Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Serangan Malam dan Api yang Tak Padam
Kota Naga Emas tidak lagi tidur nyenyak. Malam-malam diisi suara palu pandai besi spiritual, raungan latihan Qi, dan bisikan strategi perang. Arkan Wijaya berdiri di balkon menara tertinggi, angin malam Dunia Tengah menerpa wajahnya yang semakin tajam dan berwibawa. Luka di punggungnya sudah hampir sembuh total berkat pil dan Qi Sela, tapi bekas racun jiwa masih meninggalkan sensasi dingin sesekali.
Nascent Soul Tingkat 6 awal-nya membuat aura Raja Naga semakin menekan. Di belakangnya, Sela Juanda memeluk pinggangnya dari belakang. Tubuh hangat dan lembut gadis itu menempel sempurna, gaun tipis tidurnya hampir tidak bisa menyembunyikan lekuk seksi yang semakin matang.
“Kamu belum tidur lagi,” bisik Sela, suaranya lembut tapi tegas. “Kaisar Xiao Tian pasti sedang mempersiapkan serangan besar. Biarkan aku yang memimpin patroli malam ini.”
Arkan berbalik, mengangkat dagu Sela dengan jari, dan menciumnya dalam-dalam. Ciuman itu penuh kepemilikan dan kekhawatiran yang tersembunyi. “Kamu istirahat. Aku yang akan jaga malam ini.”
Mereka kembali ke kamar kerajaan. Begitu pintu tertutup, hasrat yang tertahan meledak. Arkan menekan Sela ke dinding marmer, tangan kekarnya merayap di bawah gaun tipis gadis itu. Sela mendesah keras, kakinya melingkar di pinggang Arkan.
“Aku butuh kamu,” bisik Arkan serak. “Malam ini.”
Mereka berpindah ke ranjang dengan penuh gairah. Arkan mencintai Sela dengan intensitas yang hampir brutal — seolah ingin meninggalkan jejak bahwa ia masih hidup dan kuat. Sela balas dengan liar, kuku jarinya meninggalkan goresan merah di punggung kekar Arkan. Naga Qi mereka bercampur ganas, menerangi seluruh kamar dengan cahaya emas yang berkilau. Arkan naik ke Nascent Soul Tingkat 6 pertengahan, sementara Sela mencapai Tingkat 4 akhir.
Di akhir sesi yang panjang dan melelahkan, mereka berbaring saling peluk. Sela menyusuri dada Arkan dengan jari lentiknya.
“Besok kita serang balik pos terdepan mereka,” kata Sela tegas. “Aku tidak mau menunggu mereka datang.”
Arkan mengangguk, mencium keningnya. “Kita berangkat subuh.”
Subuh menyingsing dengan kabut tipis. Arkan memimpin 400 elit terbaik menyerang salah satu benteng depan Kekaisaran di Lembah Bintang. Sela berada di sisinya, memimpin pasukan khusus.
Serangan mendadak itu berhasil. Benteng musuh hancur dalam waktu dua jam. Arkan menebas komandan benteng dengan satu jurus, sementara Sela menghancurkan formasi pertahanan dengan kecerdasannya. Namun, saat mereka akan mundur, jebakan besar terungkap.
Tanah lembah bergetar. Ribuan array hitam aktif sekaligus. Dari bawah tanah muncul pasukan mayat hidup dan ratusan elder Kekaisaran yang sudah menunggu. Pangeran Xiao Zhan muncul lagi dengan wajah penuh dendam, ditemani dua Tetua Void Realm Tingkat 1.
“Jebakan sempurna,” kata Xiao Zhan sambil tertawa. “Hari ini kalian mati di sini!”
Pertempuran besar kedua meledak.
Arkan langsung berubah ke Transformasi Naga Emas Sejati penuh. Tubuh raksasa emasnya menebas pasukan mayat hidup seperti rumput. Sela bertarung di dekatnya, melindungi Arkan dari serangan jarak jauh sambil membunuh musuh satu per satu.
Pertarungan paling sengit terjadi saat Arkan menghadapi dua Tetua Void Realm sekaligus. Meski levelnya lebih rendah, teknik warisan cincin membuat ia mampu bertahan. Pedang Raja Naga beradu dengan dua senjata spiritual tingkat tinggi. Ledakan demi ledakan menghancurkan lembah.
