NovelToon NovelToon
Once Upon A Wedding

Once Upon A Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Pengantin Pengganti / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:86.6k
Nilai: 5
Nama Author: yu aotian

Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.

Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3 : Sesosok Terang yang Tersembunyi

Ayah langsung memeriksa nadi pangeran. Tampaknya ia masih hidup walau tak baik-baik saja.

"Segera tutup pintu dan jangan biarkan satu orang pun masuk ke kediaman pangeran!" perintah ayahku pada ketiga pengawal pribadi pangeran Julian.

"Baik!"

Setelah melakukan instruksi ayahku, ketiga pengawal itu lalu membawa pangeran ke sebuah ruangan tersembunyi yang ada di kamar ini. Ayah pun pun bergegas mempersiapkan peralatan medisnya.

"Ayah," panggilku lirih dengan ketakutan pekat yang masih menyelimutiku.

Ayah menoleh pelan ke arahku. "Kembali ke kediamanmu dan jangan ceritakan masalah ini pada siapapun!" tegasnya.

Seperti yang dikatakan pangeran Julian tadi, ayahku—Barry Claney—memang seorang bangsawan tingkat rendah. Namun, karena keberhasilannya dalam penemuan peralatan medis modern abad ini, ia berhasil masuk ke istana dan mengabdi sebagai dokter kerajaan.

Ayah pernah bercerita, saat kecil, pangeran Julian sakit-sakitan hingga lebih banyak dirawat olehnya. Sampai sekarang pun, daya tahan tubuh pangeran Julian tidak kuat. Itulah mengapa ayahku selalu ditugaskan berada di sisinya untuk menjaganya.

Malam itu, aku tak bisa tenang dan terus memikirkan keadaan pangeran. Tubuhku menggigil seolah diselimuti balok es. Aku terus menangkup kedua tanganku, merapalkan permohonan pada Tuhan agar nyawa pangeran Julian terselamatkan. Tak masalah jika dia membatalkan pernikahannya denganku atau dia tetap ingin mengangkat nona Barbara sebagai selirnya. Sungguh, apa pun itu, aku hanya ingin nyawanya selamat.

Malam-malam berikutnya pun masih sama. Aku belum mendapat kabar apa pun dari ayah. Di dalam istana, raja, ratu, serta ibu suri hanya tahu pangeran Julian telah pergi ke Amberstone untuk menjalani tugasnya selama sebulan penuh. Karena pangeran Julian sering bersikap seenaknya, tak ada yang curiga dengan kepergiannya yang tanpa dilepas resmi oleh pihak istana.

Di hari ke lima, masih tak ada kabar apa pun dari ayah. Kuputuskan untuk menyelusup masuk ke kediaman pangeran Julian. Saat tiba di sana, ayah menggiringku ke sebuah ruangan yang tak pernah aku ketahui, di mana itu adalah ruang bawah tanah yang terletak tepat di bawah paviliun kediaman pangeran.

Aku terkesiap melihat pangeran Julian yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Wajah angkuh itu sungguh tak berdaya dengan peralatan medis yang membelenggunya.

"Kenapa pangeran belum juga sadar?" tanyaku cemas.

Wajah ayah tampak lelah dan suram. "Dia mengalami kerusakan otak parah yang membuatnya koma," jawabnya, "dengan keadaannya yang seperti ini, ayah khawatir, ini akan memakan waktu yang cukup lama. Bahkan melebihi waktu yang ditetapkan untuk tanggal pernikahan kalian," lanjutnya kembali.

Aku langsung menutup mulut dengan kedua tanganku. Sungguh aku tak menyangka gerakan refleks tanganku saat itu bisa mengakibatkan hal sefatal ini.

"Ini semua salahku! Ayah, biarkan aku bertanggung jawab untuk menjelaskan pada raja, ratu dan juga ibu suri tentang kronologi yang terjadi pada pangeran Julian!"

