NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - UANG YANG TERLALU TIDAK MASUK AKAL

Naya masih memegang lengan Arkan.

Sentuhan itu ringan, tetapi cukup membuat Arkan sadar bahwa dirinya belum jatuh dari kenyataan. Ia masih berdiri di ruang administrasi yang dingin. Masih mendengar suara AC di sudut ruangan. Masih mencium aroma kertas, tinta printer, dan pewangi ruangan murah yang terlalu tajam. Masih melihat Pak Hendra duduk di balik meja dengan wajah kesal, seolah tidak sabar melihat pemuda miskin itu selesai mempermalukan dirinya sendiri.

Hanya satu hal yang berbeda.

Di layar ponsel Arkan, angka tiga triliun rupiah masih terpampang seperti lelucon yang terlalu besar untuk ditertawakan.

Rp3.000.000.000.000.

Arkan menelan ludah.

Tangannya dingin. Ujung jarinya terasa kebas. Selama beberapa detik, ia bahkan lupa cara bernapas dengan normal. Angka itu bukan sekadar banyak. Angka itu berada di luar jangkauan hidup yang selama ini ia kenal. Bagi Arkan, uang satu juta saja sudah bisa membuat keluarganya sedikit bernapas. Sepuluh juta bisa menutup banyak lubang. Seratus juta terdengar seperti mimpi yang hanya dibicarakan orang-orang saat bercanda di warung kopi.

Tapi tiga triliun?

Itu bukan mimpi.

Itu seperti dunia lain yang tiba-tiba jatuh ke telapak tangannya.

“Bang?” suara Naya terdengar lagi, kali ini lebih cemas. “Abang pucat.”

Arkan mengangkat wajah perlahan. Ia melihat mata adiknya yang mulai basah, melihat map cokelat di pelukannya, melihat tubuh kecil Naya yang sejak tadi berusaha kuat padahal jelas-jelas sedang menahan malu.

Di depan mereka, Pak Hendra mengetuk meja dengan ujung jarinya.

“Kalau sudah selesai melihat HP, saya masih ada pekerjaan,” katanya datar. “Keputusan saya tetap sama. Berkas tidak bisa keluar sebelum tunggakan lunas.”

Arkan tidak segera menjawab.

Bukan karena ia takut pada Pak Hendra.

Melainkan karena rasa takutnya sekarang berubah bentuk.

Tadi ia takut karena uangnya tidak cukup.

Sekarang ia takut karena uangnya terlalu banyak.

Di dalam kepalanya, suara sistem kembali terdengar.

[Detak jantung Tuan Rumah meningkat.]

[Telapak tangan dingin.]

[Respons psikologis: tidak percaya.]

[Catatan: reaksi ini lebih manusiawi daripada langsung tertawa seperti penjahat kaya baru.]

Arkan menggertakkan gigi pelan. “Diam dulu.”

Pak Hendra menyipitkan mata. “Kamu bicara sama siapa?”

Naya juga menatapnya.

Arkan sadar ia baru saja mengucapkan kalimat itu dengan suara rendah. Ia menarik napas, menekan kepanikan yang masih bergerak liar di dadanya, lalu memasukkan ponsel sedikit lebih dekat ke tubuhnya agar layar tidak terlihat jelas.

“Bukan apa-apa.”

Pak Hendra mengembuskan napas panjang. “Arkan, saya tidak punya waktu untuk drama.”

Drama.

Kata itu membuat sesuatu di dalam Arkan mengeras.

Selama ini, bagi orang seperti Pak Hendra, penderitaan orang kecil selalu terlihat seperti drama. Utang adalah kelalaian. Tunggakan adalah ketidakmampuan. Mimpi kuliah adalah kemewahan. Dan setiap usaha untuk meminta waktu selalu dianggap sebagai upaya mengganggu ketertiban orang-orang yang duduk lebih tinggi.

Arkan menatap angka di layar ponsel sekali lagi.

Lalu ia membuka aplikasi bank.

Jari-jarinya masih bergetar.

Ia tidak langsung memasukkan angka tunggakan. Ia malah membuka detail rekening, memastikan nama pemiliknya. Di sana tertulis jelas.

Arkan Pradipta.

Nomor rekeningnya benar.

Nama banknya benar.

Riwayat transaksi masuknya tercatat.

Ia membuka menu bantuan, lalu kembali. Membuka pesan notifikasi, lalu kembali. Menyegarkan layar saldo, lalu kembali. Angka itu tidak berubah.

Tiga triliun rupiah.

[Sistem memahami kekhawatiran Tuan Rumah.]

[Verifikasi legalitas dana: aman.]

[Status pajak awal: tertata.]

[Status hukum: bersih.]

