NovelToon NovelToon
Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: LaruArun

Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.

Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.

Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.

Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Moan my name."

"Kak... ahhh—"

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 KEJADIAN YANG HARUS DI LUPAKAN

Tangan Lian yang semula berada di perut Esther perlahan naik, sementara napasnya yang hangat masih terasa di lehernya bersamaan dengan bibirnya yang turun mengecup tulang selangkanya.

Tubuh Esther menegang merasakan sesuatu yang asing yang tidak pernah ia rasakan selama hidupnya merambat pelan, membuatnya sulit berpikir jernih. Ia ingin melepaskan dirinya tapi pergerakannya tertahan. Lebih tepatnya tubuhnya seolah enggan menolak sentuhan Lian yang kian liar.

"Ah!"

Desahan itu lolos saat Esther berniat berteriak saat gigi Lian menempel di kulitnya, membuat Lian yang menggerayangi lehernya berhenti. senyum samar terukir di wajahnya yang sayu.

"Lanjutkan... "bisiknya pelan.

Esther menggeleng cepat, napasnya keluar tak beraturan. "Tidak, kak, kau—"

Brakk.

Lian membalik tubuh Esther, mendorongnya hingga membentur kulkas di belakangnya. Kedua bahunya tertahan oleh cengkraman kuat Lian membuat Esther meringis.

Esther mendongak. Tatapannya bertemu dengan mata Lian yang setengah terpejam, berat oleh alkohol.

Karena alkohol yang entah berapa banyak sudah masuk ke dalam mulutnya membuat tubuh Lian melemah.

"Kak...?" Esther refleks menahan tubuh Lian yang hampir jatuh. Namun sekuat apapun Esther menahannya, akhirnya tubuh Lian yang dua kali lipat besar dibandingkan dirinya jatuh menimpa bahunya.

"Kau tidak apa-apa, kak? Sebaiknya kau—"

"Kiss me," gumam Lian tiba-tiba.

"Hah?"

"Kiss me.."

Sebelum Esther sempat bereaksi, Lian menarik dagu Esther dan menciumnya dengan rakus dan kasar. Seolah Esther adalah makan malam yang ia lewatkan. Jarak diantara mereka hilang dalam sekejap.

Kedua mata Esther membulat. Tubuhnya membeku. Tangannya bergerak cepat mendorong Lian begitu ia menyadari apa yang tengah terjadi. Namun Lian justru menahan tangan Esther tanpa melepaskan ciumannya yang semakin beringas itu.

Lian yang tidak merasakan adanya balasan menghentikan aktivitasnya.

"Kiss me.. " katanya sambil menarik Esther mendekat. Suaranya lebih jelas bersamaan napas mereka yang bertubrukan.

Lian menarik dagu Esther dan kembali menciumnya. Kali ini lebih lembut, membuat Esther perlahan merasakan sesuatu muncul pada tubuhnya. Rasa yang tidak ia pahami namun.. ia nikmati. Tanpa sadar Esther berhenti melawan, kedua matanya menutup dan tanpa sadar ia membalas ciuman Lian dengan amatir karena itu adalah ciuman pertamanya. Lebih tepatnya kedua setelah Joshua menciumnya tanpa izin.

Detik demi detik berlalu, di luar malam kian larut, semua aktivitas manusia terhenti kecuali dua orang yang tengah bertautan di dapur. Kemeja Lian sudah terbuka, kancingnya jatuh entah kemana. Begitu pun dengan Esther, pakaian nya robek di bagian depan, kulitnya yang putih itu kini penuh dengan tanda yang di tinggalkan oleh Lian.

Ciuman itu semakin dalam seiring waktu. Lian kini terduduk di lantai sementara Esther berada di pangkuannya. Tangannya bergerak memutari punggung Esther di balik sisa pakaian yang masih menempel, hingga akhirnya ia menarik kain itu dan melemparkannya ke sembarang arah.

Perlahan Lian bergerak tanpa melepaskan ciuman meskipun bibir keduanya sudah bengkak, ia merebahkan Esther di lantai dapur yang dingin membuat tubuh wanita itu bergidik karena kontras dengan tubuhnya yang sudah panas membara.