Saat Aku berbalik untuk bersiap menghadap raja, ayah langsung meraih tanganku seakan hendak mencegah yang hendak kulakukan. "Ini bukan sepenuhnya salahmu! Apa kau ingin memberi tahu kepada mereka bahwa pangeran berusaha memperk0samu? Jika iya, apa pun pembelaanmu, justru akan dituduh mencoreng nama baik keluarga istana. Sebab, itu akan menjadi aib besar pihak istana jika terdengar sampai di luar kerajaan. Lagi pula, luka itu bukanlah penyebab utama dia terbaring koma di sini."

Kalimat terakhir ayahku membuat dahiku membentuk lipatan. Sementara ayah kembali menolehku sambil berkata, "Pangeran mengalami overdosis opium¹ dan juga alkohol. Akhir-akhir ini, gelagatnya memang cukup aneh, seperti orang yang sedang kecanduan. Saat mengambil sampel darahnya, terdapat kandungan alkohol dan opium yang tinggi. Itulah yang menyebabkan ia mengalami kerusakan otak parah."

Aku menggeleng. "Tetap saja akulah yang harus bertanggung jawab. Aku bersedia dihukum karena telah mencelakakan putra mahkota," ucapku pasrah sambil tertunduk dalam.

"Apa kau ingin ayahmu dan ketiga pengawal setia pangeran ikut menerima hukuman karena dianggap tak becus menjaganya?" Ayah mendadak meninggikan nada suaranya.

Aku langsung menoleh ke arah ketiga pengawal yang berdiri di belakangku. Ekspresi mereka seakan menunjukkan pendapat yang sama dengan ayah.

"Bahkan meski kami telah mengorbankan waktu untuk di sisi pangeran, kami tak bisa mencegah pangeran berbuat hal-hal yang ditentang istana." lanjut ayah dengan penuh penyesalan.

"Lalu apakah kita harus terus merahasiakan keadaan pangeran? Bagaimana jika hingga menjelang pernikahan nanti pangeran tak kunjung siuman?"

Pertanyaanku membuat wajah ayah menggelap. Ia membelakangiku seraya memandang pangeran Julian yang terbaring koma di atas ranjang.

"Ayah sudah memikirkannya," ucap ayah tiba-tiba. "Hanya ada satu cara menyelamatkan situasi ini selagi pangeran belum siuman."

"Apa itu?" tanyaku cepat.

"Pergilah ke desa Albagard malam ini juga bersama Theo, Ciro, dan Sam," pinta ayah sambil menoleh ke arah tiga pengawal yang baru ia sebutkan namanya.

"Desa Albagard? Bukankah itu adalah daerah perkumpulan kelompok kiri¹ yang anti dengan kerajaan?" tanyaku mengingat-ingat beberapa kasus di wilayah itu yang sempat menggemparkan istana."

"Desa itu terlalu berbahaya untuk nona Alone, mohon serahkan tugas itu pada kami saja, Tuan!" pinta Theo dengan raut penuh kekhawatiran.

"Para pemberontak di desa itu sering menjarah barang-barang berharga milik bangsawan kerajaan yang datang ke sana. Itulah mengapa tak satu pun pejabat mau ditugaskan ke desa itu," imbuh Ciro.

"Ya, benar. Itu adalah desa yang paling ingin pangeran Julian musnahkan begitu ia dilantik sebagai Duke nanti." Kini giliran Sam menimpali.

"Tidak. Ini harus dilakukan olehnya. Kalian cukup mengawalnya ke desa itu," ucap ayah pada tiga pengawal tersebut.

"Tapi kenapa ayah memintaku ke sana malam ini juga? Apakah di sana ada obat mujarab untuk pangeran?" Alih-alih mendengar penuturan menakutkan tentang desa tersebut, aku malah penasaran mengapa ayah menyuruhku pergi ke sana.

