membuat Lastri marah.

"Lan, tinggal lah beberapa hari disini kalau kau tidak terganggu, Naima mau berbicara sama kamu. Dia belum mau bicara sama ibu, kasian dia sampai enggak mau makan. Ibu takut dia sakit. Ibu minta tolong sama kamu untuk menemaninya disini"

Lastri memegang bahu Alan meminta tolong untuk menghibur anaknya yang sedang patah hati.

"Iya bu, Dengan senang hati saya akan menemani Naima"

Alan bukan tipe lelaki yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan, dia menerima tawaran Bu Lastri karna kasihan kepada Naima. Sekaligus dia akan mengajarkan materi kuliah Naima yang ketinggalan beberapa hari ini.

Setelah beberapa saat untuk pertama kalinya setelah peristiwa lamaran yang gagal itu, Akhirnya Naima mau keluar dari kamarnya. Naima memakai baju piyama dengan melilitkan handuk di kepalanya karna basah. Wajahnya terlihat segar meski agak kurus karna beberapa hari ini Naima kurang makan. Melihat Naima keluar kamar, Lastri menutup mulutnya, ia terharu karna akhirnya Naima keluar. Kemudian Lastri memberi kode kepada Alan untuk menemuinya. Lastri belum berani mendekati Naima takut Naima malah makin marah padanya.

Alan berjalan mendekati Naima, membawanya ke bangku di halaman depan menghadap ke jalan. Naima kembali merasakan hangatnya sinar matahari.

"Kamu makan ya" Alan duduk di sebelah Naima, naima menggelengkan kepalanya. Dia belum berselera untuk makan.

"Kamu nggak boleh nolak, kamu harus makan.! sebentar aku ambilkan" Alan berlari ke dapur mengambil makanan, sementara Lastri hanya mengamati dari kejauhan. Alan kembali ke halaman dengan segelas Air putih dan sepiring makan.

"Sini aku suapin.. Aaaaa..." Alan menyodorkan makanan ke mulut Naima dengan sendok. Dengan ragu-ragu akhirnya Naima mau makan. Alan menyuapi Naima sampai makanannya habis. Lastri tersenyum melihat pemandangan manis itu. Lastri suka dengan cara Alan memperlakukan Naima.

Tak berselang lama Alan kembali masuk mengambil sisir. Dengan telaten Alan menyisir rambut Naima yang masih sedikit basah.

"Nah, kalau begini kamu terlihat cantik Nai" Alan memperlihatkan wajah Naima di cermin kecil yang di bawa nya.

"Terimakasih Alan.. kamu memang sahabat terbaik aku" Naima memeluk pinggang Alan yang berdiri di hadapannya. Alan mengelus rambutnya yang wangi

"Sama-sama Nai, kita masuk ya" mereka berdua pun masuk duduk di ruang tamu.

"Jangan sedih lagi ya" Alan menatap Naima dengan senyum penuh cinta walau Naima tidak pernah menyadarinya.

"Iya" Naima tersenyum dan mengangguk

1
Rajwa Alfiyah
Luar biasa
Arini Hidayati
semangat thor
Arini Hidayati
nela siapanya vino thor...
Author_Gesreck: kalo baca dari awal, pasti tau bun. Nela teman kuliah Vino yang naksir Vino
total 1 replies
Arini Hidayati
next thor
Arini Hidayati
lanjut thor
fbrn
Dito jangan sampe jahat
miss lie
🥰
miss lie
🥰🥰🥰
Arini Hidayati
lanjut thor
Author_Gesreck
makasih supportnya kaka
fbrn
lanjut kak penasaran banget semangat 🔥
Arini Hidayati
lanjut thor
Arini Hidayati
lanjut...
Arini Hidayati
next thor
Yuma Akane
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L
FB on???
Author_Gesreck: always on
total 1 replies
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L
🤣🤣🤣🤣🤣
pelukis_senja
sampai disini dl ya author cantik....tetap semangat menulisnya yaa....lope2 dah🥰
Author_Gesreck: thnkyou kakak... aku terhura udah di kunjungi
total 1 replies
pelukis_senja
sabar yaaa Alan😋
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L: kyk ga da cwe lain
total 1 replies
pelukis_senja
modus biar bisa cari kesempatan dalam dana umum ini mah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!