NovelToon NovelToon
Obsesi, Seorang Tuan Dengan Baboe

Obsesi, Seorang Tuan Dengan Baboe

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Obsesi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: PEACHESEEU

"Saya penasaran, Berapa lama lagi tuan akan mencintai saya."

Cerita ini berlatar belakang era kolonial di Hindia Belanda, mengisahkan Santi, seorang gadis pribumi muda yang awalnya bekerja sebagai buruh tembakau. Kini beralih menjadi seorang baboe (pembantu rumah tangga) di rumah seorang Belanda.

Semua berawal dari sebuah pertemuan tak terduga di dalam gerbong kereta kelas tiga yang padat. Santi, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari kota Surabaya, tanpa sengaja menolong seorang pria misterius yang tengannya terluka, Tuan Ludwig. Pria itu terus mengeluarkan suara menahan rasa sakitnya , Hingga Santi yang duduk di kursi dekat pria misterius itu memberanikan dirinya menawarkan sapu tangan untuk mengikatkan sapu tangan miliknya ke luka pria misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PEACHESEEU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 3

“.....”

Segera ia menebarkan sisa biji-bijian yang ada di genggaman tangannya dan berbalik arah, Ia berjalan menuju ke istana yang tak jauh di depannya. Di setiap langkahnya, Setiap pekerja yang melihat Tuan Ludwig langsung bersimpuh di tanah untuk memberikan penghormatan.

"Meneer komt!!! (Tuan datang!!)" Salah satu serdadu yang melihat kedatangan tuan Ludwig, Ia berteriak memanggil rekannya yang lain untuk segera berjaga di tempatnya.

"Geachte heer," Semua serdadu mengangkat tangannya dan memberikan hormat pada Tuan Ludwig yang berjalan di depan mereka. Di dalam kediaman istana itu, Tampak dua orang pria Belanda lainnya, Mereka duduk tampak begitu tegang dengan kertas-kertas berkas yang ada di tangan mereka. Suara langkah kaki mengalihkan fokus mereka, "Goedemorgen meneer. (Selamat pagi, Tuan.)" Salah satu dari mereka menyapa.

"Heeft u genoten van uw reis, meneer Ludwig? Hoe is de sfeer in Blora? (Apakah anda menikmati jalan jalan anda, Tuan Ludwig. Bagaimana suasana kota Blora ini,)" Sahut mereka yang yang lain.

Tuan Ludwig hanya mengangguk, Ia menghampiri mereka berdua dan menarik kursi disana dan duduk begitu saja. "Prachtig, sinds ik hier ben komen werken. Ik vind altijd mooie dingen. (Indah, Sejak aku datang dan bertugas disini. Aku selalu menemukan hal yang indah,)"

"Is er iets belangrijks? (Apa ada yang penting??,)" Kata Ludwig, Ia pun memanggil salah satu Baboe disana dengan jarinya dan baboe itu datang mendekat padanya. "Buatkan kopi untuk mereka,"

"Iya Tuan," Baboe itu mengangguk dan pergi, Begitu juga Tuan Ludwig yang membuka dokumen yang ada di meja. "Het lijkt erop dat de handelsonderneming nu tevreden is. Ze hebben het deze keer goed gedaan. Maar er klopt hier nog steeds iets niet. (Sepertinya perusahaan dagang sedang senang sekarang, Mereka mengerjakannya dengan baik kali ini. Tapi disini masih ada yang salah,)"

Tuan Ludwig berbicara sendiri, Kedua orang yang ada di depannya itu saling memandang satu sama lainnya. Pria berambut putih itu bernama Don, Dan pria yang memiliki kumis itu adalah Robert. Manner Dom dengan gemetar, Ia menyerahkan sepucuk surat di tangannya, "Dit is een brief van onze soldaten in Semarang. De assistent van Semarang ontving het stuk gisterenochtend vroeg.(Ini surat dari serdadu kita yang ada di Semarang, Asisten residen disana sudah mendapatkan barangnya dini hari kemarin.)"

"Tapi barang itu....." Gemetar Manner Robert.

Brakkkkk....

Tuan Ludwig menggeprak meja sekali, membuat cangkir porselen yang berisi kopi di dekatnya bergetar. “Saya membayar kalian mahal untuk mengelola, bukan untuk tidur-tiduran sambil menunggu nasib! Kalian tidak becus!"

Manner Don dan Manner Robert saling pandang, tampak kaget dan malu.

“Kami mohon maaf, Tuan,” Kata Manner Don,“Kami akan segera memperbaikinya kesalahan yang para pekerja itu lakukan,"

Tuan Ludwig berdiri, Tingginya yang sekitar 187 cm itu terlihat sangat menjulang di ruangan itu. “Kesempatan? Kesempatan sama saja dengan kerugian bagiku! Kalian tidak tahu betapa sulitnya membawa barang barang itu dari Prancis hingga sampai ke pulau ini dan tidak tahu bagaimana menghadapi bahayanya. Ambil berkas-berkas kalian dan enyah dari sini sekarang!”

Kedua pria itu pucat pasi. Diusir oleh Ludwig Van der Haoutten berarti kehilangan sumber pendapatan terbesar dan reputasi mereka akan hancur. Tetapi mereka tidak bisa melawannya, Mereka memilih untuk menundukkan kepalanya dan dengan tergesa-gesa, mereka memunguti berkas yang ada di meja dan permisi tanpa berani menatap mata hijau Ludwig lagi. Begitu pintu tertutup, Ludwig menghela nafas kasar, mengusap wajahnya yang tegang. “Antonio!”

“Ya, Tuan?” sahut Anton dengan sigap.

“Siapkan surat pemutusan kontrak mereka. Cari akuntan yang jujur dan laporkan padaku, Cari juga rincian kerugian dari barang barang yang disita oleh pemerintah dan yang hancur.”

“Siap, Tuan.”

Anton mulai merapikan meja dengan begitu tenang, Sedangkan Tuan Ludwig ia berjalan ke arah jendela ruangannya ia dengan begitu kesal. Anton yang ada disana hanya melirik dari sudut matanya, Hingga akhirnya ia berdehem pelan. Ekhem....

“Tuan, Mengenai pencarian yang tuan perintahkan kemarin. Saya mendapatkan informasi tentang gadis itu,"

Wajah Ludwig yang tadinya penuh amarah mendadak berubah, menegang. Mata hijaunya kini memancarkan aura minat yang luar biasa, seolah ada percikan api yang menyambar di kegelapan.

“Ya?” desak Ludwig, suaranya kini jauh lebih terkontrol, namun mengandung urgensi yang mendalam. "Katakan sekarang,"

 "Gadis yang Tuan cari itu, Bernama Santi. Penjaga tiket kereta kebetulan mengenalnya, hari itu ia baru kembali dari Surabaya untuk mencari obat yang sedang di butuhkan oleh ibunya yang sekarang sedang sakit. saat ini dia sedang bekerja sebagai buruh petik di salah satu perkebunan tembakau di wilayah bagian Utara desa kecil di Blora.”

“Hanya itu informasi yang dapat saya kumpulkan 3 hari ini, Tuan.”

"haha...ha" Tuan Ludwig terkekeh, Mendengar kata ‘tembakau’, semua kemarahan Ludwig tentang kerugian bisnis seolah lenyap seketika. Keinginannya yang tertahan dan terpendam, hasrat yang selama ini ia kendalikan, kini mencuat kembali ke permukaan. Gadis itu. Gadis dengan mata teduh yang meninggalkannya di gerbong kereta. Ia akhirnya menemukannya. Tuan Ludwig pun mengeluarkan cerutu yang ada di lacinya, Lalu ia mendekat ke lampu lilin yang ada di dekatnya.

“Panggil mereka kembali, Anton,” perintah Ludwig, nadanya kini dingin, penuh dengan perhitungan dan mendesak. “Sekarang juga.”