Lian melepaskan sabuk yang mengikat pinggang hingga celana nya turun. Hal yang sama ia lakukan pada Esther, ia menyibak rok pendek yang menutupi titik pusat wanita itu—titik yang akan ia tuju sekarang.

"Kak—"

"Sttt." Lian menyimpan telunjuknya di bibir Esther. "aku akan pelan-pelan, aku janji."

Penyatuan itu begitu pelan seperti janji Lian. Namun tetap saja rasanya menyakitkan untuk Esther yang baru pertama kali melakukannya.

Desahan dan erengan keluar bergantian dari mulutnya, menggema di dapur yang sunyi.

"Moan my name." racau Lian di sela-sela aktivitasnya mencoba menyatukan dirinya ke dalam Esther.

"Ah!"

"Moan my name."

"Kak—Ah!" teriakan Esther menggema bersamaan dengan penyatuan Lian yang memenuhi dirinya.

Rasanya tubuhnya seolah terbelah menjadi dua, kedua kakinya yang mengapit tubuh Lian gemetar, sementara tangannya menempel di punggung Lian, kuku jarinya mengukir goresan-goresan abstrak di punggungnya yang berotot.

...*****...

Pagi-pagi sekali Joshua sudah berdiri di depan rumah Arash untuk mencari Esther dan meminta maaf padanya. Begitu pintu ia ketuk berkali-kali Arash muncul dan mengeryit begitu ia melihat kekasih adiknya berdiri di depan rumahnya.

"Ada apa datang pagi-pagi kemari, Joshua?" tanya Arash.

"Anu, kak, apa Esther sudah bangun?"

"Esther?" Alis Arash terangkat sebelah. "Kau seharusnya mencari Esther ke rumahnya, bukan kemari."

"Esther tidak menginap disini, kak?" Wajah Joshua semakin panik dan khawatir. Jika Esther tidak ada di rumah orang tuanya dan kakaknya lalu dimana dia?

"Tidak, Esther tidak datang kemari, iyakan sayang?" ucap Arash sambil menoleh pada Ava yang muncul sambil menggendong Arthur.

Ava mengangguk. "Memang ada apa? Kenapa kau mencari Esther kemari tanpa menghubunginya dulu?"

Joshua terdiam.

"Kau bertengkar dengannya?" tebak Ava yang di jawab anggukan oleh Joshua.

Ava memberikan Arthur pada Arash dan memberi isyarat supaya masuk kedalam rumah sementara dirinya mengajak Joshua bicara di luar.

"Tidak biasanya kalian bertengkar, ada apa? Apa kau menyelingkuhi adikku?"

Joshua menggeleng cepat. "Tidak mungkin aku melakukan itu, kak, aku sangat mencintai Esther."

"Lalu?" Ava melipat kedua tangannya di depan dada, matanya menatap tajam Joshua. Sebagai kakak sudah sepatutnya ia bertindak seperti ini, maju paling depan saat adiknya itu disakiti. Karena ia tahu, Arash tidak begitu bisa memperlihatkan kepeduliannya kepada Esther yang ada hanya menambah masalah karena emosinya cepat sekali meledak.

Joshua menghela napasnya sebelum berbicara. "Semalam aku tidak sengaja menyingung Esther hingga dia pergi meninggalkanku begitu saja. Bahkan sampai sekarang aku tidak bisa menghubunginya, sepertinya ia sengaja mematikan ponselnya."

"Kau yakin tidak menyelingkuhi adikku?"

"Aku bersumpah, kak, aku tidak melakukan itu." ucap Joshua sambil mengangkat tangannya.

"Bagus kalau kau tidak melakukan itu, kalau kau sampai melakukannya dan membuat Esther menangis... "Ava menatap tajam Joshua sambil menunjuk kedua matanya dan Joshua bergantian untuk memperingatkannya. "Aku akan mencolok matamu!"

"Sepertinya Esther menginap di rumah temannya, nanti saat dia kemari akan aku beritahu bahwa kau datang mencarinya."

