Meidina Mayangsari tak menyangka akan terjebak dalam kehidupan Presdir yang begitu arogan, dia menjadi asisten pribadi.
di kelilingi oleh pria pria tampan, siapa yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya? nikmati ceritanya dan ingat ini novel 21++++
seoson 2
Samuel harus menerima kenyataan pahit karena kecelakaan yang di alami, tapi dia bersyukur wanita yang di cintainya tetap berada di sisinya.
akankah mereka bersama kita lanjutkan baca ceritanya cuzz.... tetap dengan21++
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lima tahun terlewati.
sudah lima tahun berlalu begitu saja, David sudah seperti orang yang sama. semua orang mengira jika pria itu sudah melupakan segalanya.
Bella sekarang adalah orang kepercayaan David selain asisten Ferdi dan juga pak Qin.
hari ini perusahaan milik Marwan mengalami masalah besar karena David.
pria itu mengambil semua investasi miliknya, karena David baru mengetahui jika Marwan bukan ayah kandungnya.
terlebih Marwan yang berulah dengan menduakan Vivi, tidak hanya sekali tapi berulang kali, dan David sudah tak tahan dengan semua itu.
"selamat pagi nyonya," sapa Bella sopan.
"berhenti memanggilku nyonya, panggil aku mama seperti David dan Ferdi," jawab mama Vivi tersenyum lembut.
"tidak perlu, dia tetap harus ingat batasannya," kata David yang turun dari lantai dua.
"apa? kamu berjanji akan mau menikah jika mama mengikuti keinginan mu, sekarang penuhi janji itu, dan segera menikah," kata mama Vivi kesal.
"aku belum menemukan calon yang pas," jawab David yang bergabung ke meja makan.
"kenapa binggung, ada Bella yang sudah lima tahun ini menemanimu, jadi kamu akan baik-baik saja, apalagi kalian sudah saling kenal," kata mama Vivi.
David menghentikan sarapannya, tiba-tiba ***** makannya hilang setelah mendengar perkataan mama Vivi.
"ini terakhir kali aku mendengar tentang usul itu, aku akan menikah dengan orang yang aku cintai tentunya, dan mama tak perlu khawatir tentang hal itu," jawab David yang meninggalkan rumah dengan kesal.
Bella pun ikut bergegas menghampiri David dan segera masuk mobil itu, mereka pun diam sepanjang perjalanan ke perusahaan.
saat sampai David langsung masuk ke ruangan miliknya dan mulai menyibukkan diri dengan tumpukan berkas.
sedang asisten Ferdi mengetahui apa yang terjadi dari raut wajah Bella yang baru datang.
sedang di sebuah rumah yang cukup mewah, seorang bocah sedang berlarian tanpa mau diam.
"Neji kemari, berhenti membuat mami pusing!" teriak Widya.
"tidak mau, selama mami tak menyuruh papi dan Daddy pulang, aku tak mau diam!" jawab bocah kecil itu.
"ya! Neji Andreas Carter, berhenti!" kesal Widya.
bocah itu malah meledeknya, bahkan Neji terus berlari menghindari kejaran dari Widya.
"Neji berhenti, karena mami sudah memerintahkan itu," kata Sam yang datang dengan buku di tangannya.
"ya kakak sakit, nanti aku aduin ke mommy ya," kata Neji sambil berteriak-teriak.
"ya Tuhan ku, dua bocah ini bisa membuat kepala ku pecah, Samuel. Neji bisakah sehari tak membuat masalah," kata Widya.
"maaf mami," jawab keduanya.
tak lama mobil yang menjemput Ron dan Arnold datang, Neji langsung berlari menghampiri keduanya.
Neji langsung memeluk Arnold, sedang Sam menyapa Ron, "bagaimana pelajaran mu nak?" tanya Ron dengan hangat dan mengendong bocah itu.
"semua baik Daddy, apalagi mami juga membantu, tapi bocah itu yang tidak bisa diam," tunjuk Sam pada Neji.
Ron pun tertawa melihat rumah yang dulu begitu sepi, kini telah begitu ramai berkat kehadiran dua bocah laki-laki ini.
"kenapa kalian hanya menyapa mereka, apa aku sudah terlupakan di rumah ini," kesal Widya.
"tentu tidak mungkin, kamu kan menantu kesayangan di rumah ini."
"itu benar Daddy, aku sudah merindukan mu sayang," kata Arnold mencium bibir Widya sekilas.
"hei kalian ingat. disini masih ada anak-anak, jangan melakukan hal menyebalkan seperti itu," maki Ron kesal.
"cie yang cemburu," kata Arnold menggoda Ron.
"kenapa harus cemburu, dia masih memiliki aku, benarkan Daddy?" suara seorang wanita yang datang dengan perut besarnya.
"hei hati-hati, sudah ku katakan jangan banyak bergerak," kata Ron menghampiri Mei.
"Kenapa? aku bosan di kurung seharian di kamar, dan putra mu ini bahkan tadi lupa apa yang aku suruh," kata Mei tertawa.
"maaf mommy, aku tadi lupa karena Neji yang terus berlarian," jawab Sam memohon.
"tentu sayang, dan mommy tak bisa marah padamu," kata Mei.
Ron pun mencium pipi Mei yang sudah sebulan ini dia tinggalkan untuk pekerjaan. Sam dan Neji sudah kedatangan guru private mereka.
