Jangan lupa memberi like...
Season 2 Takdir Cinta Millaerin.
Mega dan Eki.
Mega membuat komik tentang perjalanan hidupnya, ia adalah pemain protagonisnya.
Tapi sebuah komik lain muncul dan tenyata komik itu kisah tentangnya, tapi ia malah menjadi pemain antagonisnya?
Bagaimana ini?
Reputasinya jadi tercoreng!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
'Apa yang direncanakan pria ini? Dia menyuruhku menunggunya? Menunggunya menikah dengan gadis itu?
Teganya dia!
Bagaimana dengan bayiku?' Air mata Mega kembali meluncur di pipinya.
Tangannya yang di sentuh Eki ia lepaskan, secara spontan dia memegang perutnya. 'Bayi malang ini harus bernasib seperti ku, dibuang oleh orang tuanya.'
"Jangan menangis," kata Eki mengusap pipi Mega yang dibanjiri air mata.
"Aku akan menunggumu." Kata Mega.
"Terima kasih," kata Eki memberi ciuman di bibir gadis itu.
Eki baru menikmatinya ketika pintu kamar tiba-tiba di buka.
"Sial!!" Gerutu Zoy yang membuka pintu. Matanya benar-benar tercemar oleh kedua orang tak berahlak itu!
Lebih parahnya, Eki tak menghiraukannya dan lanjut mencium Mega.
Mega berusaha melepaskan diri, tapi Eki menahannya dengan kuat.
'Ya Tuhan,, bisakah aku tidak semenderita ini?' pikir Zoy melihat kelakuan iblis sialan itu.
"Hentikan dulu itu! Ayahmu menuju kemari!" Kat Zoy penuh amarah.
Eki melepaskan ciumannya dan menatap Zoy dengan wajah datarnya.
"Maafkan aku, tapi ini di luar rencana." Kata Zoy serba salah.
"Hei cepatlah! Dia sudah memasuki lift." Kata Rando yang ikut muncul bersama Zoy.
"Aku akan pergi." Kata Mega langsung turun dari pangkuan Eki.
Eki tak tinggal diam, ia kembali menarik Mega dan memberi sebuah ciuman hangat yang singkat. "Tunggu aku," katanya.
Dua pria yang melihat peristiwa itu hanya bisa menoleh dan saling tatap mata 'Kita terlahir dengan kesialan!'
"Aku akan pergi." Kata Mega langsung keluar dari ruangan itu.
Semua orang kembali pura-pura tak terjadi apa pun. Sementara Mega sudah keluar bersama Andi dan Teo.
Andi menatap Mega dengan bingung. Apa sebenarnya yang dilakukan gadis itu bersama tunangan gadis lain?
"Nyonya, Apa Anda ingin kembali ke desa?" Tanya Teo.
"Aku akan memutuskannya nanti. Ayo pergi makan bersama." Kata Mega.
Ketiga orang itu akhirnya duduk di sebuah restoran kecil yang tak jauh dari rumah sakit.
Makanan sudah siap di atas meja, Andi bahkan mulai makan, tapi Teo sama sekali tak berani menyentuh makanannya.
Hal ini karena Mega terus memandanginya, bahkan gadis itu juga belum makan sedikit pun.
Ia tidak mungkin mendahului Nyonya_nya untuk makan bukan?
"Kenapa kau tidak makan?" Tanya Andi pada Teo.
Ia sudah terbiasa melihat Mega selalu lama memandangi makanannya sebelum menyentuhnya. Jadi secara spontan ia langsung makan saja.
"Tidak apa," jawab Teo.
"Makanlah," kata Mega mengambil sendoknya.
Akhir-akhir ini, mungkin karena ia hamil hingga ia memiliki kebiasaan baru dalam makan.
Seolah makanan yang masih panas membuatnya merasa tak nafsu makan.
Setelah menghabiskan waktu 30 menit, akhirnya ketiganya selesai makan.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Bosmu?" Tanya Mega pada Teo.
"Dia baik-baik saja." Jawab Teo.
"Tidak perlu berbohong, bagaimana bisa ia sakit kalau dia baik-baik saja?"
"Dia hanya kelelahan, dia jarang tidur selama 1 bulan lebih ini." Jawab Teo.
Mega menyandarkan punggungnya, jelas itu terjadi karena lelaki itu tak bisa tidur dengan cara biasa.
'Apa Ellen tidak membantunya ya? Eki hanya bisa tidur dengan seorang gadis yang menemaninya.' pikir Mega.
"Nyonya, saya sarankan Nyonya sebaiknya kembali ke desa. Saya akan mengantar Nyonya." Kata Teo.
"Kenapa aku harus kembali? Bosmu tidak sehat, bagaimana aku akan meninggalkannya?" Kata Mega menatap tajam pada Teo.
'Meski pun pria itu akan bersama orang lain, tapi aku tidak mungkin membuatnya kesakitan.
Lagi pula, aku tak bisa hidup tenang jika jauh darinya. Paling tidak ini hal terakhir yang bisa kulakukan.
