Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Serigala Buta di Kandang Naga
Matahari sore menyinari fasad kaca Menara Su, memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Di jalan raya depan gedung, sebuah van teknisi telekomunikasi berwarna abu-abu menepi dengan tenang. Empat orang pria berseragam wearpack biru tua melangkah turun sambil membawa kotak peralatan logam yang berat.
Mereka bukanlah teknisi biasa. Pria yang memimpin kelompok itu adalah Gou, seorang mantan tentara bayaran elit yang kini bekerja sebagai pembunuh bayaran sekaligus penyabotase profesional. Ia dan timnya disewa dengan bayaran fantastis oleh Tuan Muda Keluarga Long dari provinsi selatan.
Tugas mereka hari ini sangat spesifik:
Menyusup ke Ruang Server: Menanamkan malware perusak untuk melumpuhkan seluruh jaringan data Grup Su.
Menyadap Ruang CEO: Memasang perangkat penyadap mikro di ruangan Su Yuhan.
Menculik (Opsional): Jika ada kesempatan yang sangat aman, melumpuhkan Su Yuhan dan membawanya keluar dari gedung menggunakan jalur basement.
"Ingat," bisik Gou melalui alat komunikasi kecil di telinganya. "Keluarga Long memberi kita target waktu lima belas menit. Ini hanya perusahaan kelas dua. Satpam mereka paling hanya pensiunan tua atau pemuda malas yang digaji upah minimum. Jangan membuat keributan, lumpuhkan siapa pun yang menghalangi, dan selesaikan tugas."
Ketiga anak buahnya mengangguk dengan seringai meremehkan. Bagi mereka yang pernah bertempur di wilayah konflik, menyusup ke gedung perkantoran sipil sama mudahnya dengan mengambil permen dari tangan bayi.
Gou dan timnya melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis lobi utama Menara Su. Suasana di dalam tampak normal dan sibuk oleh lalu lalang karyawan. Di meja resepsionis, beberapa satpam berseragam biru muda tampak berdiri bersandar, sesekali mengobrol satu sama lain. Di dekat lift eksekutif, seorang pria berpostur sangat besar dengan bekas luka tipis di rahangnya tampak sedang membaca koran, wajahnya tertutup separuh.
"Terlalu mudah," batin Gou sambil tersenyum sinis.
Ia memimpin timnya berjalan lurus menuju lift VIP yang memiliki akses langsung ke ruang server dan lantai eksekutif. Ketika seorang resepsionis mencoba memanggil mereka untuk meminta kartu identitas tamu, Gou mengabaikannya dan terus melangkah cepat.
Namun, tepat dua meter sebelum jari Gou menyentuh tombol lift, pria berpostur besar yang tadi sedang membaca koran tiba-tiba sudah berdiri menghalangi jalan mereka. Gerakannya begitu halus dan tanpa suara, seolah ia baru saja berteleportasi.
Pria itu adalah Yuan, Komandan Pasukan Bayangan yang kini "menyamar" sebagai Kepala Satpam.
"Maaf, area ini khusus untuk eksekutif," suara Yuan terdengar berat dan datar. "Mohon tunjukkan surat perintah perbaikan dan kartu identitas teknisi kalian."
Gou menatap Yuan dari atas ke bawah. Meski postur satpam ini cukup besar, Gou merasa sangat percaya diri dengan teknik bela diri militer mematikan yang ia kuasai. Ia tidak punya waktu untuk berdebat.
"Surat perintahnya ada di sini, Kawan," ucap Gou sambil tersenyum ramah. Ia berpura-pura merogoh saku wearpack-nya.
Namun, dalam sepersekian detik, tangannya melesat keluar, bukan membawa kertas, melainkan melepaskan pukulan ke arah jakun Yuan. Itu adalah teknik kuncian mematikan yang dirancang untuk menghancurkan tenggorokan dan membungkam target seketika tanpa suara.
Puk!
Mata Gou terbelalak lebar. Pukulannya yang secepat kilat dan mampu mematahkan batu bata, kini tertahan dengan sangat mudah di telapak tangan Yuan. Kepala satpam itu menangkap tinjunya seolah hanya sedang menangkap daun yang jatuh.
Yuan menatap mata Gou dengan pandangan kosong yang membekukan darah. "Kau tahu? Tuan Mudaku memerintahkan agar kami tidak menumpahkan darah setetes pun hari ini."
Merasakan aura membunuh yang mengerikan meledak dari tubuh Yuan, insting bertahan hidup Gou menjerit histeris. Ia menyadari sebuah kenyataan yang fatal: Pria di depannya ini bukanlah manusia biasa.
"S-serang dia!" teriak Gou tertahan pada ketiga anak buahnya.
Ketiga teknisi palsu itu serempak menjatuhkan kotak peralatan mereka. Dari balik lengan baju, pisau belati taktis meluncur mulus ke genggaman mereka. Mereka menerjang maju dari tiga arah berbeda untuk menusuk Yuan.
Namun, sebelum belati mereka sempat terayun, keajaiban mengerikan terjadi.
Enam orang "satpam" yang tadi tampak mengobrol santai di sekitar lobi, tiba-tiba bergerak dengan kecepatan yang menentang hukum fisika. Mereka melesat maju bagaikan hantu. Dalam waktu kurang dari tiga detik, sebuah pertunjukan kekerasan yang sangat sunyi dan brutal tersaji di sudut lobi.
Krak! Krek!
Terdengar suara tulang bergeser dan persendian yang diputar secara paksa. Tidak ada jeritan yang keluar, karena mulut keempat penyusup itu telah dibungkam erat oleh sarung tangan taktis. Salah satu prajurit bayangan mematahkan pergelangan tangan musuhnya, melucuti pisau, dan mengunci lehernya hingga pingsan dalam satu gerakan fluid yang mematikan.
Di saat yang sama, Yuan hanya memutar pergelangan tangan Gou hingga berbunyi gemeretak yang mengerikan. Gou jatuh berlutut, wajahnya membiru karena kekurangan oksigen saat ibu jari Yuan menekan saraf tidur di lehernya dengan presisi bedah.
Dalam waktu lima detik, keempat tentara bayaran elit dari selatan itu telah terkapar tak berdaya di lantai, lumpuh total dengan persendian terkilir, tanpa meneteskan setetes darah pun.
Karyawan biasa yang berlalu lalang di sisi lain lobi bahkan tidak menyadari pertarungan mematikan itu, karena para satpam lainnya dengan sangat rapi membentuk formasi melingkar yang menutupi pandangan.
"Bawa sampah-sampah ini ke ruang interogasi basement tiga," perintah Yuan dingin pada anak buahnya sambil melepaskan kerah baju Gou. "Gunakan serum kejujuran. Cari tahu siapa penghubung Keluarga Long di kota ini, lalu masukkan mereka ke dalam peti kemas pelabuhan."
Dua orang petugas kebersihan, yang juga anggota Pasukan Bayangan, segera muncul membawa dua gerobak sampah plastik berukuran besar yang sudah dimodifikasi. Dengan sangat efisien, tubuh keempat penyusup yang lumpuh itu dimasukkan ke dalam gerobak, ditutupi tumpukan plastik pelindung, dan dibawa menuju basement.
Yuan menepuk-nepuk seragam birunya yang tidak kusut sedikit pun, lalu kembali mengambil korannya yang terjatuh. Ia melirik kamera CCTV di sudut ruangan dan memberikan anggukan kecil—sebuah laporan diam kepada Lin Fan yang sedang duduk di ruang kerja istrinya di lantai dua puluh delapan.