Rio adalah siswa berbakat yang belajar di Akademi Guardian yang bertujuan melawan serangan Alien. Semenjak kotanya dihancurkan ia berusaha merebutnya kembali, bersama rekan-rekannya mereka menemukan fakta tersembunyi yang tidak banyak diketahui orang lain. Soal seseorang dari luar angkasa termasuk planet yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 : Kompetisi Dimulai
Selama pelajaran aku terus menuliskan apapun yang dituliskan Bu Liliana di papan tulis, itu menyangkut beberapa taktik pertarungan yang kebanyakan digunakan militer kami.
Lawan kita adalah monster mereka lebih brutal dari apapun, aku menuliskan sampai ke bagian terkecil papan tulis hingga tanpa terasa bel pun berbunyi. Selama pelajaran adalah hari damaiku, dari sekarang akan menjadi hari merepotkan, ketika Isabel mendekat ke arahku pintu kelas terbuka menampilkan gadis dengan katana di pinggangnya, walau dia membawanya aku tidak pernah melihatnya menggunakannya terhadap orang lain mungkin dia sedang menunggu waktu yang tepat.
Selain disibukkan tentang kompetisi yang akan digelar aku juga disibukkan dengan kelakuan dua orang ini, beberapa bulan ini aku memang sulit mendapat ketenangan.
Jika itu di asramaku Isabel akan berkunjung setiap harinya untuk mengajakku bermain permainan video game sementara di akademi Stella akan muncul dengan beberapa hal yang ia keluhkan.
Hanya satu yang membuat mereka memiliki persamaan yaitu keduanya tidak memiliki teman.
Nakamura dan Clarisa yang tidak ingin terlibat masalah telah pergi dari awal, mereka cukup pintar.
"Sekarang aku perlu Rio untuk mengantarku berbelanja di kota," ucap Isabel.
"Rio akan pergi bersamaku hari ini."
Seperti itulah.
Mari abaikan keseharianku yang seperti itu, besok adalah kompetisi pertarungan Guardian dilaksanakan, dibanding mengikuti permintaan egois mereka akhirnya aku mengunjungi bengkel setelah itu kembali ke asrama untuk berisitirahat, dan keesokan paginya sekitar 10 Guardian termasuk punyaku serta Stella ikut dalam barisan.
Ini adalah sebuah stadion bola yang luas yang sudah tidak digunakan lagi dan sedikit di ubah mirip seperti Colosseum, orang-orang tampak bersorak meriah dari tempat mereka duduk sementara peserta kompetisi memberi salam.
Semua guru dari akademi semuanya hadir termasuk Pak Cinta yang menjadi pemimpin acara ini.
"Setiap orang ambil satu."
Kami sedang memutuskan nomor peserta dimana setiap pengendali diperbolehkan mengambil bola dari kotak hitam yang sudah diberi nomor, kebetulan aku mendapatkan nomor satu dan Stella nomor terakhir dengan begitu lawanku adalah orang yang mendapatkan nomor dua, yaitu seorang pria dengan rambut ikal yang bergelombang, dia berada di kelas dua.
Pak Cinta meminta semua orang yang tidak bertanding menyaksikan dari pinggir lapangan sementara aku dan si nomor dua masuk ke arena.
Guardianku berbentuk belalang sembah jadi semua orang begitu heran melihatnya, beberapa dari mereka ada yang menertawainya juga, akan tetapi aku tidak peduli.
Si nomor dua berkata dari balik Guardiannya.
"Maaf saja, rongsokan seperti itu akan aku hancurkan dengan cepat."
"Aku juga ingin berkata hal sama padamu."
"Sialan mentang-mentang hanya kau saja kelas satu yang diperbolehkan ikut.. jangan besar kepala."
Pak Cinta menembakan peluru mirip kembang api ke udara yang mana menjadi aba-aba pertandingan di mulai, nomor dua mengangkat pedangnya di tangan kanan sementara tangan kiri adalah sebuah perisai, sementara Guardianku hanya memiliki sabit di tangannya.
Nomor dua mulai berputar-putar mengelilingiku mencari celah dari titik buta, sayangnya dia tidak tahu bahwa kepala Guardianku bisa berputar 360 derajat.
"Benda apa itu?" karena frustasi si nomor dua menyerangku dengan ayunan pedang, aku menahannya dengan satu tangan sedangkan tangan lain menyerangnya.
Sabit itu menghantam perisainya menghasilkan dentuman yang sangat keras, tak tinggal diam nomor dua terus memberikan serangan pedang terbaiknya, aku melebarkan kedua sabit itu seolah sedang menyambut seseorang, saat nomor dua mendekat, kedua sabit itu menarik dirinya layaknya sebuah gunting hingga Guardian miliknya terbelah dua bagian.
Tentu saja pengendalinya tidak terkena seranganku dan dia baik-baik saja.
"Pemenangnya Rio," teriak Pak Cinta yang mana membuat semua penonton yang sempat terdiam kembali bergemuruh.
like diri sendiri ✔️
😂😂
cepet banget perasaan baru baca sejam
catet²