Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detektif Nayla Beraksi
Waktu terus berdetak seiring dengan berjalannya jam dinding digital di ruang kerja eksekutif Mahardika Group. Dua puluh empat jam bukanlah waktu yang lama jika jabatan tertinggi di perusahaan multinasional dan nama baik seorang istri dipertaruhkan.
Atmosfer di dalam ruangan berubah menjadi pusat komando rahasia.
Pintu lift berdenting, menampilkan Januar Mahardika yang berlari terengah-engah sambil memeluk sebuah laptop berspesifikasi tinggi dengan kabel-kabel yang bergelantungan di lengannya.
"Pak Gibran!saya dapat info dari pak Gunawan, ini serius ada sabotase?" tanya Januar panik sambil meletakkan laptopnya di atas meja kaca. Matanya beralih ke Nayla. "Bu Nayla, tenang aja. Saya enggak percaya sedikit pun kalau anda yang ambil data itu. Bu Nayla kalau belanja di minimarket aja masih mikir dua kali buat beli cokelat mahal, mana mungkin kepikiran jual rahasia perusahaan."
Nayla yang awalnya tegang terpaksa menahan senyum mendengar analogi belanjaannya dibawa-bawa. "Makasih ya, pak Januar. Tapi masalahnya, kartu akses aku yang tercatat di sistem brankas. Aku butuh kamu buat cek sesuatu."
Gibran melangkah mendekat, melonggarkan ikatan dasinya dan membuka satu kancing teratas kemejanya, memperlihatkan gurat kelelahan namun tatapannya tetap setajam elang. "Januar, periksa log jaringan CCTV toilet wanita dan koridor sayap barat kemarin sore antara jam empat sampai jam lima. Sistem sempat melaporkan ada glitch atau pemeliharaan dadakan di jam itu."
Januar langsung mendudukkan diri di lantai berkarpet, membuka laptopnya dengan kecepatan jemari yang luar biasa.
"Siap, Bos. Kalau cuma glitch biasa sih wajar, tapi kalau ada intervensi manual dari server luar, itu namanya cari mati di kandang Mahardika."
Nayla tidak mau tinggal diam dan hanya menonton dua bersaudara itu bekerja. Jiwa "detektif anak kos" yang dulu biasa melacak keberadaan sandal jepitnya yang hilang di kontrakan mendadak bangkit. Ia mendekati meja Januar.
"Pak Januar, bisa tolong fokus ke bagian pintu keluar toilet? Kemarin setelah Valeria menyenggolku dan membantu merapikan isi tasku yang berhamburan, dia tidak langsung keluar. Dia sempat berdiri di depan cermin besar selama beberapa menit, membelakangiku sambil memegang ponselnya," tutur Nayla mencoba mengingat setiap jengkal detail kejadian.
"Ponsel?" Gibran menyahut, keningnya berkerut. "Kemungkinan besar dia tidak menduplikasi kartu secara fisik di sana, tapi dia menggunakan perangkat NFC reader atau pemindai portabel yang terhubung ke ponselnya untuk menyalin data enkripsi kartu akses lu, Nay."
"Tepat sekali, pak Gibran!" seru Januar, matanya berbinar di balik kacamata pelindung radiasinya. "Lihat ini! Saya berhasil menembus enkripsi sekunder CCTV koridor barat yang sempat dinyatakan rusak oleh bagian fasilitas. Datanya tidak terhapus, melainkan sengaja dialihkan ke folder sampah tersembunyi (hidden cache). Bentar, gue restore videonya dulu."
Layar laptop Januar berkedip beberapa kali sebelum menampilkan rekaman hitam putih beresolusi tinggi. Di sana terlihat jelas koridor lantai 45 yang sepi. Pukul 16.15, Nayla terlihat masuk ke dalam toilet. Dua menit kemudian, Valeria masuk dengan langkah tergesa-gesa.
Namun, yang paling mengejutkan adalah adegan pada pukul 16.35. Valeria keluar dari toilet, tetapi ia tidak berjalan menuju lift. Ia justru berbalik ke arah koridor buntu di dekat ruang genset dan menemui seorang pria yang mengenakan seragam petugas kebersihan kantor lengkap dengan masker dan topi yang ditarik rendah.
"Tunggu, hentikan videonya di sana, Januar! Perbesar bagian tangan wanita itu," perintah Gibran dingin.
Januar menekan beberapa tombol keyboard. Gambar bergeser memperbesar area tangan Valeria. Terlihat jelas Valeria menyerahkan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna peraksebuah perangkat pemindai enkripsi kepada petugas kebersihan tersebut.
