Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Senyum Pahit dan Tanda Bahaya
Cahaya obor menari-nari, memantulkan bayangan panjang di dinding batu yang lembap. Udara di dalam makam itu terasa berat, membawa aroma tanah basah dan debu purba yang menyesakkan. Aura melangkah maju. Ia akhirnya diizinkan melihat temuan utama makam yang baru terbuka ini setelah melalui perdebatan alot dengan tim konservasi.
“Silakan, Nona Aura. Ini adalah prasasti utama yang kami temukan,” ujar Teti salah satu tim peneliti, arkeolog senior yang memimpin penggalian, nadanya penuh antusiasme yang kontras dengan suasana gelap di sekitarnya.
Di tengah ruang utama itu, sebuah balok batu besar terpancang tegak, permukaannya ditutupi ukiran rumit. Aura menggandeng erat Deni, keponakannya yang berusia tujuh tahun, memastikan anak itu tidak menyentuh artefak apa pun. Deni, meskipun penasaran, menurut. Di sampingnya ada Mbak Yeni juga melihat sekitar ruangan yang mereka jelajahi. Matanya yang besar memantul cahaya di sekelilingnya, terkesima dengan labirin batu itu.
“Hati-hati, Deni,” bisik Aura pada Deni.
Aura mendekati prasasti tersebut. Ketika ia cukup dekat untuk menguraikan ukiran yang terpahat jelas di batu itu bukan ukiran biasa, melainkan rangkaian nama dan simbol napasnya tertahan.
Senyumnya, yang biasanya dingin namun terkontrol, tiba-tiba runtuh. Wajahnya menjadi murung, seolah sebuah beban tak kasat mata baru saja diletakkan di pundaknya.
Di sana, terukir dengan gaya aksara kuno yang sangat familiar, adalah nama-nama yang sama persis dengan yang ia lihat dalam mimpi-mimpi penglihatannya. Nama-nama yang selalu ia kaitkan dengan sosok kekuasaan dan kekejaman.
"Kenapa nama anak Raja Biadab itu ada di sini?"
Frasa itu berteriak dalam benaknya. Ini adalah konfirmasi paling mengerikan. Mimpi-mimpinya penglihatan aneh tentang pertumpahan darah dan takhta bukanlah sekadar fantasi atau trauma masa lalu. Itu adalah memori atau penglihatan masa lalu yang nyata, terhubung langsung dengan makam ini.
Aura kembali termenung. Perasaan jengkel bercampur getir memenuhi dirinya. Kenapa juga aku harus bertemu dengan kelima putra raja bodoh itu lagi sih? Sebenarnya ada kaitan apa diriku dengan raja biadab itu, batin Aura, rasa frustrasi perlahan membakar. Ia selalu mencoba lari dari bayang-bayang masa lalu itu, tetapi kini bayangan itu berdiri kokoh di depannya, terukir di batu abadi.
Ia memejamkan mata sejenak, menenangkan denyutan di pelipisnya. Ia harus tenang. Sekarang bukan waktunya tenggelam dalam amarah yang tidak relevan. Fokusnya kembali ke sekitar.
Aura melanjutkan langkahnya, tangannya masih menggenggam Deni. Bersama Mbak Yeni dan beberapa penjaga keamanan makam, ia mengamati sekeliling. Makam ini luar biasa luas, jauh lebih besar daripada yang diperkirakan oleh tim arkeologi.
Saat berjalan santai, Aura tidak hanya menggunakan matanya. Ia mengaktifkan indra yang lain. Indra perabanya sensitivitas khusus yang memungkinkannya merasakan getaran dan resonansi energi mahluk hidup dan kondisi sekitarnya.
Dia merasakan ada pergeseran energi yang signifikan di bawah lantai yang ia pijak. Seolah-olah lapisan demi lapisan batu telah dipotong, menciptakan rongga besar di kedalaman.
Hanya dengan berjalan santai dan melihat sekitarnya, Aura bisa merasakan ada beberapa lantai di bawahnya, dan di bawahnya lagi, hingga ke dasar makam utama.
Sensasi itu begitu kuat, hampir seperti dia melihat diagram penampang makam di benaknya. Tingkat kedalaman, struktur batu yang berbeda, bahkan jejak energi yang ditinggalkan oleh pembangunan berabad-abad lalu.
Dalam hatinya, ia membuat perhitungan cepat, berdasarkan tekanan energi dan kelembapan udara. Sepuluh lantai di bawah, dengan tingkat bahaya yang berbeda. Setiap lantai terasa memiliki segel dan jebakan khusus, menunggu untuk diaktifkan.
Aura tidak mengatakan apa pun kepada penjaga atau Mbak Yeni. Mereka tidak akan percaya. Bahkan, jika dia memberitahu, itu hanya akan memicu kepanikan yang tidak perlu saat ini. Ia memilih diam, mempertahankan ketenangan di wajahnya.
Tiba-tiba, suasana tenang yang tegang itu pecah.
Dari arah lorong utama, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa yang disertai napas terengah-engah. Seorang perwira pasukan keamanan makam berlari ke arah mereka, wajahnya pucat pasi karena panik.
