NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Menantu Pria/matrilokal / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:91.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Mengikhlaskan Yohana menjadi istri kakaknya bukanlah hal yang mudah untuk Beni, sebab teman sekelasnya itu adalah cinta pertamanya, selama enam tahun ia harus jaga jarak untuk memulihkan patah hati, hingga akhirnya kakaknya meninggal karena kecelakaan motor.

Tiga bulan kemudian ia diminta pulang oleh ibunya. Kepulangannya ternyata untuk dinikahkan dengan Yohana, kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)

"Bang, jangan bicara begitu. Meski Ami tak berada di posisi Abang, tapi Aku tahu bagaimana kondisi hati Abang selama enam tahunan ini. Ami juga merasa tak nyaman, tapi kita tahu siapa Abah. Abah yang berkuasa di rumah ini. Melawan Abah berarti cari perkara. Kita semua sama, sama-sama terpenjara dalam kekuasaan Abah!" Kata Ami. "Kecuali Abang rela Keluarga kita terpecah belah!"

Bukankah keluarga ini memang sudah terpecah belah saat aku diusir keluar dari rumah sehari setelah kelulusan. Bahkan, setelah itu, setiap aku pulang tak pernah ada yang mau bicara padaku. Itu kan namanya sudah tak menyatu lagi. Atau aku segitu tak berharga hingga aku yang dikucilkan tak termasuk dalam bagian keluarga.

"Seorang ibu yang mencintai anaknya akan melakukan apapun untuk anaknya, apalagi jika anaknya tak bersalah." Kataku. "Ia akan berusaha menolong anaknya, bukanya ikut-ikutan membenci. Kecuali ia memang tak peduli dengan anaknya!"

Pernyataan itu seperti skak yang membuat mati raja sehingga bunda gak bisa berkata apa-apa. Ia masih menunduk dengan rasa bersalahnya.

"Bang," Ami mencoba menengahi. "Abang tahu kan bagaimana kerasnya, Abah?" ia melanjutkan pembicaraan. "Abah tak bisa dilawan, Bang. Ami saja meski sering merasa peraturan Abah bertentangan dengan hati tapi tetap Ami jalankan karena Ami takut ...."

"Takut apa, Mi? Kamu takut bernasib sama seperti aku? Diusir? Makanya tak mengapa mengucilkan saudara sendiri agar diri sendiri aman? begitu?" aku menyindir dua perempuan di keluargaku itu. "Tak usahlah mencari pembenaran terus, hanya akan memperjelas semuanya, menambah luka untukku." aku menutup pembelaan diri bunda ataupun adikku Ami.

"Ben," bunda masih mengiba.

"Sekarang Bunda sebutkan saja, ada apa Bunda memanggil aku pulang?" tanyaku, tak ingin berbasa-basi panjang lebar. Aku sudah terlalu banyak menerima luka di rumah ini, memberontak hanya akan membuatku semakin buruk meski itu timbul efek dari sikap kedua orang tuaku sendiri.

"Tidak usah saja, Ben. Bunda tidak berhak mengajukan permintaan padamu sebab bunda adalah ibu yang durhaka pada anaknya." kata Bunda.

"Bun, tak ada yang namanya orang tua durhaka." ungkap Ami.

"Meski orang tuanya itu sudah zalim pada anaknya. Begitu kan, Mi?" kataku. "Ya sudah kalau begitu, aku izin istirahat Bun." kataku, membuat Bunda dan Ami tak bisa berkata-kata, mereka lalu keluar dari kamar.

Tak berapa lama masuk pesan di gawaiku.

[Abang tega sekali pada bunda, setelah keluar dari kamar Abang, bunda nangis.] Pesan dari Ami.

Pesan itu tak ku balas. Aku lelah untuk memahami orang terus, meski itu orang tuaku. Selama ini aku sudah melakukan itu semua pada mereka. Menutup mulutku rapat-rapat hingga aku sendiri merasa nyaman dalam kesendirian ini, lalu kenapa sekarang ditarik lagi? Apakah aku benar-benar tak berhak menentukan sikap atas diriku sendiri?

Langit malam semakin gelap, tak berapa lama aku mendengar suara mobil masuk ke garasi. Bisa ku tebak itu adalah Abah. Segera ku matikan lampu, tak ingin mendengarkan suaranya yang mengumandangkan azan untuk pertama kalinya di telingaku.

***

Azan Subuh baru saja berkumandang, aku segera mengendap-endap keluar kamar. Saat mendengar suara deheman lelaki, aku segera berlari tanpa menoleh keluar dari rumah. Saking kencangnya nyaris menabrak pagar.

Sebegitu takutnya aku dengan suara itu. Bahkan untuk sekedar mendengar dehemannya, apalagi jika harus berhadapan. Abah, si pemimpin yang selalu benar dan tak boleh dibantah, pemilik kekuasaan tertinggi di rumah ini, satu-satunya yang berhak menentukan nasib anggota keluarga lainnya.

Diktator, begitu aku menyebutnya. Saking keras dan kejamnya.

Usai salat Subuh di masjid perumahan, aku masuk lebih tenang karena sudah tak melihat mobil abah di garasi. kemungkinan abah sudah pergi mengisi kajian entah di majlis mana.

Tapi baru masuk, langkahku terhenti, seperti patung, aku tak bisa bergerak saat berhadapan dengan seseorang. Yohana, kakak iparku. Ia juga sama sepertiku, berdiri mematung. Tak lama kami saling berlalu, ia keluar sementara aku masuk ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat.

