Aretha memilih hidup menderita bersama suaminya. padahal Kemewahan disediakan oleh orangtuanya. Namun Suaminya berselingkuh karena tekanan dari mertuanya. Apakah Aretha bisa mempertahankan rumah tangganya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Keluarga
Saatnya Andreas bertemu dengan orangtua Aretha yang sejak pagi sudah penasaran dengan sosok pemuda yang sudah sering mengantar dan menjemput anaknya. Aretha tidak memberitahukan kedua orangtuanya bahwa dia akan mengenalkan pacarnya kepada mereka.
Pukul tujuh, Andreas dan Aretha tiba di kompleks perumahan elite,dimana Aretha tinggal. Karena satpam di rumah biasanya tahu hanya di antar sampai di depan pagar, makanya mereka tidak membukakan pintu pagar. Aretha tidak marah, dia sendiri yang turun mendorong gerbang pagar itu. Melihat hal itu, satpam di rumahnya langsung dengan gerakan cepat membantu non bos mereka.
"Maafkan saya non."
"Tidak masalah pak. Hari ini, mama dan papa harus kenal dengan teman aku."
Seperti biasa Aretha tidak perna marah, dia selalu berpikir positif. Dan dia anak majikan yang tidak sombong atau yang suka memamerkan kekayaan atau mau di hargai. Itulah yang di rasakan semua pekerja di rumah ini. Sehingga bukan setahun mereka bekerja, bahkan bisa sudah sampai puluhan tahun. Karena itulah keluarga Lopez yang baik hati dan tidak sombong.
"Ma, pa, Tea mau mengenalkan teman dekat Tea."
Mama dan papanya hanya melihat anak satu - satu mereka.
"Siapa dia??"
"Andreas Jatmiko om, tante. Saya dokter sama seperti Tea dan sekarang sedang ambil spesialis juga."
"Duduk nak Andreas."
"Sudah berapa lama, dekat dengan Tea??"
"Maaf om, kami sudah pacaran enam tahun dari kuliah tingkat tiga."
"Kenapa Tea baru hari ini kenalkan kepada papa dan mama??"
"Maaf om dan tante."
"Biar Tea yang jawab. Ayo jawab sayang papa mau tahu."
"Karena Tea dan Andreas baru berani untuk mengatakan kepada papa dan mama."
"Andreas sayang sama Tea???"
"Sayang om, tante."
"Karena Tea orang kaya."
"Sumpah om dan tante, saya baru tahu, bahwa Tea itu anak orang kaya pas kami wisuda sarjana kedokteran. Terus terang saya minder, dan hal itu yang membuat saya baru berani datang kepada om dan tante mengaku bahwa saya jatuh cinta kepada anak om. Saya tulus mencintainya tante."
Aretha menatap Andreas tanpa berkedip. Dia tidak menyangka bahwa Andreas akan berkata seperti itu.
"Berarti Tea belum kamu kenalkan kepada orangtua kamu."
"Mohon maaf om, tadi siang Tea sudah bertemu dengan orangtua saya. Karena prinsip anak om, kalau saya belum berani bertemu orangtuanya, maka dia juga belum mau bertemu sama orangtua saya."
Andreas juga menceritakan tentang orangtuanya. Tentang papanya yang adalah seorang pegawai negeri di kantor kecamatan atau distrik dan juga ibunya yang seorang ibu rumah tangga.
"Tabungan saya sudah bisa untuk membeli rumah untuk saya dan Tea hidup bersama. Mungkin tidak sebesar rumahnya Tea sekarang, namun saya tulus mau membangun rumah tangga dengan anak om dan tante."
"Kamu tulus mencintai anak saya???"
"Iya om."
"Tea kamu mencintai Andreas??"
"Iya pa, Tea mencintai Andreas."
"Kalau kamu tulus mencintai anak saya, buktikan dengan kehadiran keluargamu dirumah ini."
"Siap om."
Selesai makan malam bersama dengan kedua orangtua Tea. Andreas masih duduk di teras samping bersama Tea.
"Sayang, kamu siap aku melamar kamu??"
"Emang abang sudah mau melamar Tea."
"Papa sudah memberikan lampu hijau kepadaku, harus aku manfaatkan dari pada pikirannya berubah dan bakal ada Yuda,Yuda lainnya. Abang ngak mau kehilangan kamu sayang."
Pulang dari rumah Tea, Andreas langsung menyampaikan rencananya untuk melamar dan menikahi Tea. Sebagai orangtua, tentu mereka senang sekali, karena menurut mereka Andreas sudah layak untuk menikah dan mengingat dia juga sudah berumur dua puluh tujuh tahun. Dan Andreas juga sudah di angkat menjadi pegawai negeri sipil di kota ini sebagai dokter di rumah sakit daerah.
