Apa rasanya ditanya kapan nikah hampir di setiap hari?
Mengesalkan!
Ya, itulah yang dirasakan oleh Ghaliza.
Tapi Ghaliza tak pernah menyangka jika ia harus menjadi ISTRI Rahasia dari seorang pria yang tak ia kenal.
Bingung ya?
Penasaran, ikuti kisahnya yuukk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Terancam Penjara
Kondisi mulai aman terkendali sejak Rheina dipecat. Suasana kerja di divisi keuangan pun menjadi lebih nyaman. Tak ada lagi tekanan dari sang manager seperti sebelumnya. Meski pun begitu, karyawan di divisi keuangan tetap bertanggung jawab meyelesaikan pekerjaannya masing-masing.
Seperti yang dikatakan Raja, untuk sementara waktu Arifin lah yang menduduki jabatan Manager Keuangan menggantikan Rheina.
Arifin memimpin dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Semua karyawan pun merasa senang dipimpin oleh Arifin. Hal itu baik untuk perusahaan namun rupanya Arifin tak nyaman duduk di belakang meja dan ingin kembali menjadi asisten Raja.
“ Mungkin untuk sementara ini, terima aja posisi itu...,” kata Raja saat Arifin mengatakan niatnya.
“ Lho emangnya kenapa Pak...?” tanya Arifin.
“ Saya udah punya asisten pribadi yang lebih tangguh dan lebih segalanya daripada Kamu...,” sahut Raja sambil tersenyum penuh makna.
“ Maksud Bapak, Bu Ghaliza...?” tanya Arifin tak percaya.
“ Iya. Malah dia siap 24 jam sehari. Ga pernah libur dan selalu stand by...,” sahut Raja.
“ Jangan samain Saya sama Bu Ghaliza dong Pak. Bu Ghaliza kan Istri Bapak, sedangkan Saya kan hanya asisten yang digaji...,” kata Arifin sambil mencibir hingga membuat Raja tertawa melihatnya.
“ Tapi ini serius. Saya ga akan merubah keputusan Saya dalam waktu dekat ini. ..,” sahut Raja.
“ Kenapa lagi Pak...?” tanya Arifin dengan mimik sedih.
“ Saya mau Istri Saya istirahat sebentar dan ga usah ngurusin urusan kantor. Kasian dia kecapean ngurus resepsi pernikahan Kami kemarin. Dia sampe insomnia lho gara-gara dikejar wartawan usai pesta waktu itu...,” kata Raja menjelaskan.
Meski curiga namun Arifin tak bisa menolak perintah atasannya itu. Arifin pun kembali ke ruangannya dengan langkah gontai.
\=====
Rupanya kehamilan Ghaliza tak bisa disembunyikan dari kedua orangtua dan mertuanya. Apalagi Ghaliza mengalami morning sicknes yang sangat parah saat kehamilannya memasuki usia dua bulan.
“ Coba dibawa ke dokter dong Nak. Masa Kamu ga kasian liat Istrimu sampe lemes gitu di tempat tidur...,” saran Sendini.
“ Kami udah ke dokter kemarin Ma. Kata dokter itu biasa kok...,” sahut Raja tenang sambil memijit kaki Ghaliza.
“ Biasa gimana sih maksud Kamu...?” tanya Sendini tak mengerti.
Raja menatap Ghaliza sejenak. Lalu dengan terpaksa Raja mengatakan kebenarannya.
“ Iya. Kata dokter itu biasa di awal kehamilan...,” sahut Raja sambil menatap Ghaliza dengan lembut.
“ Apa, maksud Kamu Ghaliza lagi hamil...?” tanya Sendini sambil tersenyum dan mendekati Ghaliza.
“ Iya Ma...,” sahut Raja dan Ghaliza bersamaan.
“ Alhamdulillah, jadi Kami bisa segera nimang Cucu dari Kalian dong...,” kata Sendini sambil memeluk Ghaliza dan mencium kedua pipinya dengan sayang.
“ Insya Allah Ma...,” sahut Ghaliza.
Sendini langsung berdiri dan meraih ponselnya kemudian menghubungi Suci. Bisa ditebak kehebohan yang terjadi. Suci dan Harun langsung datang menjenguk Ghaliza begitu mendengar kabar membahagiakan dari Sendini.
“ Jadi benar kalo Kamu hamil Kak...?” tanya Suci tak sabar.
“ Iya Mi. Udah jalan dua bulan...,” sahut Ghaliza sambil tetap berbaring.