“Baik, Tuan Ludwig.”

Anton bergegas ke pintu dan memanggil kedua pria yang masih di lantai pertama kediaman itu. “Hei, Kalian berdua!!!”Panggil Anton dari atas.

“Tuan memanggil kalian ke kembali, Cepat.”

Manner Don dan Ribet yang berada di ambang pintu itu saling memandang satu sama lainnya, Mereka kembali dengan wajah bingung dan takut. Ludwig duduk kembali, senyum tipis yang tampak kejam tersungging di bibirnya.

“Manner Don dan Manner Robert” sapanya, Sapaan yang jarang bahkan tidak pernah mereka dengan, Seketika membuat bulu kuduk mereka berdiri.

“I-iya Tuan Ludwig,”Jawab mereka serentak.

“Saya akan menarik kembali keputusan saya terhadap pemecatan kalian dan akan memberikan kalian kesempatan kedua untuk memperbaikinya. Saya tidak akan menuntut kalian atas barang yang disita oleh pemerintah. Tetapi, ada satu hal yang bisa kalian lakukan sebagai ganti kerugian yang sudah kalian sebabkan.”

Ludwig bersandar, mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap tajam satu per satu wajah para pria yang ketakutan itu dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.

“Katakan padaku,” desaknya, suaranya perlahan, mengancam, “Dimana tepatnya lokasi semua perkebunan tembakau di wilayah Utara yang masih beroperasi saat ini."

...__...

           

Kembali Santi, Dimana ia dengan para buruh yang lainnya tengah bersimpuh dan berkumpul dengan duduk di tanah untuk mengambil upah mereka. Penantian upah selalu menjadi momen yang paling menegangkan bagi para buruh. Upah Itu adalah satu- satunya jembatan antara mereka dan dapur agar tetap bisa terus mengepul, Di antara mereka dan kebutuhan hidup. Setiap kilogram yang mereka petik, setiap tetes keringat yang jatuh, dipertaruhkan di dalam gubuk kecil itu.

Terdengar bisikan-bisikan dari kelompok buruh lain. Ibu Endang, seorang pemetik senior, berbisik pada temannya, “Semoga saja timbangan kali ini tidak lagi di curangi oleh mereka. Minggu lalu, hasilku anjlok drastis.”

“Tidak cuma kamu saja Endang,”

Seorang bapak tua yang duduk tidak jauh dari Santi, memijat kakinya. “Yang paling kubenci adalah potongan upah. Selalu saja ada potongan untuk biaya administrasi, biaya keamanan, biaya entah apa lagi.” Bisiknya.

“Mereka selalu saja memotong upahku,”

“....”

Santi mendengarkan semua keluhan itu. Mereka semua tahu, upah yang mereka terima tidak sebanding dengan kerja keras yang mereka lakukan di bawah terik matahari sepanjang hari. Mereka hidup dari hari ke hari dan menggantungkan nasib pada kemurahan hati mandor yang yang mengelola perkebunan itu dengan selalu memotong upah mereka dan pemilik perkebunan yang tak pernah mereka temui sejak bekerja disana. Tiba-tiba, gubuk tempat penyortiran terbuka. Mandor Parjo muncul, membawa buku catatan tebal dan sebuah kotak kayu yang selalu ia kunci rapat.

Suasana hening seketika, semua orang diam dan menunduk tak terkecuali Santi yang juga duduk disana.

“Baik!” seru Mandor Parjo, suaranya lantang dan tegas. “Dengar baik-baik. Saya akan memanggil nama kalian satu per satu sesuai urutan timbangan tertinggi hari ini! Diam dan dengarkan saja. SURYATI!!”

Ia mulai memanggil nama para buruh yang dipanggilnya maju dengan teratur. Saat nama mereka disebut, Mandor Parjo akan mencocokkan angka di buku dengan uang tunai di kotak, dan Dani seorang pemuda yang ada di belakang mandor Parjo yang akan mencatat pembayaran itu sekali lagi.

