NovelToon NovelToon
MUTIARA BUMI : Sang Kucing Putih & Sang CEO

MUTIARA BUMI : Sang Kucing Putih & Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO

Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.

Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.

Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang CEO Yang Sedang Buru-buru

Di dalam mobil sedan hitam mewah yang melaju membelah keramaian kota, suasana terasa hening sejenak. Xiao Chen masih bersandar di kursi kulitnya yang empuk, kepalanya sedikit menoleh ke belakang menatap ke luar jendela yang sudah berlalu. Matanya yang tajam masih menatap kosong, seolah bayangan wajah gadis cantik berpakaian putih tadi masih terpatri jelas di sana. Jantungnya yang biasanya berdetak tenang dan berirama teratur, kini berpacu agak cepat tanpa sebab yang jelas.

Di sebelahnya, Xiao Yang, adik laki-lakinya yang berusia dua tahun lebih muda, memperhatikan tingkah kakaknya itu dengan tatapan heran sekaligus geli. Xiao Yang adalah kebalikan dari Xiao Chen; ia lebih santai, murah senyum, dan sangat suka menggoda kakaknya yang tengil itu. Ia menyandarkan punggungnya dengan nyaman, lalu menyikut lengan Xiao Chen pelan.

"Hei, Kak? Apa yang kau lihat begitu lama sampai-sampai mulutmu menganga seperti itu? Ada bidadari turun dari langit atau apa?" tanya Xiao Yang sambil terkikik, matanya berbinar jenaka.

Xiao Chen tersentak kaget, seolah baru tersadar dari lamunannya. Ia segera menegakkan tubuhnya kembali, merapikan letak jasnya yang sedikit berantakan karena gerakannya tadi, lalu menatap adiknya dengan tatapan tajam dan berwibawa — meski pipinya sedikit memerah karena malu ketahuan sedang melamun.

"Jangan sembarangan bicara! Siapa yang menganga? Aku hanya... hanya sedang melihat keadaan jalanan saja. Memastikan keamanan dan kelancaran lalu lintas perusahaan kita, itu saja!" jawab Xiao Chen dengan nada tegas dan lantang, berusaha menutupi rasa penasaran yang menggelayut di hatinya. Sifat tengil dan pembencinya kembali muncul seketika sebagai tameng.

Xiao Yang tertawa makin keras, tidak percaya sama sekali. "Ayolah, Kak. Aku sudah tahu betul tingkah lakumu. Sejak kapan kau peduli dengan jalanan kota sampai menatapnya begitu sayang? Padahal biasanya kau hanya akan mengomel kalau macet atau jalan tidak rata. Jujur saja, kau melihat gadis cantik yang berdiri di pinggir trotoar tadi, kan? Yang berpakaian putih dan manis itu?"

Wajah Xiao Chen makin memerah padam, campuran antara rasa malu dan kesal karena adiknya bisa menebak dengan tepat. Ia memalingkan wajah ke arah jendela di sisi lain, bersungut-sungut. "Gadis cantik katamu? Hah! Aku tidak peduli. Cantik atau tidak, bagiku semua manusia sama saja. Yang penting bisnis berjalan lancar dan keuntungan bertambah."

Namun di dalam hatinya, pikiran Xiao Chen berputar kencang. Siapa sebenarnya gadis itu? batinnya bertanya-tanya terus-menerus. Wajahnya... ada sesuatu yang sangat familier. Matanya yang besar, tatapannya yang ceria, senyumnya yang manis... Rasanya aku pernah melihatnya di mana, tapi di mana ya? Ah, sudahlah! Mungkin hanya sekilas pandang biasa saja. Tidak penting.