“ Alhamdulillah. Kenapa ga ngasih tau Kami, mau ngasih surprise ya...?” tanya Suci lagi.
Raja dan Ghaliza saling menatap sejenak. Kemudian Raja menjelaskan alasan kenapa mereka menyembunyikan kehamilan Ghaliza.
“ Masuk akal sih. Kami setuju dengan cara berpikir Kalian. Iya kan Bu Suci...,” kata Sendini.
“ Betul Bu...,” sahut Suci dan diangguki oleh Harun.
Mengerti jika Ghaliza khawatir dengan bayinya, maka mereka sepakat menyimpan rapat rahasia itu hanya untuk keluarga mereka.
\=====
Ghaliza sedang menikmati pagi di taman depan rumahnya saat sebuah mobil melintas di jalan depan rumah Raja dan Ghaliza. Tanpa sepengetahuan Ghaliza, mobil itu berhenti dan penumpang di dalam mobil nampak mengawasi gerak-gerik Ghaliza.
“ Jadi dia tinggal di sini ya. Wah, bagus banget rumahnya. Harusnya rumah ini jadi istana Gue. Tapi gara-gara dia datang, rencana Gue jadi buyar semua. Tapi gapapa, sebentar lagi kebahagiaannya bakal lenyap berikut nyawanya...,” gumam wanita yang tak lain adalah Rheina itu sambil tersenyum sinis.
Rheina masih mengintai Ghaliza hingga tiba-tiba ia melihat Raja yang keluar sambil membawakan segelas susu untuk Ghaliza.
“ Sayang, jangan lupa susunya dong...,” kata Raja sambil tesenyum.
“ Iya Mas...,” sahut Ghaliza sambil menerima gelas berisi susu dari tangan Raja.
Ghaliza duduk sambil meneguk susu itu perlahan hingga tandas. Raja nampak bahagia dan menghadiahi kecupan di kening Ghaliza.
“ Hebat calon Mama ini. Kalo Mamanya sehat, insya Allah bayinya juga sehat kan...,” kata Raja sambil mengusap perut Ghaliza dengan lembut.
“ Ok deh...,” sahut Ghaliza sambil tertawa.
Menyaksikan kemesraan Raja dan Ghaliza membuat Rheina marah. Apalagi saat mendengar jika Ghaliza hamil. Rheina pun merencanakan sesuatu agar Ghaliza kehilangan bayinya.
“ Jadi dia hamil. Hmmm, permainan ini jadi lebih menarik. Gimana kalo Kita gugurkan saja bayi di rahim Ghaliza, pasti sangat menyenangkan...,” gumam Rheina sambil tertawa.
Sesaat kemudian Rheina pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Raja dan Ghaliza dengan segudang rencana jahat di kepalanya.
\=====
Ghaliza sedang membaca buku di kamarnya. Setelah mengantar kepergian Raja hingga ke depan rumah, Ghaliza kembali ke kamar dan memutuskan istirahat. Tiba-tiba pintu kamar Ghaliza diketuk oleh asisten rumah tangga
mereka. Ghaliza bangkit dan membuka pintu.
“ Ada apa Mbak...?” tanya Ghaliza.
“ Maaf Bu, ini ada paket untuk Ibu...,” sahut sang asisten rumah tangga.
“ Paket darimana. Saya ga pernah pesan apa pun. Lagi pula ini masih terlalu pagi, biasanya paket diantar ke rumah mulai jam delapan pagi lho Mbak...,” sahut Ghaliza mengingatkan asisten rumah tangganya.
“ Saya juga ga tau Bu. Saya lagi nyapu di halaman depan, terus ada yang ngasih ini. Katanya sih paket buat Bu Ghaliza...,” kata sang asisten rumah tangga dengan bingung.
“ Ya udah gapapa. Sekarang Mbak bawa keluar aja dan buka paketnya ya. Saya ga mau liat isinya. Nanti Mbak yang kasih tau Saya apa isinya. Kalo perlu buka bareng Security biar ada saksinya...,” pinta Ghaliza yang diangguki sang asisten rumah tangga.
Ghaliza kembali menutup pintu saat sang asisten rumah tangga itu beranjak pergi. Tak lama kemudian terdengar jeritan dari luar rumah. Rupanya paket sedang dibuka dan isinya adalah sebuah boneka dan seekor tikus mati dengan surat berisi ancaman.
“ BAGAIMANA JIKA INI TERJADI PADAMU DAN BAYIMU ?”
