NovelToon NovelToon
Melanggar Janji

Melanggar Janji

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:165k
Nilai: 5
Nama Author: black_smile

"Aku nggak akan jatuh cinta atau menikah lagi! Jadi aku akan selalu mengingatmu putriku, Khiana!" janji Kayla.

Kayla yang terpuruk karena kepergian putri kecilnya, Khiana Anindita, mengucapkan janji itu pada dirinya sendiri.

Akankah dia menjanda selama sisa hidupnya karena janji yang ia buat? Ataukah akan ada seseorang yang menggetarkan hatinya dan menggoyahkan keyakinannya hingga melanggar janjinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon black_smile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Tumbuh

Bulan dan bintang. Mereka telah menunjukkan eksistensinya di langit, malam telah tiba.

Malam ini, kedua putra Hendra dan Diana sedang berkumpul di rumah. Mereka semua sedang bercengkrama bersama di ruang keluarga selepas makan malam.

"Kinara seneng nggak hari ini?" Tanya Malik saat Kinara duduk dipangkuannya sambil memeluk boneka beruangnya dengan mata melihat tv layar datar dihadapannya.

"Iya Om. Tadi bisa main sama Om Malik sama Tante Kayla juga. Besok main lagi ya Om?" Sahut Kinara bahagia.

"Oke sayang. Tapi, besok kalau Om pulang lagi ya. Besok pagi Om harus kembali ke Surabaya." Jawab Malik sembari mencubit hidung mancung Kinara.

"Kamu udah balik ke Surabaya besok nak?" Tanya Diana.

"Iya Ma. Minggu depan Malik pulang lagi Ma." Sahut Malik sambil tersenyum.

"Ridwan, Malik!" Panggil Diana.

"Iya Ma," Jawab Ridwan dan Malik bersamaan. Mereka menoleh pada sang ibu.

"Kalian tertarik ya sama Kayla?" Tanya Diana langsung.

"Apa?" Tiga laki-laki di ruangan itu terkejut mendengar ucapan Diana.

"Kamu juga tertarik dengan Kayla Wan?" Tanya Hendra.

"Kak Ridwan juga suka sama Kayla?" Tanya Malik penuh selidik.

"Mama sama Papa bilang apa sih? Ridwan nggak mungkin suka sama Kayla. Ridwan kan udah janji sama Dewi Ma, Pa." Jelas Ridwan.

"Yakin kamu nggak suka sama Kayla?" Tanya Diana meyakinkan.

"Iya Ma. Malik nih yang jelas-jelas suka sama Kayla." Ucap Ridwan sambil menepuk bahu adiknya yang duduk tepat di sebelah kirinya.

"Mama nggak keberatan kalau kalian suka sama Kayla. Dia gadis yang baik. Hanya satu yang Mama minta, jangan sampai hanya karena Kayla, hubungan kalian jadi kurang baik. Itu aja pesan Mama." Ucap Diana lembut.

"Kan Ridwan udah bilang Ma, Ridwan nggak mungkin suka sama Kayla. Kayla biar buat Malik aja, ya nggak Lik?" Ridwan menyenggol lengan Malik.

"Yang kayak gini Ma, Pa. Nanti bakal jadi saingan berat Malik buat deketin Kayla." Sahut Malik ringan.

"Kamu ngomong apa sih Lik?" Gerutu Ridwan.

"Kita lihat aja Kak nanti, hhaha." Sahut Malik ringan.

Mereka terkejut dengan ucapan Malik. Hendra dan Diana sependapat dengan Malik. Mungkin nanti Ridwan adalah rintangan terberat Malik dalam memperjuangkan Kayla. Karena mereka dapat melihat, bagaimana cinta untuk Kayla mulai tumbuh di hati Ridwan. Dan Ridwan belum menyadari itu. Dia masih terpaku oleh janji pada dirinya sendiri setelah kepergian Dewi.

...****************...

"Kenapa aku jadi gugup ya kalau ketemu sama Pak Ridwan? Apa karena Kinara? Tapi apa hubungannya coba sama Kinara?" Kayla bergumam sendiri di dalam kamarnya sambil melepas lelah.

Kayla sedang di rumah sendiri malam ini, karena Dea sedang pergi dengan Doni. Ia cukup lelah setelah seharian bekerja, apalagi tadi sempat harus bermain dengan Kinara. Dan setelah pulang dari makan siang bersama Kinara, ia diberondong banyak pertanyaan oleh rekan kerjanya. Ia harus berfikir keras memikirkan jawaban agar rekan-rekannya tak salah faham.