Meski begitu, jauh di sudut hati kecilnya, ia tahu ada yang berbeda. Biasanya, jika ada wanita cantik yang mendekat atau dilihatnya, ia akan bersikap biasa saja, bahkan sering kali mengusir mereka dengan ketus karena merasa terganggu. Tapi gadis tadi... entah mengapa, melihat senyum tulus dan lambaian tangannya, rasanya hatinya terasa hangat dan nyaman. Dan yang paling aneh, tidak ada rasa gatal, tidak ada bersin, tidak ada serangan alergi sama sekali. Padahal ia yakin betul, gadis itu memancarkan kehangatan dan kelembutan yang persis seperti... seperti makhluk berbulu yang paling ia benci.

"Ngomong-ngomong," suara Xiao Yang kembali memecah lamunannya, nada bicaranya berubah sedikit lebih serius namun masih ada jejak candaan. "Kau tadi kalah negosiasi lagi ya? Ayah sudah mengadu padaku lho, katamu bertindak terlalu ceroboh dan terburu-buru, sampai-sampai dimanfaatkan oleh Guo Feng."

Mendengar nama itu, wajah Xiao Chen seketika berubah masam. Ingatannya langsung kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu, yang membuatnya sangat kesal dan berjalan-jalan di pinggir hutan tadi. Guo Feng, saingan bisnis utamanya, orang yang paling ia benci karena selalu saja berusaha menjatuhkan nama baik Grup Perusahaan Xiao.

"Jangan sebut nama orang itu di dekatku!" seru Xiao Chen dengan nada jengkel. "Dia curang! Dia memancing emosiku, membuatku marah, lalu aku jadi tidak berpikir jernih. Itu bukan salahku, tapi salah dia yang licik! Dan salah juga orang-orang yang mudah memprovokasi. Aku hanya... mudah percaya dan terbuka saja, itu sebabnya aku mudah terhasut. Itu sifat baik, tahu!"

Xiao Yang menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis mendengar alasan kakaknya yang selalu saja memutarbalikkan fakta. "Iya, iya. Sifat baik yang bikin kantong perusahaan sering bolong. Tapi untung saja kau masih punya otak di kepala, meski kadang suka disimpan di saku celana."

"Kau mau dipecat jadi adik atau apa, hah?" ancam Xiao Chen sambil melotot, meski tidak ada niat sungguhan.

Mobil mewah itu akhirnya melambat, berbelok masuk ke gerbang besar yang dijaga ketat oleh petugas keamanan berseragam rapi. Di hadapan mereka kini berdiri bangunan pencakar langit yang menjulang gagah, berkilauan dengan kaca-kaca pantul yang membiaskan cahaya matahari sore. Itulah Gedung Pusat Grup Perusahaan Xiao, bangunan tertinggi, termegah, dan menjadi kebanggaan seluruh kota. Di sanalah pusat kendali kekayaan dan kekuasaan keluarga Xiao berada.

"Sudah sampai. Keluar, cepat," kata Xiao Chen sambil merapikan jasnya kembali, memulihkan wibawa seorang CEO besar yang harus ia jaga. Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan langkah tegap, dagu sedikit diangkat tinggi, menatap gedung megah itu dengan sorot mata penuh ambisi.

Begitu ia melangkah masuk ke lobi utama yang luas dan mewah, semua karyawan yang sedang lewat atau bekerja di sana langsung menundukkan kepalanya dengan hormat.

"Selamat sore, Tuan Xiao Chen!" sapa mereka serempak.

Xiao Chen hanya mengangguk singkat sambil berjalan cepat menuju lift khusus. Wajahnya kembali kaku dan serius, meski sesekali masih terlihat jejak kekesalan karena kekalahan negosiasi tadi. Di belakangnya, Xiao Yang berjalan santai sambil melambaikan tangan pada para staf yang mengenalnya.

Sesampainya di lantai paling atas, lantai eksekutif, Xiao Chen langsung berjalan menuju ruang kerjanya yang luas dan sangat mewah. Ruangan itu berisi perabotan dari kayu mahoni berukir indah, rak buku yang penuh berisi dokumen dan sejarah perusahaan, serta jendela kaca raksasa yang menghadap ke seluruh pemandangan kota. Di tengah ruangan itu ada meja kerja besar yang penuh dengan berkas-berkas penting.