Petugas itu kemudian berjalan menuju ruang kerja Gibran, mengeluarkan sebuah kartu tiruan, dan dengan mudah menempelkannya ke panel pintu.
"Sialan, ternyata ada orang dalam yang membantu dia!" umpat Januar kesal sambil memukul meja. "Tapi wajah petugas kebersihan ini ketutup masker sama topi, susah diidentifikasi pakai facial recognition standar."
Nayla mendekatkan wajahnya ke layar laptop, matanya menyipit tajam meneliti setiap detail tubuh pria bermasker itu. Sebagai orang yang terbiasa hidup hemat dan memperhatikan detail terkecil dari barang-barang sekitar, mata Nayla menangkap sesuatu yang ganjil pada penampilan sang petugas kebersihan.
"Tunggu dulu, Januar. Coba mundurin videonya sedikit saat pria itu berjalan berbalik arah menuju ruang brankas," pinta Nayla.
"Kenapa, Bu Nayla? Ada yang aneh?" tanya Januar sambil menuruti perintah istri bosnya
"Lihat sepatunya," tunjuk Nayla pada bagian bawah celana seragam petugas tersebut. "Petugas kebersihan di gedung Mahardika semuanya diwajibkan memakai sepatu bot karet hitam atau sepatu olahraga standar warna gelap dari perusahaan, kan? Tapi pria ini memakai sepatu pantofel kulit berwarna cokelat tua dengan gesper perak di sampingnya. Merk-nya ... kalau tidak salah itu Louis Vuitton edisi tahun lalu. Aku tahu karena pernah tidak sengaja melihat brosurnya di meja Mas Gibran."
Gibran langsung menatap Nayla dengan pandangan takjub. Pria itu menepuk pucuk kepala Nayla dengan gemas. "Kejelian mata lu bener-bener di luar prediksi, Nay. Petugas kebersihan mana yang pakai sepatu pantofel mewah seharga tiga puluh juta rupiah untuk mengepel lantai?"
Gibran langsung menoleh ke arah Gunawan yang sejak tadi bersiap di dekat pintu. "Gunawan, cek daftar hadir direksi dan kepala divisi yang kemarin sore tidak menghadiri rapat darurat bersama gue di lantai bawah, lalu saring siapa saja di antara mereka yang memiliki atau sering memakai sepatu pantofel cokelat merk tersebut."
Gunawan mengangguk cepat. "Baik, Pak Gibran. Saya akan langsung mencocokkannya dengan database internal komite eksekutif."
Tidak butuh waktu lama bagi Gunawan untuk kembali dengan selembar kertas. "Dapat, Pak. Hanya ada satu orang yang tidak hadir dalam rapat kemarin sore dengan alasan sakit gigi, dan dia adalah Hendra Pratama, Kepala Divisi Perencanaan Strategis kita yang ternyata adalah sepupu jauh dari pemilik Pratama Group perusahaan keluarga Valeria."
Januar mendengus tawa remeh. "Wah, konspirasi keluarga yang sangat rapi. Sayangnya mereka lupa mengganti sepatu mewah mereka saat menyamar jadi babu."
Gibran berdiri tegak, auranya sebagai pemimpin tertinggi Mahardika Group kembali sepenuhnya. Ketegangan yang sempat menyelimuti wajahnya kini berganti dengan kepuasan yang dingin. Ia memakai kembali jas abu-abunya, lalu merapikan letak kerah kemejanya di depan cermin.
"Dua puluh empat jam belum habis, Papa," gumam Gibran dengan nada sarkas yang tajam. Ia menatap Nayla, lalu mengulurkan tangannya. "Ayo, Nayla. Saatnya kita bersihkan nama baik lu di depan Papa dan seluruh dewan komisaris yang sekarang pasti sedang berkumpul di ruang rapat utama atas undangan Papa."
Nayla menyambut uluran tangan Gibran dengan mantap. "Siap, Pihak Kesatu. Aku sudah siap melihat wajah kalah mereka."
Di ruang rapat utama lantai top Mahardika Group, suasana terasa seberat timah. Baskoro Mahardika duduk di kepala meja panjang dengan wajah tegang, dikelilingi oleh belasan anggota dewan komisaris dan kepala divisi senior.
Valeria juga tampak duduk di sudut ruangan dengan senyum kemenangan yang tertahan, sesekali menyeruput teh hangatnya dengan gaya anggun yang menyebalkan.
"Waktu dua puluh empat jam yang kamu minta sudah hampir habis, Gibran," ujar Baskoro dingin begitu pintu ruang rapat terbuka menampilkan Gibran, Nayla, Januar, dan Gunawan masuk. "Jika kamu masuk ke sini hanya untuk memohon belas kasihan atau meminta perpanjangan waktu, Papa sarankan kamu langsung tanda tangani surat pengunduran diri ini."
