[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Untuk Mayang
Hari demi hari berjalan. Sebentar lagi ulang tahun Mayang. Bima tahu. Ia menyiapkan sesuatu. Bebarapa hari sebelumnya ia memesan banyak sekali bibit mawar yang hampir kuncup.
Bima menelponnya sore itu. Mayang bilang papanya belum pulang. Bima akan ke rumah, katanya cepat sembari menutup telepon.
Mayang keluar rumah begitu mendengar suara mobil memasuki area rumahnya. Mobil Bima.
Bima turun dari mobil, tapi tak langsung masuk rumah. Ia membuka bagasi belakang mobilnya.
Deretan polybag berisi mawar kuncup memenuhi bagasi. Mayang menghampirinya. Ia terheran.
"Ayo sini bantu," Bima menurunkan satu-persatu bibit-bibit itu.
Mayang masih tak paham. Ia terheran, tapi dibantunya Bima mengeluarkan bibit-bibit itu.
"Ini semua buat Mayang?"
"Iya," Bima menjawab singkat.
Mayang masih terheran. Bingung hendak merespon apa.
"Mayang nggak mau?" Bima balik bertanya. Ia masukkan lagi satu bibit yang ia keluarkan ke dalam bagasi.
"Ah, jangan. Mau mau mau. Mayang mau." Mayang menjawab cepat.
Bima mengeluarkan alat satu lagi dari mobilnya, dari jok belakang kemudi. Sebuah cangkul berukuran sedang. Sekarung kecil pupuk tanaman, dan juga sekop.
Mayang Masih terheran melihat alat-alat itu.
"Ini mau diapain?" Ia menebak-nebak.
"Ya ditanam dong, Non. Nanti bunganya mati. Emang nggak kasihan bunganya mati?"
"Jangan," Mayang berseru. Mayang mengangguk-angguk cepat lalu dengan cekatan membantu Bima membawa alat-alat.
"Di sini aja," Mayang mengarahkan. Di sekeliling pohon kapuk samping rumahnya. Pohon kapuk tak terlalu rindang daunnya. Mataharinya akan cukup sampai ke bawah.
Bima dengan cekatan membuat lubang-lubang kecil. Mayang membantunya mengisi setiap lubang dengan pupuk. Sekarang tinggal memasukkan bibit-bibit itu, mengubur akarnya dengan tanah dan menyiramnya.
"Ini buat hadiah ulang tahun Mayang."
Mayang menatapnya tak percaya.
"Mayang bilang, Mamanya suka mawar putih. Sekarang baru kuncup. Nanti mekar sempurna. Kalau disiram teratur dan dirawat dengan baik, akan berbunga lagi dan tambah subur pohonnya."
Mayang menunduk memainkan sekop kecil di tangannya. Bima menatapnya.
"Mayang kenapa diem aja. Nggak suka ya?"
"Nggak papa. Mayang cuma senang," katanya terbata. Ia menangis. Menangis bahagia.
"Makasih, Mas Bima,". Bima memeluknya. Mengelus rambutnya, menepuk pelan punggungnya.
Sore itu. Angin bertiup dengan tenang. Buah kapuk berderak-derak, bersenggolan dengan buah kapuk lain di tangkai yang sama. Beberapa kapas putihnya beterbangan terbawa angin. Bima melepaskan pelukannya.
"Udah nangisnya, Mayang jelek kalau lagi nangis," ucapnya menggoda.
Mayang memukul pundaknya, lalu memeluknya lagi. Pelukan yang nyaman. Hatinya hangat.
***
Esoknya Susi menghampirinya di kelas. Menanyakan kembali kepastian Mayang apakah jadi ikut camping atau tidak. Mayang menjawab cepat.
"Jadi ikut. Jadi kan, Mas Bima?"
"Jadi dong, Yang. Kan pas waktunya pas kamu ulang tahun," Bima sengaja mengeraskan suaranya. Ia tahu Bagas mengupingnya.
"Wah. Bagus dong. Sekalian kita rayain bareng-bareng," Susi dan teman lainnya tambah asyik membuat rencana.
Bagas mengepalkan tangannya. Ia kesal bukan main.
