NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Benteng di Ujung Dunia

Angin malam yang mengandung butiran garam laut berembus liar, menyapu perahu karet kuning yang terombang-ambing di atas ombak raksasa.

​Dante mendayung di bagian depan dengan sisa tenaganya yang luar biasa, sementara Xander duduk di bagian belakang, menjadi tameng hidup bagi Alana. Ia merengkuh tubuh istrinya yang menggigil di balik jas tebal miliknya yang basah kuyup. Di dekat mereka, Elena tengah memeluk bahu Sarah yang masih menangis tertahan akibat trauma.

​Semakin perahu itu mendekati titik koordinat, siluet Pulau Hantu semakin terlihat mengerikan. Alana mengintip dari balik pelukan Xander. Tidak ada pasir putih atau pepohonan rindang. Yang ada hanyalah tebing-tebing batu karang berwarna hitam legam yang menjulang vertikal menembus awan, tajam layaknya deretan gigi monster raksasa yang siap menelan mereka bulat-bulat.

​Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Gelap, sunyi, dan mematikan.

​"Xander... kita akan menabrak karang," bisik Alana panik, tangannya mencengkeram kemeja suaminya erat-erat saat ombak besar mendorong perahu mereka lurus menuju dinding tebing batu yang kokoh.

​"Percaya padaku, Sayang. Pejamkan matamu," bisik Xander di telinga Alana, mengecup puncak kepala istrinya dengan tenang.

​Dante menghentikan dayungannya. Alih-alih menghindar, tangan kanan Xander itu merogoh sebuah jam tangan taktis di pergelangannya, mengetuk layar tersebut tiga kali dengan pola khusus. Bip. Bip. Bip.

​Tiba-tiba, sebuah keajaiban teknologi terjadi di depan mata mereka.

​Dinding karang hitam yang tampak mustahil untuk ditembus itu mendadak bergetar pelan. Suara pergeseran hidrolik raksasa terdengar dari bawah laut. Permukaan batu tebing itu membelah, bergeser ke kiri dan kanan, membuka sebuah terowongan gua laut buatan yang sangat besar. Lampu-lampu LED merah langsung menyala berurutan di sepanjang dinding gua, memandu jalan mereka ke dalam perut bumi.

​Perahu karet itu meluncur mulus menembus tirai air terjun buatan yang berfungsi sebagai kamuflase, masuk ke dalam markas bawah tanah rahasia milik Leonidas Group.

​Mata Alana membelalak tak percaya. Begitu melewati terowongan gelap, mereka tiba di sebuah dermaga kapal selam subterranean yang berukuran seluas stadion sepak bola. Baja tebal menutupi seluruh dinding. Puluhan kapal patroli bersenjata berat bersandar rapi. Ratusan pria berseragam taktis hitam dengan lambang helm Spartan emas di dada kiri mereka berdiri berbaris kaku dengan senapan laras panjang di tangan.

​"Hormat senjata!" teriak seorang komandan berwajah bekas luka dari atas dermaga.

​SYRAAK! Suara ratusan sepatu bot yang dihentakkan serentak menggema memekakkan telinga di dalam gua raksasa tersebut. Ratusan prajurit itu menunduk serempak menyambut sang dewa perang yang baru saja kembali dari ambang kematian.

​"Selamat datang kembali di Suaka, Tuan Besar," sambut sang komandan, membungkuk dalam-dalam saat Xander menggendong Alana melangkah keluar dari perahu karet dan menginjak lantai beton dermaga.

​"Siapkan tim medis terbaik untuk Elena dan Sarah. Lakukan pemindaian seluruh tubuh mereka," perintah Xander dengan suara otoriter yang kembali menggema, tidak lagi terdengar seperti pria yang baru saja jatuh dari langit. "Dan komandan, kunci seluruh akses pulau. Aktifkan perisai udara, naikkan sistem pertahanan ke Defcon 1. Mulai detik ini, kita dalam status perang terbuka."

​"Siap, Tuan!"

​Tim medis dengan sigap membawa Elena dan Sarah menggunakan tandu otomatis. Xander menolak kereta medis untuk dirinya sendiri maupun Alana. Pria itu terus menggendong istrinya, melangkah melewati pintu ganda dari baja tahan ledakan, masuk ke dalam fasilitas utama pangkalan militer itu.

​Di balik baja dingin tersebut, Alana kembali dibuat terpana. Interior markas itu didesain semewah hotel bintang lima. Karpet tebal, pemanas ruangan sentral, dan dinding pualam menggantikan kesan brutal dari luar pulau.

​Xander membawa Alana ke dalam suite komando miliknya di lantai teratas fasilitas tersebut. Ruangan itu memiliki dinding kaca anti-peluru raksasa yang memperlihatkan lautan luas yang mengamuk di luar sana.

​Xander menurunkan Alana dengan sangat hati-hati di atas ranjang beludru berukuran besar. Ia berjalan ke arah lemari, mengambil handuk hangat tebal, dan kembali menghampiri istrinya.

​Dengan kelembutan yang sangat bertolak belakang dengan aura membunuh yang ia pancarkan di luar sana, Xander mengeringkan rambut Alana. Jemarinya mengusap jejak air laut di pipi pucat gadis itu.

​"Xander..." suara Alana bergetar, matanya berkaca-kaca menatap wajah suaminya yang juga penuh memar dan kotor oleh abu. "Apa yang terjadi jika alat itu tidak menyala? Apa yang terjadi jika kita terlambat?"

​Xander menghentikan gerakan tangannya. Ia menjatuhkan handuk itu, merengkuh pinggang Alana, dan menyandarkan dahinya pada dahi sang istri. Hembusan napas hangat mereka menyatu di udara yang mulai menghangat.

​"Maka aku akan merobek laut itu dengan kedua tanganku sendiri untuk memastikan kau tetap bernapas, Alana," bisik Xander dengan sumpah yang absolut. "Di tempat ini, kau adalah ratuku. Ivan Volkov telah membangunkan iblis yang salah, dan aku akan memastikan dia mati dengan cara yang paling lambat."

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!