Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Keluarga Besar yang Serakah
Arya tiba bersama dua pekerja peternakan tidak sampai lima belas menit kemudian.
Dia menyerahkan Bik Inah kepada Pak RT dan polisi yang sudah dipanggil Bu Sumi, lalu membawaku ke puskesmas. Luka di belakang kepalaku dibersihkan dan ditutup. Dokter memastikan tidak ada tanda bahaya, tetapi menyuruhku kembali jika pusing, muntah, atau mengantuk berlebihan.
Barang bukti difoto dan dihitung di depan saksi. Emas dikembalikan setelah dibuatkan berita penerimaan, sedangkan duplikat kunci dan tas robek ditahan. Proses laporan belum selesai, tetapi malam itu Bik Inah tidak pulang sebagai orang bebas yang bisa mengubah cerita sesukanya.
Tiga hari kemudian, memar di kepalaku belum hilang ketika satu mobil sewaan berhenti di depan pagar.
Paman Karto turun bersama istrinya, Bibi Yem, dan dua sepupu laki-lakiku yang sudah dewasa. Mereka adalah keluarga kakak Pak Sukri. Aku pernah melihat mereka sebentar di Tegalsari, tetapi tak satu pun datang saat aku dipaksa menggantikan Tiara.
“Laras!” Bibi Yem memelukku sebelum aku sempat mempersilakan masuk. Matanya langsung bergerak melewati bahuku. “Ya ampun, rumahmu memang besar sekali.”
“Rumah Arya,” koreksiku.
“Sekarang sama saja. Suami istri masa hitung-hitungan.”
Mereka masuk membawa satu kantong buah tangan berisi singkong rebus. Sasa langsung memanjat pangkuanku karena tidak mengenal mereka. Raka duduk di kursi dekat tangga sambil membaca, tetapi matanya terus mengikuti setiap gerakan tamu.
Bibi Yem tidak langsung duduk. Dia membuka pintu ruang makan, melihat dapur, lalu mencoba memutar gagang kamar kerja Arya.
“Kamar atas ada berapa?” tanyanya.
“Cukup untuk keluarga yang tinggal di sini.”
“Kalau kami menginap dua malam, muat, kan? Sekalian anak-anak melihat peternakan.”
“Bibi tadi bilang datang menjenguk. Tidak bilang akan menginap.”
“Kalau keluarga datang, masa harus membuat janji?”
Aku mengingat kalimat Ratna dan nyaris merasa seluruh orang yang ingin menguasai rumahku belajar dari buku yang sama.
“Saya baru mengalami cedera kepala dan perlu istirahat,” kataku. “Kalau ingin bermalam, ada penginapan di kecamatan.”
Paman Karto baru memperhatikan plester di dekat rambutku. Bukannya bertanya keadaanku, dia malah berkata, “Rumah besar begini sayang kalau kamar dibiarkan kosong.”
Raka menutup bukunya. “Kamar tidak kosong. Satu untuk Mbak Laras dan Ayah, satu untuk kami, satu ruang kerja.”
“Anak kecil jangan menyela orang tua,” tegur Bibi Yem.
“Dia menjawab pertanyaan Bibi,” kataku. “Dan di rumah ini dia boleh bicara selama sopan.”
Raka kembali membuka buku, tetapi kali ini duduk lebih dekat ke kursiku.
Paman Karto memeriksa langit-langit, lantai, bahkan bingkai jendela. “Katanya peternakannya juga besar?”
“Cukup untuk menyibukkan banyak orang.”
“Berapa ekor sapi?” tanya salah satu sepupuku.
“Jumlahnya berubah sesuai pengiriman.”
“Ratusan?”
Aku menuangkan teh. “Kalau ingin tahu lowongan kerja, tanyakan bagian administrasi.”
Sepupuku tersenyum lebar. “Nah, memang itu maksud kami. Daripada Mas Deni menganggur di Tegalsari, biar masuk peternakan. Masih keluarga, pasti bisa langsung jadi pengawas.”
“Dia pernah bekerja dengan ternak?”
“Belum. Tapi jadi pengawas kan tinggal menyuruh orang.”
Raka membalik halaman bukunya sedikit terlalu keras.
“Di peternakan, pengawas harus memahami kesehatan ternak, jadwal pakan, kebersihan, dan pencatatan,” kataku. “Kalau mau melamar, kirim data pengalaman. Mulainya sesuai kemampuan, bukan langsung mengawasi.”
Bibi Yem terkekeh. “Masih saudara kok pakai lamaran segala.”
“Justru supaya pekerja lain tidak merasa diperlakukan tidak adil.”