Begitulah bunyi tulisan yang ditulis dengan darah itu. Security nampak merekam semuanya dan melaporkannya
kepada Raja. Saat menerima pesan dari security di rumahnya, Raja langsung membacanya kemudian menghubungi sang security.
“ Pastikan Bu Ghaliza ga melihat semuanya ya...,” kata Raja tegas.
“ Siap Pak. Justru Bu Ghaliza yang minta ini dibuka di luar rumah. Jadi Bu Ghaliza belum liat sama sekali apa isi paket ini Pak...,” sahut security.
“ Bagus. Lanjutkan pekerjaanmu dan terima kasih...,” kata Raja lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
“ Siap Pak...,” sahut security sambil mengangguk.
Raja sedikit cemas memikirkan keadaan Ghaliza. Karenanya Raja segera menghubungi Ghaliza.
“ Assalamualaikum Mas, ada apa...?” tanya Ghaliza.
“ Wa alaikumsalam. Kamu dan babynya gapapa kan Sayang...?” tanya Raja cemas.
“ Alhamdulillah Aku dan bayi Kita aman kok Mas...,” sahut Ghaliza sambil tersenyum.
“ Syukur lah, Aku senang dengarnya...,” kata Raja sambil menghela nafas lega.
“ Apa Kamu berniat menyelidiki siapa pengirim paket itu Mas. Ini udah kali kedua lho...?” tanya Ghaliza mengingatkan.
“ Mmm, mungkin Kita tunggu sekali lagi ya. Maksudku, Aku mau kumpulin cukup bukti dulu baru bertindak, gitu Sayang...,” sahut Raja.
“ Terserah Kamu aja Mas. Kamu kan lebih paham urusan kaya gini...,” kata Ghaliza pasrah.
“ Iya. Yang penting abaikan aja semua paket yang masuk ke rumah. Tunggu Aku atau minta security yang buka...,”
kata Raja.
“ Iya Mas...,” sahut Ghaliza di akhir kalimatnya.
Raja meletakkan ponselnya lalu mengetuk meja dengan ujung jarinya. Ia nampak berpikir keras untuk menjebak si pengirim paket.
“ Kita liat nanti. Kalo Kamu masih mengganggu Istriku, jangan harap Kamu bisa lepas dari hukuman penjara...,” gumam Raja.
Rupanya Raja sudah mengetahui siapa pengirim paket gelap itu. Namun ia tak mau gegabah karena ingin langsung menjebloskan si pelaku ke dalam jeruji besi.
Dan beberapa hari kemudian ada paket yang lebih besar datang ke rumah Raja. Seperti biasa, paket itu datang beberapa menit setelah kepergian Raja menuju ke kantor. Kali ini security yang menghandle langsung. Entah bagaimana caranya, sang security yang memang terlatih itu berhasil menangkap kurir yang mengantarkan paket itu.
Kurir itu pun dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Tanpa kesulitan, sang kurir bersedia membuat pengakuan di depan polisi tentang siapa yang menyuruh dan berapa bayaran yang ia terima. Polisi dengan sigap langsung meluncur ke rumah pelaku yang tak lain adalah Rheina.
“ Ini semua fitnah Pak. Ga mungkin Anak Saya melakukan itu...,” kata mama Rheina tak percaya.
“ Ibu bisa dengar semuanya nanti di kantor Polisi. Sekarang sebaiknya Bu Rheina ikut Kami ke kantor...,” sahut seorang polisi.
“ Memang apa sangkaan yang dituduhkan kepada Anak Saya pak...?” tanya papa Rheina tak mengerti.
“ Anak Bapak ini telah terbukti beberapa kali mengirim paket dan surat berisi ancaman kepada Nyonya Ghaliza...,” sahut polisi.
Mendengar jawaban polisi itu, papa Rheina terlihat murka. Ia langsung menampar wajah Rheina hingga sang anak pun menangis.
“ Dasar breng*ek, murahan. Kamu udah tau kalo Raja sudah beristri. Masih saja Kamu mengejarnya bahkan menerror Istrinya. Keterlaluan...!” maki papa Rheina marah.
“ Papa berhenti. Dia lakukan itu karena dia sangat mencintai Raja...,” kata mama Rheina membela anaknya.
“ Ini akibat didikanmu itu. Jika karena hal ini dia sampe masuk penjara, Aku akan menceraikanmu. Cukup sudah Aku menanggung malu akibat ulahmu dan Anak manjamu itu...,” ancam papa Rheina sambil meninggalkan tempat itu.
