NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Jatuh Sakit

Tiga minggu setelah video itu menyebar, aku belajar bahwa tubuh bisa menyerah lebih dulu daripada hati.

Minggu ujian tengah semester membuat perpustakaan penuh sejak pagi. Aku datang hanya dengan segelas kopi hitam. Kotak makanan dari Mbok Nah masih tersimpan di kulkas kos karena setiap kali mencoba makan, perutku mual.

Dinda meletakkan sebungkus nasi di atas bukuku.

“Makan.”

“Nanti.”

“Kamu bilang begitu sejak kemarin.”

“Aku minum kopi.”

“Kopi bukan makanan, Kar.”

Aku menutup halaman catatan. “Kalau nggak belajar, nilaiku jatuh.”

“Kalau kamu pingsan, kamu bahkan nggak ikut ujian.”

Aku tertawa kecil, tetapi kepala langsung berdenyut. Sudah dua hari tubuhku terasa panas lalu menggigil. Aku menganggapnya akibat kurang tidur.

Deni masih mengantar kebutuhan setiap awal minggu. Biaya kos dan hidup masuk otomatis ke rekening. Om Bram tidak pernah datang. Setelah video beredar, tim kampus menghapus unggahan utama dan mengingatkan soal privasi, tetapi salinannya tetap muncul di akun lain.

Om Bram hanya mengirim satu pesan:

`Jangan membaca komentar. Fikri sedang mengurus permintaan penghapusan.`

Aku tidak membalas.

Nomornya tidak kublokir. Aku mengatakan pada diri sendiri bahwa rumah sakit atau kampus mungkin membutuhkan kontak keluarga. Sebenarnya aku masih membuka percakapan kami setiap malam, menunggu pesan kedua yang tidak pernah datang.

Di kampus, sebagian orang sudah berhenti membicarakan video. Sebagian lain sengaja memanggilku `anak Om` ketika lewat. Dinda melaporkan akun yang mengunggah ulang, sedangkan aku pura-pura tidak mendengar. Energi untuk marah habis bersama nafsu makanku.

Kopi membuat perut perih, tetapi menahan kantuk selama satu atau dua jam. Setelah itu tanganku semakin dingin dan kepala terasa lebih berat. Aku tetap datang ke kelas karena takut satu hari tanpa kesibukan akan memberiku terlalu banyak waktu untuk memikirkan Om Bram.

Malam sebelum pingsan, Mbok Nah menelepon. Aku berbohong sudah makan sup. Setelah panggilan berakhir, aku menatap kotak makanan yang masih tersegel dan merasa bersalah, tetapi tetap tidak membukanya.

Ketika Dinda pergi mengikuti ujian, aku bertahan di perpustakaan sampai sore. Huruf-huruf di halaman mulai bergerak. Aku keluar mencari udara, menuruni tangga menuju plaza, lalu berhenti karena pandangan dipenuhi bintik hitam.

Seseorang memanggil namaku.

Aku mencoba memegang pagar. Tanganku tidak sampai.

Lantai batu menghantam lutut, kemudian dahiku. Setelah itu tidak ada apa-apa.

Saat kesadaran kembali, suara orang-orang terdengar jauh.

“Jangan dipindahkan dulu.”

“Ambulans sudah datang.”

Dinda berlutut di sampingku. Wajahnya basah oleh air mata.

“Kar, dengar saya?”

Aku ingin menjawab, tetapi lidah terasa tebal.

Petugas medis memasang penyangga sementara dan mengangkatku ke tandu. Di dalam ambulans, Dinda menggenggam ponselku. Dia membuka daftar kontak sambil menggigit bibir.

“Saya telepon Om Bram, ya?”

Aku menggeleng lemah.

“Kamu butuh keluarga.”

“Jangan.”

Dinda menatap nama `Om Bram` yang masih tersimpan di bagian atas, meski percakapannya sudah kusembunyikan.

“Kalau bukan dia, siapa?”

“Fikri.”

Dia menelepon Fikri. Suaranya pecah saat menjelaskan aku pingsan dan dibawa ke rumah sakit kampus. Tidak sampai satu jam, Fikri datang dengan kemeja kerja dan mengambil alih administrasi.

“Kami pindahkan Sekar ke RS Pondok Indah,” katanya kepada Dinda. “Riwayat medisnya ada di sana.”

Aku terlalu lemah untuk menolak.