***

Tidak, rasa itu sudah tak sama. Aku berusaha memastikan diri bahwa tak ada debar yang sama seperti enam tahun lalu. Aku sudah membunuh perasaan itu, perasaan yang kata Abah itu haram untuk aku rasakan.

Yohana, anak angkat Abah yang sudah tinggal di rumah kami sejak usianya masih delapan tahun. Yang usianya sama sepertiku. Teman satu kelas, bahkan satu tempat duduk denganku. Perempuan ayu yang berhati lembut itu adalah cinta pertamaku, namun keputusan Abah membuat kami tak bisa bersatu. Abah malah menjodohkan Yohana dengan abangku, bang Sigit. si anak emasnya Abah.

Enam tahun lalu, saat baru lulus SMA, Abah tahu bahwa kami saling mencintai. Abah sangat murka, padahal kami benar-benar tak pernah melakukan hal terlarang meski selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Abah memutuskan bahwa Yohana tak boleh lanjut kuliah, ia harus dinikahkan agar menjaga kehormatannya dariku yang dituduh bisa menghancurkan harga dirinya.

Aku maju dengan gagah berani, menyatakan siap menikahi bahkan menafkahi Yohana. Sudah ku persiapkan mahar dari gaji sebagai penjual koran selama sekolah semester akhir sebelum ujian kelulusan, tapi Abah menolaknya, menganggap aku menantang. Abah memutuskan bahwa abangku lah yang berhak menikahi Yohana. Aku marah, jiwa mudaku meronta. Meski begitu aku tetap sopan menyampaikan keberatanku pada abah. Bahkan ku minta Abah untuk menyuruh Yohana memilih antara aku dan bang Sigit, sayangnya kala itu Yohana tak bergeming, ia memilih mengunci mulutnya rapat-rapat yang berarti nurut pada Abah. alhasil aku dipukuli semalaman sampai pingsan. Tak ada satu anggota keluarga pun yang datang menolong, semuanya mengunci dirinya di kamar masing-masing. Aku yang bak Kais mencintai Laila hanya bisa meraung melihat kekasih hatiku menolak ku mentah-mentah padahal sebelumnya kami sudah sama-sama sepakat akan menyampaikan isi hati masing-masing pada Abah.

Bahkan di hari pernikahan bang Sigit dan Yohana, aku masih berusaha menghalang-halangi, Abah sampai menyumpah serapah, bahkan mengusirku dari rumah. Ia menendang ku di tengah ramainya Keluarga besar yang datang. Aku dihalangi untuk menyaksikan akad nikah. Persis seperti penjahat, aku diperlakukan sangat tidak baik hanya karena memperjuangkan cintaku.

Sejak itu, butuh waktu dua tahun untukku bisa kembali ke rumah itu. Itupun tak ada satu orang pun anggota keluarga yang peduli. Sekedar menanyakan kabarku. Aku merasa seolah-olah sudah tidak dianggap lagi, dicoret dari bagian keluarga.

Begitu malangnya. Padahal aku dan Yohana saling cinta, apa salahnya dinikahkan. Tetapi Abah malah memilih menikahkan Yohana dengan saudara kandungku sendiri yang jelas-jelas kala itu tidak dicintai dan mencintai Yohana.

1
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
nah itu, hidup itu adalah pilihan. cari jalan sendiri ben
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
berasa abah dia itu makhluk yang sempurna, dia ngerasa betul sendiri
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
itulah kelemahan bundamu, terlalu nurut. surga nya istri ada di ridho suami, tapi bukan untuk di siksa atau di sakiti hati nya 🙄
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
coba di selidiki ben
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
abahku teu boga otak, agama di no satu kan, semua agama, dia sendiri sudah berkelakuan seperti yang di ajar kan agama?
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
agama pake alasan 🤦‍♀️
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
padahal kalau di lawan kalah tenaga tuh, wkwkwk ngajarin gak bener aku🤦‍♀️
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
malangnya nasib mu Ben, paling menyebalkan punya ayah diktator punya ibu yang gak bisa membela, nasib kita kok sama ya🥲
Nurrosi Qolby
Luar biasa
Badai Putih
Seru banget episode yang ini.. jangan lama-lama update bab barunya ya
NewJerseyJack
Lanjut dong Thor! Aku mah nangis kalau cerita ini gak lanjut :(
monsoonblooms
thor up nya jan lama" yaaahhh😃 ⓈⒺⓂⒶⓃⒼⒶⓉ ⓉⒽⓄⓇ 🔥🔥
MouthofMexico
Thor udah ga tahan nih pengen baca bab baru hihi
Nightingale Soakage
Iiiii ditunggu kelanjutannya! *baru kali ini aku ninggalin jejak nih uwuwuwu
Yuni Rahma
lanjut
Yuni Rahma
cerita nya bagus, tetap semangat nulis thor. d tunggu up ny
Yuni Rahma
Ben jd laki g peka bgt sih, setiap masalah yg ada krn ketidak pekaan dia.
Arkana
up thor
Nova
ichhhhh tambah penasaran....ayooooo kak othor.....up lg...jgn Ampe aku sakit Krn penasaran
Nova
aduchhhh si abah.....kgk ada sopan santunnya ya...ngusir tamu seenaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!