NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

BAB 3

Lima tahun.

Waktu berlalu tanpa terasa. Alhamdulillah, sistem motorikku sudah berfungsi sempurna. Di usiaku yang kelima ini, kaki kecilku sudah lincah berlari menyusuri rumah batu keluarga kami.

Namun, beradaptasi dari tubuh mahasiswi dewasa menjadi balita di abad keenam ternyata butuh perjuangan yang tidak main-main. Otakku sering kali ingin melakukan hal-hal kompleks, tapi tubuh mungil ini gampang lelah dan langkahku sering tersandung gaunku sendiri.

Belum lagi soal kebiasaan sehari-hari. Aku harus memendam rindu pada sikat gigi berbulu lembut karena di sini aku harus mengunyah ujung kayu siwak yang rasanya sepat. Rindu pada masakan berempah, karena di sini makanan utamanya adalah roti gandum kasar dan daging panggang sederhana. Dan yang paling parah: kebosanan ekstrem. Tanpa buku apalagi smartphone, hiburanku sehari-hari hanyalah mengamati pola ukiran di pilar batu atau menghitung jumlah unta yang masuk ke kandang.

Tapi lingkungan tempat tinggalku sedikit banyak mengobati rasa frustrasi itu. Klan Bani Asad adalah bangsawan elite Mekah. Rumah kami membentang luas di pusat kota, tak jauh dari lembah Ka'bah. Dinding-dindingnya dibangun dari susunan batu basal hitam yang tebal, dirancang khusus untuk menangkal panasnya padang pasir. Aroma udara di sini selalu unik, campuran antara wangi dupa gaharu dari dalam ruangan dan bau khas hewan ternak premium dari arah belakang.

Pagi ini, aku sedang duduk di atas permadani paviliun keluarga bersama Umi. Seorang budak perempuan meletakkan nampan berisi kurma segar dan segelas susu unta, menunduk hormat, lalu mundur tanpa suara.

Umi yang sedang duduk di sebelahku membentangkan selembar kain sutra berwarna merah gelap.

"Lihat ini, sayang," panggil Umi lembut. "Saudagar dari Syam baru saja membawakan kain sutra ini pagi tadi. Menurutmu, apakah warnanya cocok untuk dijadikan gaun barumu nanti?"

Sebagai mahasiswi sejarah yang sering mempelajari artefak kuno, otakku langsung menganalisis kain itu. Tangan kecilku menyentuh permukaannya.

"Tenunannya sangat rapat dan halus, Umi," kataku memberikan penilaian serius. "Dan warna merah mordan ini sepertinya dicelup dengan akar madder..ya?. Pasti warnanya tidak akan mudah pudar meski dicuci berkali-kali. Qatilah sangat suka!."

Umi menghentikan gerakannya melipat kain. Beliau menatapku dengan mata sedikit melebar, lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.

"Ya ampun, anakku," gumam Umi takjub, mengusap pipiku pelan. "Kadang Umi merasa sedang berbicara dengan saudagar kain yang sudah berkeliling dunia, bukan dengan anak berumur lima tahun. Pintar sekali, sih."

Umi bangkit berdiri.

"Tunggu di sini sebentar, ya. Umi mau mengecek sisa gulungan sutra lainnya di ruangan penyimpanan belakang."

Aku baru saja memungut satu butir kurma dan hendak memakannya ketika suara petir menyambar dari arah paviliun depan.

"WARAQAH! MAU JADI APA KAU INI?!"

Itu suara menggelegar Abi Naufal.

Aku buru-buru meletakkan kurma. Aku tahu betul arah perdebatan ini. Kak Waraqah punya takdir besar di masa depan. Aku harus ke sana untuk memastikan Abi tidak menghukumnya terlalu berat.

Baru saja aku melangkah ke beranda, Bibi Salma yang sedang melipat selimut langsung menghalangi jalanku. Dia berjongkok, menyejajarkan tubuhnya denganku, dan menahan kedua bahuku erat-erat dengan raut wajah cemas.

