NovelToon NovelToon
Seducing My CEO

Seducing My CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:96.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yuna.L

Berlatar belakang Korea!

Cerita ini sangat berbelit-belit dan bertele-tele. Jadi, yang ga sabaran mohon jangan membaca cerita ini!

Tidak semua novel sesuai dengan kriteriamu. Jadi harap bijak dalam menyikapi! Sebaiknya kalau merasa tidak cocok langsung pindah saja ke novel lain. Jangan membaca kalau hanya ingin menghujat!!

Terima kasih.


Menceritakan kisah Sena yang merayu CEO selama 90 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuna.L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

"Apa kau bilang? Sena diculik?" tanya Juhan, nada bicaranya kedengaran sangat serius.

"Benar. Kedua pria itu menaiki mobil elantra berwarna hitam. Aku sempat memotret mobil itu," ucap Bora seraya menunjukkan sebuah foto hasil potretnya. Di foto itu terlihat jelas, jenis mobil beserta plat nomornya. Juhan dan Sijin meneliti foto tersebut, di mana semuanya terlihat dengan detail.

Hayoon mendengar ucapan Bora dengan ekspresi tidak khawatir. Dia mengerling, lalu membatin senang.

Bagus, ada orang yang menculik Sena. Sepertinya aku harus mencari tahu siapa penculik itu, supaya aku bisa bekerja sama dengannya. Semoga saja wanita murahan itu diculik selamanya dan tidak kembali lagi ke sini, batinnya.

Sementara Sijin langsung menghubungi pihak kepolisian untuk melacak keberadaan mobil itu. Pasalnya, di setiap jalan di korea selalu terpasang sensor dan cctv sehingga pihak kepolisian bisa melacak setiap mobil yang melintasi jalan.

Setelah mendapat info dari kepolisian, Sijin langsung mendekati Juhan yang sedang terdiam.

"Juhan, aku sudah menghubungi polisi katanya mobil elantra dengan plat nomor itu telah melewati kota dan sekarang sedang menuju ke arah perbatasan Uijeongbu," ujar Sijin setelah berhasil mendapatkan informasi.

"Aku akan menyusulnya," balas Juhan, lalu berlari keluar.

"Juhan, aku ikut denganmu," seru Sijin, namun tidak dihiraukan oleh Juhan.

Dengan cepat, Juhan keluar meninggalkan pesta tersebut dengan buru-buru. Tentu saja, dia ingin segera menyelamatkan Sena yang saat ini berada di tangan penculik. Juhan bergegas secepat mungkin memasuki mobilnya. Pria tampan itu langsung membanting setir dan dengan kecepatan penuh dia melajukan mobilnya menuju perbatasan Uijeongbu.

Empat puluh menit berlalu, kini Juhan sudah berada di perbatasan. Namun jalanan itu terlihat sepi dan pedesaan. Juhan memukul setir mobilnya dengan kesal. Sepertinya dia telah kehilangan arah untuk menemukan mobil penculik itu.

Dertt.. Dertt..

Tiba-tiba panggilan masuk berbunyi di ponselnya. Tak butuh waktu lama, Juhan lantas menggeser tombol hijau di ponselnya.

"Halo, Sijin. Aku sudah sampai di perbatasan tetapi aku tidak menemukan mobil itu."

"Barusan polisi menghubungiku, mobil itu menghilang di jalan menuju area pergudangan Uijeongbu. Dan sepertinya lokasi itu tidak jauh dari perbatasan."

"Okay, aku akan mencarinya." Juhan langsung mematikan telepon. Ia menjalankan mobilnya kembali mencari lokasi tersebut.

...***...

Sena saat ini tengah berada di sebuah ruangan bersama dengan 2 pria tak dikenal. Pria berkacamata hitam dan pria berambut merah jabrik. Kedua pria itu mengacuhkan Sena. Mereka mengeluarkan sebatang rokok, lalu mengisapnya perlahan.

"Siapa kalian? Apa maksud kalian membawaku kemari?" tanya Sena kencang.

"Tidak usah banyak omong! Tunggu saja di sini sampai bos kami datang menjemputmu," jawab pria berambut merah, terdengar galak.

