NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.3

Kicau burung terdengar merdu seperti alunan musik yang syahdu. Angin semilir berhembus lembut, sesekali menyapu rambut wanita cantik itu hingga tertiup angin. Anna membuka jendela, menghirup udara segar dengan penuh ketenangan. Senyum merekah di bibir tipisnya, menampakkan kebahagiaan saat bayangan sang kekasih melintas di benak.

" Astaga, pak dokter sebentar lagi datang, sedangkan Eliz belum bangun. Bagaimana ini?" Ucap Anna nampak panik, seolah ada seseorang ditemani bicara.

Matanya menatap jauh ke luar jendela sebelum akhirnya bergegas membangunkan adik tercintanya.

"Tuan putri, ayo bangun! Kamu belum siap-siap, lo!" seru Anna sambil masuk ke kamar Eliz tanpa mengetuk pintu. Mendengar suara itu, Eliz langsung menggeliat seketika.

"Tuan putri adalah kakak Anna, bukan Eliz. "Aku hanya perempuan lemah yang bisa berbaring di tempat tidur lalu duduk di kursi roda," kata Eliz dengan nada ketus. Suasana hatinya tiba-tiba memburuk mendengar ucapan sang kakak yang seolah mengejek. Hati Anna terasa perih mendengar pernyataan adiknya. Ia tidak bermaksud menyakitinya, hanya bercanda.

"Kakak bantuin kamu mandi ya. Sebentar lagi dokter Alvaro datang memeriksa kondisimu," ucap Anna, berusaha mengabaikan perih di dadanya. Eliz mengangguk pelan, lalu bersiap menuju kamar mandi dengan bantuan Anna.

"Dokternya ganteng, ya, Kak?" tanyanya, sambil melemparkan senyum tipis. Anna mengangguk, membalas senyuman adiknya tanpa sedikit pun cemburu.

Di sudut pintu, Yusi mengamati kedua anaknya yang tengah saling melempar canda tawa. Kebahagiaan yang mengalir di hatinya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Setetes air mata hangat jatuh membasahi pipi yang mulai berkerut. Kasih sayang Anna kepada Eliz, sang adik, terasa begitu dalam dan tak terukur. "Ehm," suara Yusi terdengar oleh kedua wanita cantik itu.

"Mama yang bantuin mandi." Kata Yusi tak ingin dibantah.

"Mama!" seru Eliz dengan wajah yang berseri-seri.

"Ada apa ini? Kelihatan bahagia banget," Yusi menyelipkan basa-basi sambil tersenyum hangat.

" Tidak ada kok, Ma. Aku cuma bantuin Eliz dandan," jawab Anna santai.

"Kamu kerja yang lain aja ya, Mama yang bantuin adikmu ," ujar Yusi, tak mau melewatkan momen itu. Anna menurut, lalu meluangkan waktu membersihkan rumah. Entah karena akan kedatangan tamu, atau sekadar ingin melihat rumahnya bersih setelah beberapa hari sibuk.

Pagi itu begitu melelahkan, saat matahari mulai menyelinap pelan melalui celah-celah jendela. Namun, Putri Anna tak bergeming, tangannya terus sigap membereskan rumah seolah ingin mengusir penat yang menyesakkan dada. Rambutnya yang terurai indah menutupi wajah yang mulai lelah, namun matanya tetap menyimpan semangat yang tidak pernah pudar.

Telepon berdering nyaring dari salah satu ruangan, terdengar jelas oleh Bu Yusi saat melewati kamar Anna.

“Ada telepon, Anna,” suara Bu Yusi setengah berteriak.

“Biarkan aja, Ma,” balas Anna sambil mengabaikan panggilan itu.

“Jangan begitu, dong, Anna. Bagaimana kalau yang telepon itu pak Dokter?”

“Sebentar, Ma,” kata Anna akhirnya menurut. Sesibuk apapun Anna, jika menyangkut ibunya, dia tak pernah bisa menolak. Anna mengangkat telepon dengan wajah sumringah, sesekali terlihat tersipu malu. Melihat itu, Bu Yusi merasa kesal karena putri sulungnya terlalu santai.

"Jangan lama-lama, kamu juga harus bersiap-siap," ujarnya ketus sebelum berlalu meninggalkan Anna begitu saja.

“Suara siapa itu, Anna?” tanya sang kekasih singkat di balik telepon membuat Anna merasa tidak enak hati.

“Itu mama, Dok,” jawab Anna pelan.

