NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 3. Tidak percaya

“Dari penampilan aku aja, Mas pasti paham lah kalau kita seiman,” kataku dengan menepuk pahanya.

Otot semua ini, badannya gagah sejak tersandung kasus kemarin. Jika kasus yang pertama aku tidak tahu kejadiannya, karena saat ia tersandung kasus yang pertama, aku belum bekerja padanya. Aku baru bekerja padanya dua tahun silam.

“Kerudung nampak leher dan nampak rambutnya nih, disebut seiman ya?” Telunjuknya menyentuh leherku, ia terkekeh geli.

“Laki-laki antingan ini nih seiman nih? Masa sih?” Aku menarik telinganya pelan, dengan tawanya yang sedikit lepas terdengar.

“Kita hanya perlu berpegangan satu sama lain, biar kembali ke jalan yang diridhoi-Nya,” ucapnya dengan menarik kembali tanganku. Namun, kali ini posisi dudukku sedikit berubah. Aku sedikit serong ke arahnya, karena ia menarik kedua telapak tanganku.

“Mas liat siapa sih di aku? Aku ini lagi cari nafkah loh, bukan lagi cari jodoh,” ujarku dengan menatap kedua matanya.

Sinarnya sedikit redup tiba-tiba, ia seperti tidak suka dengan ucapanku itu.

“Mas tergoda sama rupa aku? Bentuk dada yang udah diimplan ini?” tanyaku berdasarkan fakta yang ada pada diriku, dengan menyentuh sekilas dadaku. “Gigi rapi dan putih ini? Ini hasil kawat dokter gigi yang tiap harinya aku harus nahan nyeri. Bentuk pinggul yang Mas pernah bilang seperti biola ini? Ini hasil transfer fat dan olahraga teratur juga. Hidung mancung nan ramping ini? Ini pun hasil tangan manusia juga, Mas. Dagu runcing dan pipi tirus ini pun hasil treatment dan operasi kecil juga. Semua perempuan bisa Mas modali sampai sesempurna mungkin, tapi jangan minta kepastian sama istri orang ini, Mas. Aku rumit, aku problematik dan aku sulit,” ungkapku dengan mengunci pandangannya.

Tidak ada tawanya, ia tengah serius sekarang. Harusnya ia yakin, jika aku ini memang istri orang. Apa karena selama dua tahun ini, suamiku tidak pernah mendatangiku di perantauan, ia kira aku single?

“Kamu bisa sehebat itu dengan ambisimu, De,” celetuknya yang meleset dari perkiraanku.

Bukan itu maksud tujuanku!

Bukan agar ia mengerti dengan ambisiku, bukan! Aku ingin ia sadar bahwa aku menawan, karena aku merombak tubuhku. Aku tidak alami, aku mengakuinya. Aku ingin ia mengerti, bahwa aku ini ex janda yang problematik dan istri orang yang tidak bisa ia beri kepastian sebebas inginnya.

“Huh…” Aku menarik tanganku dan menepuk jidatku sendiri.

Astaga, peningnya.

“Intinya, cari perempuan lain! Jangan aku! Aku bersuami dan badanku hasil permak dokter!” tegasku kemudian.

“Kamu pikir aku cuma tertarik dengan selang*****n?” Ia tertawa sumbang. “Isi selang*****n isinya itu-itu aja, semua perempuan sama isinya begitu. Tapi isi kepala itu ada-ada aja, nggak semua orang bisa punya pikiran yang kaya kamu, Dea.” Ia meraih tanganku kembali dan menciumnya.

Huh, bagusnya aku jadi ibu tirinya saja.

“Kalau perempuan pikirannya kek aku, janda semua mereka nanti,” celetukku kesal.

Kalau aku tidak melihat jejakku sendiri, bisa-bisa aku janda lagi. Makanya aku lebih memilih melarikan diri, daripada harus menjadi janda lagi. Bukan karena apa-apa, tapi karena malunya.

Aku tidak memiliki prestasi, tapi aku sudah hajatan tiga kali. Astaga, bayangkan saja muaknya orang tuaku mengundang sanak saudara mereka dalam dua tahun berturut-turut ini sampai tiga kali. Mana habis biaya besar, repot dan capek tenaga juga.

“Jadi kamu ini janda aslinya?” tanyanya seperti mulai terhasut dengan statusku sebenarnya.

Kenapa aku bilang ia mulai terhasut? Karena dari tadi ia percaya dengan kepercayaannya sendiri saja, tapi kali ini sepertinya ia mulai tertarik untuk mengorek kebenarannya karena aku berulang kali mengatakan faktanya.

“Kalau dilihat keasliannya, aslinya aku istri orang,” tegasku dengan mengetuk meja coffee shop ini dengan ujung telunjukku.

“Cuman???” tanyanya menggantung.

Aku menoleh perlahan dan menaikkan sebelah alisku. Apa isi pikiran laki-laki ini, ya Tuhan? Lelah sekali aku menjelaskannya.

“Nggak ada cuman-cuman! Aku masih istri orang! ISTRI ORANG!” Aku mempertegas setiap huruf dalam ucapanku.

Kembali ke mode awal, ia tertawa geli seolah ada hal yang lucu.

“Aku serius, Mas!” tegasku berulang.

Lenyap.

Tawanya lenyap seketika. Ia bertopang dagu dan memperhatikan wajahku untuk tetap menoleh ke arahku. Hening, ia seperti bergulat dengan pikirannya sendiri.

