Alesia terkejut saat tiba tiba Leon suaminya tidak lagi mengenalinya. Leon juga bersikap dingin dan tidak lagi mengenakan cincin pernikahan mereka.
Beberapa pertanyaan memenuhi otak alesia.
“Kenapa? Bagaimana mungkin? Dan apa yang terjadi?”
Apakah ujian itu mampu membuat cinta alesia dan leon semakin kuat atau bahkan pada akhirnya hancur berlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuket mawar merah part 2
Pingkan mengeryit ketika mendapati sebuket bunga mawar merah di meja bulat di dapur. Merasa penasaran pingkan pun meraih buket mawar merah itu.
“Bunga siapa ini?”
Pingkan menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencari siapa yang menaruh bunga tersebut.
“Non..”
Pingkan memutar tubuhnya. Tanganya memegang buket bunga milik leon yang akan di berikan pada alesia nanti.
“Ini bunga kamu?” Tanya pingkan pada satpam yang baru keluar dari kamar mandi.
Satpam itu tampak kebingungan. Bibirnya bergetar tidak tau harus menjawab apa. Jika dirinya menjawab seperti apa yang di suruh leon, santi pasti akan marah padanya. Karna satpam itu yakin pingkan pasti akan memberitahu pada santi nantinya.
“Itu.. Itu..”
Pingkan semakin penasaran. Pingkan tau harga sebuket mawar merah yang di pegangnya tidak murah. Sangat tidak mungkin jika satpam di rumah leon mau menghamburkan uangnya yang hanya sedikit untuk membeli bunga di tanganya.
“Saya yakin ini bukan punya kamu.” Sela pingkan sombong.
Satpam itu menelan ludahnya. Leon pasti akan memarahinya jika dirinya jujur dan mengatakan milik siapa sebenarnya bunga itu.
“Ya non. Itu memang bukan punya saya. Itu...”
Ucapan satpam itu terjeda.
“Maaf non, itu punya saya. Tadi suami saya kesini dan nitipin bunganya sama pak satpam. kebetulan juga saya lagi ada kerjaan di atas nyonya jadi nggak bisa turun menemui suami saya.”
Pingkan menoleh dan mengeryit menatap inah yang muncul dari arah depan.
“Memangnya apa profesi suami kamu? Bunga ini mahal loh.”
Asisten rumah tangga yang hampir sebaya dengan santi itu mulai kebingungan. Sebenarnya dia tau bahwa bunga itu milik tuanya karna saat leon meminta tolong pada pak satpam, dirinya sedang membuang sampah dan tidak sengaja mendengar percakapan leon dan satpam tersebut.
“Suami saya...”
“Ada apa ini?”
Inah menghela nafas lega. Pingkan pasti akan berhenti mengintrogasinya jika ada santi.
“Eh tante. Nggak tante, nggak ada apa apa.” Senyum pingkan langsung meletakan sebuket bunga mawar merah di tanganya di tempatnya semula.
Santi mengeryit. Tatapanya tertuju pada sebuket bunga mawar yang ada di meja bulat di depan pingkan. Tidak mau ambil pusing santi pun berlalu yang langsung di ikuti oleh pingkan di belakangnya.
“Huft.. Untung kamu dateng inah. Makasih yah..” Senyum satpam itu bernafas lega.
“Iya sama sama.” Jawab inah kemudian berjalan menuju cucian piring karna kebetulan piring bekas makan siang belum dia cuci.
“Ya sudah kalau begitu inah. Saya ke depan lagi. Terimakasih sekali lagi.”
Satpam itu berlalu lewat pintu belakang untuk kembali berjaga di posnya.
Sementara di lantai 2 leon memasuki kamarnya. Leon bersyukur karna saat masuk ke dalam rumah tidak ada pingkan maupun santi disana sehingga leon bisa langsung naik ke lantai 2 untuk menemui istrinya.
Leon tersenyum ketika mendapati istrinya yang terlelap di atas ranjang dengan posisi terlentang. Alesia tertidur dengan terus memeluk perutnya yang masih rata.
Leon menghela nafas pelan. Pria itu meletakan tas kerjanya di atas meja kecil yang ada di samping ranjang kemudian mendekat pada alesia yang sedang terlelap.
Leon mendekatkan wajahnya. Leon tau banyak pria di luar sana yang tergila gila pada istrinya. Karna selain cantik, alesia juga sosok yang mandiri dan tangguh.
“Maaf..”
“Maaf untuk apa?”
Kedua mata leon terbelalak mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir istrinya. Leon tidak menyangka jika ternyata alesia tidak benar benar tertidur.
Ya tuhan.. Hampir saja.
Ketika leon hendak menjauhkan wajahnya alesia langsung mengalungkan kedua tanganya dan menarik leon sehingga leon tidak bisa menjauh.