Sena menarik napas, mengumpulkan semua keberaniannya untuk bertanya sekali lagi.

"Siapa bos kalian? Kenapa dia ingin menculikku?"

"DIAM! Jangan banyak tanya atau aku habisi kau sekarang juga!" bentak pria berkacamata hitam kencang, lalu dia kembali mengisap rokoknya.

Sena merasa ketakutan dan tidak bisa apa-apa. Badannya bergetar. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

Ya, Tuhan. Apakah aku bisa keluar dari sini? Tolong aku, batin Sena sedih.

Di tengah kebingungannya, Sena hanya bisa duduk menekuk lutut dan memeluk tubuhnya sendiri. Dengan hati gelisah, Sena mulai berpikir.. ini terlalu sedih. Sedih untuk diratapi.

...***...

Sementara itu, Bora dan Hyemi masih berada di tempat pesta dengan perasaan khawatir.

"Aku sudah mencoba menelepon Sena, tapi ponselnya tidak aktif," ucap Hyemi, sembari menggelengkan kepala pasrah.

"Semoga Sena baik-baik saja selama berada di tangan penculik itu," sahut Bora dengan penuh kekhawatiran.

Ketika Bora dan Hyemi berbincang, tiba-tiba Hayoon datang dan tertawa puas. Seperti biasa, wanita itu paling ahli kalau membuat keributan.

"Aku ikut senang karena Sena diculik. Aku doakan semoga dia betah bersama sang penculik di sana," ucap Hayoon sinis, membuat Hyemi memanas.

"Berengsek kau!" Hyemi mencoba mendekati Hayoon untuk memberinya pelajaran, tetapi Bora mencegahnya.

"Nona Hayoon, tolong jangan bicara yang memancing emosi. Sena adalah teman kita dan tolong doakan yang baik supaya dia bisa kembali dengan selamat," ujar Bora, membuat Hayoon tidak senang.

"Kalian berdua sama saja dengan Sena. Dasar murahan," tukas Hayoon, lalu dia pergi meninggalkan mereka berdua.

...***...

Pukul 23.07 malam. Juhan kini sampai di kompleks pergudangan di Uijeongbu. Lokasi itu cukup jauh dari Seoul. Juhan melihat area sekitar dan nyaris tak menemukan rumah penduduk maupun orang beraktivitas di sana.

Jantung Juhan serasa berhenti. Setelah cukup lama ia berputar-putar mengelilingi kompleks itu, dia masih tak melihat mobil penculik tersebut. Bahkan tak ada satu pun orang yang bisa ditanyai di sana. Sepi dan kosong. Benar-benar seperti kompleks mati yang tak berpenghuni.

Ketika Juhan mengelilingi kompleks itu sekali lagi, matanya tak sengaja melihat sebuah mobil hitam terparkir di bawah pohon besar dan gelap, hampir tak terlihat. Juhan mendadak menghentikan mobilnya. Ia keluar dari mobil, lalu berjalan mendekati mobil itu dengan tatapan penasaran.

Jika dilihat dari bentuk dan warna mobilnya, besar kemungkinan mobil itu adalah mobil si penculik. Namun, Juhan ingin lebih memastikannya dengan berjalan mendekat dan melihat plat nomor mobil itu yang ditutupi oleh kayu balok. Juhan mengulurkan tangan dan menyingkirkan kayu itu perlahan. Matanya dibuat terkejut untuk yang kedua kalinya saat mengetahui plat nomor mobil itu ternyata sama dengan foto mobil yang ada di ponsel Bora.

Namun, Juhan masih kesulitan menemukan lokasi di mana penculik itu membawa Sena pergi.

"Mobil penculik ada di sini. Pasti mereka membawa Sena ke tempat yang tidak jauh dari sini," gumam Juhan yakin.

Dertt... Dertt...!!

Ponselnya kembali bergetar. Panggilan masuk dari Sijin muncul untuk yang kedua kalinya.

"Halo," jawab Juhan, setelah mengangkat telepon tersebut.

"Juhan, aku sudah meminta polisi Seoul untuk membantumu. Mereka sekarang sedang menuju ke sana."

"Saat ini aku sedang berada di kompleks pergudangan. Aku sudah menemukan mobil penculik itu. Sepertinya mereka berada tidak jauh dari sini."

