NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab tiga

Alya mempercepat laju jalannya ketika tiba di depan rumahnya yang sederhana. Ia menghela napas lega, ketika melihat ibunya tengah duduk di meja makan, menunggunya untuk makan malam bersama.

Di meja makan kecil yang sederhana itu, sudah tersaji nasi dan lauk sederhana yang terasa lezat di mata Alya.

"Ibu sudah makan?" tanya Alya, mendekat ke arah ibunya. Ia mencium puncak kepalanya dan memeluknya hangat.

"Belum, Nak. Ibu sengaja menunggumu pulang."

"Bagaimana jika aku tidak pulang, apa itu artinya Ibu tidak akan makan?" tanya Alya, tampak menggerutu pada ibunya.

Bukan karena marah, namun karena rasa khawatir yang besar.

"Ibu tahu kau akan pulang, apapun yang terjadi." ucapnya lembut, dengan senyum lebar yang terasa hangat.

"Baiklah." Sahut Alya ikut tersenyum pada ibunya.

"Ayo, kita makan." lanjutnya mengambilkan nasi untuk ibunya. "Bibi Sari juga membungkuskan ayam panggang yang lezat untuk kita. Masih hangat."

Gadis itu tampak ceria dan bersemangat. Namun, hal itu justru membuat hati Junita, ibunya, merasa teriris.

Ia seharusnya masih menikmati masa-masa muda yang bahagia. Berkumpul dengan teman-teman seusianya, belajar dan meraih mimpi setinggi mungkin.

Namun, ia malah menghabiskan waktunya untuk bekerja dan merawat dirinya yang tidak berguna ini.

"Kenapa Ibu menangis? Apa ada yang sakit?" Alya bertanya dengan panik, ketika melihat air mata ibunya tiba-tiba mengalir.

"Ah, tidak, Nak." Junita dengan cepat menyeka air matanya. "Ibu hanya kelilipan."

"Oh, aku kira Ibu menangis." sahut Alya lega.

Mereka lalu melanjutkan makan malam mereka yang sederhana, namun penuh kehangatan.

*

*

Sementara itu di klub malam yang mewah, tempat di mana kau jetset ibu kota seringkali berkumpul, Maxime duduk di sudut ruangan VIP yang remang-remang, menyesap cocktail-nya sambil mengamati musik dentuman musik house yang menggetarkan lantai dansa.

Tatapan dingin namun tajam, seolah sedang menganalisis setiap gerak-gerik para sosialita dan para pengusaha muda yang sibuk pamer pengaruh, acuh tak acuh pada bisingnya dunia luar.

"Kenapa kau diam saja sejak tadi? Apa ada masalah?" tanya Jonathan pada Maxime.

"Tidak ada. Aku hanya sedang kesal. Jadi, jangan menggangguku! Pergilah!" usirnya kasar pada sahabat baiknya itu.

Bukannya marah, Jonathan malah terkekeh pelan melihat sikapnya itu. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk, karena keinginannya tidak di turuti.

"Dasar kau ini! Jangan marah-marah terus, nanti lekas tua." ejek Jonathan sambil tertawa.

Maxime seketika menghunuskan tatapan tajam ke arah Jonathan.

"Sudahlah,Max. Di sini kita sedang bersenang-senang." lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya, penuh makna.

"Ada banyak gadis cantik di sini. Tubuh mereka juga... wih... seksi..." Jonathan sengaja menggoda Maxime.

Bukannya tertarik, Maxime malah menendang bahu Jonathan hingga terjatuh dari sofa. "Brengs*k kau, Jo! Pergilah dari hadapanku sekarang!!" usir Maxime kesal.

Namun, Jonathan lagi-lagi tidak marah, ia malah tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit.

Ia tahu pasti jika sahabatnya itu tidak pernah tertarik pada wanita lain, sejak putus dari Amanda, mantan kekasihnya yang berselingkuh di belakangnya setahun yang lalu.

Ia memang senang sekali menggoda Max. Jonathan bahkan pernah dengan sengaja menjebak Max dengan seorang wanita malam di dalam kamar. Namun, wanita itu malah berakhir di usir setelah Max melemparkan beberapa ikat uang ke arahnya.

Jonathan bukan hendak bermaksud jahat padanya, melainkan ingin membantu Maxime untuk melupakan Amanda sepenuhnya, dan tidak berlarut-larut dalam kemarahan seperti ini.

Melupakan cinta pertama itu memang berat, namun bukan berarti kau harus terus tenggelam di dalamnya kan?

Namun, sikap Max yang keras kepala memang sulit di hadapi.

Pria yang berprofesi sebagai seorang pengacara itu, lalu duduk kembali di samping Maxime yang masih tampak kesal.

Raut wajahnya yang sedari tadi tampak santai, kini berubah serius.

"Sampai kapan kau mau seperti ini terus, hem?" tanya Jonathan dengan raut wajah penuh keseriusan.

Namun Max tidak menjawab, ia hanya diam, menyesap kembali minuman di tangannya.

"Sementara kau sedang bersedih di sini, wanita itu kini sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Apa kau tahu itu?" lanjutnya tegas, mencoba menyadarkan Max yang masih terjebak pada masa lalu.

"Ck! Aku tahu. Tapi tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak kenangan indah yang tidak bisa ku lupakan begitu saja." Max akhirnya bersuara. "Hah... jomblo seperti mu tidak akan mengerti."lanjutnya, sengaja mengejek Jonathan.

"Sialan kau!"umpatnya. "Aku memang jomblo, tapi aku punya banyak teman wanita. Apa kau mau ku kenalkan satu?" tanyanya menawarkan.

"Tidak perlu. Aku tidak percaya dengan selera mu yang rendah itu." jawab Max tegas, menatap malas ke arah sahabatnya itu.

"Kali ini aku akan memperkenalkan mu dengan wanita terhormat yang normal." sanggah Jonathan, membela diri.

Ingatan Max seketika kembali kepada wanita yang terakhir kali di bawa Jonathan ke hadapannya. Belum lagi deretan wanita-wanita sebelumnya yang jauh dari kata "normal".

"Tunggu, aku punya fotonya di ponselku." jelas Jonathan, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya.

Max lalu menatap foto yang diperlihatkan Jonathan itu lekat-lekat, seolah sedang menilai penampilan dari fotonya.

"Kau mau menjodohkan ku dengan nenek mu?" tanya Max sinis. "Aku tahu nenekmu single, tapi bukan berarti aku berminat jadi kakekmu."

Jonathan lalu terkekeh ketika menyadari bahwa ia salah menunjukkan foto. "Aku juga tidak rela jadi cucu mu. Bisa-bisa aku mati muda."

Ia menggeser layar ponselnya, lalu menunjukan foto seorang gadis cantik berambut panjang yang terlihat cantik.

"Cantik juga. Tapi... aku tidak berminat." tolak Max.

"Memangnya kenapa? Apa yang salah?"

"Tidak ada. Aku cuma tidak berminat saja. Sudahlah! Tidak usah membahas wanita lagi. Kepalaku pusing."

Ia lalu memanggil pelayan dan memesan sebotol wine untuk menjernihkan kepalanya yang terasa penuh.

Jonathan hanya bisa menghela napas berat, melihat keadaan Max yang memprihatinkan.

🌺🌺

Cahaya matahari yang menyilaukan, menyusup melalui celah-celah kain yang terbuka, mengusik Max yang masih tampak terlelap di ranjangnya.

Pria itu lalu membuka mata dan mengerjab perlahan, menatap ke sekeliling ruangan yang tidak asing baginya.

Kamar tidurnya. Ia mencoba untuk duduk, namun kepalanya terasa berat. Sisa-sisa alkohol semalam sepertinya belum sepenuhnya hilang.

Ia ingat berada di klub bersama Jonathan kemarin malam. Ia pasti mabuk lagi, dan pria itu yang mengantarkannya pulang ke rumah.

Ia lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi. Ia tidak tahan dengan bau badannya yang dipenuhi oleh alkohol, terasa begitu menyengat.

Ia ingat ada pertemuan penting pagi ini dengan klien.

Setelah mandi, ia memakai pakaiannya yang sudah tertata rapi di atas meja seperti biasa. Lengkap dengan sepatunya.

Ia merasa cukup puas dengan hasil kerja pelayan baru yang ditugaskan untuk menggantikan pekerjaan Bibi Junita. Ia dengar pelayan itu adalah putrinya yang baru bekerja setahun di sini.

Max lalu keluar dari kamarnya untuk sarapan di ruang makan.

Kepala pelayan sudah berdiri di sana, untuk menyambutnya.

"Selamat pagi, Tuan." sapanya penuh hormat seperti biasa.

"Pagi, Pak Dul. Di mana sarapan ku?" tanya Max.

Langkah sepatu yang terdengar tegas dan seirama, menggema pelan di sepanjang ruang makan yang sunyi.

"Letakkan di sini, Alya!" perintah Pak Dul pada seorang gadis muda yang membawa nampan berisi sarapan, menunjuk meja di hadapan Max.

Aroma mawar yang lembut seketika menyeruak di penciuman Max yang tajam. Ia menoleh ke arah gadis itu dan... terpaku di tempatnya.

🌺🌺

1
Rain Aricia
Ya udah lah gapapa, sekarang pikirin dirimu dulu mau ga jadi model itu
Rain Aricia
Dia kan tau diri Max
Rain Aricia
Kalau gitu suruh lah dia log out dari club malam itu, Max
🔵 MULIANA💦
bisa-bisanya kepikiran nyolong peralatan rumah tangga /Facepalm/
-Thiea-: soalnya barangnya bermerek semua.. dikira yang punya rumah kagak bakalan tahu..😁
total 1 replies
🔵 MULIANA💦
kayaknya itu ungkapan hatinya deh 🤭
🔵 MULIANA💦
lah, masih sempat-sempatnya /Facepalm/
🔵 MULIANA💦
bayarannya, tanpa bunga kan max 🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih meni eweh gawe sia ih 🫣😆/Chuckle/
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lumayan terharu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya si Al masih punya nurani ke baikan tersisa yah, klw nggak udh aku tendang tuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
adeuh 🤦 meuni sok asa 😤 Jol seak gampangnya menyebut dirinya ayah. akibat obses yg tak jelasnya itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
kayaknya klw ada di hadapan kehidupan ku, aing tak Sudi mendengar ucapan itu, lihatny🫤a pun aing tak Sudi 😒🙄☹️
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
masa sih, masa iya 😒🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
andai di sini bisa kirim stiker kaya di wa nanti aing bakal kirim Poto stiker aku yg natap mode kaya 😒. untuk ucapan seperti itu sebel rasanya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
harusnya Lo om cari info yg lebih dalam lagi, jadi jangan seolah menyalahkan emaknya si Al, karena pasti ada satu hal yg membuatnya pergi dari kau paham tuan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dari sudut bicara anda ini kayak menganggap hal sepele, kayak menggampangkan aja gitu 🤦 terserah lu lah om.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
om kau emang tua keladi yang rese, gw klw jadi emaknya si Al sama kayaknya karena nggak mudah. soalnya kau tiba² muncul terus bikin suasana kacau di kondisi kagak Bae rese Lo ya om.
Three Flowers
saking cantiknya si Alya, Maxime yang lagi bete sampai terlena
Three Flowers
jadi dia memilih tidak hadir ya
Cimol krispy
Alya tenang, gantian nax yang degdegan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!