Kisah perjuangan seorang atlet lelaki yang harus mengubur impiannya demi keluarga sepeninggalan Sang Ayah. Menjadi tulang punggung diusia muda menjadikannya harus mengubur impian untuk berkomitmen dengan pujaan hatinya.
Dilain sisi ada wanita manja dari keluarga kaya raya, karena kehilangan sosok Ibu dalam hidupnya membuat dia tumbuh tanpa ada kelembutan seorang ibu. Apalagi setelah ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Secara frontal menolak kehadiran sang Ibu tiri.
Apakah kedua insan ini bisa bersatu diatas perbedaan yang ada? bisakah saling menurunkan ego?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
* Senja 21, Water sport
"Ambil makan dulu sana, nanti balik lagi kesini, kita makan bareng semeja ya" pinta Tante Dinda.
Candra dan Mas Akmal mengambil makanan kemudian menuju meja makan Pak Sanjaya.
"Makannya kok dikit banget Can...ga usah malu-malu lah, kaya orang baru aja disini" kata Mas Akmal.
"Udah kenyang Mas, tadi di kapal dikasih makanan sama Ibu-ibu, pokoknya kalo pergi sama Ibu-ibu tuh ga ada kata laper, logistik aman terkendali" jawab Candra.
"Dulu kamu ke Pulau ini kerja apa Can?" tanya Pak Sanjaya.
"Jadi tukang servis alat elektronik keliling Pak. Kadang kalo alat listrik disini rusak juga saya yang benerin" jawab Candra.
"Bisa ngerti listrik dan benerin alat-alat elektronik darimana?" tanya Tante Dinda.
"Dari almarhum Bapak. Disekolah juga ada pelajaran elektronika dasar sebagai pengayaan muatan lokal, jadi Alhamdulillah bisa Bu, karena konsepnya hampir semua alat sama kok, hanya beda besaran dan bentuk aja" jelas Candra.
"Bisa benerin apa aja selama ini?" tanya Dinda makin penasaran.
"Mesin cuci, setrikaan, kipas angin, kompor gas sama HP type tertentu aja, intinya ya selama alat itu berhubungan sama listrik insyaa Allah bisa Bu, karena selain dari Bapak, saya juga senang baca-baca tentang elektro di perpustakaan sekolah" terang Candra.
"Hebat deh... lelaki serba bisa. Enak ini yang jadi istrinya, ga perlu panggil tukang servis, semua bisa dikerjakan sama suaminya. Bisa irit kan" puji Dinda.
"Jadwal kamu kosong ga Can sore ini?" Ujar Pak Sanjaya.
"Ada jadwal ikut keliling Pulau Pak sampai Maghrib, setelah itu belum tau juga apa diperbantukan dimana atau bebas" jelas Candra.
"Ajarin Bapak jetski bisa?" pinta Pak Sanjaya.
"Mungkin besok pagi sekitar jam delapan, selepas saya bawa rombongan ke jembatan cinta ya Pak" jawab Candra mantap.
"Kalo gitu kamu ga usah ikut keliling aja Can sore ini .. nanti orang Resort yang akan gantiin tugas kamu. Kamu ikut Pak Sanjaya aja sekitar jam empat an. Udah penasaran beliau belum berani main jet ski padahal udah beli bajunya... hehehe" usul Mas Akmal.
"Saya ikut arahan Mas Akmal aja, bagaimana Pak?" jawab Candra.
"Boleh, nanti kamu saya tunggu di teras depan kamar saya ya" jawab Pak Sanjaya.
"Ya Pak" jawab Candra.
.
Hampir jam empat sore. Pak Sanjaya sudah duduk didepan teras kamarnya yang mengahadap ke laut. Dia sudah memakai baju ala diving yang baru dibelinya. Karena cerita Mas Akmal tentang jetski, beliau jadi merasa tertarik, makanya sampe beli baju serta pelampung baru.
Tante Dinda sedang luluran dan meni pedi didalam kamar.
Candra pun udah siap pake baju renang yang biasa dipakai saat renang dan dilapisi celana pendek bahan parasut diluarnya agar bagian sensitif tidak tampak terlihat menonjol. Mas Akmal ikut mendampingi untuk membawakan handuk dan minuman buat Pak Sanjaya.
Candra sendiri membawa dua liter botol air mineral, gunanya jika kemasukan air ke mulut maka akan terasa asin sehingga butuh minum untuk menetralisir. Handuk dan kacamata juga dia bawa. Candra mengajarkan pemanasan dulu ke Pak Sanjaya agar tidak keram saat jetski.