Ah ya, siapa yang tahu garis takdir seseorang. Dea dan Doni telah mulai berpacaran ternyata sejak satu minggu yang lalu. Doni benar-benar serius menjalin hubungan dengan Dea. Begitu juga sebaliknya. Mereka sedang menikmati indah masa awal pacaran.

Kayla masih sibuk dengan fikirannya. Ia tak pernah merasakan ini sebelumnya. Ia berfikir, mungkin karena kedekatannya dengan Kinara. Kinara mengingatkannya pada Khiana. Dan itu cukup membuatnya kebingungan.

Bayangan Khiana sering muncul ketika Kayla sedang bersama Kinara. Kayla takut, jika nanti perlahan ia akan menganggap Kinara sebagai Khiana. Dan ia tak ingin menyakiti hati Kinara karena itu.

Kayla tak berani menceritakan masalahnya pada Dea. Karena sampai saat ini, Dea tak tahu jika Kayla adalah seorang janda yang telah memiliki seorang putri. Mereka tak pernah saling menunjukkan kartu tanda pengenal masing-masing. Dea sempat curiga dan bertanya banyak hal pada Kayla, tapi Kayla dapat menjawab dan menutupinya dengan sangat rapi.

"Aku harus menjauhi Kinara! Meski akan sulit karena statusku yang hanya karyawan biasa, tapi aku harus berusaha. Aku tak ingin menyakiti Kinara dan Khiana. Maafkan Bunda Khiana! Maafkan Tante Kinara!" Gumam Kayla lagi sembari memeluk ponselnya yang sedang terpampang foto Khiana kecil yang sedang terlelap.

...****************...

Pagi yang cerah. Secerah hati Kayla yang terasa bahagia. Ia tak tahu mengapa. Tapi hatinya merasa senang hari ini. Ia berangkat lebih pagi, karena giliran membereskan ruangan Ridwan.

Sudah dua minggu ini Ridwan tak pergi ke kantor. Ia harus menyelesaikan masalah di cabang perusahaannya yang ada di Korea dan Paris. Ia pergi seorang diri. Doni ia minta tetap di Indonesia untuk membantu Hendra mengurusi perusahaan selama ia pergi.

Malik pun juga sedang sibuk mengurusi proyek yang ia kerjakan di Surabaya. Ia bahkan juga belum sempat mengunjungi Kayla selama satu minggu terakhir. Malik dan Kayla sudah saling berkirim pesan sejak pertemuan mereka yang berakhir dengan makan siang bersama waktu itu, satu bulan yang lalu.

Kayla telah sampai di kantor dan langsung menuju ruangan Ridwan. Ia sedang membereskan berkas-berkas di meja Ridwan ketika ada seseorang masuk ke ruangan itu tiba-tiba. Pintunya tidak ia tutup. Kayla menoleh ke arah pintu, bersamaan dengan orang yang masuk ke ruangan. Mereka saling pandang.

"Kayla?"

"Pak Ridwan?"

Keduanya mengulas senyum indahnya masing-masing.

"Selamat pagi Pak." Sapa Kayla dengan senyumnya saat Ridwan berjalan ke arah mejanya

"Pagi Kay." Jawab Ridwan sambil membalas senyuman Kayla.

"Maaf Pak, ruangannya belum selesai saya bersihkan." Ucap Kayla.

"Tak apa. Lanjutkan saja!" Jawab Ridwan sambil melepas jasnya.

"Apa Bapak sedang sakit? Kenapa wajahnya pucat? Atau Bapak belum sarapan?"

"Saya baik-baik saja. Mungkin karena belum sarapan."

"Oh begitu. Mau saya belikan sarapan Pak?" Tawar Kayla.

"Tidak perlu. Tolong buatkan saya kopi saja! Tapi tolong rapikan dulu berkas-berkas ini!"

"Baik Pak! Tapi Pak Deri dan Bu Septi belum datang sepertinya Pak." Jawab Kayla dengan tangan dan mata yang sibuk menata berkas sesuai urutannya.

"Tak apa. Kopi buatanmu hari itu enak, saya suka." Jujur Ridwan.

"Oh, terima kasih Pak. Ini berkasnya Pak, sudah selesai." Ucap Kayla sambil meletakkan tumpukan berkas dihadapan Ridwan.

"Oh ya, terima kasih."

"Saya permisi Pak!" Ucap Kayla yang lalu berjalan kearah pintu dan keluar ruangan. Ia segera menuju pantry untuk membuatkan kopi untuk Ridwan. Ia mampir sebentar ke lokernya mengambil sesuatu.