Mendengar ancaman suaminya, mama Rheina pun menangis. Ia tak menyangka jika suaminya tega menceraikannya hanya karena masalah sepele. Sedangkan di hadapannya Rheina terlihat panik saat petugas membawanya naik ke dalam mobil polisi.
“ Mama tolong Aku Ma. Aku ga sengaja ingin menyakiti Ghaliza. Aku hanya ingin Ghaliza jera dan ga bersikap
sombong lagi di hadapanku Ma...,” kata Rheina sambil menjerit dan mengundang perhatian tetangganya.
Mama Rheina tak menjawab. Ia hanya menangis dengan perasaan yang hancur. Apalagi ia juga terancam diceraikan oleh suaminya jika Rheina terbukti bersalah, dan ia tak mau hal itu terjadi. Rheina masih menjerit saat dimasukkan ke dalam mobil polisi, namun polisi mengabaikannya dan langsung melajukan mobil menuju ke kantor polisi.
\=====
Mama Rheina datang menemui Sendini agar bersedia membantunya bicara pada Raja. Semula Sendini bersedia
membantu karena mengira jika Rheina melakukan kesalahan di perusahaan. Namun saat Sendini menghubungi Raja dan meminta penjelasan Raja, Sendini terkejut.
“ Apa Mama akan membantu orang yang mengancam keselamatan Ghaliza dan Cucu Mama...?” tanya Raja dengan tenang karena bisa menebak jika saat itu mama Rheina ada bersama Sendini.
“ Apa maksudmu Nak...?” tanya Sendini tak mengerti.
“ Rheina telah menerror Ghaliza dengan paket-paket horror. Untungnya Aku udah mengantisipasinya dan minta penjagaan diperketat. Bagaimana jika hal itu membuat Ghaliza shock dan berakibat fatal pada bayi Kami. Makanya, di kiriman ketiga Aku langsung melaporkannya ke Polisi Ma...,” sahut Raja.
“ Apa Ghaliza dan Cucu Mama baik-baik aja...?” tanya Sendini cemas.
“ Alhamdulillah mereka baik-baik aja Ma...,” sahut Raja.
“ Bagus Nak. Tindakanmu memenjarakan Rheina itu tepat. Dan kalo bisa penjarakan dia seumur hidup...!” kata Sendini sambil menatap tajam kearah mama Rheina yang saat itu ada di hadapannya.
Mama Rheina terkejut mendengar ucapan Sendini yang terlihat marah itu.
“ Bu Sendini kok gitu. Saya ke sini kan mau minta tolong supaya Bu Sendini membujuk Nak Raja agar mau membebaskan Rheina dari penjara...,” kata mama Rheina hampir menangis.
“ Apa Anda pikir Saya akan membantu membebaskan orang yang sudah mengancam keselamatan Cucu dan menantu Saya. Saya senang jika Rheina mendekam lama di penjara. Dan sebaiknya Kita ga usah bertemu lagi. Saya ga sudi punya teman yang bisanya hanya memanfaatkan dan mencelakai keluarga Saya. Silakan Bu, pintu keluarnya ada di sebelah sana...!” kata Sendini tegas sambil menunjuk kearah pintu.
“ Tolong maafkan Anak Saya Bu Sendini. Saya janji, saat Rheina bebas, Saya akan membawanya pergi jauh dari
kota ini dan akan mendidiknya nanti...,” kata mama Rheina menghiba tapi Sendini mengabaikannya.
“ Security...!” panggil Sendini lantang.
“ Iya Bu...,” sahut security sambil mendekat kearah sendini.
“ Bawa keluar Ibu ini. Dan ingat, jangan ijinkan dia masuk ke rumah ini selangkah pun...!” kata Sendini sambil menatap kearah lain.
“ Siap Bu...,” sahut sang security lalu membawa mama Rheina keluar dari kediaman Rahmat.
Mama Rheina menatap nanar kearah rumah besar milik keluarga Rekso itu. Dulu ia bebas keluar masuk ke
rumah itu karena ia berteman dengan menantu kesayangan Rekso. Namun kini dia tak akan bisa lagi menginjak rumah itu karena ulah anaknya. Dan ia terancam dicerai oleh suaminya juga karena ulah anaknya. Mama Rheina melangkah masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan gerbang dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan sesal yang menggunung. Ternyata ia gagal membujuk Sendini untuk membebaskan anaknya dari penjara.
Bersambung