Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
“Tidak ada apa-apa.”
Clay berhenti sebentar. Lalu menambahkan:
“Hanya ingin saja.”
Pesan terkirim.
Hening.
Sampai balasan berikutnya muncul.
“Hanya ingin? Di tengah malam begini?”
Clay menyandarkan punggungnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum lebar. Lebih seperti reaksi kecil yang tidak bisa ia jelaskan pada dirinya sendiri.
Ia mengetik lagi.
“Siapa tahu kamu masih bisa aku ganggu.”
Di sisi lain, Nindi langsung mengernyit saat membaca pesan itu. “Astaga, malem - malem masih aja iseng."
Tangannya mengetik cepat.
“Serius, tengah malam pun kamu masih mau cari gara-gara sama aku?”
Pesan terkirim.
Tidak lama, balasan muncul.
“Aku tidak cari gara-gara. Aku cuma bosan.”
Nindi mendengus kecil. “Bosan kok nyari orang…”
Namun meskipun ia mengeluh, jarinya tetap tidak berhenti.
Clay kembali mengetik.
“Aku masih di café.”
Pesan itu membuat Nindi berhenti sejenak. Matanya menatap layar lebih lama dari biasanya. Lali mulai mengetik lagi.
“Masih di cafe? Ngapain? Sudah malam kan?”
Clay membiarkan beberapa detik berlalu sebelum menjawab. Bukan karena tidak tahu. Tapi karena ia sendiri tidak yakin bagaimana menjelaskannya.
Akhirnya ia mengetik:
“Sedang berpikir.”
Balasan Nindi datang cepat.
“Berpikir tentang apa sampai malam begini?”
Clay menatap layar.
Lalu menjawab:
“Hal besar.”
Nindi mengernyit.
“Hal besar apa?”
Clay berhenti sejenak sebelum mengetik.
“Tentang kemungkinan.”
Nindi membaca itu pelan.
Lalu mengetik:
“Kemungkinan apa?”
Clay menatap layar cukup lama sebelum menjawab.
“Kemungkinan yang terjadi kalau aku memutuskan sesuatu.”
Balasan Nindi tidak langsung datang.
Ada jeda.
Cukup lama untuk membuat malam terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Lalu akhirnya:
“Kamu ngomong apa sih? aku nggak paham.”
Clay tersenyum kecil di ruang kosong café itu. Ia bisa membayangkan ekspresi Nindi sekarang. Gadis itu pasti bingung dan sedikit kesal.
Tapi tetap membaca sampai akhir.
Ia mengetik:
“Cepat atau lambat kamu akan mengerti.”
Di sisi lain, Nindi semakin mengernyit.
“Apaan sih ini…”
Ia meletakkan ponselnya sebentar di dada. Menatap langit-langit kamar.
“Orang ini ngomongnya kenapa makin aneh?”gumamnya pelan, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Beberapa detik kemudian, Nindi kembali meraih ponselnya. Layar masih menyala. Percakapan itu belum selesai. Jarinya mulai mengetik.
“Gak jelas.”
Sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan tersinggung. Lebih seperti, memang sudah menduga jawaban itu akan muncul.
Ia mengetik balik.
“Iya.”
Nindi langsung membaca balasan itu.
“…iya?”
Ia menatap layar, lalu mengernyit lagi.
Jarinya bergerak cepat.
“Lebih baik kamu pulang Clay, omonganmu sudah melantur. Dan ini sudah malam, aku mau tidur."
Nindi bersandar ke bantal, meletakkan ponselnya di samping. Ada jeda kecil. Sunyi kamar kembali terasa.
Clay menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Pesan dari Nindi masih terpampang di sana. Jarinya sempat bergerak, nyaris otomatis ingin mengetik sesuatu lagi. Entah menanyakan hal kecil, entah sekadar membuka percakapan baru yang sebenarnya tidak penting. Bahkan hanya satu kalimat pun sudah cukup untuk menahan percakapan itu tetap berjalan.
Tapi tangannya berhenti. Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Justru karena terlalu banyak. Clay menarik napas pelan. Lalu menghela perlahan, seperti menurunkan sesuatu yang sejak tadi ia tahan sendiri.
“Sudah malam,” gumamnya pelan, nyaris seperti alasan untuk dirinya sendiri.
Ia tahu Nindi sudah ingin tidur. Ia juga tahu percakapan ini memang harus berhenti di titik itu. Namun tetap saja ada rasa yang tidak rela.
Clay mengetik satu kata.
“Tidurlah.”
Balasan datang pelan.
“Iya. Kamu juga.”
Lalu tambahan:
“Cepat pulang kerumah. Jangan aneh-aneh di tengah malam!”
Clay terdiam. Matanya menatap kalimat itu lebih lama dari seharusnya. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat kecil. Hampir seperti refleks. Ia tertawa pelan. Bukan tertawa besar. Lebih seperti hembusan napas yang berubah jadi senyum tanpa sadar.
“…dia ini,” gumamnya pelan.
Ada rasa ringan yang muncul di dadanya. Aneh. Karena kalimat yang sebenarnya terdengar seperti teguran itu justru terasa seperti perhatian. Clay merasa senang. Bukan karena diperintah. Tapi karena dipedulikan. Jarinya bergerak sebentar di atas layar, seolah ingin membalas dengan sesuatu yang lebih panjang. Dan akhirnya …
“Tenang saja. Besok tidak akan ada berita café terbakar.”