Bima tersenyum tipis, lalu sibuk kembali dengan ponselnya. Video youtubnya mendapat banyak tanggapan dan penonton. Ia mengedit sebagian file melalui ponselnya.
Bima juga tahu Bagas sering menguntit akun sosial medianya. Semenjak Mayang aktif di Instagram, ia tahu Bagas mengawasi mereka. Awalnya Bima khawatir kalau Bagas menanyakannya langsung pada Mayang lewat sosial media. Tapi Bima menyadari, Bagas tak punya bukti apa-apa untuk menuduhnya. Ia merasa aman, walaupun dalam hatinya tetap ada yang mengganjal. Bagaimanapun, dialah yang mencuri surat dari Bagas.
Bima juga sengaja mengunggah foto kebersamaan mereka di instagramnya. Sengaja agar Bagas melihatnya. Bima mengunggah foto-foto bersama Mayang yang dipotret Om Wira kemarin, saat acara api unggun. Juga slide berikutnya foto mereka semua. Termasuk ada Papa Mayang dan Mama Bima. Ia menuliskan caption "La familia" sebagai keterangan foto. Itu bahasa Spanyol, artinya keluarga. Ia sengaja memajang foto pertama adalah fotonya berdua dengan Mayang. Ia merangkul pundak Mayang, dengan latar belakang tenda yang dibangunnya di samping rumah.
Mayang juga sering menyertakan tag nama Bima di banyak postingannya. Memang Bima yang selalu memotretnya. Ia menuliskan "captured by Mas @bimantaraa" di fotonya. Mayang sudah terbiasa memanggilnya Mas. Jadi dia selalu menyertakan "Mas" di setiap postingan yang mengetag nama Bima.
Mayang beberapa kali mengunggah video di youtubenya untuk mempromosikannya, juga behind the scene setiap video. Bima bilang cara itu lumayan berhasil meningkatkan jumlah penonton. Pengikut Mayang di Instagram lumayan banyak. Dan makin bertambah setiap harinya. Tak dipungkiri Mayang dikenal banyak orang. Di sekolah lamanya, semua orang mengenalnya. Pun di sekolah barunya ini. Banyak yang mengidolakannya diam-diam. Di sisi lain Mayang dulu merasa sangat minder dengan dirinya sendiri. Mayang juga cantik, tak bisa dipungkiri. Instagram adalah media visual. Siapa yang tak suka melihat gadis cantik.
Papa Mayang bilang ini bagus. Mayang punya kepercayaan diri lagi. Sudah sejak lama, seharusnya Mayang tak perlu rendah diri. Ia berbakat, ia cantik. Banyak orang menyukainya. Apalagi ditambah dengan sikapnya yang ramah pada semua orang. Kemampuan berkomunikasinya juga bertambah pesat. Ia tak malu lagi menyapa orang, mengajak ngobrol temannya. Ia juga cakap di depan kamera. Nada bicaranya santun dan lembut, seperti aslinya. Papanya mendukung penuh hobby barunya bersama Bima. Bahkan ia menawarkan untuk meminta kontak temannya yang kenal dengan pemilik kebun kopi desa seberang. Kopi lokal daerah ini cukup bagus dan menjanjikan. Tentu izin untuk meliput dan merekam video akan didapatkan dengan mudah.
Ah, tempat ini banyak mengubahnya. Papa Mayang merasa sangat bersyukur. Hampir saja ia membawa Mayang ke psikolog untuk konsultasi. Ia merasa khawatir. Tapi Mayang menolaknya. Itu terjadi saat Mayang ingin pindah dan merasa tak normal seperti teman-teman sebanyanya. Jakarta tempat Mayangnya bertumbuh. Ia pikir sekolah terbaik, fasilitas terbaik akan membahagiakan Mayang. Tapi tempat ini, yang begitu sederhana, yang jauh dari Kota, membawa banyak hal baru di hidupnya maupun hidup Mayang. Mayang bahagia di sini. Ia juga bahagia bisa bertemu dengan Asti. Yang terpenting adalah Mayang merasa normal dan disayang. Ia bahagia.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