Tak lama, Kayla telah kembali ke ruangan Ridwan dengan sebuah nampan berisi secangkir kopi dan sebuah kotak bekal. Ia meletakkan dua benda itu di meja Ridwan.

"Apa ini Kay?" Tanya Ridwan saat melihat sebuah kotak bekal berwarna hijau muda dihadapannya.

"Cheese cake Pak, tadi saya bawa dari rumah. Bapak belum sarapan bukan?" Ucap Kayla sembari mengulas senyumnya dan tangan yang sibuk membersihkan ruangan Ridwan.

"Kenapa kamu bawa kemari? Ini bekalmu."

"Saya bagi dengan Bapak. Bapak bisa memakannya untuk teman minum kopi. Bapak tidak alergi keju bukan?"

"Tidak, saya tidak alergi. Baiklah, terima kasih. Kalau begitu, mari makan bersama! Kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu nanti."

"Saya sudah makan tadi di rumah Pak. Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dulu. Bapak silahkan menikmati kopi dan kuenya." Ucap Kayla tulus.

"Baiklah, terima kasih Kay."

"Iya Pak, sama-sama."

Ridwan mulai menyicipi kopi buatan Kayla. Ia mulai menyiapkan laptopnya dan mengambil berkas-berkasnya.

"Bagaimana hubunganmu dengan Malik?" Tanya Ridwan sembari menunggu laptopnya menyala.

"Iya Pak, maaf. Maksud Bapak bagaimana ya?" Tanya Kayla kebingungan sembari menatap Ridwan penuh tanya.

"Ah sudahlah, maaf menanyakan itu. Tolong lupakan pertanyaanku."

"Oh, baik Pak." Kayla pun kembali melakukan tugasnya.

"Apa ini kamu yang menata Kay?" Tanya Ridwan saat melihat beberapa berkas yang tertata rapi dengan urutan yang sesuai.

"Iya Pak. Apa ada yang salah?" Tanya Kayla polos.

"Kamu bekerja dimana sebelum ini?"

"Di sebuah warung lesehan Pak. Apa ada yang salah?" Jujur Kayla.

"Berkasmu sangat rapi dan terurut. Bahkan kamu menatanya sangat cepat. Siapa yang mengajarimu?"

"Astaghfirullah. Aku kebawa kebiasaan waktu kerja di hotel. Duh, gimana ini?" Kayla bergumam panik dalam hatinya.

"Dulu saya pernah bekerja dirumah pemilik perusahaan Pak. Saya sering diminta membantunya menata berkas-berkasnya. Dan beliau mengajari saya cara menata berkas secara rapi dan berurutan." Bohong Kayla sedikit gugup.

"Begitu rupanya." Ridwan akhirnya sibuk dengan pekerjaannya.

Kayla pun segera menyelesaikan pekerjaannya di ruangan Ridwan. Setelah selesai, Kayla segera melanjutkan pekerjaannya yang lain dan meninggalkan Ridwan dengan segudang pekerjaannya. Perusahaannya sedang mengalami masalah, ia harus bekerja lebih keras untuk menyelesaikannya.

...****************...

"Astaghfirullah De, ponselku ketinggalan di loker." Ucap Kayla saat ia sampai dirumah dan mencari keberadaan ponselnya di tas.

"Astaghfirullah Kay, ini sudah sampai rumah Kay. Kamu mau balik lagi?" Sahut Dea penuh tanya.

Dea dan Kayla baru saja sampai di rumah sepulang kerja. Dan hari pun sudah mulai gelap. Adzan maghrib juga telah berkumandang.

"Lha gimana De? Ibuku tadi udah janji mau telfon nanti malam." Keluh Kayla.

"Yaudah, istirahat dulu. Mandi dulu, nanti aku temenin balik ke kantor. Sekalian sholat dulu." Saran Dea.

"Iya De, yuk!" Kayla menyetujui saran Dea.

Kayla dan Dea pun lantas bergantian mandi. Lalu melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim. Selepas sholat, Kayla telah siap untuk kembali ke kantor. Kayla sudah siap dengan tas kecil yang ia gendong di punggungnya.

"Aku sendiri aja De, kamu istirahat aja! Kasihan kamu kalau harus balik kantor. Aku yang ceroboh." Ucap Kayla jujur. Ia tak enak hati karena akan merepotkan Dea.

"Yakin?"

"Iya De. Sebentar doang juga. Aku berangkat ya! Assalamu'alaikum." Pamit Kayla sembari berjalan keluar rumah.