“Deni itu anak rajin,” kata Paman Karto. “Kalau Arya sibuk, dia juga bisa tinggal di sini untuk menjaga rumah.”
“Rumah ini tidak membutuhkan penjaga tambahan.”
“Setelah kejadian pencuri kemarin, seharusnya kamu senang ada keluarga laki-laki.”
“Pencuri kemarin masuk karena dia pernah dipercaya keluarga dan menyimpan kunci tanpa izin. Jadi saya justru tidak akan membagikan akses rumah kepada orang lain hanya karena mengaku kerabat.”
Deni menggeser duduknya dengan wajah tersinggung. “Saya bukan pencuri.”
“Saya juga tidak menyebut Mas Deni pencuri. Saya menjelaskan aturan rumah.”
Paman Karto mengambil kue tanpa menunggu dipersilakan. “Kami juga berpikir, warung keluarga di Tegalsari bisa kamu pasok daging. Tidak usah banyak, dua puluh kilo seminggu.”
“Bisa. Nanti saya kirim daftar harga.”
“Harga?” Bibi Yem membelalakkan mata. “Kami ini keluarga ibumu.”
“Karena keluarga, saya bisa meminta kantor memasukkan ke harga warung, bukan harga eceran.”
“Masa daging dari keluarga sendiri harus dibayar?”
“Sapinya tetap makan, pekerja tetap digaji, kendaraan tetap memakai bahan bakar.”
Sepupuku yang lain bersandar di sofa. “Kamu sudah menikah dengan orang kaya. Dua puluh kilo daging tidak akan membuat miskin.”
“Benar. Tapi dua puluh kilo gratis setiap minggu akan membuat orang lain datang meminta hal yang sama.”
Bibi Yem mendengus. “Kamu sekarang lupa asal. Waktu kecil, keluarga besar sering menggendongmu.”
“Waktu kecil aku tinggal di Jakarta.”
“Sebelum tertukar, kami pernah melihatmu di rumah sakit.”
“Berarti sekali, dan aku bahkan tidak mengingatnya.”
Wajahnya mengeras. Dia mengangkat nama Bu Minah, mengatakan ibuku akan malu jika tahu putrinya pelit kepada kerabat. Sasa semakin erat memeluk leherku mendengar nada suaranya meninggi.
Aku mengusap punggung anak itu. “Jangan membawa Ibu untuk menekan saya. Kalau Ibu membutuhkan sesuatu, beliau akan bicara sendiri.”
“Kami cuma mengingatkan agar kamu tidak tinggi hati.”
“Saat aku dikirim menggantikan Tiara, Paman dan Bibi tahu?”
Tak ada yang menjawab.
“Saat keluarga Bimo mengambil uang seserahan dan orang tuaku hanya menerima sebagian kecil, ada yang bertanya?”
Paman Karto berdeham. “Itu urusan orang tuamu.”
“Tapi daging gratis dan pekerjaan tanpa syarat mendadak menjadi urusan keluarga besar?”
Raka menunduk, menyembunyikan senyum tipis di balik buku.
Paman Karto bangkit dengan wajah merah. “Kamu tidak perlu menyindir. Kami datang baik-baik.”
Suara mobil Arya terdengar dari luar. Beberapa saat kemudian dia masuk membawa map pengiriman. Tatapannya berhenti pada plester kecil di belakang kepalaku, lalu pada tamu-tamu yang berdiri.
“Ada apa?”
“Paman Karto ingin membeli daging untuk warung,” jawabku. “Dan sepupu ingin melamar kerja.”
Arya mengangguk. “Besok datang ke kantor peternakan. Daging bisa ambil harga grosir, dicatat dan dibayar sesuai jatuh tempo. Lamaran kerja serahkan ke administrasi. Kalau memenuhi syarat, dipanggil.”
Dia tidak bertanya hubungan darah atau menawarkan keistimewaan. Semua diperlakukan sebagai urusan usaha.
Paman Karto tak bisa lagi menyebutku sebagai penghalang. Namun wajahnya menunjukkan bahwa jawaban itu bukan yang mereka inginkan.
Mereka pulang tanpa mendaftarkan pesanan dan tanpa meninggalkan data kerja.
Di pintu pagar, Bibi Yem menoleh. “Jangan terlalu bangga, Laras. Kami dengar seserahanmu delapan juta delapan ratus delapan puluh delapan ribu, belum setengah sapi dan tiga set emas. Lebih mewah daripada milik anak kandung keluarga Bimo.”
Aku menatapnya. “Lalu?”
“Soal uang itu belum selesai.” Dia tersenyum tipis. “Cepat atau lambat, akan ada yang datang menagih perhitungannya.”