"Tuan Putri mau menyelamatkan kakakmu lagi?" tegur Bibi Salma, kali ini mencoba menggunakan otoritas orang dewasanya. "Jangan ke sana. Tuan Putri masih terlalu kecil, nanti malah terluka kalau Tuan Besar sedang mengamuk begitu!"

Aku melepaskan tangan Bibi Salma dari bahuku, menatapnya lurus, lalu berkacak pinggang.

"Luka fisik bisa sembuh, Bibi," balasku. "Tapi kalau Kak Waraqah dikurung, nanti siapa yang bantu Abi ngurus catatan dagang dan hitung unta besok? Memangnya Bibi mau kepanasan di pasar menggantikan Kakak?"

Bibi Salma terpaku. Mulutnya setengah terbuka. Nasihat orang dewasanya barusan patah tak bersisa dihantam logika anak lima tahun. Setelah lima tahun merawatku, dia memang selalu berujung seperti ini: kehabisan kata-kata.

Dia akhirnya hanya menghela napas pasrah dan bergeser memberi jalan.

"Silakan lewat, Tuan Putri Penyelamat. Tapi awas tersandung," pesannya menyerah.

Aku langsung memacu kaki balitaku melintasi halaman tengah yang berpasir. Beberapa pekerja yang sedang membersihkan pelana unta di tepi halaman menyadari kehadiranku.

"Lihat, perisai kecil Tuan Waraqah sedang bertugas," bisik seorang penjaga kandang kuda sambil tertawa tertahan kepada temannya.

Temannya ikut terkekeh dan mengangguk. Mereka sudah sangat hafal dengan tontonan gratis keluarga ini.

Begitu sampai di ambang pintu paviliun depan, kulihat Kak Waraqah berdiri tegak, memeluk erat sebuah gulungan perkamen kulit. Di depannya, Abi berdiri dengan wajah merah padam, urat lehernya menonjol keluar.

"Pemuda Quraisy seumurmu seharusnya memimpin ekspedisi dagang ke Yaman atau berlatih pedang!" omel Abi. "Bukan mengurung diri membaca perkamen kuno orang Nasrani! Tulisan-tulisan itu tidak akan melindungi kafilah kita dari perampok badui!"

"Ilmu di dalam lembaran ini jauh lebih mulia dari sekadar menghitung koin dirham di Pasar Ukaz, Abi!" bantah Kak Waraqah tajam, suaranya tenang tapi menantang. "Orang-orang di luar sana tidak menyembah batu bisu yang mereka pahat sendiri. Ada kebenaran tentang Sang Pencipta yang sedang aku cari, dan itu tidak ada di sekeliling Ka'bah saat ini!"

Mendengar bantahan telak yang merendahkan berhala leluhur itu, kesabaran Abi habis. Tangannya yang besar dan kasar terangkat tinggi ke udara, bersiap mendaratkan pukulan keras ke bahu putra sulungnya.

Namun, Kak Waraqah jauh lebih cerdik. Ekor matanya menangkap siluetku yang baru tiba. Dalam sepersekian detik sebelum tangan Abi turun, Kak Waraqah bergeser ke belakangku dan berjongkok, menjadikan tubuh mungilku sebagai tameng hidup.

Tangan Abi terhenti mendadak di udara. Matanya membelalak panik melihat putri bungsunya tiba-tiba berada tepat di lintasan pukulannya.

Memanfaatkan momentum itu, aku maju selangkah dan memukul lutut Abi dengan kepalan tangan kecilku berkali-kali.

"Jangan pukul Kak Waraqah! Abi jahat! Tidak boleh pukul!" seruku dengan suara melengking khas anak kecil, berakting marah.

Abi yang tadinya berwajah garang, mendadak luluh lantak. Pria raksasa itu buru-buru menurunkan tangannya, membungkuk, dan langsung menggendongku tinggi-tinggi ke dalam pelukannya.

"Eh, ya ampun, Qatilah sayang... t-tidak, Abi tidak memukul kakakmu," bujuk Abi dengan suara yang tiba-tiba berubah sangat lembut. Dia menepuk-nepuk punggungku meski aku masih memukuli dada bidangnya. Pukulanku mungkin cuma terasa seperti sentuhan debu baginya. "Abi cuma... mengusir lalat di bahu kakakmu. Jangan menangis, ya?"