Baskoro menggeser selembar dokumen di atas meja penataran.
Gibran tidak duduk. Ia tetap berdiri di ujung meja dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kursi, memancarkan aura dominasi yang luar biasa kuat hingga membuat beberapa komisaris tua berdeham canggung.
"Saya masuk ke sini bukan untuk mundur, Pa," jawab Gibran dengan suara yang menggema tenang namun penuh penekanan. "Saya masuk ke sini untuk menyerahkan bukti pelaku sabotase yang sesungguhnya."
Gibran memberi isyarat pada Januar. Dengan sigap, Januar menghubungkan laptopnya ke proyektor besar di dinding ruang rapat. Seketika, layar menampilkan rekaman video CCTV koridor barat toilet wanita yang sudah dibersihkan dari glitch buatan.
Valeria yang semula duduk santai mendadak membeku saat melihat wajahnya sendiri muncul di layar besar, sedang melakukan transaksi mencurigakan dengan seorang petugas kebersihan.
"Apa-apaan ini? Ini cuma video rekayasa! Gibran, kamu sengaja membuat video palsu ini untuk melindungi perempuan kampung ini, kan?!" teriak Valeria histeris, wajahnya mulai memucat di balik riasan tebalnya.
"Diam, Valeria!" bentak Baskoro, matanya kini terfokus tajam pada layar proyektor.
Gibran melanjutkan penjelasannya dengan tenang. "Pria berbaju petugas kebersihan itu menggunakan kartu akses tiruan yang menyalin enkripsi data dari kartu milik istri saya, Nayla, saat Valeria sengaja menyenggolnya di toilet. Dan pria itu ... bukanlah petugas kebersihan Mahardika Group."
Gibran menoleh ke arah pintu masuk ruang rapat. "Gunawan, bawa masuk orangnya."
Pintu terbuka, dan dua petugas keamanan internal menyeret Hendra Pratama Kepala Divisi Perencanaan Strategis yang kini berjalan dengan kepala tertunduk lesu. Yang paling mencolok, Hendra masih mengenakan sepatu pantofel kulit cokelat mewah Louis Vuitton yang persis sama dengan yang ada di dalam rekaman video sabotase tersebut.
"Hendra! Apa yang kamu lakukan?!" seru Baskoro terkejut, berdiri dari kursinya dengan amarah yang memuncak melihat pengkhianatan dari jajaran manajemen seniornya sendiri.
Hendra langsung berlutut di lantai dengan tubuh gemetaran. "Maafkan saya, Pak Baskoro ... Saya tergiur tawaran saham gabungan dari Pratama Group jika berhasil memberikan cetak biru proyek Bali melalui Valeria ... Saya yang meretas brankas Pak Gibran setelah menyalin data dari kartu akses Ibu Nayla ..."
Seluruh ruangan rapat riuh seketika oleh bisik-bisik dari para komisaris. Valeria terduduk lemas di kursinya, wajah cantiknya kini benar-benar putih bersih tanpa darah seperti kertas kosong.
Rencana rapinya untuk menyingkirkan Nayla sekaligus merebut proyek Bali hancur lebur dalam sekejap hanya karena perkara sepasang sepatu pantofel mewah.
Nayla maju satu langkah, berdiri di sebelah Gibran dengan dagu yang terangkat tinggi. Ia menatap Valeria dengan pandangan kasihan yang sangat menusuk hati. "Maaf ya, Mbak Valeria. Strateginya sudah bagus, tapi sayang ... topengnya copot karena Mbak kurang riset tentang kebiasaan sepatu petugas kebersihan kami. Di dunia kami, detail kecil itu yang menentukan kemenangan."
Baskoro Mahardika terdiam seribu bahasa di kursinya. Amarahnya runtuh, berganti dengan rasa bersalah yang teramat besar saat menatap menantu sirinya yang selama ini selalu ia pandang rendah dan ia tuduh sebagai penipu oportunis.
Gibran melirik jam tangannya, lalu menatap ayahnya dengan pandangan menuntut yang tidak bisa dihindari. "Waktu dua puluh empat jam selesai, Papa. Bukti sudah sahih. Dan seperti perjanjian kita kemarin di koridor ... saya rasa ada satu hal yang harus Papa lakukan sekarang juga."
Atmosfer ruang rapat mendadak sunyi, menunggu tindakan apa yang akan diambil oleh sang Jenderal tertinggi Mahardika Group di depan menantu kampungnya yang baru saja memenangkan pertempuran harga diri ini dengan mutlak.
sory ya thor 🙏