"Jangan gegabah. Kau tidak boleh masuk ke dalam gudang itu sendirian. Tunggu sampai polisi datang. Apa kau mengerti ?"

"Maaf, sepertinya aku tidak suka menunggu. Terima kasih atas bantuannya," ucap Juhan seraya mematikan telepon secara sepihak. Sesudah itu, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.

Tanpa keraguan, Juhan mulai melangkahkan kakinya menuju bangunan yang terletak di samping mobil elantra itu diparkir. Di sana tiba-tiba ada sesuatu yang membuatnya membelalakkan mata. Di bangunan tersebut, ia melihat dua orang pria tengah mengisap rokok sambil bercakap-cakap. Sangat mencurigakan.

Mobil elantra dan dua orang laki-laki. Semua ini sama dengan yang Bora katakan, batin Juhan curiga.

Seolah dari kejauhan, Juhan bisa mendengar suara kedua pria itu. Juhan buru-buru bersembunyi mencari tempat untuk menguping pembicaraan mereka.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita berjaga di sini atau pergi meninggalkan wanita itu?" tanya pria berambut merah.

"Kita harus tetap berjaga di sini sampai bos datang," jawab pria berkacamata seraya mengisap rokoknya.

"Oke," sahut pria berambut merah lagi.

Kedua pria itu tidak mengetahui kalau Juhan tengah mengawasi mereka. Tapi sialnya, Juhan tak sengaja menginjak sesuatu di tempat itu sehingga menimbulkan kecurigaan dari kedua pria tersebut.

Krak ! bunyi sesuatu yang terinjak.

"Suara apa itu?" Sontak pria rambut merah terkejut dan langsung melihat ke arah tempat Juhan bersembunyi.

Kedua pria itu melotot mendengar suara tersebut. Mereka mengerutkan dahi, karena merasa ada orang lain yang ikut berada di sana.

"Siapa di situ? Jika memang ada orang di sana cepatlah keluar!" Seru pria berkacamata dengan suara kencang dan kasar.

Tak lama, Juhan keluar dari tempat persembuyiannya dan menampakkan diri. Kedua pria itu pun langsung terkesiap melihatnya.

"Siapa kau?" tanya pria rambut merah. Emosinya mulai tidak terkontrol.

"Aku kemari untuk mencari seorang wanita. Serahkan wanita yang bernama Sena itu padaku," ucap Juhan seraya menatap kedua pria itu serius.

Kedua pria itu saling menatap satu sama lain.

Pria berambut merah menyeringai. "Cih ! Memangnya kau siapa beraninya datang kemari. Kami tidak akan menyerahkan wanita itu," ucapnya angkuh.

"Benar. Tentu saja kami tidak akan menyerahkan wanita itu padamu," tambah pria berkacamata bersikukuh.

Hmm, aku harus mencari cara lain, batin Juhan. Ia memang tahu kalau saat ini sulit baginya untuk menyelamatkan Sena seorang diri. Namun itu tidak membuatnya mundur.

Tiba-tiba, terlintas ide di dalam pikirannya.

"Kalau begitu tangkap aku. Jika kalian tidak menyerahkan wanita itu kepadaku maka tangkaplah aku," ucap Juhan, membuat kedua pria itu mengernyit bingung.

"Apa maksudmu?" tanya salah satu pria tersebut.

"Tangkap aku seperti kalian menangkap Sena. Aku tidak akan melawan," jawab Juhan tanpa rasa takut sedikit pun.

Kedua pria itu tampak saling menatap dan berbisik. "Apa yang akan kita lakukan pada laki-laki ini?"

"Tidak ada pilihan lain. Kita harus menangkapnya karena dia sudah tahu rahasia kita. Ayo tangkap dia, jangan biarkan dia pergi!" ujar pria berkacamata. Pria berambut merah pun mengangguk.

Kemudian, kedua pria itu mencekal tangan Juhan dan membawanya masuk ke dalam gudang.

Entah apa yang ada di pikiran Juhan saat itu sampai dia ikut menyerahkan dirinya kepada penculik.

...***...

