[Sedang Mengalami Revisi]
[Sebaiknya baca Modern System selama novel ini direvisi]
"Guru, berarti si cacat Deon tidak akan pernah bisa menjadi seorang Machitis? ... Benar-benar sampah klan Aciel."
Pada awalnya Deon hanyalah pemuda kurang beruntung dari klan terkuat tapi dapat hidup bahagia di kota Nervik.
Semenjak terjadinya suatu peristiwa di kota Nervik kehidupan Deon berubah secara perlahan. Dimulai dari kematian ibunya disusul perubahan sikap seluruh anggota klan kepada Deon.
"Aku memanglah bukan orang pendendam, tapi, aku tidak akan terima jika seluruh anggota klan ku dibantai! Apalagi jika wanita yang paling aku sayangi terluka!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Project, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#03 Jebakan
Papan pengumuman yang ada di halaman akademi, kini sedang menjadi pusat perhatian semua murid akademi tahun kedua. Nampak sekali jika mereka memperhatikan papan pengumuman itu dengan perasaan cemas. Mereka semua sedang mencari nama mereka di pengumuman ujian kelulusan.
Dan setelah mereka menemukan namanya tercantum dalam daftar peserta lulus sesi pertama ujian kelulusan. Seketika raut wajah mereka langsung terlihat gembira, meskipun masih ada dua sesi ujian yang menunggu mereka.
"Sial, kenapa dia juga lulus?" Ucap Carlos yang kemudian langsung memukul papan pengumuman.
Disisi lain terlihat Ava sangat senang karena tidak hanya dirinya yang lulus, tapi. "Aku sangat bersyukur kamu lulus Deon."
"A-aku lulus, Ba-bagaimana hal ini bisa terjadi? Padahal aku tidak menjawab satupun soal." Ucap Deon dalam hati yang tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat di papan pengumuman, hingga membuat mulut dan matanya terbuka selebar-lebarnya.
"Kalian semua yang lulus, ikuti aku!!!" Seorang pria dewasa tiba-tiba datang dan berteriak. Yang tentu saja pria itu adalah petugas ujian kelulusan.
Petugas itu langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju salah satu ruangan yang ada di akademi. Para peserta ujian langsung mengikuti petugas itu dari belakang.
Di dalam ruangan. Petugas ujian itu langsung menerangkan peraturan sesi kedua ujian kelulusan. Dimana para peserta ujian akan diuji bertahan hidup di dalam hutan yang sangat menakutkan dan mengerikan.
Hutan Thanatos adalah nama hutan yang akan digunakan sebagai tempat ujian kelulusan sesi kedua. Hutan yang terkenal sebagai tempat bersarangnya makhluk hijau kerdil, benar-benar tempat yang cocok untuk ujian kelulusan sesi kedua.
"Aku beri waktu dua jam untuk kalian bersiap-siap, kalian bebas membawa senjata apapun... Aku tunggu kalian semua di gerbang kota Nervik." Petugas itupun berjalan keluar dari ruangan.
Terlihat Ava berjalan kearah Deon yang duduk tepat di samping jendela. Lalu Ava berkata. "Deon, ayo kita bersiap bersama!"
Deon menolehkan kepalanya ke arah Ava berada. Deon memilih untuk diam saat melihat tiga pria berjalan ke arahnya.
"Bukannya sampah itu hanya akan menghambat mu saja, Ava?!" Ucap Carlos sambil tersenyum sinis.
Ava membalikkan tubuhnya dan dengan kesalnya Ava berkata. "Carlos, Thomi, Gibson. Kenapa kalian selalu merendahkan Deon?!"
"Hei Ava, bukankah yang dikatakan Carlos itu benar, Deon hanya akan menyusahkan kamu saja nanti." Ucap Thomi sambil menatap rendah Deon.
"Ganteng kalau tidak bisa apa-apa, buat apa dipertahankan?" Ucap Gibson sambil menyeringai.
"Hahahaha, benar kata Gibson, ganteng kalau tidak bisa apa-apa, buat apa dipertahankan?" Ucap Carlos sambil tertawa lebar.
Deon pun berdiri tanpa memperdulikan seluruh hinaan yang diterimanya. Deon berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Deon tunggu!" Ucap Ava terkejut melihat Deon tiba-tiba berjalan keluar begitu saja.
Rasa benci dalam diri Carlos terhadap Deon seakan bertambah sepuluh kali lipat. Carlos merasa jika dirinya seakan tidak dihiraukan oleh Deon, dan lagi, Ava lebih mementingkan Deon dibanding dirinya.
