NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Luka Yang Kembali Terbuka.

Sejak hari ketika Wilia menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya, Brian McKnight, bersama sekretaris yang selama ini ia percaya, seluruh kehidupannya seperti runtuh dalam sekejap. Tanpa menoleh, ia meninggalkan rumah itu—rumah yang dulu ia bangun dengan begitu banyak pengorbanan. Rumah yang kini terasa asing dan memuakkan.

Di dalam dadanya, sesuatu hancur berkeping-keping.

Namun di balik kehancuran itu, tumbuh sesuatu yang lain.

Dendam.

Dan tekad.

Wilia telah kehilangan banyak hal: martabat, cinta, harga diri, dan kebahagiaan yang ia kira abadi. Namun satu hal yang tak pernah hilang adalah rasa bersalahnya kepada keluarga yang pernah ia tinggalkan. Sebelum ia menuntut balas pada Brian… ia harus menjalani tugas terberat dalam hidupnya.

Kembali.

Kembali kepada keluarga yang dulu ia sakiti.

Kembali kepada lelaki yang dulu mencintainya sepenuh hati.

Kembali kepada anak-anak yang pernah ia biarkan terluka.

Di kantor pusat kerajaan bisnis keluarga Anderlecht, Heron sedang memimpin rapat penting bersama para direktur dan investor. Aura wibawa dan dinginnya membuat setiap orang di ruangan itu selalu berhati-hati. Namun ketenangan itu terusik saat Leon, asistennya, masuk dengan raut gugup.

“Tuan… ada seseorang yang ingin bertemu.”

Heron menoleh sedikit. “Siapa?”

Leon menelan ludah, seolah takut mengucapkannya.

“Nyonya Wilia, Tuan.”

Setiap kepala dalam ruangan itu sontak terangkat.

Keheningan memenuhi udara, begitu tebal hingga terasa menyesakkan.

Wajah Heron berubah. Tatapan matanya menjadi baja.

“Untuk apa dia mencariku?” katanya dengan nada dingin, nyaris seperti geraman. “Setelah sekian lama meninggalkan aku dan anak-anakku untuk pria itu?”

Leon menunduk. “Saya… tidak tahu, Tuan.”

Heron menarik napas panjang, menahan badai yang meledak dalam dirinya.

“Kita akhiri meeting hari ini.”

Ia beranjak pergi, namun langkahnya berat. Ada bayangan masa lalu yang tiba-tiba kembali menghantam dadanya.

***

Di ruang pribadinya, Wilia menunggu dalam diam. Tangannya bergetar, matanya sembab, namun ia memaksakan diri untuk tetap berdiri.

Saat Heron membuka pintu, hawa dingin seakan masuk bersamanya.

“Sedang apa kau di sini?” suaranya menusuk. “Belum puas membuatku dan anak-anakku menderita?”

Wilia menunduk, bibirnya bergetar. “Mas… aku minta maaf…”

Heron menatapnya tanpa getaran emosi. Tanpa belas kasihan.

“Aku dulu bodoh… aku tidak bisa membedakan mana berlian dan mana batu,” ucap Wilia lirih, suaranya pecah menjadi isak.

Heron memejamkan mata sejenak sebelum berkata pelan, namun tajam.

“Seandainya dua puluh tiga tahun lalu kau tidak mengkhianatiku… seandainya kau memperlakukan anak-anakku seperti anakmu sendiri… mungkin aku bisa memaafkanmu.”

Wilia menahan napas. Kata-kata itu menamparnya seperti cambuk.

“Aku mungkin bisa memaafkanmu,” lanjut Heron, “tapi Liora… luka itu terlalu dalam.”

Mendengar nama itu, lutut Wilia hampir goyah. Liora. Anak yang paling ia sakiti tanpa pernah ia sadari.

“Kalau kau ingin meminta maaf,” Heron melanjutkan, “mintalah pada Liora, Victor, Albert, dan Sean. Mereka anak-anakmu. Darah dagingmu.”

Heron memandangnya lama. Mata yang dulu penuh cinta, kini penuh perhitungan.

“Namun apakah Liora akan memaafkanmu?” katanya nyaris berbisik.

Wilia tidak mampu menjawab.

“Bertobatlah, Wilia. Bukan di hadapanku. Tapi di hadapan mereka.”

Heron mengambil koper di meja.

“Aku harus pergi. Malam ini aku terbang ke Kanada.”

Ia berjalan melewati Wilia tanpa menoleh sedikit pun. Namun di dalam hatinya… sesuatu yang telah lama ia tekan kembali muncul.

Seandainya kau tahu… aku masih mencintaimu.

Wilia terduduk. Langit serasa runtuh tepat di atas kepalanya.

“Mas… aku juga mulai mencintaimu… kembali…” bisiknya.