"Mas Candra kok ga ikut keliling nih sama kita" teriak Ibu-ibu yang udah siap naik ke kapal kayu.
"Tugas di watersport saya Bu sekarang, jadi sama yang lain dulu ya" sahut Candra sambil melambaikan tangannya.
"Ah ga seru nih, kan katanya mau kasih tau kalo senja disini bagus" jawab Ibu lainnya.
"Itu pemandunya orang Resort yang lebih berpengalaman dari saya Bu, pasti nanti bisa ditunjukkan spot yang bagus buat ambil foto. Anak-anak tolong dijaga ya Bu, jangan becanda yang membahayakan diatas kapal" ujar Candra.
"Tapi kan ga seganteng mas Candra .. hehehe" kata Ibu-ibu.
Pak Sanjaya dan Mas Akmal cuma senyum-senyum mendengar ucapan para Ibu-ibu.
"Makanya nanti pada main jetski ya.." canda Candra.
"Mahal Mas...naik yang pisang aja lebih murah ... tujuh puluh ribu bisa berlima" sahut Ibu lainnya.
"Banana boat Bu.. bukan pisang" jawab Candra merevisi.
"Kan bentuknya kaya pisang.. ribet nyebut pake bahasa Inggris nya" ujar lainnya
Kapal kayu meninggalkan Dermaga water resort. Candra sudah bersiap disamping jetski.
"Mari Pak... kita nanti naik berdua aja dulu ya, ini kan kali pertama buat Bapak coba kan?" tanya Candra dengan sopan.
"Iya.. ini kali pertama mau coba naik jet ski, liat orang kayanya enak ya, kaya naik motor matic" jawab Pak Sanjaya.
"Hati-hati Pak.. Can.. jagain Big Boss ya" kata Mas Akmal sambil duduk dibangku.
"Siap Mas" jawab Candra sambil memegang jet ski yang mulai bergoyang diterpa ombak.
Keduanya naik ke jetski. Candra yang duduk didepan.
"Kita mengenal dulu tentang jetskinya ya Pa. Mengendarai jet ski ini sedikit mirip dengan mengendarai motor matic. Jika akan menyalakan mesin, cukup pasang kunci lalu tekan tombol start. Tapi ada perbedaan pada fungsi tombol antara motor matic dan jet ski. Tombol di kemudi bagian kanan untuk gas sedangkan yang sebelah kiri untuk rem. Apabila ingin mundur, cukup tekan keduanya. Lalu untuk berhenti, tekan rem lalu matikan tombol start. Bagaimana sudah bisa dipahami ya Pak penjelasan singkat saya?" tanya Candra hati-hati.
"Ya...enak nih ngajarnya, bahasanya simple dan mudah diingat. Tadi pagi saya liat instruktur kasih penjelasannya ribet banget, makanya jadi maju mundur mau coba naik" puji Pak Sanjaya.
"Sama aja kok Pak. Oke bisa kita mulai sekarang, saya bawa dulu ya sebentar sambil Bapak liat bagaimana saya mengemudikannya nanti kita tukar posisi sekitar 300 meter didepan ya" kata Candra.
"Oke" jawab Pak Sanjaya sambil duduk dibelakangnya Candra.
Candra mulai menjalankan jetski dan membawanya dengan kecepatan yang sedang aja buat pemula. Ga lama kemudian mereka bertukar tempat. Cukup sepuluh menit aja Pak Sanjaya sudah lancar mengendarai jet skinya.
"Baik Pak .. dicoba naik sendiri ya .. muter-muter sini aja dulu, hati-hati jaga jarak dengan jet ski lain ya" ingat Candra.
"Terus kamu mau kemana?" tanya Pak Sanjaya.
"Saya renang dulu Pak...udah lama ga renang. Saya tunggu di Dermaga ya" kata Candra.
"Jangan Can...Bapak ikutin kamu aja deh, bawa pelan-pelan, masih grogi kalo bawa sendiri" ucap Pak Sanjaya.
"Ya udah Bapak muter-muter sini aja, saya juga renangnya sekitar sini" solusi Candra.
Selama lima belas menit Candra berenang dan Pak Sanjaya memacu Jetski nya sendirian. Setelah itu, Candra kembali naik bersama Pak Sanjaya. Mesin dimatikan dulu. Mereka menikmati minum air mineral di laut dengan ombak yang tenang. Pak Sanjaya duduk di kursinya sedangkan Candra duduk di bagian belakang Jetski. Matahari akan mulai terbenam.
realita nya banyak orang tersesat dan mencari jalan lurus
eh.. ntar Lexa tantrum 🤭