Sena yang sendirian di ruangan gelap, tiba-tiba mendengar suara dari luar. Ia menatap ke arah pintu dengan wajah gelisah. Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka. Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan dan setelah itu pintu tertutup kembali.

"Siapa di sana?" tanya Sena, mencoba membulatkan matanya. Ia memperhatikan sekitar dengan bulu kuduk merinding. Namun tidak ada jawaban sedikit pun dari orang itu.

Rasanya Sena ingin menjerit ketika mendengar langkah kaki orang tersebut mendekat. Jujur, ini memang menakutkan. Karena dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang tersebut.

Orang itu mencondongkan tubuh semakin dekat, dan Sena langsung bisa mengenalinya dengan cukup baik.

"CEO PARK JUHAN."

Cahaya ponsel orang itu mengarah menerangi keduanya. Benar, pria itu adalah Juhan. Sena dapat melihatnya dengan jelas.

"CEO Park Juhan?" ucapnya terkejut.

Sena langsung memeluk Juhan. Mengeratkan pelukannya ke tubuh pria itu seraya menitikkan air mata. Sejujurnya, ia tak menyangka kalau Juhan akan datang ke tempat itu bersamanya. Apakah ini mimpi? Apakah ini semacam halusinasi? Namun ini terasa nyata untuk disebut sebagai khayalan belaka. Sena saat ini bisa merasakan ketenangan saat memeluk pria dia hadapannya. Wajah Sena berbinar. Rasanya benar-benar menenangkan.

Setelah dua kali menarik napas untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang, Sena pun melepaskan pelukannya dari Juhan perlahan.

Mata Juhan memandang Sena dari atas ke bawah. Memastikan kalau wanita itu baik-baik saja.

"Bajumu kotor. Kau tidak apa-apa?" tanya Juhan, ketika melihat baju Sena yang hitam karena terkena tanah dan debu.

"Aku tidak apa-apa. By the way, mengapa kau bisa masuk ke sini?" tanya Sena heran.

"Aku sengaja menyerahkan diri kepada mereka," jawabnya tenang.

Sena pun membulatkan matanya. "Apa? Apa kau sudah gila? Kenapa kau menyerahkan diri kepada mereka? Kau benar-benar bodoh!"

"Diam. Itu tidak penting. Saat ini yang harus kita pikirkan adalah keluar dari sini."

"Tapi, bagaimana bisa kita keluar dari sini?" tanya Sena, tak yakin.

"Sepertinya kedua penculik itu hanyalah orang suruhan dan tidak begitu pandai dalam hal menculik. Buktinya, mereka langsung menangkapku tanpa menggeledahku lebih dulu. Tenang saja, aku akan mencari jalan keluar," ucap Juhan, sambil meraih tangan Sena dan menariknya lembut. Lalu, Sena meremas tangan Juhan untuk memberikan dukungan.

Beberapa menit kemudian, Juhan memberanikan diri membawa Sena berjalan mendekati pintu. Dalam diam, pria tampan itu berhenti di balik pintu sembari mengetuknya pelan.

"Buka pintunya. Ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Juhan yang telah merencanakan sesuatu.

"Katakan saja dari situ!" teriak salah satu laki-laki dari luar.

"Wanita di sini pingsan. Bisakah kalian membuka pintunya?" pancing Juhan.

Tak lama setelah itu, pintu pun terbuka. Sepertinya penculik itu tak cukup pintar sehingga mudah dibohongi. Seorang pria berambut merah lantas masuk ke dalam ruangan.

Bugh !

Satu tinjuan melayang, membuat pria rambut merah itu terhuyung dan bibirnya mengeluarkan darah segar.

"Brengsek!" sergah pria itu, setelah menerima sebuah pukulan dari Juhan. Pria berambut merah itu hendak membalasnya, tetapi pukulan bertubi-tubi langsung Juhan berikan kepadanya. Sampai akhirnya pria itu tak mampu melawan. Pria itu berusaha berdiri dengan kekuatan yang masih tersisa dari dirinya, tapi tak bisa. Dia kembali terjatuh.