Setelah bayi ini lahir, aku akan menyerahkannya pada Eki lalu membiarkan mereka melupakanku.' Pikir Mega.
"Nyonya, Tuan sudah berjanji akan menjemput Nyonya begitu Masalah di sini sudah selesai." Kata Teo.
"Tidak, aku akan mencari apartemen kecil di ibu kota." Lagi kata Mega.
Pada akhirnya Teo tak berhasil membujuk Mega. Gadis itu benar-benar tinggal di apartemen kecil yang ia pilih sendiri.
Bahkan Teo yang membujuknya agar tinggal di apartemen yang ia sediakan, tak didengarkan oleh Mega.
Sesuai yang di duga oleh Mega, 2 Minggu ia tinggal di ibu kota, Eki kembali masuk ke rumah sakit.
Ya, selama 2 Minggu itu ia tak pernah bertemu dengan Eki. Ia hanya mengawasi pria itu dari jauh.
Tapi kali ini, Rando memberitahunya kalau pria itu mungkin tak bisa di selamatkan.
Penyakitnya menjadi lebih parah karena Eki tak mendengarkan siapa pun.
Pria itu terus bekerja dan tak memperhatikan kesehatannya.
Penyakit insomnianya juga semakin parah, bahkan Astri sudah putus asa mencari dokter yang bisa menyembuhkan putranya.
Hari itu, Mega langsung pergi ke ruang sakit. Ia tak bersembunyi lagi dari orang tua Eki.
"Mega, apa yang aku lakukan di sini?" Tanya Zoy ketika melihat gadis itu muncul di koridor ruang sakit.
"Aku kan menjenguknya." Kata Mega.
"Tidak,, tidak! Di dalam ada orang tua Eki. Bahkan keluarga Lorenza juga ada di sana." Kata Rando memperingatkan Mega.
"Itu benar, mereka tidak akan mengijinkanmu masuk, bahkan akan mengusirmu." Kata Zoy yang dari tadi bersama Rando.
"Kalian pikir aku takut dengan mereka?" Kata Mega seraya menyeka air matanya.
"Kalian berdua semakin kompak ya,, bahkan kalian kompak melarangku bertemu dengannya.
Kalian pikir aku tidak sakit memikirkannya yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit, sedangkan aku di sini hanya diam saja tanpa melakukan apa pun?!" Kata Mega sambil menahan emosinya.
"Baik,, baik,, baik,, tenang dulu ok,," Zoy begitu panik melihat gadis itu emosian.
"Tenang?! Hanya itu yang bisa kalian katakan?! Sebaiknya kalian minggir! Aku akan lewat!" Kata Mega berusaha mendorong dua pria itu.
Tapi tenaganya jelas tak sebanding dengan Zoy dan Rando.
"Kumohon!! Biarkan aku masuk!" Ucap Mega.
"Tidak,, mereka kan menghinamu di dalam!" Kata Rando.
"Aku tidak perduli! Aku hanya mau melihatnya! Sebentar saja ku mohon!" Isak Mega.
"Biarkan aku lewat, tolong!" Lagi kata Mega.
"Baiklah, kami akan menemanimu masuk, tapi tenangkan dulu dirimu," kata Rando yang sudah tidak tega melihat Mega.
"Apa yang aku katakan?! Kau ingin cari masalah?!" Zoy jelas tidak setuju.
Sejak dulu ia sudah melihat semua tipe perempuan, tak ada satu pun yang tidak merepotkan, semuanya membuat Masalah untuk laki-laki.
"Aku yang akan membawanya masuk." Kata Rando membantu Mega duduk di sala satu kursi di koridor.
"Tenangkan dirimu dulu. Kita akan masuk kalau sudah lebih baik." Kata Rando.
Zoy menarik rambutnya dengan frustasi. Ia membawa Rando kemari untuk membantunya menangani jika ada masalah, tapi pria itu malah mencari masalah untuk mereka.
Bagaimana mungkin Rando begitu mudah di bujuk dengan air mata Mega?
'Sial!!! Perang dunia akan terjadi!' pikir Zoy.
"Minumlah ini," kata Rando memberikan air mineral untuk Mega.
"Kau akan membiarkanku masuk bukan?" Tanya Mega masih terisak.
"Iya, tentu saja. Tapi kau harus menenangkan diri dulu."
"Terima kasih, kata Mega menghapus air matanya dan meneguk air yang diberikan Rando.
Perlu waktu lama bagi Mega untuk menenangkan diri sebelum ia di antar oleh Rando.
Zoy mengikut di belakang kedua orang itu. 'Ini bukan pilihan yang tepat!' pikirnya.
Akhirnya Rando membuka pintu ruang rawat Eki. Mega langsung mengacuhkan orang yang menatapnya dengan kaget dan marah.
Tatapannya hanya terkunci pada satu orang yang kini berbaring di tempat tidur.
Tubuh pria itu semakin kurus dari yang ia lihat pada 2 Minggu lalu.
Air matanya langsung jatuh ke pipinya. "Eki,," ucapnya.