"Terima kasih, kak." ucap Joshua sebelum ia pamit

...*****...

Lian menyentuh kepalanya yang berat diikuti kedua matanya terbuka perlahan. Kilau sinar matahari menusuk langsung retinanya membuatnya kembali menyipitkan kedua matanya. Ia hendak mengangkat tangannya berniat menutupi cahaya, namun urung setelah ia menyadari bahwa tangannya dijadikan bantal oleh seseorang.

"... Elena?" gumamnya dengan suara berat. Ia menatap punggung wanita itu yang tertutup oleh rambut cokelatnya yang panjang. "Kapan kau datang?"

Tak ada jawaban. Hanya suara detak jam yang memenuhi ruangan. Hingga akhirnya Lian bangkit. Dan bersamaan dengan itu wanita yang terbaring di atas tangannya bergerak merubah posisinya menghadap Lian, membuat kedua matanya terbelalak dan napasnya berhenti.

"... Esther?!"

Nama itu keluar dengan keras dari mulutnya, membangunkan Esther yang berada di bawah Kungkungan Lian. Karena terkejut, Esther refleks mendorong Lian hingga pria itu terduduk di kasur dengan keras sedangkan dirinya langsung bangkit terduduk dengan selimut yang ia tarik untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun.

"Apa yang kau lakukan di rumahku?" suara Lian keluar lebih keras dari yang is maksud.

Esther tidak menjawab. Ia menatap ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Lian. Tangannya meremas kain selimut dengan kuat, karena gugup dan takut.

Suasana ruangan itu kian menegang.

"Jawab aku apa yang kau lakukan di rumahku Esther?" Lian menatap Esther dengan tatapan tajam. Tatapan yang tidak pernah Esther lihat sejak mengenal pria itu. Membuat nyalinya untuk menjawab ciut seketika. "Dan kenapa kau tidur disini? Di kamarku?!"

Lagi-lagi Esther tidak menjawab. Ia memilih menundukkan kepalanya, menatap selimut.

"Jawab Esther," Lian menarik tangan Esther hingga selimut yang menutupi tubuhnya lepas, memperlihatkan tubuh polosnya yang dipenuhi oleh memar ungu kebiruan—memar yang Lian kenali apa penyebabnya.

Lian terdiam. Tangannya perlahan terlepas dari pergelangan tangan Esther.

Esther buru-buru menarik selimut kembali menutupi tubuhnya.

Lian memejamkan matanya mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Tangannya memijat pelipisnya sendiri menduga apa yang mungkin terjadi diantara mereka, melihat bekas di tubuh Esther yang Lian yakini adalah ulahnya karena di tempat itu hanya ada mereka berdua. Tidak ada orang lain.

Masalahnya, kenapa harus Esther? Bagaimana dia bisa masuk ke rumahnya?

Lian kembali menatap Esther, kali ini tatapannya lebih lunak dari sebelumnya.

"Kenapa kau bisa masuk ke rumahku, Esther?" tanya Lian pelan.

"K-ka-karena aku masuk bersamamu," lirihnya takut-takut.

Lian mengusap wajahnya dengan kasar diikuti helaan napas yang panjang. Dalam hatinya ia mengumpat dan merutuk atas apa yang terjadi tanpa bisa ia ingat dengan jelas.

"Pulanglah, dan lupakan apa yang terjadi semalam."

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Dingin. Singkat. Menyakitkan.

Esther menatap Lian. Kedua matanya mendadak panas diikuti dadanya yang sesak membuat cengkraman tangannya pada selimut mengerat. Esther pikir Lian akan meminta maaf terlebih dahulu atau menyesali perbuatannya, namun faktanya pria itu justru malah mengusirnya dan menyuruhnya melupakan kejadian semalam.

Lian sudah kembali mengenakan pakaiannya. Ia menatap Esther di kasur dengan posisi yang tidak berubah sedikitpun—duduk sambil memeluk selimut.

Tanpa mengatakan apapun, Lian melangkah ke arah lemari lalu mengambil Hoodie dan celana panjang pada Esther.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!