NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lampu Merah dan Sinyal dari Bayangan

Matahari siang membakar aspal kawasan Sudirman. Di dalam kabin SUV hitam Al-Maktoum Group yang dingin ber-AC, keheningan dipecah oleh ketukan jemari Shanum yang gelisah di atas pangkuannya. Di kursi belakang, CEO muda itu terus melirik jam tangannya yang melingkar elegan.

"Aran, bisakah kamu menambah kecepatan sedikit lagi?" bentak Shanum kaku, suaranya sarat akan keketusan yang dibuat-buat. "Rapat konsorsium dengan jajaran investor Senayan dimulai dua puluh menit lagi. Kalau kita terlambat, wibawa Al-Maktoum Group akan jatuh!"

Di balik kemudi, Aran menatap spion tengah. Wajah tirusnya tenang tanpa riak emosi. Tangannya memegang lingkar kemudi dengan posisi presisi sembilan-tiga.

"Batas kecepatan maksimum di jalur ini adalah lima puluh kilometer per jam, Mbak Shanum," sahut Aran pelan, intonasinya teramat sopan dan sejuk. "Menambah kecepatan pada kepadatan lalu lintas seperti ini hanya meningkatkan risiko kecelakaan sebesar tiga puluh persen dan membatasi sudut pandang analisis bahaya saya."

Shanum mendesis jengkel, menyandarkan punggungnya secara kasar ke jok kulit. "Kamu ini pengawal pribadi atau petugas dinas perhubungan? Semuanya harus serba pas dan terukur!"

"Keselamatan Anda membutuhkan presisi, Mbak Shanum, bukan ketergesaan," balas Aran santai.

Shanum hendak menyemburkan omelan balasan, tetapi mata kelam Aran mendadak memicing tajam menatap spion kanan dan kiri. Kesopanan santai yang biasa menyelimuti pria itu lenyap dalam hitungan milidetik, berganti dengan aura dingin yang mematikan.

Di spion, sebuah mobil SUV perak tanpa plat nomor melaju rapat di sisi kanan mereka. Sementara dari arah kiri, sebuah truk boks berukuran sedang mendadak memotong arus lalu lintas secara tidak wajar, bersiap mengapit kendaraan Al-Maktoum Group tepat di perempatan lampu merah yang sedang menyala.

"Mbak Shanum," suara Aran berubah. Rendah, dalam, dan tidak menerima bantahan. "Merunduk ke lantai mobil. Sekarang."

"Apa?! Kamu jangan seenaknya—"

"Tundukkan kepala Anda!"

Instruksi tegas itu menghantam ruang kabin. Shanum terpaku. Sebelum sempat memprotes gengsinya, Aran memutar lingkar kemudi secara drastis ke arah kanan. Mesin SUV menderu kencang. Aran menginjak pedal rem dan gas secara bersamaan, melakukan manuver j-turn defensif yang luar biasa presisi.

Ckiieeeekkk!

Ban mobil menjerit keras membuang asap tipis di atas aspal. Truk boks yang melaju kencang dari sisi kiri menghantam tiang lampu jalan tepat di posisi mobil Shanum berada satu detik yang lalu. SUV perak penyerang melesat melewati mereka, gagal melakukan benturan, lalu melaju ugal-ugalan melarikan diri di tengah kekacauan klakson kendaraan lain.

Di dalam mobil, Shanum terlempar agak ke bawah, memeluk tas dokumennya erat-erat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Ketakutan hebat menyergapnya. Di tengah kekacauan itu, Shanum secara refleks memejamkan mata rapat-rapat. Bibirnya yang bergetar membisikkan doa singkat yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam:

"Ya Allah... selamatkan kami... Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minadz dhaalimiin..."

Aran meluruskan kembali posisi kendaraan, menepi secara aman di bahu jalan. Ia menoleh ke kursi belakang untuk memastikan keselamatan atasannya. Langkah kakinya yang siap menerjang ancaman mendadak terhenti saat melihat Shanum.

Wanita kaku yang selalu bersikap tinggi hati dan penuh gengsi itu kini gemetar hebat, memeluk dirinya sendiri seraya terus membisikkan nama Tuhan dengan ketenangan misterius yang perlahan menguasai kepanikkannya. Tidak ada senjata di tangan Shanum. Tidak ada tameng baja. Hanya bisikan kata-kata pada sosok gaib yang tidak terlihat, namun sanggup menyalurkan ketenangan di tengah ancaman maut.

Aran mematung. Tatapan matanya yang dingin meredup, menyisakan keraguan yang menusuk benaknya.

Bagaimana bisa ia mengingat Tuhannya saat maut nyaris mencabut nyawanya?

Pikiran Aran mendadak terlempar jauh ke masa lalu—ke sebuah malam kelam bertahun-tahun silam di tanah konflik yang tandus, saat ia baru berusia delapan tahun.

Aran mengingat bau sangit mesiu dan genangan darah di atas karpet rumahnya. Malam itu, kedua orang tuanya yang polos dan tak berdaya berlutut di bawah ancaman moncong senapan laras panjang kelompok milisi. Aran kecil yang bersembunyi di bawah meja mendengar ayahnya menangis sesenggukan, meraungkan nama Tuhan tanpa henti, memohon keadilan dan perlindungan agar nyawa mereka diampuni.

Namun, tidak ada keajaiban. Tidak ada tangan gaib yang meruntuhkan langit.

Tembakan beruntun meletus keras. Darah orang tuanya menciprat ke wajah Aran kecil di balik kegelapan meja. Malam itu, ayah dan ibunya tewas mengenaskan di depan matanya sendiri. Di malam yang sama, sosok berwajah dingin bernama Lucas—Viper-0—melangkah masuk ke dalam rumah yang terbakar, memungut Aran dari kubangan darah, dan menempanya menjadi mesin pembunuh tanpa jiwa.

Sejak malam pembantaian itu, Aran memutuskan bahwa Tuhan dan keadilan adalah kebohongan terbesar yang diciptakan oleh manusia-manusia lemah untuk menghibur diri. Dunia ini hanya diatur oleh satu hukum: siapa yang memegang senjata, dialah yang menentukan takdir.

Namun siang ini, melihat Shanum yang berdoa di bawah ancaman benturan truk, benteng ketidakpercayaan Aran yang dibangun selama belasan tahun mulai retak secara perlahan.

Aran menarik napas panjang, menetralkan denyut nadinya. "Ancaman sudah menetralisir diri, Mbak Shanum. Anda aman."

Shanum membuka matanya perlahan. Wajahnya masih pucat, namun ia segera membetulkan posisi duduknya dan merapikan blazer hitamnya yang sedikit kusut. Gengsinya yang setinggi langit dengan cepat kembali ditegakkan, meski tangannya masih bergetar halus saat memegang tali tas.

"Saya... saya tidak apa-apa," ujar Shanum cepat, suaranya agak serak. Ia membuang muka ke jendela luar agar Aran tidak melihat sisa ketakutan di matanya. "Kemudikan mobil ke lokasi rapat. Kita tidak boleh terlambat."

Aran menatap Shanum dari spion tengah. "Baik, Mbak Shanum."

Satu jam kemudian, Aran berdiri di luar pintu ruang VIP restoran tempat Shanum melangsungkan rapat konsorsium bersama para investor. Keadaan koridor terbilang aman dengan dua petugas keamanan gedung yang berjaga di ujung lorong.

Aran merogoh saku dalam jas hitamnya, mengeluarkan sebuah ponsel khusus terenkripsi berbasis frekuensi radio pendek yang hanya diketahui oleh jaringan internal Viper. Perangkat itu mendadak bergetar halus tanpa suara.

Di layar kecil berlatar hitam, sebuah baris kode perintah berwarna merah berkedip kencang, menembus protokol keamanan yang telah Aran buat:

FROM: VIPER-0 (LUCAS)

MESSAGE: Sinyal taktis-mu menyala di Jakarta, Viper-1. Pemburu dari faksi liar sudah mencium jejakmu. Pulang ke markas, atau saya sendiri yang akan turun menghabisi tempat sembunyimu.

Aran menatap pesan itu dengan wajah kaku. Matanya yang kelam tak menunjukkan rasa takut, melainkan keletihan mendalam dari seorang prajurit yang merindukan kedamaian yang tak pernah ia miliki.

Aran menutup perangkat itu, menyimpannya kembali ke balik jasnya. Ia membalikkan badan, menatap pintu kayu jati tempat Shanum berada di dalam. Aran menyadari, bahaya yang mengintai Shanum kini bukan lagi sekadar perebutan harta bisnis dari Surya Wijaya, melainkan juga bayangan berdarah dari masa lalunya sendiri yang mulai mengejar.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!