Menunggu di dekat meja itu adalah Chen Li, sekretaris pribadinya yang sudah bekerja bersamanya bertahun-tahun. Chen Li adalah wanita yang rajin, teliti, tenang, dan memiliki kesabaran seluas samudera — kualitas yang sangat dibutuhkan untuk bisa bertahan bekerja di bawah pimpinan Xiao Chen yang tengil, kadang menyusahkan, dan sering berubah-ubah perasaan.

"Menyambut kedatangan Anda, Tuan Xiao Chen," sapa Chen Li dengan sopan, lalu menyerahkan setumpuk berkas dan jadwal kegiatan. "Ada beberapa hal penting yang harus Anda tanda tangani, dan juga ada laporan mengenai proyek pembangunan di kawasan utara. Selain itu, Tuan Guo Feng baru saja menelepon. Ia mengundang Anda untuk jamuan makan malam sebagai perayaan keberhasilan kerja sama barunya."

Mendengar itu, wajah Xiao Chen langsung memerah karena marah. Ia menyambar berkas di tangan Chen Li lalu meletakkannya kembali ke meja dengan kasar. "Kurang ajar! Dia benar-benar berani memamerkannya padaku ya? Jamuan makan malam katanya? Mau mengolok-olokku dia ya? Bilang padanya aku tidak punya waktu untuk membuang napas di dekat orang licik macam dia!"

Xiao Yang yang baru masuk sambil menutup pintu, langsung tertawa melihat reaksi kakaknya itu. "Lihat kan? Begitulah sifatmu. Gampang sekali terpancing emosinya. Kalau kau diam saja dan tidak merespons, dia pasti kesal sendiri. Tapi kau malah marah-marah begini, berarti dia berhasil mengganggumu lagi."

"Kau diam saja!" bentak Xiao Chen sambil duduk di kursi besarnya yang berputar. Ia mengusak-usak rambutnya sedikit, terlihat frustrasi. "Aku harus mencari cara untuk mengalahkan dia. Aku tidak boleh terus-terusan kalah begitu saja. Perusahaan Ayah tidak boleh jatuh ke tangan orang lain, apalagi ke tangan Guo Feng yang bermulut manis tapi berhati busuk itu."

Chen Li menghela napas pelan, tetap tenang menghadapi kekacauan kecil ini. Ia kembali berbicara dengan nada lembut namun tegas. "Tuan Xiao Chen, yang paling penting sekarang adalah fokus pada rencana kita selanjutnya. Meskipun Anda kalah dalam kesepakatan kemarin, kita masih punya banyak peluang. Dan... ada satu hal lagi. Ibu Anda menelepon lima menit yang lalu. Beliau meminta Anda pulang makan malam tepat waktu. Beliau bilang ada hal penting yang harus dibicarakan, dan jangan sampai Anda membawa masalah perusahaan ke meja makan."

Xiao Chen mendengus kasar, bersandar malas ke kursi empuknya. "Ibu lagi... Pasti sudah tahu kalau aku kalah. Padahal aku belum sempat cerita apa-apa. Dasar jangkauan Ibu ke mana-mana. Pasti akan ada kuliah panjang lebar nanti di rumah. 'Chen Chen, jangan terlalu ceroboh', 'Chen Chen, jangan mudah marah', 'Chen Chen, cari calon istri yang baik'... Ah, pusing deh!"

Namun di tengah keluh kesahnya itu, pandangannya jatuh ke arah jendela besar di depannya. Dari lantai tertinggi ini, ia bisa melihat jauh ke bawah, melihat keramaian kota, jalanan yang berkelok, dan di kejauhan... samar-samar terlihat arah pinggiran hutan tempat ia bertemu dengan makhluk kucing putih dan gadis manis itu tadi.

