[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3
Gabby kembali masuk bersama dengan papanya. Kedatangan mereka membuat George membulatkan matanya dan terkejut.
“Perkenalkan, ini papaku, Lordeus.” Gabby mengenalkan lelaki paruh baya yang ia gandeng. Matanya menelisik raut wajah yang diperlihatkan oleh George. Terlihat jelas bahwa pria itu seperti mengetahui siapa papanya.
Setelah mengenalkan papanya, Gabby ingin mengabadikan foto bertiga bersama dengan Diora dan papanya. Hanya ada dua orang yang bisa ia minta pertolongan, George dan Davis. Karena Davis sudah memegang ponsel Diora, maka ia meminta tolong dengan George. Untuk mengantisipasi jika hasil bidikan salah satu dari mereka tak bagus.
“Hei kau! Manusia yang sedari tadi diam saja!” Gabby menunjuk George yang masih setia duduk di sofa tak bergerak, tak bicara, namun masih bernafas. George tak menanggapinya, membuat dirinya kesal setengah mati karena diabaikan.
Pletak ...
Gabby melemparkan ponselnya hingga mendarat tepat pada dada bidang George.
“Tidak sopan!” ketus George, ia menatap tak suka Gabby yang menurutnya terlalu kasar untuk kalangan wanita. Tangannya mengambil ponsel yang jatuh di pangkuannya.
“Kau tuli! Ku panggil hanya diam saja!” balas Gabby tak kalah ketus. “Tolong, kau fotokan aku menggunakan ponselku itu,” pintanya dengan nada penuh paksaan.
“Memangnya aku budakmu! Bisa kau suruh seenaknya!” berang George dengan wajah tanpa ekspresinya.
“Ehem ...!” Lordeus berdehem dan menatap tajam George yang berani berbicara dengan nada tinggi pada anaknya.
Mendengar suara yang terdengar seperti sindiran itu, tanpa banyak kata, George pun ikut memposisikan diri di samping Davis untuk memotret tiga orang yang saat ini sudah siap berpose layaknya sebuah keluarga.
“Pria dingin itu ternyata takut dengan papamu,” bisik Diora tepat di telinga Gabby.
Gabby hanya membalas dengan senyuman dan anggukan saja. Ia tahu betul mengapa George takut dan tak berani membantah seorang Lordeus.
Rupanya kau tahu latar belakang papaku hingga kau tak berkutik. gumam Gabby dalam hati. Ia menyunggingkan sedikit senyum sinisnya, meskipun tak terlihat oleh orang lain.
“Ayo mulai!” titah Gabby.
Mereka pun langsung berpose, berganti-ganti gaya ketika George dan Davis mulai membidik.
Mata Gabby tak pernah lepas dari George. Entah mengapa ia selalu saja menatap pria itu, menambah kebencian dalam hatinya. Apa lagi saat ini ia melihat George tak fokus memotretnya, pria itu malah mengobrol dengan Davis. Meskipun mata George terus tertuju ke ponsel yang dipegang.
Sesi foto berhenti, ketika Diora menegur George dan Davis yang terus berbincang. Diora mengambil ponsel yang dipegang oleh kedua pria itu untuk dilihat hasilnya.
“Ini.” Ponsel keluaran terbaru milik Gabby disodorkan oleh Diora.
“Terima kasih.” Gabby mengambil ponselnya.
“Bagaimana?” tanya Diora memperlihatkan hasil foto di ponselnya.
“Tidak buruk,” jawab Gabby. “Coba kau geser dan lihat semua hasilnya, mungkin ada yang lebih bagus lagi,” usulnya.
Sepasang sahabat itu melihat beberapa hasil jepretan Davis secara perlahan, mereka mengamati satu persatu tanpa terlewat sedikitpun.
“Ini paling bagus,” tutur Gabby memberhentikan kegiatan jari Diora menggeser layar ponsel.
“Coba kau lihat hasil foto di ponselmu, mungkin lebih bagus,” pinta Diora menunjuk dengan dagu ke arah ponsel di tangan Gabby.
“Ini bagaimana?” Gabby memperlihatkan foto dari ponselnya. Dalam hatinya begitu dongkol melihat hasil jepretan George.
“Jelek sekali, kenapa kita sedang menganga mulutnya malah di foto,” gerutu Diora. “Coba geser, lihat foto yang lainnya,” pintanya lagi.
Gabby pun menggeser ke kanan layar ponselnya. Ia mendengus sebal ketika melihat tak ada foto lain lagi, hanya satu foto saja yang dibidik oleh George.
“Kau tidak ikhlas ya!” tuduh Gabby dengan nada ketusnya dan mata mendelik. Menunjuk dengan jarinya ke arah George yang sudah asik duduk santai di sofa.
“Sudah dibantu, bukannya berterimakasih malah menuduh,” sindir George tak kalah ketus dengan wajah datarnya.
Kebencian Gabby semakin menggunung dengan George. Hatinya semakin seperti diremas saat ini. Sorot matanya seolah ingin menelan hidup-hidup pria yang berkata ketus dengannya itu.
Entah mengapa Gabby jadi mengingat kejadian saat dirinya tak sengaja melihat George dan kekasihnya kencan. Betapa mesra dan perhatiannya George dengan kekasih wanitanya itu yang Gabby tak tahu jika hubungan antara George dan wanita itu sudah berakhir.
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor