NovelToon NovelToon
Antagonis Pria Itu Milikku!

Antagonis Pria Itu Milikku!

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:126.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.

Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.

Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Membuatnya Menjilat Sikat Toilet

'Fasha yang asli… mungkin sudah dipukuli sampai mati. Makanya aku bisa pindah ke tubuh ini.'

Pikiran itu membuat dada Fasha terasa semakin sesak.

Dengan tangan gemetar, ia menurunkan piyamanya sedikit dan mencondongkan tubuh ke arah cermin. Lampu kamar mandi yang redup memantulkan wajah pucat dengan mata sembap dan bibir pecah-pecah.

Untungnya, tak ada luka di wajah.

Namun yang membuat jantungnya berdegup kencang justru hal lain— wajah di cermin itu… terlalu mirip dengan wajahnya sendiri.

Bahkan tahi lalat kecil di ujung hidungnya pun ada di sana, persis di tempat yang sama.

“Ini… tubuhku sendiri?” gumamnya pelan.

Padahal, di novel yang ia baca, tidak pernah disebutkan ada tahi lalat di hidung Fasha.

Kalau begitu… apakah dia benar-benar masuk ke tubuh orang lain, atau justru kembali ke tubuhnya sendiri dalam versi dunia yang berbeda?

Apa pun jawabannya, satu hal jelas bahwa rasa sakit itu nyata.

“Sakit banget…” bisiknya lirih.

Saat jarinya menyentuh bekas luka di lengannya, sarafnya seakan langsung menjerit. Nyeri yang menusuk membuat matanya memanas, dan tanpa bisa dicegah, air mata jatuh satu per satu ke wastafel.

“Kenapa harus aku yang ngalamin semua ini…”

Ia menggigit bibir, berusaha menahan suara isak.

Butuh waktu lama sampai napasnya kembali stabil. Suara benda pecah di luar kamar mandi pun perlahan mereda. Barulah setelah itu Fasha berani membasuh wajahnya, air dingin menampar pipinya yang panas.

Ia menyandarkan punggung ke dinding yang dingin, menutup mata, memutar ulang alur cerita dalam kepalanya.

Mereka mengatur agar ia menikah dengan Sander dari keluarga Carter, tokoh yang dulu begitu ia kagumi.

Fasha tahu betul bagaimana Sander selalu diabaikan oleh keluarganya sendiri.

Bagaimana setiap usaha yang ia lakukan hanya berakhir dengan penghinaan.

Bagaimana ketulusannya diinjak-injak, berkali-kali.

Saat membaca novel itu dulu, Fasha bahkan pernah menangis karena nasibnya.

Ia mengirim komentar panjang, memposting dukungan setiap hari.

Dan balasannya?

Karakter favoritnya mati dengan cara yang menyedihkan.

“Penulisnya benar-benar kejam…” gumamnya pahit.

Emosinya kembali meluap.

Dengan kesal, Fasha meninju tembok.

“Brak!”

Rasa sakit menyambar hingga ke bahu.

“Aduh—!”

Air mata yang sempat berhenti kembali mengalir.

“Kesel… kesel banget!”

Waktu berjalan pelan. Fasha tidak berani keluar sembarangan. Ia menempelkan telinga ke pintu, mendengarkan dengan saksama. Sepertinya ruang luar sudah kembali sunyi.

Tiba-tiba terdengar suara.

“Oh, Butler Dean, mengapa Anda datang sendiri?”

Nada ayahnya terdengar begitu tersanjung sampai membuat Fasha ingin muntah.

Pria yang datang itu adalah kepala pelayan keluarga Carter, telah melayani hampir tiga puluh tahun dan menjadi perwakilan langsung Kepala Keluarga Carter.

Kunjungan pribadinya jelas bukan hal sepele.

“Di mana anakmu?” tanya Butler Dean dingin.

Semua orang tahu Fasha dianggap bodoh.

Dan Butler Dean tahu betul, dengan temperamen Sander, pernikahan ini jelas bukan sesuatu yang menyenangkan baginya.

“Dia di atas. Saya akan memanggilnya. Silakan duduk, Butler Dean.”

“Tidak perlu. Aku akan ikut.” ia ingin melihat sendiri kondisi Fasha.

Ayah Fasha menuntun Butler Dean naik ke lantai dua, seolah tak melihat pecahan kaca di lantai.

“Entah dari mana tikus masuk dan menjatuhkan vas,” katanya sambil tertawa kecil.

Tok. Tok. Tok.