“Mana suamimu?” tanyanya setelah beberapa menit terdiam.

“Ada, dia di kampung. Dia khawatir dengan adik perempuannya dan ibunya, kalau sampai dia ikut aku merantau di Jakarta ini. Soalnya dia udah nggak punya ayah, sedangkan dia cuma dua bersaudara.” Ini adalah alasan yang ia berikan ketika aku menanyakannya.

“Boleh lihat isi chat kamu sama suamimu, Dea?” Ia menengadahkan tangannya ke arahku.

Aku memanggilnya dengan sebutan mas, karena aku menghormatinya sebagai atasanku. Aku merendah, karena aku merasa bawahannya, aku bekerja padanya. Di samping karena usia kami terpaut satu tahun. Aku dua puluh empat tahun dan ia dua puluh lima tahun. Hanya itu, bukan karena ingin membuatnya baper.

“Ya Tuhan, Mas…” Aku membuang napasku gusar, “itu privasi aku, masa iya ditunjukkan ke orang luar?”

Masalahnya aku diblok sekarang, sedangkan pesanku rata kanan. Aku malu menunjukkannya.

Aku akui, aku yang salah. Karena chatnya pagi, aku membalasnya siang atau malam. Chatnya malam, aku membalasnya sore atau malamnya lagi, kadang ketemu pagi aku baru membalasnya. Bukan aku tidak mau komunikasi, tapi aku bosan dengan pertanyaan yang monoton itu. Lagipula ingin membahas apa? Aku di sini sibuk kerja.

Aku tidak hanya menjadi pemegang lima coffee shop milik mas Barraq. Tapi aku juga menerima endorse pakaian, sandal dan sepatu hak tinggi, setelah aku merombak tubuh dan rupaku.

Ternyata, rezeki lancar itu hanya untuk wanita cantik dan bahenol ya? Aku sering bertanya-tanya perihal ini.

Awalnya dari salah satu teman nongkrongku, dia suka sekali belanja, baju yang ia beli hanya terpakai satu sampai dua kali saja. Lalu, aku mengusulkan agar baju bekasnya dijual saja. Aku pun menawarkan diri sebagai contoh pemakaian baju-bajunya untuk promosi, eh tidak tahunya malah laku keras.

Kebetulan juga ia influencer tukang review makanan viral, jadi popularitasku cukup terbantu dengan bantuan darinya.

“Mas tetap nggak bisa percaya bahwa kau istri orang. Kalau kamu masih pengennya kita kek gini aja, ya udah nggak apa-apa. Kamu nggak harus ngaku-ngaku bahwa kamu istri orang, pernah tiga kali menikah dan pernah menjanda berulang kali segala macam. Atau kalau memang kamu seorang janda, ya nggak masalah juga kok. Mas ngerti kebutuhan perempuan seusia kamu,” ujarnya dengan tersenyum amat manis.

Omegat, ia kembali ke pengaturan awal. Dia tidak terhasut dengan pengakuanku meski itu benar adanya. Ia percaya dengan asumsinya sendiri.

“Mas bakalan percaya kalau aku istri orang, kalau aku ngeluarin bukti apa?” tanyaku dengan mencekal tangannya, karena terlihat ia akan bangkit.

Ia terkekeh kecil dan melepaskan tanganku, lalu ia mengusap-usap jemariku. “Kamu nggak harus ngeluarin bukti apa-apa. Mas terlalu neken kamu untuk minta kejelasan, mungkin kamu belum siap,” jelasnya dengan senyuman yang terpatri indah itu.

“Kamu lanjut kerja gih, Mas mau cek coffee shop yang di Jawa Tengah. Mungkin kita nggak ketemu tiga harian, De. Jangan kangen ya?” Ia mengerlingkan matanya dan beranjak pergi.

Huftttt…

Aromaku minyak wangiku sampai kalah dengan wewangian miliknya. Tubuhku sekarang harum wewangiannya, karena dipepetnya terus sejak pagi.

Bukannya lanjut bekerja, aku malah bergulat dengan pikiranku sendiri sekarang. Apakah aku akan terlena olehnya? Tapi terlena karena apa? Effortnya saja tidak lebih istimewa dari usahaku membahagiakan diri sendiri.

Tapi entah-entah kalau dia 'enak'.

Jangan dibandingkan dengan suamiku, dia pasti kalah jauh. Bandingkan dengan diriku sendiri saja.

Bukannya hubungan tidak akan terjadi kan jika salah satunya tidak menyetujuinya? Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan diriku sendiri di rantau orang ini kan?

Masalah ketertarikanku, itu wajar karena ia banyak uang. Selebihnya, aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.

Tapi apakah dia bisa membuat pernikahanku terancam? Apakah sebaiknya aku pulang dan memperbaiki hubunganku dengan suamiku? Tapi aku tidak akan makmur jika tidak bekerja pada mas Barraq. Aku bekerja di sini dengan bayaran besar, meski resikonya pun setimpal.

Di rantau orang, aku takut jadi janda lagi karena tergoda olehnya. Itu pun kalau effortnya lebih-lebih dari diriku sendiri. Tapi jika pulang, aku takut kelaparan, meski hubunganku dan suamiku mungkin akan baik-baik saja.

Aku dilema, baiknya seperti apa?

1
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!