Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03. Rulof Kardasa.
...~•Happy Reading•~...
Bunyi alaram membangunkan Rulof. Ketika bangun dan melihat kamarnya kosong, dia menyadari, tadi malam Ambar tidak tidur bersamanya di kamar. 'Mungkin dia tidur dengan Juha.' Pikir Rulof, sambil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi dan berpakain, Rulof keluar kamar untuk sarapan. Dia akan berangkat pagi, karena harus mengantar Juha ke sekolah. Saat berjalan ke ruang makan, Rulof merasa heran dengan kondisi rumah yang sepi.
"Seni, ini pada kemana semua? Apa Juha belum bangun?" Tanya Rulof, sambil melihat ke lantai atas.
"Ibu sedang keluar Pak. Kalau Juha sudah bangun, tetapi masih di kamar." Jawab Seni.
"Tolong buatkan sarapan dan panggil Juha." Rulof berkata sambil duduk di meja makan untuk sarapan.
Melihat hal itu, Seni terdiam. Dia merasa tidak enak untuk mengatakan pesan nyonyanya. Namun dengan berat hati, dia mengambil segelas air mineral panas lalu letakan di depan majikannya.
"Apa ini, Seni? Saya tidak minta air mineral. Saya mau minum kopi seperti biasa." Rulof tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Seni.
"Maaf, Pak. Tidak ada kopi lagi." Seni berkata pelan dan tetap berdiri di dekat majikannya.
"Apa maksudmu dengan tidak ada kopi lagi? Bukankah saya baru beli awal bulan ini?" Rulof tidak mengerti. "Dan mana sarapanku?" Tanya Rulof lagi, yang mulai emosi. Karena Ambar tidak menyiapkan sarapan untuknya.
"Maaf, Pak. Kopinya sudah habis dan tidak ada sarapan juga, Pak." Seni berkata pelan dan ragu.
"Bicara yang jelas, Seni. Saya tidak mengerti. Mengapa kopi saya yang sudah dibeli untuk stock satu bulan bisa habis dan tidak ada sarapan pagi ini?" Rulof yang tidak mengerti keadaan, mulai tidak sabar.
Melihat itu, Seni memberanikan diri untuk bicara. "Begini, Pak. Kemarin kopi bapak sudah di bawa oleh Kakak bapak."
"Semua kopinya dibawa?" Tanya Rulof, seakan tidak percaya.
"Iyaa, Pak. Semuanya." Ucap Seni tegas dan meyakinkan.
"Kalau begitu, buatkan sarapan saja. Saya minum dengan air mineral ini." Emosi Rulof mulai surut. "Maaf, Pak. Tidak ada sarapan juga, karena tidak ada yang bisa dimasak." Ucap Seni lagi.
"Apa maksudmu, dengan tidak ada yang bisa dimasak? Awal bulan ini saya sudah stock ayam, ikan, telur, dan lain-lain. Kau sendiri yang memasukan semuanya ke dalam kulkas." Rulof segera berdiri untuk memeriksa kulkas. Seni hanya melihat dalam diam, reaksi majikannya. Dia bersyukur, nyonyanya sedang keluar.
"Kemana semua yang saya beli dan masukan ke sini, Seni?" Tanya Rulof, heran.
Seni jadi gemas melihat majikannya yang tidak mengerti juga. "Semuanya sudah dibawa Kakak bapak." Ucap Seni tegas, biar majikannya mengerti keadaan yang sedang terjadi di rumah.
"Semuanya ini, dibawa kemarin juga?" Tanya Rulof, seakan tidak percaya. Karena kemarin kakaknya bilang mau bawa sedikit makanan dari rumah, karena suaminya sedang kesulitan.
"Tidak, Pak. Kakak bapak sudah beberapa kali kesini mengambilnya. Kemarin yang terakhir, Pak." Ucap Seni dengan suara jelas.
"Kenapa kau tidak kasih tahu saya, supaya saya bisa beli lagi, setelah pulang kantor? Akhirnya begini, tidak ada untuk sarapan." Rulof mulai kesal.
Mendengar yang dikatakan majikannya, Seni tidak terima disalahkan. "Maaf, Pak. Saya tidak kasih tahu bapak, tetapi dua hari lalu, Ibu sudah bilang sama bapak di kulkas cuma tinggal sedikit ayam, ikan dan telur." Seni jadi berani, karena dia tahu nyonyanya sudah katakan.
Sedikit ayam itulah yang dimasak oleh Ambar untuk makan siang mereka kemarin. Tetapi belum sempat mereka cicipi, kakak majikannya telah datang dan makan. Sisanya juga dibawa pulang. Hal itu membuat Seni kesal, karena sudah cape'-cape' masak berdua nyonyanya, tidak dimakan.
"Oooh, mungkin saya tidak mendengar. Kalau begitu, tolong panggil Juha. Nanti kami sarapan di luar saja." Rulof menurunkan nada suara.
Kemudian Seni berjalan ke kamar Juha dengan hati berbatu.