Alvaro merasa ada kejanggalan dengan nada ucapan ibu Anna sehingga kembali bertanya.

“Mama kamu tidak suka aku telepon, ya?”

“B-bukan begitu, Dok. Mama nyuruh aku berdandan, makanya dia larang aku lama-lama telepon,” balas Anna cepat.

Alvaro mencoba mengerti sekaligus mengabaikan apa yang baru saja didengarnya. "Mungkin aku yang terlalu mengkhawatirkan Anna," batinnya.

***

Hari sudah mulai siang, tapi tamu yang ditunggu-tunggu sejak tadi belum juga muncul. Sesekali Anna menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia bolak-balik berjalan ke depan pintu, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.

“Mana Dokter Alvaro?” tanya ibu Yusi tiba-tiba, membuat Anna terkejut.

“Dokter Alvaro masih di jalan, Ma. Mungkin macet,” jawab Anna dengan suara yang terdengar lesu.

" Mama sudah capek-capek nyiapin segalanya. Eliz, adikmu, sudah berdandan cantik. Eh..malah dokternya belum datang. Hupps..." Mendengar itu, Anna berusaha meredakan hatinya yang mulai terluka.

"Sabar, Ma. Lagian kenapa Eliz harus didandani cantik, Ma? Dokter Alvaro datang ke sini cuma ingin lihat kondisi Eliz," ujar Anna dengan suara yang bergetar, merasakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik ucapan ibunya. Hatinya pun terkoyak.

" Kenapa belakangan ini kamu selalu berprasangka buruk sama Mama? Kamu terlihat khawatir, ada apa?" Tanya Yusi, membuat Anna gelagapan mencoba menyingkirkan rasa gugup yang tiba-tiba datang.

"Mama selalu salah paham sama aku," jawab Anna dengan nada yang mulai meninggi. Sesak di dada semakin menggerogoti hatinya. Dia merasa setiap yang dilakukannya selalu salah di mata ibunya. Kenapa ibu seolah tidak menginginkannya? Apa salahku?

Di sudut ruangan yang kosong, Anna duduk sendirian. Air mata mengalir deras saat ia teringat betapa ibunya memperlakukan adiknya, Eliz, dengan begitu istimewa. Sesekali, tangan mungilnya menyeka air mata yang terus mengalir tanpa disadari.

"Nasib," pikirnya, senyum pahit tersungging di bibirnya.

" Anna, dokter Alvaro sudah datang. Ayo, cepat keluar!" seru Yusi dengan suara semangat yang sampai terdengar hingga ke luar.

Anna segera keluar meski penampilannya berantakan. Ia belum sempat mandi apalagi berdandan cantik.

"Duh... muka kucel begini, ketemu dokter ganteng, bisa-bisa dia kabur," gumamnya sambil berlari kecil.

"Dokternya di mana, Ma?" tanya Anna sambil berjalan keluar. Melihat mobil di depan rumah, tapi yang turun bukan dokter Alvaro, raut wajah Anna langsung berubah kecewa.

"Dia bukan dokter Alvaro, Ma. Itu tamunya tetangga," ucap Anna sambil cemberut.

Seperti Anna, Yusi juga kecewa. Ia tak sabar ingin bertemu dokter Alvaro. Harapannya begitu besar agar Eliz cepat sembuh dan bisa berjalan seperti dulu lagi.

Yusi dan Anna kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Dalam hati, Yusi terus mengomel kesal tanpa henti. Sementara itu, Anna buru-buru menuju kamar mandi, takut menghadapi amarah ibunya. Ia sudah bisa membaca kemarahan sang ibu dari sorot mata tajam yang diarahkan kepadanya tadi. Air yang mengalir membasahi tubuh Anna terasa begitu menyegarkan, sementara aroma sabun yang harum menyelimuti udara, membuat wanita cantik itu betah berlama-lama di dalam kamar mandi,

"Kenapa dokter Alvaro belum juga datang?" tanyanya pelan, sambil sibuk mengeringkan rambut yang masih basah.

Anna membuka lemari, mencari baju yang cocok untuknya. Gaun krem bermotif bunga membuatnya tampak bersinar. Sesekali dia tersenyum di depan cermin, menatap penampilan yang menurutnya sudah pas.

" Anna, kenapa lama sekali di kamar? Kamu sudah siap belum?" tanya Yusi sambil memanggil putri sulungnya.

"Sebentar lagi, Ma. Aku hampir selesai," jawab Anna dengan suara pelan, membuat Yusi sedikit merasa kesal.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!