Lalu, tanpa ragu, ia mematikan layar ponselnya. Menyelipkannya ke dalam saku. Mengakhiri obrolan.
Beberapa menit kemudian, Clay berdiri. Merapikan meja bar. Mematikan sisa lampu. Lalu keluar dari café. Angin malam menyambutnya di luar. Dingin. Tapi tidak cukup untuk mengganggu pikirannya.
Sesampainya di rumah, Clay tidak langsung tidur. Ia hanya duduk di ruang tengah. Menatap kosong ke depan. Namun pikirannya justru semakin aktif.
Jika ini tentang Nindi? Jika ini tentang dia?
Akhirnya Clay berdiri. Berjalan ke kamarnya. Menyalakan laptop. Layar menyala dalam gelap. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak membuka file pekerjaan. Ia mengetik sesuatu di kolom pencarian.
“Indonesia”
Enter.
Halaman demi halaman muncul.
Indonesia Sebuah negara di Asia Tenggara. Ternyata bukan sekadar satu daratan. Melainkan ribuan pulau yang tersebar seperti rantai panjang di antara dua samudra.
Clay berhenti sejenak di bagian itu.
Ribuan pulau. Artinya… bukan hanya satu kota, bukan satu budaya, bukan satu cara hidup.
Matanya kembali bergerak.
Jarak geografis.
Jauh. Lebih jauh dari yang ia bayangkan sebelumnya. Bukan sekadar perjalanan beberapa jam. Melainkan lintas negara, lintas zona waktu. Tempat yang terasa seperti dunia yang berbeda.
Clay menggeser layar.
Budaya. Beragam. Terlalu beragam untuk dijelaskan dalam satu kata. Ada ratusan suku. Setiap suku memiliki adat, kebiasaan, dan cara hidupnya sendiri. Pakaian tradisional yang berbeda. Upacara yang penuh makna. Bahasa daerah yang tidak selalu sama, bahkan dalam satu pulau.
Clay mengernyit sedikit.
“…rumit,” gumamnya pelan.
Tapi bukan dalam arti negatif. Lebih seperti sesuatu yang luas. Sesuatu yang tidak bisa dipahami dalam sekali lihat.
Lalu bahasanya.
Bahasa Indonesia.
Digunakan sebagai bahasa pemersatu. Sementara di balik itu, masih ada banyak bahasa lain yang hidup berdampingan.
Clay membaca beberapa contoh kata. Pendek. Sederhana. Tapi terdengar asing di telinganya. Ia mencoba mengucapkannya pelan. Terasa canggung. Namun anehnya, menarik.
Matanya turun lagi ke bagian berikutnya.
Cuaca.
Tropis. Hangat sepanjang tahun. Tidak ada musim dingin. Tidak ada salju. Hanya panas, hujan, dan kelembapan yang tinggi.
Clay berhenti lagi.
Membayangkan. Udara hangat. Langit cerah. Atau hujan deras yang turun tiba-tiba. Sangat berbeda dari yang biasa ia rasakan.
Lalu bagian terakhir.
Orang-orang.
Ramah. Itu kata yang paling sering muncul. Ramah. Terbuka. Mudah tersenyum. Menjunjung tinggi kebersamaan dan keluarga. Clay membaca bagian itu lebih lama dari yang lain.
Tanpa sadar, sebuah bayangan muncul di kepalanya. Seseorang yang ia kenal. Seseorang yang memang seperti itu. Ia menyandarkan punggungnya perlahan. Tatapannya masih tertuju pada layar. Tapi pikirannya sudah tidak sepenuhnya membaca.
“…jadi itu tempat asalmu,” gumamnya pelan.
Bukan pertanyaan. Lebih seperti pengakuan kecil pada sesuatu yang baru ia mulai pahami.
Clay membaca pelan. Bukan seperti seseorang yang sekadar ingin tahu. Tapi seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu yang belum ia mengerti bentuknya. Ia berhenti pada satu halaman. Melihat foto-foto kota. Keramaian jalan. Wajah orang-orang yang tidak ia kenal. Namun ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa berhenti melihat. Bukan karena informasi. Tapi karena bayangan kecil yang muncul di kepalanya.
Nindi.
Clay bersandar di kursi Menarik napas panjang.
Negara yang jauh. Bahasa yang berbeda. Nilai hidup yang tidak sama. Cara memandang hubungan. Cara memandang keluarga. Bahkan cara memandang masa depan. Semakin banyak ia tahu, semakin jelas satu hal:
Nindi bukan hanya “berbeda”. Ia berasal dari dunia yang sama sekali lain.
Dan untuk pertama kalinya, Clay tidak merasa tertantang karena permainan. Ia justru… ragu.
Bukan ragu untuk mendekat. Tapi ragu, apakah ia mampu bertahan?
Namun anehnya, justru di titik itulah sesuatu dalam dirinya berubah. Bukan mundur. Melainkan, maju dengan sadar. Dan karena itu, berarti, ada satu orang yang harus ia hadapi lebih dulu.