'Sangat tidak berpengertian. Kalau mereka sarapan di luar, lalu yang di rumah sarapan apa?' Tanya Seni dalam hati sambil geleng kepala. 'Untung Juha sudah dikasih minum susu sama Ibu.' Batin Seni.
Kemudian, Seni berjalan bersama Juha menuju ruang tamu di mana Papanya sedang menunggu. "Juhaaa, kau belum ganti baju sekolah?" Rulof terkejut, melihat Juha masih kenakan baju rumah.
"Juha tidak mau masuk sekolah, Pa. Juha belajar di rumah saja sama Mama." Juha berkata sambil menunduk.
"Kenapa, kau tidak mau ke sekolah? Papa sudah bayar mahal TK mu." Rulof makin emosi, melihat Juha yang mulai rewel.
"Pokoknya, Juha tidak mau sekolaaa... Juha cape' jalan, Papaaa. Juha masih cape'." Juha sudah mau menangis.
"Kenapa kau bisa cape? Kau cuma belajar dan bermain di sana. Papa mengantarmu dengan mobil sampai sekolah. Kalau malas, jangan alasan cape'." Rulof jadi marah, karena melihat Juha mulai rewel dan malas ke sekolah.
"Juha capeee, karna jalan kaki tiap hari dengan Mama dari stasiun. Pokoknya, Juha tidak mau sekolaaa..." Juha teriak, lalu berlari ke kamarnya sambil menangis.
"Seni, benarkah mereka jalan kaki dari stasiun?" Tanya Rulof. Dia meragukan yang dikatakan Juha, karena dari stasiun ke rumahnya lebih dari 500 meter. Dari gerbang depan komplek ke rumahnya saja, bisa 500 meter.
"Saya tidak tau, Pak. Karna saya tidak pernah melihat. Yang saya tahu, selesai mandi setiap sore Ibu memijit betis Juha." Seni menjelaskan.
"Keterlaluan Mamanya, sekarang ada banyak angkutan online tinggal pesan. Mala anaknya diajak jalan kaki." Rulof menggerutu.
Seni yang mendengarnya, langsung melihat majikannya dengan takjub. 'Ini Pak Rulof lagi halu atau mimpi? Memangnya, pesan angkutan online ngga pake bayar?' Seni berkata dalam hati.
'Mau beli telur saja, Ibu masih pinjam uang sama saya. Ini mau naik angkutan online.' Seni kembali membatin dan menggelengkan kepalanya.
Selama ini, Seni mengira nyonyanya orang yang sangat irit. Karena nyonyanya sangat baik, tapi kalau soal uang terlalu hati-hati dan cendrung irit. Namun setelah dengar pertengkaran mereka tadi malam, Seni jadi mengerti. Nyonyanya bukan irit, tetapi memang tidak punya uang.
Sambil berjalan ke belakang untuk mencuci pakaian, dia berpikir sesuatu yang tidak masuk akal. Mana mungkin Nyonyanya tidak punya uang. Rumah bagus, suami punya mobil bagus. Tapi dia jadi sadar, karena gajinya dibayar oleh majikannya, dia kini mengerti. Nyonyanya ternyata bukan saja baik hati, tetapi sangat sabar.
'Kalau dapat saya, sudah Ta kucek-kucekkk' Ucap Seni dalam hati, sambil mengucek baju di tangannya, dan jadi tersenyum sendiri.
"Seniii." Panggil Rulof, di belakang Seni.
"Eeeh, Iyaa, Pak." Seni terkejut, karena tiba-tiba dipanggil majikannya.
"Ini duit. Tolong beli makanan untuk Juha, karna saya mau ke kantor." Rulof berkata sambil menyerahkan selembar uang 50.000.
"Iyaa, Pak." Seni berdiri lalu mengeringkan tangannya untuk mengambil uang dari tangan Rulof.
Kemudian dia mengikuti majikannya untuk membuka pagar, karena mau berangkat ke kantor. Seni menggelengkan kepalanya, karena majikannya tidak melihat atau pamit sama anaknya yang lagi sedih di kamar.
Setelah majikannya berangkat, Seni masuk ke rumah dan menuju kamar Juha. "Juha, Mba' mau ke tukang sayur dulu yaa, jangan keluar." Seni melihat Juha sedang menangis. Hatinya jadi sedih, karena Juha anak yang baik dan penurut. "Atau Juha mau ikut Mba' ke tempat tukang sayur?" Tanya Seni lagi, untuk menghiburnya. Juha hanya mengeleng. "Kalau begitu, tunggu di sini, ya. Mba' akan pergi secepatnya, supaya kau cepat sarapan." Ucap Seni.
"Mba', bolehkah sekarang Juha makan telur dan nasi saja? Juha sudah sangat lapar." Juha, memelas.
"Baik, Juha tunggu di sini ya, Mba' pergi secepatnya." Seni segera ke warung untuk beli telur. Seni akan membuat sarapan untuknya dan Juha terlebih dahulu, sebelum ke tempat tukang sayur.
...~●○♡○●~...