Masih dengan menatap pangeran Julian, ayah berkata, "Carilah pria yang bernama Bright! Bagaimana pun caranya, kau harus bisa membujuknya ikut bersamamu dan membawa dia masuk ke istana menggantikan posisi pangeran Julian untuk sementara waktu. Ini satu-satunya cara untuk tetap mengamankan posisi putra mahkota sekaligus membuat pernikahan tetap berlangsung."

Ucapan ayah membuatku bingung sekaligus penasaran. "Bright? Siapa dia? Bagaimana mungkin ayah menyuruh aku membawa masuk orang asing ke istana. Apalagi harus menggantikan pangeran Julian," protesku tak habis pikir.

"Dia ... saudara kembar pangeran Julian."

Mataku melebar sempurna dalam sekejap diikuti suara terkejut ketiga pengawal. Kompak kami berkata, "Pa–pangeran Julian memiliki saudara kembar?"

Inilah babak baru dari kehidupanku. Mencari sosok pangeran yang terbuang dan membujuknya masuk ke istana untuk berperan sebagai pangeran Julian, saudara kembarnya.

Barry Claney (ayah Alone)

Theo (pengawal pangeran Julian)

Ciro (pengawal pangeran Julian)

Sam (pengawal pangeran Julian)

.

.

Jejak kaki

Opium : salah satu zat narkotika tertua yang dikenal manusia. Berasal dari getah tanaman Poppy.

Kelompok kiri : merujuk pada kelompok yang memiliki pandangan politik sayap kiri yang memiliki ideologi menekankan kesejahteraan sosial, keadilan dan sering kali menentang hirarki. Kalo di Indonesia tokoh sayap kiri yang terkenal ada Tan Malaka, sutan Sjahrir, Soekarno, termasuk juga Kartini.

3 episode awal nih guys, gimana pendapat kalian? kalian suka gak nih. Kalo rame langsung gua lanjut di sini.

1
sakura🇵🇸
apa kau berharap menghabiskan malam panas dengannya?🤣🤣🤣 dalam mimpiiii😜
sakura🇵🇸
candu sama barbara atau candu sama obat2an yang diberikan?heeemmm sepertinya dua2anya🙄
sakura🇵🇸
telur 4 detik mending kau telen aja mentah2 jadi jamu obat kuat lah😅
ㅤㅤ ၂͠ꫀꫀ
Julian memperlakukan batubara dengan baik, tapi baik menurut Bright ini lain keknya 🤭🤭
sakura🇵🇸
oke Alone...terima kasih infonya,meskipun g terang benderang setidaknya g mentah2 amat lah ya ngadepin si ulet bulu
bisa lah sedikit waspada dan pasang kuda2,tapi jangan mau diajak main kuda2an ya😅🤭
ㅤㅤ ၂͠ꫀꫀ
diiehhh... batubara mode uler Keket 😒😒😒
melia Wijaya
selalu berpikir positif apa terlalu polos???
Цветение вишни
cuman aku yg komen eh kopernya baru
bu anto
gimana ini..ada cameo ga kong?aku takut ter braight.
bu anto
si adik kelihatan lebih tua dr kakaknya
bu anto: mungkin dia jones/Shy/
total 1 replies
Nciet
ternyata flynn tau banget wanita berkualitas yg layak dijadikan pendamping hidup, baru dateng ke istana udah punya rival aja nih si bright
Nciet
nah lo nah lo....ketemu ama si bar bar, jadi deg deg an, mana bright ga tau sama sekali ttg si bar bar ini
nyaks 💜
ehhh apa kamu juga terpesona dgn si batuaki, Bright?? 😂😂
nyaks 💜
kalian tidak bermimpi wahai prajurit 😅😅
nyaks 💜
😍😍😍😍
nyaks 💜
duhhh 😍😍😍
nyaks 💜
🤣🤣🤣🤣
nyaks 💜
waduhh
nyaks 💜
🤣🤣🤣
nyaks 💜
ohh astaga... basah dong kacanya 🤣🤣🤣🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!