NOVEL INI AKAN MENUNJUKKAN SEBERAPA PENTING PERAN ISTRI DALAM HUBUNGAN RUMAH TANGGA.
Seorang lelaki bernama Gama, yang hatinya telah terluka, tidak percaya cinta dan hanya memiliki satu tujuan yaitu membalaskan dendam atas kematian tidak adil ibunya membawanya bertemu dengan seorang wanita muda yang ia nikahi untuk tujuan rencana pembalasan.
Pernikahannya dengan Rani yang awalnya hanya sebuah rencana untuk membuat nya menderita, memanfaatkan nya untuk menghancurkan musuh lambat laun berubah.
Siapa sangka pernikahannya membawa keduanya mengerti apa arti cinta dan saling memiliki, cinta dan kepercayaan yang telah lama hilang akhirnya kembali.
Tetapi rintangan mereka masih sangat berat dalam hubungan yang di awali dengan kesalahan.
.
.
Ikuti Instagram aku ya : @anak_kost_joy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anak Kost, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata masih perawan!
***
Padahal pertemuan antara Rani dan pria itu sangatlah singkat, tidak mungkin juga Rani sudah menghabiskan malam dengan pria itu.
"Jangan, aku mohon, aku masih perawan, tolong jangan di lanjut kan," Rani masih mencoba berontak dan memohon, dia sangat tidak nyaman saat Gama dengan mudahnya merobek pakaiannya, dan sudah menggerayangi tubuh polosnya yang basah itu.
"Jika kau masih berontak, aku akan menghabisi mu sampai kau mati lemas, aku akan membuktikan nya sendiri apakah kau masih perawan atau tidak!" decak Gama sembari meremas pipi Rani dan dengan begitu buas melahap bibir nya.
Seberapa keras pun Rani menangis, seberapa lama pun dia memohon, Gama seolah tidak peduli, Gama sekarang terlihat seperti binatang buas yang sudah kehilangan akalnya.
Saat Sampai penyatuan itu berhasil di lakukan, saat itu lah Gama sadar jika Rani memang masih perawan.
Gama langsung tersenyum dan semakin mempererat dekapannya. "Bagus, setidaknya kau tidak akan mati dalam waktu dekat, kau hanya akan menjadi wanita pemuas ku, selama nya kau hanya boleh berhubungan denganku! jika kau berani berselingkuh dariku, maka kau dan keluargamu akan menghadap neraka hari itu juga! apa kau mengerti!" bisik Gama sama sekali tidak berperasaan pada Rani.
Rani yang merasa kesakitan mengalami saat pertamanya, lagi-lagi hanya bisa menangis dan meremas kasur yang bisa ia jangkau dengan kuat.
Tanpa jeda, Gama menghabisi Rani dengan membabi-buta, dia sungguh memberikan pelajaran bagi Rani, entah pelajaran untuk hal apa, yang jelas Gama merasa jika Rani pantas mendapatkan hal ini.
"Aku akan melakukan ini sampai aku puas! kau harus membiasakan dirimu, dari waktu ini kau akan melayani ku seperti ini!" bisik Gama ditengah kegiatan panas yang ia lakukan, dia merasa ketagihan akan tubuh istrinya, dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini, seolah Gama tidak akan merasa puas bahkan setelah berkali-kali mengulangi nya.
Rani yang sudah kehilangan tenaga dan harga dirinya di hadapan Gama hanya terdiam lemas, dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman suaminya ini, Rani seperti di ikat dengan rantai dan tubuhnya di permalukan.
Rani merasa seperti sedang di perkosa, namun yang melakukan itu adalah suaminya sendiri, lalu kemanakah Rani bisa mengadu? siapa yang akan percaya jika Rani mengatakan dirinya di perkosa oleh suaminya sendiri.
Setelah kurang lebih dua jam berlalu...
"Sayang, aku puas, kau memang mainan yang hebat!" bisik Gama tersenyum kearah Rani yang hanya terdiam memandang lurus ke depan.
Tubuh Gama yang sudah di penuhi keringat, hasil dari tenaga yang ia kerahkan barusan, saat ini sudah menghentikan kegiatan panasnya, dia sudah berjalan dengan santainya hendak mandi.
"Tidak kusangka jika tubuhnya se-nikmat itu, sepertinya aku sudah tidak membutuhkan gadis yang lain lagi, hanya istriku saja sudah bisa membuat ku puas!" gumam Gama merendam dirinya sejenak di bathtub, meregang otot-otot nya yang kelelahan akibat olahraga panas yang sudah ia lakukan itu.
Berbeda dengan Gama, Rani yang seolah disamakan dengan wanita penghibur itu merasa begitu benci dan dendam pada Gama.
"Kau pasti akan mendapatkan balasannya, kau boleh memiliki tubuhku! tapi tidak dengan hatiku, aku sangat membencimu!" decak Rani meremas Selimut yang menyelimuti tubuh polosnya.
Sekarang dia begitu membenci laki-laki yang telah menjebak nya dan memberikan penderitaan padanya. Bukan saja secara mental tetapi sekarang dia bahkan dilecehkan secara fisik.
Ya, bagi Rani ini adalah sebuah bentuk pelecehan, walaupun Gama adalah suaminya namun Rani belum lah siap melakukan itu, juga hubungan itu tidak dilandasi oleh cinta, yang mana hanya berlandaskan nafsu.
.
.
.
.