Sela terdesak oleh Xiao Zhan. Pangeran itu melepaskan jurus mematikan yang hampir mengenai dada Sela. Arkan meraung marah. Ia melepaskan Jiwa Naga Keabadian dan menghantam salah satu Tetua hingga hancur. Kemudian ia melesat ke Sela, memeluk istrinya dan membawa gadis itu mundur beberapa puluh meter.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Arkan khawatir sambil menyembuhkan luka Sela dengan cepat.
“Aku baik,” jawab Sela sambil tersenyum lemah. “Tapi mereka terlalu banyak.”
Arkan melihat situasi. Pasukan Paviliun mulai terdesak. Ia mengambil keputusan cepat.
“Semua pasukan mundur! Aku akan tahan mereka!”
Ia berdiri sendirian di belakang, menghadapi ratusan musuh dan dua Tetua Void Realm. Dengan kekuatan penuh, ia melepaskan Mahkota Naga Abadi versi terkuat. Bayangan Naga Emas Agung muncul, meraung hingga langit retak. Serangan area luas itu membunuh ribuan pasukan musuh dan melukai berat kedua Tetua.
Arkan terdorong mundur parah, darah menyembur dari mulutnya. Tapi ia berhasil memberi waktu bagi pasukan Paviliun mundur dengan aman.
Sela menunggunya di belakang garis dengan wajah pucat. Begitu Arkan tiba, ia langsung memeluk pria itu dan menangis.
“Kamu selalu melakukan ini! Jangan tinggalkan aku sendirian!”
Arkan tersenyum lemah dan mencium Sela di tengah pasukan yang mundur. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Mereka mundur ke Kota Naga Emas dengan korban yang relatif sedikit dibandingkan musuh. Kemenangan kecil ini tetap membakar semangat seluruh Paviliun.
Di malam setelah pertempuran, Arkan terbaring di ranjang kerajaan sementara Sela merawatnya dengan telaten. Luka dalam di tubuh Arkan disembuhkan perlahan dengan pil dan Qi Sela.
“Kamu bodoh,” bisik Sela sambil menangis pelan. “Kamu adalah Raja. Jangan selalu mempertaruhkan nyawa di depan.”
Arkan menarik Sela ke atas tubuhnya. Meski lukanya masih sakit, ia mencium Sela dengan penuh hasrat. “Aku adalah Raja karena kamu. Tanpa kamu, aku tidak ada artinya.”
Mereka berciuman lembut, lalu semakin panas. Meski Arkan terluka, mereka tetap menyatu dengan hati-hati tapi penuh cinta. Naga Qi Sela mengalir ke tubuh Arkan, mempercepat penyembuhan. Di akhir malam, Arkan naik ke Nascent Soul Tingkat 6 akhir.
Keesokan harinya, kabar mengejutkan datang. Sekte Langit Biru secara resmi bergabung dalam aliansi penuh dengan Paviliun Naga Emas. Banyak sekte netral lainnya juga mulai mendekat.
Arkan berdiri di balkon menara, memandang pasukannya yang semakin besar. Sela memeluknya dari belakang.
“Perang ini akan panjang,” kata Arkan. “Tapi aku akan menang. Untukmu. Untuk kita. Untuk seluruh Dunia Tengah yang bebas dari tirani.”
Sela tersenyum dan mencium pipinya. “Dan aku akan selalu berada di sampingmu, sampai akhir.”
Di istana hitam Kekaisaran Naga Hitam Abadi, Kaisar Xiao Tian bangkit dari kursi singgasananya dengan luka yang belum sembuh. Matanya penuh amarah membara.
“Persiapkan seluruh kekuatan Kekaisaran. Aku akan hancurkan Paviliun Naga Emas sendiri.”
Badai perang terbesar di Dunia Tengah semakin mendekat.
Arkan Wijaya tersenyum di menara tingginya, Pedang Raja Naga di sisinya bergetar excited.
“Datanglah. Aku sudah menunggu.”
cerita bagus dan menarik, kak.
semangat🐳