NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Mengikuti Karina Diam-diam

Ini sangat aneh. Kenapa baru kali ini sihir teleportasiku bisa terganggu berturut-turut? batin Benjamin heran sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Ia melepaskan jubahnya, namun mendadak gerakannya terhenti. Bayangan gadis asing di rumah sakit tadi kembali melintas di benaknya.

Dan kenapa... aroma manis dari darah gadis itu terasa begitu menusuk?

Benjamin menyentuh dada kirinya. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang abnormal. Sangat cepat dan bising.

Ada apa dengan jantungku?

Benjamin terpaku cukup lama dalam keheningan rumahnya. Setelah beberapa saat, ia memaksakan sebuah kekehan hambar untuk mengusir rasa asing yang mulai merayap di dadanya.

"Tidak mungkin," gumamnya lirih pada kegelapan malam. "Seorang Mage murni dari ras naga sepertiku... tidak mungkin memiliki mate seorang manusia biasa."

****

Sore harinya, di rumah Evelyn...

BRAKK!

Evelyn yang sedang duduk di meja makan sambil menatap layar ponselnya terlonjak kaget. Pintu depan dihantam keras. Karina baru saja melangkah masuk, dan kondisi wanita itu tampak sangat kacau.

Evelyn segera bangkit dan berlari menghampiri ibunya. "Ibu! Ibu baik-baik saja?" tanyanya dengan raut wajah cemas.

Karina tidak menjawab. Ia menjatuhkan tas besar berisi peralatan ghost hunter—yang semalam katanya ingin dijual—ke atas lantai begitu saja.

Setelah itu, ia menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu yang berdebu dengan napas memburu.

Evelyn perlahan duduk di samping sang ibu, mengamati penampilan wanita itu dari dekat. Jantungnya berdesir ngeri. Jaket jins yang dikenakan Karina robek di beberapa bagian, menyisakan guratan luka gores. Terlebih lagi, ada bercak darah kering yang mengotori sudut wajah dan leher ibunya.

Kecurigaan besar langsung menyergap benak Evelyn.

Bekerja di bar? Mengapa penampilan Ibu justru bertolak belakang dan lebih mirip orang yang baru saja lolos dari pengeroyokan preman?

"Ibu, katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tuntut Evelyn, suaranya bergetar. "Dan kenapa barang-barang Ayah dibawa kembali? Bukankah Ibu bilang mau menjualnya?"

Karina menoleh lambat, menatap Evelyn dengan sepasang mata birunya yang menyalang merah. "Kau gadis cerewet, sama saja seperti ayahmu!" desisnya dengan napas terengah-engah. "Kau tidak perlu tahu urusanku! Bukannya mengambilkan ibumu ini minum, kau malah melontarkan pertanyaan yang aneh-aneh!"

Karina menyandarkan kepalanya ke sofa dengan kasar. "Soal barang-barang sialan itu... tidak ada satu pun yang mau membelinya. Tidak laku! Sekarang kau sudah puas?!"

"Tapi, Bu... ini darah apa?"

Evelyn memberanikan diri mengulurkan tangan, berniat menyentuh noda merah yang mengering di pipi ibunya.

Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh kulit Karina, wanita paruh baya itu menepis tangan Evelyn dengan sentakan yang sangat keras hingga menimbulkan bunyi plak.

"Pergi ke kamarmu sekarang, Eve!" teriak Karina berapi-api, tatapannya menyiratkan kilat berbahaya. "Masuk sebelum Ibu benar-benar marah dan kehilangan kendali!"

Evelyn segera membalikkan badan dan berlari cepat menuju kamarnya.

CKLEK! BLAM!

Ia menutup pintu dengan rapat, lalu bersandar di sana. Perlahan, tubuh kurusnya merosot hingga ia terduduk lemas di atas lantai kayu yang dingin.

"Ibu... kenapa Ibu berubah jadi sekasar itu?" gumamnya lirih, membenamkan wajah di antara kedua lutut.

Evelyn teringat sosok Karina yang dulu—seorang wanita yang tampak anggun, berwibawa, dan penuh kelembutan. Evelyn tentu bisa memaklumi jika ibunya tidak lagi seanggun dulu semenjak mereka jatuh miskin.

Namun, sifatnya yang kini menjadi temperamental dan kasar benar-benar membuat Evelyn tak habis pikir. Semua kepahitan ini tampaknya berakar sejak kematian Ayah.

Demi melarikan diri dari kenyataan, Karina bahkan kerap mabuk-mabukan dan menimbun botol alkohol di kamarnya sebagai pelampiasan.

KRETEK... BAM.

Tak lama kemudian, sayup-sayup terdengar suara pintu depan kembali dibuka dan ditutup dengan tergesa-gesa. Itu tandanya Karina pergi lagi.

"Mau pergi ke mana lagi? Padahal Ibu baru saja pulang dan hari sudah hampir gelap," bisik Evelyn cemas.

Ia bergegas bangkit dan mengintip dari celah jendela kamarnya yang kebetulan menghadap langsung ke halaman depan.