Pikirannya kembali melayang. Gadis itu... Di mana dia tinggal? Siapa dia? Kenapa rasanya ada sesuatu yang aneh namun menarik di sekelilingnya?

Xiao Chen menggelengkan kepalanya keras-keras, berusaha mengusir bayangan itu dari otaknya. Apa-apaan ini? Kenapa aku terus-terusan memikirkannya? Aku ini CEO besar, anak tunggal keluarga kaya raya, masa sibuk memikirkan orang asing yang baru kutemui sekali di pinggir jalan? Tidak boleh! Fokuslah pada kerjaan! Fokus pada Guo Feng! Fokus pada perusahaan!

"Tuan?" panggil Chen Li sedikit ragu melihat majikannya yang tiba-tiba diam melamun lagi. "Apakah ada yang salah?"

"Eh? Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Xiao Chen cepat, kembali menatap berkas-berkas di mejanya dengan wajah serius, meski matanya masih terlihat sedikit bingung. "Serahkan saja berkas-berkas itu di sini. Aku akan memeriksanya sekarang juga. Dan... siapkan mobil. Sore nanti kita pulang tepat waktu, aku tidak mau Ibu makin cerewet. Tapi sebelum itu... ada yang perlu aku cek sebentar."

Xiao Chen mengambil ponselnya, membuka fitur peta kota, dan menatap layarnya lama sekali. Jari-jarinya bergerak memperbesar peta di kawasan pinggiran hutan dan jalan utama tempat ia melewati gadis itu tadi.

Di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa harapan kecil yang entah dari mana asalnya. Harapan untuk bisa bertemu lagi dengan gadis itu. Entah untuk apa, ia sendiri pun belum paham. Mungkin hanya untuk memastikan apakah rasa nyaman yang dirasakannya tadi itu nyata, atau hanya khayalan semata.

Sementara itu, di jalanan yang ramai jauh di bawah sana, Bai Xue dan teman-temannya masih berjalan beriringan, menikmati keindahan kota itu. Sistem X-9 terus berbicara di dalam pikiran mereka, memberi informasi demi informasi tentang tempat dan manusia di sekitar mereka.

"Perhatian. Subjek Xiao Chen kini berada di dalam Gedung Grup Perusahaan Xiao, tepat di depan kita sekarang ini. Tingkat energi yang dipancarkannya semakin kuat dan stabil. Disarankan untuk tetap berada di dekat wilayah ini. Kemungkinan besar, sumber Mutiara Energi utama ada di sana, atau terhubung erat dengan keberadaannya."

Bai Xue mendongakkan kepalanya, menatap gedung pencakar langit yang menjulang megah di hadapannya itu. Matanya berbinar penuh semangat dan tekad.

"Jadi di sanalah tempat kerja manusia aneh itu ya?" gumamnya pelan, tersenyum manis. "Baguslah. Kalau begitu, kita akan sering-sering ke sini. Siapa tahu di sana banyak sekali Mutiara Energi yang kita cari. Dan... siapa tahu juga, kita bisa bertemu dengannya lagi. Kali ini dalam wujud manusia, jadi dia tidak akan lari lagi."

Ia tidak tahu, bahwa di puncak gedung tinggi itu, sosok pemuda yang aneh namun kaya raya itu pun sedang diam-diam memikirkan dirinya. Takdir telah mengikat mereka dengan benang halus yang tak kasat mata, dan insiden kecil serta pertemuan singkat tadi hanyalah permulaan dari kisah panjang yang penuh warna, tawa, kejutan, dan tentu saja... cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Penjelajahan mereka di dunia manusia yang berisik namun indah ini, kini mulai mengarah ke pusat kekuasaan dan kehidupan kota itu sendiri. Ke tempat sang CEO yang sedang buru-buru, tengil, dan penuh rahasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!