“Alesia..”
“Aku istrimu kak..” Sela alesia lirih.
Leon terdiam. Leon juga sebenarnya tidak ingin berpura pura. Tapi leon harus melakukanya. Demi hubungan baik alesia dan tantenya.
“Aku kangen kamu yang dulu.. Aku kangen kamu yang selalu manjain aku. Dan aku juga kangen pelukan hangat kamu.”
Leon menelan ludahnya. Apa yang di katakan alesia sudah mewakili apa yang leon rasakan. Leon juga ingin seperti dulu, merajut kisah manis meskipun memang selalu di selingi perdebatan kecil antara dirinya dan alesia.
“Kak.. Apa kamu nggak bisa sedikit saja mengingat tentang aku? Apa kamu nggak bisa mengingat tentang kisah cinta kita?”
Rasa bersalah mulai kembali merayapi hati leon. Berbohong juga tidak menguntungkan untuk leon. Karna selain leon harus pandai membatasi diri, leon juga harus bisa berpura pura tidak perduli jika alesia melakukan sesuatu.
“Maaf.. Tapi aku rasa memang aku mencintai kamu alesia.” Balas leon menatap tepat pada kedua mata indah alesia.
Alesia tersenyum. Wanita itu hanya diam saat berlahan leon mendekatkan wajahnya. Alesia tidak akan menolak meskipun leon belum mengingatnya. Toh meskipun tidak mengingatnya leon sadar dirinya mempunyai cinta untuk alesia.
Tok tok tok
3 Kali suara ketukan pintu membuat leon langsung menolehkan kepalanya. Kedua tanganya yang berada di sisi kanan dan kiri kepala alesia mengepal. Padahal sedikit lagi leon berhasil menyentuh istrinya.
“Em.. Aku buka pintu dulu..”
Bibir alesia mengerucut sebal saat leon berkata. Wanita itu sudah sangat merindukan sentuhan hangat suaminya.
“Tolong lepas alesia.” Pinta leon.
Alesia menggelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut menolak perintah leon. Alesia sudah lama menunggu moment romantis itu namun harus gagal karna ketukan pintu.
“Alesia.”
“Cium aku dulu.” Sela alesia merengek manja.
“Alesia aku..”
“Please... Anak kita yang minta..” Rengek alesia lagi memberi alasan.
Leon tertawa pelan. Bagaimana mungkin ada janin yang menginginkan hal seperti itu.
“Jangan bercanda alesia..”
Leon pura pura mengelak demi sandiwaranya berjalan lancar.
“Demi anak kita. Cium aku sekali aja.” Pinta alesia.
Leon tertawa lagi. Sebenarnya leon juga sangat gemas sekali pada istrinya.
“Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau sampai berlebihan.”
“Tidak masalah.”
Leon kembali mendekatkan wajahnya pada wajah cantik alesia. Dengan sangat hati hati leon meraih bibir menggemaskan istrinya. Diam diam leon tersenyum dalam ciumanya. Akhirnya leon bisa terang terangan mencium istrinya tanpa harus menunggu alesia terlelap. Alesia mungkin tidak sadar leon diam diam menciumnya setiap malam.
“Sudah, sekarang lepaskan tangan kamu.” Kata leon setelah melepaskan ciumanya.
“Oke..” Angguk alesia tersenyum manis.
Alesia melepaskan tautan tanganya yang mengalung di tengkuk leon. Wanita itu merasa senang karna bisa merasakan kembali sentuhan lembut suaminya.
Berlahan alesia.. Ingatkan semuanya berlahan saja.
Leon melangkah menuju pintu kemudian membukanya. Senyumnya mengembang ketika melihat bi inah yang membawakan bunga miliknya.
“Bunganya tuan.” Kata inah sopan.
“Ah ya.. Terimakasih.”
Leon mengambil bunga yang di sodorkan inah kemudian kembali menutup pintu kamarnya. Senyum leon mengembang ketika menatap bunga yang di pegangnya.
Leon membawa sebuket bunga mawar merah itu mendekat pada alesia yang sudah terduduk di tengah ranjang menatapnya.
“Kak..”
“Aku minta maaf untuk tadi siang. Aku harap kamu suka dengan bunga ini.”
Alesia menatap sebuket mawar merah yang di sodorkan oleh leon. Alesia bukan wanita penyuka bunga mawar, alesia lebih suka bunga lily yang tidak berduri. Tapi jika leon yang memberikanya alesia tidak akan menoleh.
Alesia menerima bunga itu kemudian langsung berhambur memeluk suaminya. Alesia selalu berharap agar ingatan suaminya cepat pulih kembali.
Maaf untuk sandiwara yang sedang aku lakukan sayang. Maaf...
sukses
semangat
mksh