Di IGD, jarum infus masuk ke punggung tangan. Dokter membersihkan lecet di dahi dan memesan pemeriksaan darah. Suhu tubuhku hampir empat puluh derajat. Tekanan darah rendah, bibir kering, dan tubuhku kekurangan cairan cukup berat.

“Kapan terakhir makan lengkap?” tanya dokter.

Aku tidak ingat.

Dinda menjawab, “Mungkin tiga hari lalu.”

Dokter menatapku tegas. “Ini bukan hanya kurang makan. Hasil awal menunjukkan infeksi tifoid, dan dehidrasinya berat. Kamu harus dirawat serta diberi antibiotik sesuai hasil pemeriksaan lanjutan.”

Dia menjelaskan hasil tes belum cukup hanya dari satu angka. Sampel darah tambahan dikirim untuk kultur, sementara terapi awal diberikan berdasarkan gejala, demam menetap, dan pemeriksaan laboratorium. Aku harus dipantau karena tekanan darah turun saat mencoba duduk.

“Apakah dia tertular dari makanan?” tanya Dinda.

“Bisa dari makanan atau minuman yang terkontaminasi,” jawab dokter. “Kurang makan tidak menyebabkan tifoid, tetapi membuat tubuhnya lebih sulit pulih. Dehidrasi juga memperburuk kondisinya.”

Dinda menatapku dengan wajah `saya sudah bilang` yang kali ini tidak terasa menyebalkan. Aku hanya merasa malu telah membuatnya ketakutan.

“Besok ada ujian.”

“Kalau memaksa keluar, risikonya bukan sekadar gagal ujian.”

Aku menutup mata.

Fikri mengurus pemindahan ke kamar tunggal. Dinda duduk di sofa sambil mengirim surat keterangan ke dosen. Ketika perawat keluar, dia akhirnya marah.

“Kamu mau membuktikan apa dengan nggak makan?”

“Aku nggak lapar.”

“Bohong.” Dinda menyeka pipinya. “Kamu ingin dia tahu kamu hancur, tapi kamu juga melarang saya menelepon dia. Kamu sendiri nggak tahu maunya apa.”

Aku membalikkan wajah ke jendela.

Fikri kembali setelah menelepon di luar. “Dokter memperkirakan rawat inap sekitar tiga hari, tergantung respons cairan dan antibiotik.”

Dia meletakkan tas kuliahku di lemari dan menyerahkan ponsel kepada Dinda untuk mengurus pemberitahuan ujian susulan. Semua orang bergerak memecahkan masalah yang kubuat, sementara aku hanya bisa berbaring.

“Maaf merepotkan,” kataku.

Fikri berhenti. “Sakit bukan tindakan kriminal, Sekar. Yang perlu kamu lakukan sekarang mengikuti perawatan.”

Kalimat itu mengingatkanku pada Om Bram. Mungkin karena itulah pertanyaan berikutnya langsung keluar.

“Mas Fikri bilang ke siapa?” tanyaku.

Dia tidak langsung menjawab.

“Pak Bram.”

Aku mencoba duduk. Dunia kembali miring.

“Kenapa?”

“Karena dalam data rumah sakit beliau masih tercatat sebagai keluarga dan kontak darurat. Saya juga tidak akan menyembunyikan keadaan medis serius darinya.”

“Aku sudah dewasa.”

“Benar. Karena itu keputusan perawatan tetap milikmu. Memberi kabar bukan mengambil keputusanmu.”

Aku tidak punya tenaga untuk berdebat.

Malam turun di balik jendela rumah sakit. Dinda pulang sebentar mengambil pakaian. Fikri menunggu di luar kamar. Obat penurun panas membuat kesadaranku naik turun.

Dalam setengah tidur, aku mendengar langkah cepat di koridor. Tidak seperti langkah perawat yang teratur. Langkah itu berhenti di depan pintu.

Om Bram masuk.

Dia masih memakai pakaian kerja. Rambutnya berantakan seolah berkali-kali disisir dengan tangan. Wajahnya pucat, jauh lebih pucat daripada dinding rumah sakit.

Dadanya naik turun cepat. Entah dari mana dia datang, dia pasti berlari dari lift. Untuk sesaat, jarak panjang selama tiga minggu di antara kami lenyap oleh ketakutan di matanya.

Aku ingin memalingkan wajah, tetapi mataku tidak menurut.

“Om...”

Suaraku hanya berupa udara.

Dia berdiri di samping ranjang. Tangannya terangkat menuju dahiku, berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuh, lalu menggantung di udara seolah dia tidak lagi tahu apakah berhak mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!