Ketika tiba giliran Ibu Endang, ia maju dengan perasaan nya yang sangat gugup berusaha memberi senyuman. "Mandor..."

“Dua puluh tiga setengah kilogram,” kata Mandor Parjo. Ia menghitung cepat. “Potongan administrasi hari ini, tiga persen.”

Ibu Endang mengerutkan kening. “Tiga persen? K-Kenapa tiba-tiba naik, Pak Mandor?”

“Sudah keputusan dari pusat!” bentak mandor Parjo, “Ambil uang ini dan jangan banyak tanya! kalau mau terima saja, Jika tidak tinggalkan disini.”

Ibu Endang terpaksa menerima uang recehan yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang diharapkannya, wajahnya terlihat sedih. Santi dan Rima saling pandang, kecemasan mereka bertambah. Lalu, nama Santi dipanggil. “Santi!”

Santi berjalan mendekat, berusaha terlihat tenang."..."

“Dua puluh satu kilogram,” kata Mandor Parjo sambil menghitung uang. “Kerja bagus. Tapi... ada laporan dari pengawas bahwa beberapa daunmu tercampur dengan daun yang terlalu muda. Dan kamu tidak masuk bekerja selama 2 hari ini, Itu menurunkan kualitas.”

Santi terkejut. “Tidak, Tuan Mandor! Saya memetik dengan hati-hati! Saya hanya memetik daun yang sudah matang!” Ujar Santi, Sembari ia menatap Dani yang ada dibelakang mandor Parjo. Dengan tatapannya yang memelas.

Dani yang melihat hal itu ia hanya diam, Dani adalah anak indo eropa di saat itu yang juga merupakan teman Santi saat masih kecil. Dia juga yang membawa Santi untuk bekerja di ladang tembakau di sana, Sebagai anak indo eropa. Ia tak memiliki kejelasan selama hidup karena ibunya yang merupakan Nyai dan ayahnya yang seorang Belanda tidak mengakuinya sebagai anak, Hal itu berakibat padanya yang sekarang hanya menjadi orang yang bekerja di bawa mandor Parjo.

“Jangan membantah!,” Mandor Parjo menunjuk jarinya ke wajah Santi. “Karena penurunan kualitas itu, kamu tidak mendapatkan bonus kualitas. Dan ada potongan denda sepuluh persen. Sudah bagus kalau kamu tidak dipecat dari sini, Ambil saja uangmu atau tidak sama sekali. Toh, Yang rugi itu kamu."

Jantung Santi terasa jatuh ke perutnya. Sepuluh persen! Itu adalah nilai yang sama untuk membeli obat ibunya selama seminggu kedepan.

“Pak Mandor, tolong! Saya butuh uang itu untuk obat ibu saya, Tolong maafkan kesalahan saya pak, Maafkan saya. Saya akan lebih rajin besok, Tapi tolong jangan potong upah saya untuk kali ini saja mandir. ” pinta Santi, suaranya memohon. Air mata mulai menggenang di matanya.

“Itu bukan urusan saya,” jawab Mandor Parjo dingin, menutup kotak kayu itu sejenak. “Urusan saya adalah para buruh bekerja dengan benar dan hasil kerja yang sesuai standar. Ambil atau tinggalkan.”

“Tapi....” Gumam mandor Parjo, Ia turun dari atas batu yang ia pijak itu dengan melihat Santi dari atas ke bawah dengan tatapannya yang begitu sensual. Santi yang merasakan hal itu seketika langsung diam, Di saat mandor Parjo membisikkan sesuatu. “Bisa saja aku menambahkan upah yang kamu minta, Bahkan aku bisa memberikannya dua kali lipat asal kamu menuruti semua permintaanku.”

1
alel Margasana
semangat ka
PEACHESEEU: Masih lemess
total 1 replies
yuningsih titin
lanjut kak👍
NOname 💝
hay, mampir juga yuk ke karya ku benang merah yang terputus
Noyaa
hai singgah juga yok ke akun ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!