Mei dan Ron sedang berada di kamar, Ron duduk di depan perut buncit Mei sambil mengusapnya pelan.
"apa dia menyusahkan mu?" tanya Ron dengan pelan.
"tidak, dia begitu tenang di dalam, tidak seperti hamil Samuel dulu," jawab Mei sambil tersenyum dan memegang tangan Ron.
"benarkah, aku masih memikirkan nama untuknya, jika Samuel Reagan Carter untuk putra pertama kita, apa perlu aku memberinya nama S juga?" tanya Ron.
"terserah Daddy saja, itu adalah pilihan Daddy," jawab Mei.
"bagaimana dengan Bentley Reagan Carter, kita bisa memanggilnya Ben," usul Ron.
"tunggu kenapa keluarga kita memiliki nama panggilan tiga huruf saja, apa ini sengaja?" tanya Mei.
"tentu, Karena itu mudah menyebutnya."
Ron pun memeluk Mei dengan hangat, dia tak mengira jika gadis yang dia selamatkan kini menjadi istrinya.
saat makan malam, semua berkumpul dengan hangat, Neji dan Sam juga makan sendiri.
bahkan di usianya yang mau menginjak Lima tahun, Sam bisa mandiri dan sudah memiliki kecerdasan yang begitu unggul.
sedang Neji yang berusia tiga tahun terus menjadikan Sam sebagai panutan untuk dirinya.
"Samuel, untuk ulang tahun mu, kamu ingin hadiah apa dari Daddy?" tanya Ron pada putranya itu.
"tidak ada Daddy, Ron hanya mau Daddy memiliki lebih banyak waktu untuk kami, terlebih mommy akan seger melahirkan," jawab bocah itu.
"memang kamu tak cemburu pada calon adikmu?" tanya Arnold penasaran.
"tentu tidak, aku tau jika Daddy dan mommy akan menyayangi kami dengan adil, benarkan Daddy?".
"tentu nak, kamu adalah putra terbaik kami, dan kamu adalah putra kebanggaan dari keluarga Reagan Carter," jawab Ron.
Arnold pun mengangguk, dia tak mengira jika Samuel bisa begitu dewasa di usianya.
"papi dan mami tak ingin memberikan aku adik seperti kakak Sam?" tanya Neji.
"maaf, pabrik sudah gulung tikar, jadi gak bisa bikin adik lagi," jawab Widya asal.
"Widya jangan mengunakan istilah aneh mu padanya, takut Neji salah menangkap maksud mu," kata Mei menginggatkan.
"habis mau bagaimana, punya suami terlalu sibuk dengan perusahaannya, hingga lupa pada istrinya ini," kesal Widya.
"baiklah Arnold, bawa istri mu untuk berlibur, Daddy mengizinkan mu memakai pulau pribadi milikku untuk liburan," kata Ron.
"kami mau ikut!" teriak Sam dan Neji senang.
"no. no. no. ini adalah liburan berdua untuk kami, jadi kalian harus di rumah bersama mommy dan Daddy," kata Arnold yang berhasil membuat dua bocah itu histeris.
"aku mau ikut pergi, Daddy kami mau liburan juga," kata Sam dan Neji.
"kita liburan ke Disneyland saja ya, karena Daddy masih sibuk dan tak bisa mengambil liburan," jawab Ron.
"ah tidak mau, kami ingin ke pulau itu lagi Daddy," kata Sam memohon.
"benarkah kalian mau meninggalkan mommy sendiri di rumah, kalian jahat sekali, padahal mommy tidak bisa bebas bergerak," kata Mei yang berdiri kemudian meninggalkan meja makan.
Sam dan Neji langsung diam, Samuel pun binggung tapi dia bergegas menghampiri Mei yang duduk di sofa ruang keluarga.
"mommy... maafkan Sam yang melupakan mommy, Sam janji akan menemani mommy, Sam gak akan minta liburan pada Daddy."
Neji pun turun dari kursinya dan ikut duduk di samping Mei, "Neji juga," kata bocah itu dengan lucunya.
"aduh kenapa sekarang aku yang merasa kehilangan putra-putraku ya," kata Widya sedih melihat itu.
pasalnya Sam dan Neji begitu menyayangi Mei, tapi Widya bersyukur bisa melihat tawa dari sahabatnya itu.
"terima kasih Daddy, sudah membawa kebahagiaan pada Mei dan Samuel," kata Widya.
"tidak Widya, aku yang beruntung memiliki mereka, tapi aku selalu memiliki ketakutan ku sendiri dari dulu," kata Ron dengan nada suara rendah.
Arnold tau ketakutan apa yang di rasakan oleh Ron, ketakutan akan ingatan Mei yang kembali.
mereka tentu harus siap dengan semua kemungkinan terburuk yang akan timbul saat Mei menginggat semuanya.
"ya Tuhan tolong biarkan aku melihat tawanya, jangan ambil semua ini dariku, dan bolehkan aku egois untuk satu ini, karena selama ini aku terus di permainkan oleh kehidupan ku," batin Ron melihat tawa Mei bersama Samuel dan Neji.
sukses.....semangat
mksh
sukses....semangat
mksh
biar kebuka kedok widya,,,
Dan mei bisa balikan dgn david
ron jg penjahat
orang baik mah harusnya gak nyulik kek gt, mey jelas punya keluarga malah diculik.
parah gilak
coba dia ga bawa pergi si mei, david jelas berubah baik kok.
maling treak maling ini mah namanya