"Eh Kay, wa'alaikumussalam. Main pergi aja itu orang." Gerutu Dea saat melihat Kayla keluar rumah.

Setelah sampai, Kayla bertemu dengan satpam kantor yang sedang bekerja.

"Neng Kayla? Ngapain neng malem-malem ke kantor?" Tanya Udin, satpam paruh baya yang perutnya sedikit tambun.

"Ponsel saya ketinggalan Pak, di loker." Jujur Kayla.

"Perlu saya temani Neng?" Tanya Hardi perhatian. Satpam lain yang memang masih muda, dan memang tertarik pada Kayla.

"Nggak usah Pak Hardi, saya berani kok." Tolak Kayla halus.

"Yakin neng?" Tanya Udin lagi.

"Iya Pak Udin. Saya duluan ya!" Pamit Kayla sambil berjalan meninggalkan pos satpam. Dua satpam itu hanya mengangguk dan melihat Kayla memasuki kantor.

Kayla segera pergi ke lokernya. "Oh iya, kotak bekalku juga masih di ruangan Pak Ridwan. Aku ambil sekalian deh!"

Kayla pun segera menuju lantai teratas untuk mengambil kotak bekalnya. Beberapa lampu kantor sudah dipadamkan, tapi lampu ruangan Ridwan masih menyala.

"Apa Pak Ridwan belum pulang?" Gumam Kayla sembari berjalan menyusuri lorong yang tak begitu terang.

Tok, tok, tok. Kayla mengetuk pintu ruangan Ridwan. Beberapa kali ia mengetuk tapi tak ada jawaban. Kayla akhirnya membuka pintunya perlahan.

"Permisi Pak!" Ucap Kayla perlahan sambil memutar gagang pintu.

"Astaghfirullah Pak Ridwan!" Kayla berteriak panik.

Kayla segera berlari memasuki ruangan Ridwan dan menghampiri Ridwan yang sudah tergeletak di tengah ruangan. Ridwan jatuh pingsan di ruangannya sendiri. Doni sang asisten sedang pergi ke Bandung sejak pagi untuk mengecek kantor cabangnya yang sedang mengalami masalah perizinan untuk pembukaan kantor baru.

Kayla membalikkan tubuh Ridwan lalu menepuk-nepuk pelan pipi Ridwan. Ia berusaha menyadarkan Ridwan.

"Pak, Pak, Pak Ridwan, bangun Pak! Pak Ridwan." Ucap Kayla penuh kepanikan. Tapi tak ada respon dari Ridwan sama sekali.

1
Herma Wati
walah kambuh dah sakit jiwanya Kayla
Herma Wati
salah Kayla sendiri lah itu nggak nurut nasehat suaminya
Herma Wati
kasihan Ridwan punya istri sakit jiwa
Herma Wati
ceritanya bikin mumet
FARRA Agnia Rafifa
sebeluumnya kan ditulis kayla kuliah ,kenapa sekarang jadi lulusan sma saja
yosh—
good girl.
yosh—
/Doge//Doge/
yosh—
yess, jogja selalu istimewa, meski ane bukan orang jogja.
Atoen Bumz Bums
keyla walaupun ayah angkat tp tetep bukan muhrim selalu z pelukan

sebel lm2 sm keyla
uda diperjuangin pn gak mau
Atoen Bumz Bums
terkadang kenapa pd lebay semua
pakek2 sujud segala
sujud itu cm utk allah
gak jmpa hari ini kn msi ada hri esok
Linda Napitu
makanya jgn bandel udah dibilang ga usah ikut ngeyel sebel
Linda Napitu
ga suka lihat kayla bandel.ngeyel ga mau nurut sama suami
Linda Napitu
kayla lebay terlalu mengandalkan gemgsi ntar kl ridwan udh sama yg lain nyesal
hana faqih
makanya kay jgn nemplok sana sini jd fitnah kan
hana faqih
thor blm halal ko main sosor aja.....kayla kan sosok muslimah yg taat puasa sunahnya aja ga ketinggalan.....
list_tyo: godaan syaithonnya terlalu kuat kak 😅
total 1 replies
hana faqih
oooh ternyata istrinya richard nessa
hana faqih
kualat km kayla
hana faqih
mampir lg setelah rahman dan nurul
list_tyo: mkasih kak 🙏😍
total 1 replies
Lilis Lestari
buat lg novel yg bagus Thor.
list_tyo: in shaa Allah kak 😊
makasih kak dukungannya 🙏😘
total 1 replies
SamandTi Mom
semoga hamil anak kembar 😀 semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!