“Fasha, Butler Dean dari keluarga Carter datang menjemputmu.”

Nada suaranya begitu lembut sampai membuat bulu kuduk Fasha berdiri.

'Ia terdengar seperti aktor kelas dunia', batinnya sinis.

Dalam novel, Butler Dean selalu memandang rendah Fasha, di depan Sander ia bersikap ramah, di belakang menusuk.

Tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar baik.

Tatapan Fasha bergeser ke sikat toilet di sudut ruangan.

Lalu matanya menyipit sedikit.

'Sempurna!'

Ia menunggu sampai yakin ayahnya masih berdiri tepat di balik pintu, lalu—

Brak!

Pintu dibuka tiba-tiba.

“Ah—!”

Ayahnya terdorong ke depan, kehilangan keseimbangan, dan… langsung jatuh tepat ke arah sikat toilet.

Bau busuk menyengat.

“Aaargh—!”

Pria itu muntah hebat ke dalam kloset, wajahnya pucat pasi, lidahnya terasa seperti dilapisi sesuatu yang menjijikkan.

“Fasha… ugh—!”

Ia muntah lagi sambil berkumur-kumur.

“Brengsek!”

Begitu tangannya terangkat, Fasha langsung menyusut ke sudut, menutupi kepala.

“Jangan… jangan pukul aku…”

Namun di balik rambut yang menutupi wajahnya, tatapan Fasha justru dingin.

'Cuma jilat sikat toilet doang? Seharusnya kurang tau! Kamu terlalu kejam!.'

Sudut matanya masih basah, pakaiannya compang-camping, dan bekas luka terlihat jelas di sikunya.

Butler Dean mengerutkan alis.

Ayahnya buru-buru mengepalkan tangan, memaksakan senyum.

“Maaf, Butler Dean. Saya yang ceroboh. Fasha anak yang baik, dia cuma ingin membantu.”

Butler Dean hanya mengangguk datar.

Masalah keluarga Madeline bukan urusannya.

“Fasha, ganti pakaian. Pakai yang pantas.”

Tangan ayahnya terulur, tapi Fasha menghindar.

“Baunya busuk,” katanya datar.

Wajah pria itu menegang sesaat.

'Anak sialan…'

Tapi melihat ekspresi Fasha yang tampak linglung, ia mengira itu hanya kebetulan saja.

“Cepat ganti baju.”

Fasha menurut. Ia berjalan tanpa alas kaki, langkahnya pelan, pakaian lusuhnya bergoyang mengikuti gerak tubuhnya.

'Yeay! Setidaknya aku membalasmu dasar ayah tak tau diri'

1
Puch🍒❄
jujur kecewa sih knp endnya harus gini banget ini salah 1 cerita yg aku tunggu2 updet nya loohhhh tp endingnya mengecewakan banget🥺😭 ini sih bukan ending tp ngegantung ceritanya gk ada kejelasan sama sekali ih gk like deh aku😭👊
@Biru791
maksa bgttt udahan nyaa ihhhh
Ari Peny
wah kok end 😭😭😭
Lynn_: Maaf ya kak, memang dipaksakan end karna retensi dari awal kecil.. Terimakasih sudah membaca🙏☺️
total 1 replies
Fahreziy
👣👣👣👣
sya
masa cuma 10cm cuma bisa liat rahang. gw aja 152 beda 20cm lebih bisa nyampe telinga cowok gw yang 170an lebih
@Biru791
ihhhh ayo dongsss uppp
Nur Hayati
kak kapan up.. sayang sudah mulai terbuka misterinya jangan ke putus... selesaikan kak
@Biru791
ihh kapan up jngan di lupain dongsss kgn fashaa
SYBHSSMN
kok udh gk pernah uptade thorrr🤔
@Biru791
thour ayo dong up yg ini jangan d lupain
@Biru791
kapan lah up lagi
Ari Peny
lanjuuut
Ellasama
ni kak, ku kasih kopi jgn telat up y/Coffee//Determined/
Ellasama
makin kesini makin ngeselin,,, kalau nanti si George gak dibikin menyesal se-menyesal mungkin gua gak terima sih.... alurnya terlalu lambat kak,,, bab ny byk banget tp masih gitu2 aja
@Biru791
ayolahhh up lagi cepat tiap hari ku tengok blm jga
Ellasama
jgn lupa up y kak💪
Ellasama
tak de 5 minit tp dah abis sudah laaa
Ellasama
dah terang2 an ni yee
Ari Peny
lanjuuuut
Ellasama
up CRAZY UP
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!