Melihat pria itu sudah tak berdaya, Juhan dengan cepat membawa Sena keluar dari ruangan tersebut. Tapi.. tidak semudah itu. Sesampainya di luar, laki-laki berkacamata hitam muncul, pria itu berdiri menghadang mereka sembari membawa pisau tajam di tangannya.

"Mau lari ke mana kalian? Jangan harap kalian berdua bisa pergi dari sini!" bentaknya kasar, dengan emosi yang nyaris meledak.

Juhan menyipitkan mata. Ia mengulurkan tangannya untuk mendorong Sena ke belakang, menyembunyikannya di balik tubuhnya yang tegap.

"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Katakan, siapa bos kalian?" tanya Juhan.

"Kau tidak perlu tahu. Cepat serahkan wanita itu kalau tidak aku akan membunuhmu!" ancam pria itu kepada Juhan. Membuat Sena mengatup mulutnya karena khawatir dan takut.

"Aku tidak akan menyerahkan dia. Jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku kalau kau bisa," ucap Juhan dengan penuh keberanian.

"CEO Park, apa yang kau katakan. Orang itu bisa saja membunuhmu!" bisik Sena dengan penuh kekhawatiran. Namun Juhan tidak menghiraukannya.

"Baik. Akan aku turuti keinginanmu!" jawab laki-laki itu mulai mendekati Juhan. Ketika pria itu hendak mengayunkan pisaunya ke tubuh Juhan, tiba-tiba terdengar sirine polisi datang mendekat.

Laki-laki berkacamata itu langsung kelabakan. Dia melangkah mundur, lalu pergi melarikan diri.

Tiga mobil polisi tiba. Enam orang polisi dari mobil tersebut keluar, lalu berlari mendekati Juhan dan Sena. "Kalian tidak apa-apa?" tanya salah satu dari polisi.

"Kami tidak apa-apa. Penculik itu sepertinya telah kabur," ujar Juhan. Dalam pikirannya saat ini, dia sudah tahu siapa dalang dari semua ini.

Polisi itu mengangguk, dan beberapa polisi lain masuk ke dalam gudang, menggeledah seisi bangunan itu.

"Syukurlah kalian tidak apa-apa. Setelah mendapat laporan dari tuan Park Sijin, kami langsung ke sini. Maaf bila kami terlambat," ucap polisi seraya menatap Juhan dan Sena.

"Tidak. Justru karena kedatangan anda kami bisa selamat malam ini," balas Juhan sopan, membuat polisi itu mengangguk tersenyum.

"Baiklah, karena tidak ada keperluan lagi kami mau pamit lebih dulu." Juhan berpamitan seraya membungkukkan badan.

"Tunggu, kami butuh kesaksian anda dalam kasus ini. Bisakah kalian ikut bersama kami?" tanya polisi tersebut.

Juhan memberikan kartu namanya kepada polisi itu. "Anda bisa datang ke kantorku kapan saja. Maaf, kami lelah hari ini sehingga tidak bisa ikut dengan anda," jawabnya menolak.

Polisi itu mengangguk. "Baiklah."

"Kami permisi," pamit Juhan.

"Silakan. Hati-hati di jalan. Jika ada sesuatu mohon segera menghubungi kami," peringat polisi tersebut.

...***...

Sekarang, keduanya telah sampai di depan mobil Juhan diparkir. Namun, Sena tetap saja diam di depan mobil dan tidak bergerak.

Juhan membuka pintu mobil seraya menatap Sena. "Apa yang kau tunggu? Cepat masuk," titahnya dengan menggerakkan dagunya.

Dengan wajah cemberut, Sena berjalan menghampiri Juhan lalu memukul dada padat pria itu beberapa kali.

"Bodoh. Bodoh. Bodoh! Kau benar-benar laki-laki paling bodoh. Kenapa kau tadi melakukan hal yang membahayakan dirimu? Jika mereka benar-benar membunuhmu bagaimana? Kau telah membuat jantungku naik turun karena kelakuanmu yang bodoh!" ucap Sena panjang lebar. Sena terus mengoceh kesal meskipun dia tahu kalau Juhan tidak akan menanggapinya.

"Cepat masuk ke dalam mobil. Jika kau tidak cepat masuk, penculik itu bisa saja datang lagi dan menculikmu untuk kedua kalinya," kata Juhan tegas, membuat Sena patuh dalam sekejap.