[Sumber dana: mekanisme sistem finansial absolut.]

[Kesimpulan: uang dapat digunakan.]

Arkan menutup mata sebentar.

“Mekanisme sistem finansial absolut itu apa?” batinnya.

[Sederhananya: uang Tuan Rumah legal.]

“Tidak sesederhana itu.”

[Bagi manusia miskin, benar. Bagi sistem, itu sangat sederhana.]

Arkan hampir mengumpat.

Bahkan saat memberinya tiga triliun rupiah, sistem itu masih terdengar seperti sedang merendahkan tingkat pemahamannya.

Namun ada satu hal yang membuat Arkan tidak bisa mengabaikannya.

Sistem itu menjawab pikirannya.

Bukan pesan biasa.

Bukan aplikasi biasa.

Sesuatu benar-benar berada di kepalanya.

“Bang, kita pulang saja,” bisik Naya lagi. Suaranya kali ini lebih pelan, seperti takut membuat Pak Hendra semakin marah. “Naya nggak apa-apa. Naya bisa daftar tahun depan.”

Tahun depan.

Dua kata itu menusuk Arkan lebih dalam daripada semua hinaan Pak Hendra.

Bukan karena menunggu setahun itu mustahil.

Tapi karena Arkan tahu, bagi keluarga seperti mereka, satu tahun bisa berubah menjadi dua. Dua tahun bisa menjadi tidak jadi. Mimpi yang ditunda terlalu lama sering kali tidak mati mendadak. Ia mengering pelan-pelan sampai pemiliknya sendiri berhenti menyebutnya mimpi.

Arkan tidak mau Naya mengalami itu.

Ia mengangkat wajah dan menatap Pak Hendra.

“Berapa totalnya?”

Pak Hendra mengangkat alis. “Tadi sudah saya tunjukkan.”

“Sebutkan lagi.”

Nada Arkan tidak tinggi, tetapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Bukan kesombongan. Bukan keberanian penuh. Lebih seperti seseorang yang masih takut, tetapi sudah memutuskan untuk tidak mundur.

Pak Hendra menatapnya beberapa detik, lalu mendengus kecil. Ia mengambil kertas di atas meja dan menyebutkan angka total tunggakan, termasuk denda administrasi yang sejak tadi terasa seperti batu tambahan di pundak mereka.

Naya menunduk lagi saat mendengarnya.

Arkan hanya mengangguk.

Angka itu, yang beberapa menit lalu terasa seperti tembok raksasa, sekarang terlihat sangat kecil dibandingkan angka di layar ponselnya. Namun anehnya, Arkan tidak merasa lega. Ia justru merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang.

Kalau ia menekan tombol transfer sekarang, semuanya berubah.

Ia tidak tahu apakah uang ini benar-benar aman.

Ia tidak tahu apakah hidupnya akan kembali normal setelah ini.

Ia tidak tahu apakah besok ada polisi datang ke rumah, atau bank menelepon, atau sistem ini tiba-tiba menghilang dan meninggalkan masalah yang tidak bisa ia jelaskan.

Tapi ia tahu satu hal.

Kalau ia tidak menekan tombol itu, Naya akan pulang dengan mata yang lebih redup daripada tadi.

Dan Arkan sudah terlalu lelah melihat keluarganya terus mengecil karena uang.

Ia memasukkan nomor rekening yayasan yang tertera di kertas. Jemarinya bergerak hati-hati, terlalu hati-hati untuk seseorang yang baru saja memiliki tiga triliun rupiah. Ia mengecek nomor itu sekali, dua kali, tiga kali. Lalu ia memasukkan nominal.

[Sistem mendeteksi transaksi.]

[Jumlah: kecil.]

Arkan menahan napas.

[Sangat kecil.]

“Sistem,” batin Arkan tajam.

[Baik. Sistem akan diam.]

Jeda satu detik.

[Namun perlu dicatat, kekhawatiran Tuan Rumah terhadap nominal ini menunjukkan trauma ekonomi tingkat menengah ke berat.]

Arkan mengabaikannya.

Ia menekan lanjut.

Aplikasi meminta PIN.

Jari Arkan berhenti di atas layar.

Ini adalah batas terakhir.

Sebelum angka itu benar-benar keluar dari rekeningnya.

Sebelum ia membuktikan apakah semua ini nyata atau hanya jebakan digital paling gila yang pernah ia alami.

Pak Hendra menatapnya dengan senyum tipis. “Kenapa? Sinyal tidak ada?”

Pegawai perempuan di sebelahnya menunduk, pura-pura tidak mendengar.

Naya menggigit bibir bawahnya.

Arkan tidak menjawab.

Ia memasukkan PIN.

Layar berputar.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Berhasil.

Transaksi sukses.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!