"Hari ini kamu pasti mati b4jing4n!!!" Ucap Carlos dalam hati.
*****
Dua jam telah berlalu. Kini seluruh peserta ujian kelulusan sesi kedua berkumpul di gerbang masuk kota Nervik. Tidak lupa para peserta ujian membawa perbekalan dan senjata yang sekiranya dibutuhkan.
Sebelum mereka semua berangkat ke hutan Thanatos petugas ujian membagikan satu plat besi bertuliskan 'Ujian' kepada para peserta ujian. Plat besi itu akan digunakan sebagai penilaian sesi kedua, semakin banyak peserta ujian memiliki plat besi maka semakin tinggi pula nilai yang didapatnya.
Masalahnya para peserta ujian hanya diberi satu plat besi. Berarti para peserta ujian harus bertarung melawan teman mereka sendiri untuk mendapatkan plat besi temannya.
Mereka semua berjalan menuju hutan Thanatos dipimpin oleh dua orang petugas ujian. Diperjalanan, para peserta ujian saling membicarakan rencana yang mereka buat agar lulus sesi kedua ini dan selamat dari hutan Thanatos.
"Di depan kalian adalah hutan Thanatos, kami berdua hanya ditugaskan untuk mengantar kalian sampai sini." Ucap si A (petugas ujian 1).
"Tujuan kalian adalah tempat itu." Si B (petugas ujian 2) menunjuk bangunan yang ada ditengah-tengah hutan Thanatos. "Setelah tiga hari, para petugas ujian akan menjemput kalian di sana."
Kedua petugas itu menyingkir dari tempat mereka berdiri seakan memberi jalan kepada para peserta ujian untuk masuk ke dalam hutan Thanatos.
"Kamu, kamu---" Si A menunjuk enam peserta ujian. "Kalian berenam masuk terlebih dulu!"
Dan begitu seterusnya, petugas ujian tidak membiarkan para peserta ujian untuk masuk secara bersamaan. Melainkan para peserta ujian dipilih secara acak untuk memasuki hutan Thanatos.
*****
Ditengah hutan. Terlihat seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam sedang berlari menyusuri hutan Thanatos sambil membawa pedang di punggungnya dan pisau yang bersarung di pinggangnya.
Saat pria itu terus berlari tiba-tiba muncul dua goblin di depannya. Pria itu langsung mengambil pisaunya dengan tangan kirinya sambil terus berlari tanpa takut sedikitpun.
Dengan pisau yang digenggam terbalik pria itu langsung melompati salah satu goblin dan langsung menusuk kepala goblin itu. Dan disaat yang bersamaan ia langsung menarik pedang yang ada di punggungnya dengan tangan kanannya.
*SLAAAS*
Setelah pria itu mendarat di tanah dengan sempurna, ia langsung menebas kepala goblin yang satunya lagi.
"Hah~ cuma goblin mau menghalangi jalanku?"
Ya, pria itu adalah Deon Aciel. Meskipun Deon tidak bisa menggunakan sihir atau skill, bukan berarti Deon tidak menguasai teknik bertarung.
Setelah menyarungkan kembali pedang dan pisaunya, Deon langsung melanjutkan larinya.
Tidak lagi satu atau dua goblin yang sudah dibunuh oleh Deon, melainkan Deon sudah meringkus belasan bahkan puluhan makhluk hijau kerdil itu seorang diri.
Deon tidak hanya bertemu dengan goblin di perjalanannya, Deon juga seringkali bertemu dengan para peserta ujian yang lainnya. Tapi Deon tidak sedikitpun memperdulikan mereka, mau mereka sedang bertarung atau tidak, itu bukan urusan Deon.
Karena yang ada dibenak Deon hanyalah menyelesaikan sesi kedua ujian kelulusan dengan secepat mungkin. Dengan begitu Deon bisa bertemu dengan wanita yang paling disayanginya, Wilona Zara.
*SRUUUT*
Deon berhenti berlari ketika melihat seorang gadis cantik sedang bertarung melawan puluhan goblin. Deon merasa tidak asing dengan gadis itu. Tapi Deon yakin, tidak mungkin gadis itu ada di tempat ini sekarang.
"Apa iya itu Wilona?" Ucap Deon yang kebingungan.
Merasa ada orang di sekitarnya gadis itupun menolehkan kepalanya ke sana kemari. Melihat Deon berdiri tak jauh dari tempatnya, gadis itu segera berteriak. "Kakak, tolong!!!"
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Deon Sword of Darkness" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.
muehehehe