Namun air matanya menjawab dengan jujur—semuanya sudah terlambat.

“Andai waktu bisa kuputar… aku ingin kembali ke keluarga kita…”

Namun yang tersisa hanyalah penyesalan yang mengikatnya seperti rantai.

***

Malam itu, di mansion keluarga Anderlecht, Liora menyambut ayahnya yang bersiap berangkat.

“Ayah mau ke mana?” tanyanya cemas.

“Ayah harus ke Kanada. Ada meeting penting.”

Liora menggigit bibirnya, lalu berbisik, “Ayah… aku punya firasat buruk.”

Heron menghentikan gerakannya, memandang putrinya—anak perempuan yang paling ia percayakan segalanya.

“Aku takut kehilangan Ayah…” suara Liora bergetar. “Dulu aku kehilangan Ibu… aku bertahan karena Ayah. Tapi sekarang…”

Heron mengusap kepala putrinya lembut.

“Ayah ini ketua mafia, sayang. Tidak mudah dijatuhkan.”

Liora tersenyum kecil meski matanya berkaca-kaca.

Heron berkata lagi, “Jaga adik-adikmu. Mereka tanggung jawabmu.”

“Iya, Ayah.”

Heron ragu sejenak sebelum menghela napas.

“Tadi siang… Ayah bertemu ibumu.”

Liora membeku.

“Ia ingin kembali,” kata Heron. “Seperti dulu.”

Liora menunduk. “Kalau dia ingin dimaafkan… dia harus datang sendiri.”

Seakan alam mendengar ucapan itu, bel rumah berbunyi.

“Tuan… ada yang ingin bertemu,” kata kepala pelayan.

“Siapa?”

“Nyonya Wilia.”

Hening.

Ketegangan merayap masuk seperti kabut dingin.

“Persilakan masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Di sana, Wilia berdiri. Rentan. Hancur. Menyesal.

“Liora… sayang…” suaranya pecah. “Ibu minta maaf…”

Liora terdiam lama. Sangat lama. Konflik dalam hatinya berputar bagai badai.

“Aku… tidak tahu harus berkata apa,” ujarnya. “Memaafkan itu tidak mudah bagiku.”

“Ibu tahu…” bisik Wilia.

“Tapi aku juga sedih,” Liora melanjutkan. “Aku melihat adik-adikku tumbuh tanpa kasih seorang ibu.”

Tiba-tiba, langkah-langkah terdengar dari tangga.

“Ibu…?”

Victor, Albert, dan Sean terpaku melihat sosok itu.

Wilia membuka tangannya yang gemetar. “Kemari, sayang…”

Mereka ragu. Bahkan takut.

Namun Liora maju terlebih dahulu.

Ia memeluk ibunya.

“Ibu… aku memaafkan Ibu.”

Wilia terkejut… lalu memeluknya erat, seakan ingin menghapus seluruh masa lalu.

“Aku menyesal… sangat menyesal…”

Victor, Albert, dan Sean akhirnya ikut mendekat. Mereka memeluk ibunya dengan hati yang sudah terlalu lama merindukan sosok itu.

“Ibu… kami tidak membenci Ibu…”

Wilia menangis tersedu.

“Ibu yang jahat… ibu yang bodoh…”

“Tidak, Bu,” ucap Victor. “Ibu hanya tersesat.”

Wilia tersenyum di antara air mata. “Kalian anak-anak hebat… dan kamu, Liora… kamu ibu kedua bagi adik-adikmu.”

Liora tersenyum. “Ibu tetap pantas menjadi ibu kami.”

Saat itulah Heron turun dengan kopernya.

“Aku harus berangkat.”

Ia menatap Wilia lama. Sangat lama.

“Tinggallah di sini… sampai aku kembali.”

Wilia terhenyak. “Mas…?”

“Aku akan melamarmu lagi.”

Seluruh ruangan terdiam.

“Kita mulai dari awal. Untuk anak-anak kita.”

Wilia menutup mulutnya, tak mampu menahan tangis.

“Tapi… aku mandul…”

Heron mengusap pipinya lembut.

“Aku sudah menerima itu sejak dulu.”

Ia menggenggam tangan Wilia.

“Aku hanya ingin kau kembali sebagai istri… dan ibu bagi anak-anak kita.”

Wilia memeluknya erat, seolah takut ia akan menghilang lagi.

“Aku menyesal… aku sangat menyesal…”

Heron membalas pelukannya.

“Kita mulai lagi dari awal.”

Ia melepaskannya perlahan.

“Aku harus pergi sekarang.”

Mereka saling bertatapan.

Cinta lama itu kembali menyala.

“Aku mencintaimu,” bisik Heron sebelum pergi.

Dan malam itu…

Sebuah harapan baru, yang selama bertahun-tahun terkubur di bawah luka dan penyesalan, perlahan tumbuh kembali.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!