Maka Andreas dan keluarganya satu minggu ini mempersiapkan untuk acara lamaran. Semua persiapan mereka disampaikan kepada Tea.
"Kalian berdua sudah bulat mau menikah??"
"Iyalah, biar kamu ngak ada peluang mendapatkan Tea ku."
"Kanak - kanak. Mana ada aku mau rebut pacar sahabatku."
"Ngak ada yang mustahil, bro. Sekarang aja kamu insaf, kalau kepepet kamu pasti mengiyakan keinginan orangtuamu."
"Tahu banget kamu. Memang layak kamu sahabatku."
"Mampus lo." Mereka tertawa bersama.
"Besok lo sakit, gue suntik obat keram."
"Gue dukung seratus persen, rencana kalian berdua sebagai sahabat. Sekarang posisi gue dimana Tea atau Andreas."
"Lo sama gue."
"Oke pak dokter."
Acara lamaran anak pengusaha terkaya pun berlangsung. Karena orangtua Aretha adalah anak satu - satunya di keluarga mereka masing - masing dan sekarang mereka sudah mendapat predikat anak yatim piatu. Maka hanya petinggi Aretha Karsa Grup yang ada dari keluarga perempuan.
Sedangkan Keluarga Jatmiko datang bersama tetangga - tetangga mereka yang sudah seperti saudara, ada juga Yuda Darmawan disana. Keluarga Jatmiko datang dengan seserahan yang memang disiapkan oleh Andreas yang dia tanyakan kepada Aretha kekasihnya.
Rumah kediaman keluarga Lopez sudah di dekorasi selayaknya akan di adakan acara lamaran. Keluarga Jatmiko datang melamar putri dari keluarga Lopez. Rencana tanggal pernikahan juga sudah ditetapkan. Aretha sangat manis dengan baju berwarna kebaya yang dia jahit senada dengan kemeja batik yang di gunakan Andreas. Semua tamu undangan datang dan pulang dengan sukacita.
Orangtua Aretha melihat pengorbanan keluarga Jatmiko saat datang melamar anaknya. Sangay di hargai oleh keluarga itu. Dan hari ini sehari setelah acara lamaran papa Josep memanggil Andreas sendiri secara khusus membicarakan acara pernikahan anak mereka. Papanya tahu, bahwa Aretha tidak ingin pernikahannya mewah, malah dia hanya mau keluarga saja. Namun sebagai orang yang di kenal di dunia pengusaha otomatis itu akan menjadi pembicaraan. Maka saat ini papa Josep meminta Andreas datang ke perusahaan Aretha Karsa Grup.
"Papa, mohon maaf. Karena menganggu waktu kerja kamu.
"Aman pa, ini jam istirahat, dan Andreas punya waktu. Ada apa pa??"
Papanya Aretha pun menyampaikan semua keinginannya dan rencananya yang berhubungan dengan pernikahan putrinya.
"Maafkan papa, jika papa ikut campur dalan urusan ini. Papa mau memberikan yang terbaik dihari bahagia putri papa. Bisakah Andreas??"
"Pa, Andreas sejujurnya merasa tak berguna sebagai laki - laki. Karena pendapatan pas - pas tetapi mau menikahi putri konglomerat."
"Maafkan papa Andreas, papa tidak punya niat untuk mengatakan ini kepadamu."
" Tidak masalah pa, Andreas tahu papa mau yang terbaik buat Aretha. Nanti orangtua ku, akan aku jelaskan. Kalau Tea pa??"
"Tea urusan papa nak. Tetapi papa ijinkan kalian mengurus acara pemberkatan sedangkan resepsinya biar papa yang mengurus semua."
Andreas membicarakan hal ini kepada kedua orangtuanya. Tentu mereka tidak keberatan, karena pertemuan dengan kelaurga Lopez, mereka tidak merasa dibedakan.
"Nak, apa kamu nanti tidak merasa minder??"
"Tidak ma, ini hadiah papanya Aretha buat anak satu - satunya. Mama dan papa mengerti kan."
Papanya Andreas mengerti sedangkan mamanya yang hanya lulusan sekolah menengah pertama hanya mengikuti apa keinginan anak dan suaminya. Meskipun ada perasaan ketakutan dalam dirinya. Takut anak laki - lakinya merasa minder.
"Sayang, kamu ngak masalah resepsi kita dibuat megah oleh papa."
"Papa ingin memberikan yang terbaik buat putri sekalian anak satu - satunya. Aku tidak masalah."
"Terima kasih sayang."