Dari balik punggung Abi, Kak Waraqah menyeringai penuh kemenangan. Pemuda cerdas itu melangkah mundur menjauhi arena konflik, memanfaatkan celah emas saat ayahnya sibuk membujuk adiknya. Waraqah memutar tubuh dan bergegas kabur menuju lorong dalam.

Namun, di persimpangan lorong, Kak Waraqah yang melangkah mundur sambil cengengesan tidak melihat jalan di belakangnya.

PRAAANG! BUK!

Dia menabrak keras seorang budak yang sedang berjalan di belakang Umi. Nampan tembaga terpelanting nyaring, dan beberapa gulungan kain sutra mahal yang dibawa Umi jatuh berserakan di lantai.

Semua orang di paviliun itu seketika membeku.

Di hadapan Kak Waraqah yang mendadak pucat pasi, berdiri Umi. Wajah Umi sangat tenang. Dia tetap berdiri tegak dengan gaunnya yang anggun, tapi aura di sekelilingnya mendadak turun beberapa derajat menjadi sangat menyeramkan.

Alih-alih memarahi Kak Waraqah, tatapan tajam Umi perlahan terangkat, melewati lorong, dan menancap langsung bagai anak panah ke wajah Abi yang masih menggendongku.

Aku menelan ludah. Hukum alam ternyata berlaku lintas zaman: anak yang menabrak, tapi suami yang disalahkan karena membuat keributan di dalam rumah.

Keringat dingin meluncur di pelipis Abi. Pria yang suaranya ditakuti di majelis Quraisy itu perlahan menurunkan tubuhku ke lantai dengan gerakan sangat kaku.

"A-ah! Aku baru ingat!" seru Abi melempar alasan ke segala arah. "Unta betina ras unggulan di kandang belakang sedang hamil tua! Aku harus mengecek kondisinya sekarang juga!"

Tanpa menunggu persetujuan siapa pun, Abi buru-buru memutar arah dan kabur setengah berlari lewat pintu utama paviliun.

Melihat ayahnya melarikan diri, Kak Waraqah tidak mau jadi tumbal sendirian.

"A-aku akan bantu Abi menyiapkan rumputnya!" serunya panik, lalu ikut mengambil langkah seribu menyusul kabur ke luar rumah.

Aku melirik ke sekeliling lorong. Para budak yang sedang menyapu dan saksi mata dari kandang kuda sudah menghilang tak berbekas.

Hening yang menyiksa menyelimuti paviliun.

Tersisa aku sendirian berhadapan dengan Umi.

Aku menghela napas panjang layaknya orang dewasa yang kelelahan menghadapi tingkah para pria. Aku berjongkok, lalu mulai memunguti satu per satu gulungan kain sutra yang berserakan, menyusunnya dengan rapi di dekat ujung gaun Umi.

Melihat tubuh mungilku sibuk membereskan kekacauan, ekspresi dingin Umi perlahan mencair. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia ikut berjongkok, memeluk tubuhku erat, dan mencium dahiku dalam-dalam.

"Anakku sayang. Kamu memang satu-satunya yang paling mengerti keadaan di rumah ini," ucap Umi lembut.

Belum sempat aku membalas pelukannya, terdengar derap langkah kaki teratur mendekat. Kepala pelayan rumah berhenti di ambang lorong dan membungkuk sedikit.

"Maaf mengganggu, Nyonya Besar. Tuan Mu'allim sudah tiba. Beliau sekarang sedang menunggu Tuan Putri Qatilah di paviliun timur untuk memulai sesi pelajaran hari ini."

Umi melepaskan pelukannya dan tersenyum cerah menatapku.

"Nah, pergilah ke paviliun timur, sayang. Belajar yang rajin ya."

Aku mengangguk patuh.

Di dalam hati aku hanya bisa tersenyum simpul, bersiap menghadapi pelajaran silsilah yang sebenarnya sudah kuhafal di luar kepala sejak masa kuliahku di Kairo.

Meski begitu... entah kenapa akhir-akhir ini Tuan Mu'allim mulai menatapku dengan cara yang berbeda.

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!