Di bawah temaram senja yang mulai temaram, Evelyn melihat ibunya berjalan cepat. Karina bahkan tidak berganti pakaian yang penuh noda darah tadi, tidak membawa tas, dan melangkah lurus menyeberangi jalan raya menuju ke arah hutan.

Rasa penasaran yang bercampur dengan kecurigaan hebat membuat Evelyn tidak bisa tinggal diam. Ia menyambar sweter hitamnya dengan cepat, lalu melangkah keluar dari rumah, berniat membuntuti sang ibu secara diam-diam.

Ibu... sebenarnya apa yang sedang Ibu rahasiakan dariku? batin Evelyn, dipenuhi gejolak tanya.

Langkah kaki Evelyn terus menuntunnya masuk semakin jauh ke dalam keheningan Hutan Vespera.

Kabut tipis mulai turun seiring hilangnya cahaya matahari. Evelyn tidak berani menyalakan lampu senter di ponselnya, takut jika kilatan cahayanya akan membuat Karina menyadari keberadaannya.

Ia bergerak seringan mungkin, menyelinap dari balik satu batang pohon cemara ke pohon cemara lainnya.

Dengan napas yang mulai terasa berat akibat hawa dingin yang menusuk dada, Evelyn melangkah penuh kehati-hatian, berusaha keras agar sepatunya tidak menginjak ranting kering yang bisa menimbulkan suara sekecil apa pun.

Tepat saat langkah kakinya menyentuh jantung terdalam Hutan Vespera, Karina mendadak berhenti di bawah sebatang pohon kuno yang raksasa. Wanita itu tampak gelisah, kepalanya celingukan menatap ke segala arah yang gelap gulita.

Tak lama kemudian...

BRUKK!

Sesuatu mendarat keras dari dahan pohon, menimbulkan debu hutan yang berhamburan.

Sesosok makhluk bersayap hitam legam dengan sepasang tanduk melingkar di kepalanya kini berdiri di hadapan Karina.

Kulit makhluk itu merah membara, lengkap dengan ekor panjang berujung runcing—persis seperti visualisasi iblis dalam film-film horor kuno.

Dari kejauhan, Evelyn yang menyaksikan pemandangan itu seketika tercekat. Ia buru-buru menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik batang pohon cemara yang tebal. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit.

Makhluk apa itu barusan? Apa itu iblis? Tapi... kenapa Ibu sama sekali tidak terkejut atau lari ketakutan? batin Evelyn, dipenuhi kengerian sekaligus kebingungan.

Perlahan, sosok mengerikan itu diselimuti asap hitam tipis. Wujud iblisnya menyusut dan bermutasi, bertransformasi menjadi seorang pria manusia yang luar biasa tampan berambut cokelat, dengan sepasang manik mata hitam pekat yang sedalam sumur tak berdasar. Jubah beludru mewahnya berkibar pelan ditiup angin malam yang dingin.

"Ternyata kau datang menepati janjimu, wahai manusia," ucap pria itu. Suaranya terdengar merdu, namun menyimpan gema gaib yang mengintimidasi.

Karina mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Sekarang cepat berikan uang itu! Aku sudah menepati janjiku untuk datang kemari!" tuntutnya, berusaha keras menutupi getaran di suaranya.

Pria itu terkekeh sinis. Ia mulai berjalan mondar-mandir dengan gerakan lambat dan elegan di depan Karina, bagai predator yang sedang mempermainkan mangsanya.

"Dasar manusia serakah yang tidak tahu malu. Setelah kau membantai salah satu pelayan setiaku semalam, sekarang kau justru datang untuk meminta uang dariku?"

"Kau sendiri yang bilang... jika aku bertanggung jawab dan menyerahkan diri, kau akan memberiku imbalan!" potong Karina, tubuhnya kini mulai bergetar hebat karena ketakutan.

Sebenarnya, Karina tahu dia telah melakukan kesalahan fatal. Kebohongannya tentang bekerja di bar kini menemui jalan buntu. Demi menutupi sisa utang mendiang suaminya yang belum lunas, ia terpaksa mengambil alih pekerjaan sebagai ghost hunter secara ilegal.

Tugasnya adalah memburu makhluk immortal untuk dijual ke pasar gelap atas perintah mantan atasan suaminya di Kota Luminara.

Namun semalam, Karina salah sasaran. Ia justru mengusik ketenangan Ras Demon, dan pria tampan di hadapannya ini bukanlah iblis biasa.

Dia adalah Damian Dexter—sang Raja Demon yang menguasai wilayah Hutan Vespera.

"Setidaknya... berikan aku uang itu terlebih dahulu sebelum aku resmi menjadi pelayanmu. Uang itu untuk putriku di rumah,"

———

Jangan lupa Subscribe, Like, dan Komen ya guys, support kalian berarti banget buat author. Biar tambah semangat juga nulisnya. Kalian penasaran kan sama kelanjutan babnya. Nah makanya jangan lupa tambahkan ke Rak buku kalian ya!

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!