Sena menurut. Dengan cepat, dia segera masuk ke dalam mobil.

Di dalam perjalanan, keduanya terdiam. Juhan melirik jam tangannya yang saat ini sudah menunjukkan pukul 02.10 dini hari.

Sedangkan Sena terus memperhatikan Juhan yang sedang menyetir.

"Aku mengucapkan terima kasih karena kau telah menyelamatkanku hari ini. Seandainya kau tidak ada, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku," ucap Sena dengan ketulusannya.

"Tidak masalah. Kau sudah biasa menyusahkanku," balas Juhan santai, membuat Sena melotot kesal.

"CEO Park, kenapa kata-katamu selalu tidak enak didengar? Andai kau tahu, aku sendiri juga tidak ingin diculik seperti ini. Lagi pula, aku juga tidak menyuruhmu untuk menolongku," jelas Sena dengan nada sedikit emosi.

Juhan tersenyum, lalu menjawab. "Diamlah karena sebentar lagi kita akan sampai."

"Kita akan sampai?" tanya Sena seraya melihat ke luar dari jendela mobil.

Tidak, ini bukanlah kota Seoul. Tapi bagaimana bisa Juhan mengatakan kalau sebentar lagi akan sampai? Apa pria itu sudah mabuk? Entahlah siapa yang benar.

...***...

Menit demi menit telah berlalu. Mereka kini tiba di depan hotel di pinggir jalan. Lalu, Juhan memarkirkan mobilnya di depan hotel tersebut.

"Turun," titah Juhan, membuat Sena bingung tak mengerti.

"CEO Park, kenapa turun di sini? Anyway, kita mau ke mana?" tanya Sena ragu.

Juhan berpaling menghadap Sena, tubuhnya sedikit bergeser mendekatinya.

"Kita menginap di hotel. Kita akan tidur bersama malam ini," ucap Juhan, sambil mengulurkan tangan. Menyentuh bibir seksi Sena dengan ibu jarinya.

1
Dyass Stia Clalu
👍👍👍
Sindy Bandari
lanjut🤭🥰🤗
Nurkhakimah
ceritanya bertelele banget sih....sena terlalu bar bar dan ceroboh
WILANA
semoga sena tidak apa² dan bisa bersatu lagi dgn juhan.
WILANA
lanjut thor terima kasih
WILANA
aduh thor buat patah semangat...udah lama di tunggu² kok sedikit kali.please up lagi dong thor.sena bertahanlah juhan kekasihku akan datang menyelamatkan mu.semoga sena tidak apa² y .
WILANA
please thor cepat dong up nya.,.terima kasih
WILANA
hhmm...nunggu lagi.,I miss you..😔
WILANA
please lanjut lah thor,..
WILANA
kok belum up juga thor...berharap juh an dn sena bersatu lagi...pasti so sweet deh membayangkannya.,😍
Diana Ana
ceritanya berbelat belit 😂🤣😂🤣😂
WILANA
lanjut thor...
WILANA
mudah²an juhan gak jadi tunangan..dn dewi keberuntungan berpihak sm sena...sabar sena,jodoh gak kan kemana💕
WILANA
I love sena and juh an .,..💕
WILANA
lanjut thor...semangat,semoga cepat up nya..💪
WILANA
jgn lama² y thor..perpisahan sena dn hujan..baru lagi jadian udh berpisah...💔😭
WILANA
aduh thor...deq² kan membacanya...dan tak sabar membacanya lagi...lanjut thor.,cepat up nya y....😊
RisaRis27670746
juhan kok gsk jelas gitu sih...kan ikut esmosi
WILANA
maaf y thor ...mo nanya,apa udh gak up lagi...
Yuna.L: Up kak tapi slow ya. Karena saya sudah kembali sibuk pindahan keluar negeri. Saya membuat novel ini hanya untuk mengisi waktu kosong saja selama di rumah. Semoga saya bisa menyelesaikan cerita ini dengan lebih cepat ya. Terima kasih sudah mau mampir di novel aku.
total 1 replies
RisaRis27670746
mestinya juhan cerita lah masalahnya biar tdk salah paham lagi dg sena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!