Ketakutan perwira itu menular ke udara, membuat detak jantung Deni di samping Aura ikut berpacu.
“Ada masalah! Ada masalah besar, Komandan!” lapor perwira itu, sambil memberi hormat yang kaku.
Komandan Pasukan Keamanan Makam, seorang pria paruh baya bernama Jati, segera maju. “Tenang! Katakan dengan jelas!”
Suasana mencekam. Mbak Yeni dan Deni menatap Perwira itu dengan mata lebar. Aura, sebaliknya, menyipitkan mata, menanti kabar buruk yang ia duga sudah lama.
Perwira itu menelan ludah, napasnya memburu, suaranya bergetar penuh kengerian.
“Pasukan yang masuk ke lantai bawah… mereka… mereka tidak ada kabarnya!”
Dinding-dinding makam seolah menyerap laporan itu, membuat pernyataan tersebut terdengar seribu kali lebih menakutkan.
“Apa maksudmu ‘tidak ada kabarnya’?” bentak Komandan Jati, wajahnya memerah. “Radio? Sinyal?”
“Hilang! Semuanya hilang, Komandan! Radio, sinyal vital, bahkan pelacak gerak! Mereka menghilang seolah-olah ditelan bumi sesaat setelah melapor telah menembus lantai kedua!”
Mbak Yeni menutup mulutnya, matanya dipenuhi ketakutan. “Lantai kedua? Apa ada lantai dua setelah ruangan ini,”pikir Mbak Yeni melihat sekitarnya dengan suasana tidak enak.
Aura menatap prasasti di depannya, lalu ke lantai batu di bawah kakinya. Rasa jengkel yang sebelumnya ia rasakan kini bercampur dengan firasat bahaya yang dingin.
Sepuluh lantai... Mereka bahkan belum melewati tingkat bahaya kedua.
Deni yang berada di gandengan Aura mulai menangis pelan, takut dengan suasana yang tiba-tiba berubah mencekam. “Tante… Deni takut…”
Aura merunduk, memeluk Deni sejenak, lalu menatap sekitarnya. Matanya yang biasanya acuh tak acuh kini memancarkan kewaspadaan yang tajam.
“Komandan, kirim tim evakuasi segera. Tapi jangan kirim tim tempur lagi ke bawah,” suara Tesi terdengar tenang, kontras dengan kepanikan di sekitar.
Komandan Jati menatap Tesi, sedikit bingung dengan intervensinya, tetapi ada otoritas tak terbantahkan dalam nada suara wanita itu. “Tesi, Anda tidak mengerti. Mereka mungkin diserang. Kita harus…”
“Tidak,” potong Tesi tegas. “Ini bukan serangan biasa. Ini adalah jebakan pertahanan makam. Mekanismenya baru saja terpicu.”
“Mekanisme? Anda tahu apa yang ada di bawah?” tanya Komandan Jati, terperanjat.
Aura hanya menghela napas mendengar obrolan dari para tentara dan tim peneliti, menoleh ke arah tangga yang baru mereka lewati. Ia tidak bisa menjelaskan tentang sepuluh lantai dan ‘putra raja biadab’ yang ia lihat.
“Yang perlu kalian tahu,” kata Aura, suaranya dalam hati. “Makam ini lebih dalam dan lebih berbahaya daripada yang diperkirakan tim arkeologi mana pun. Kalian baru menggores permukaannya.”
Ia menunjuk balok prasasti dengan ujung jarinya. “Benda ini bukan hanya artefak sejarah. Ini adalah tuas kunci. Dan begitu nama-nama itu tersentuh atau terpapar energi yang salah... seluruh makam akan bangun.”
Komandan Jati, melihat ke arah pengunjung, tapi matanya melihat ke atah Aura yang menggendong Deni disampingnya ada Mbak Yeni, dengan santai melihat sekitar ruangan seperti ada hal yang disembunyikan. Kepanikan di matanya kini bercampur dengan ketakutan yang lebih dalam.
“Mbak Yeni, saya sarankan adik anda dan putra anda Deni segera keluar dari ruang ini,” perintah Teti, tanpa menunggu jawaban ketiganya segera menuju pintu keluar ruangan makam lantai makam pertama. “Komandan Jati, jangan panik. Kirim tim ahli pemecah segel, bukan tim penyerang, ke lantai satu. Jika mereka belum menembus Lantai Tiga, kita masih punya sedikit waktu.” Suara yang terdengar dari salah satu tim peneliti makam kuno.
Aura maju selangkah, menatap lubang gelap yang mengarah ke kedalaman makam, di mana pasukan itu menghilang. Wajahnya kembali mengeras, dipenuhi tekad yang dingin.
Baiklah. Jika takdir ingin aku berhadapan lagi dengan hantu-hantu masa lalu itu di makam terkutuk ini, mari kita lihat.
Ia tahu, pertemuannya dengan makam ini dan nama-nama yang terukir di dalamnya hanyalah awal. Dan di kedalaman sepuluh lantai di bawah sana, bahaya sesungguhnya baru saja terbangun.