NovelToon NovelToon
Nikah Muda SMA

Nikah Muda SMA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Nikahmuda / Contest / Tamat
Popularitas:123.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dek_Zhea♡《

Menikah saat masih SMA? Yang benar saja? Akankah kisah ku ber akhir dengan bahagia?

Ikuti kisah Alifea dan Azrel yang absurd dalam cerita Nikah muda SMA!

Salam Author-Jangan lupa follow, like and coment!✓

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek_Zhea♡《, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murka

"Hah."

Azrel mengelap mulutnya, menatap Alifea yang masih belum tersadar juga. Lalu menengok ke belakang, yang sudah cengo menatap Azrel.

'Sial, gue lupa.'

Sedangkan adek kelas dan semuanya yang ada di belakang hanya tercengo melihat Azrel yang barusan mencium Alifea. Oh,tepatnya memberi oksigen buatan dengan saling nempelin bibir.

"Nggak ada yang mau buat nafas buatan lagi apa?!" teriak Azrel ngos-ngosan. Nafasnya sudah tak kuat lagi, serasa hampir mati.

"Bacot lu setan! lagian ngapain lu pake segala cium cium sahabat gua hah?! nyari mati lu?! hegh!"

Theia maju duluan, menarik kerah baju Azrel ke atas. Pelupuk matanya hampir menjatuhkan air mata, nggak suka ada yang menodai sahabatnya.

"Ah, sorry gue---"

Tiba-tiba pak Handoko datang, membopong Alifea menuju ke arah keluar camp. Diikuti Azrel dan yang lainnya.

"Mau dibawa ke mana pak?!"

"Saya sudah pesankan mobil untuk kalian, bawa ke rumah sakit sekarang juga, maaf juga saya yang udah buat Alifea gini. Cepat bawa Alifea ke rumah sakit," ucap pak Handoko panjang, memasukan Alifea ke dalam mobil yang sudah dipesan.

"Baik pak, terima kasih," ucap Azrel sambil menduduki Alifea dalam dekapannya di dalam mobil. Diikuti Theia, Reon dan yang lainnya.pp

Mobil pun dengan cepat menuju ke arah rumah sakit membawa mereka.

Sementara di kejauhan ....

"Sial, gimana nih?"

"Ayo kita ikutin, kita harus pastiin dia masih hidup. Bisa gawat kalo dia mati beneran."

Vina menggigit ujung bibirnya, takut. Tanpa bicara, dia, Fanesha & Dhaiya. Pergi keluar camp mengikuti Azrel dan lainnya menuju rumah sakit.

****

"Dok! dokter!"

Terlihat Azrel membopong Alifea tergopoh-gopoh ke dalam rumah sakit, memanggil dokter yang ada. Mukanya tampak sangat khawatir dari sebelumnya, karna sekarang suhu badan Alifea lebih dingin dari sebelumnya.

"DOKTER!"

"Loh, mas Azrel? Siapa yang sakit mas?"

Terlihat dua suster yang kebetulan lewat, semua pegawai di rumah sakit papanya tentu kenal dengan Azrel dan Alifea. Bahkan tau Alifea itu istrinya Azrel.

"Sia---"

"Buruan siapin ruangan VIP! sekarang!" teriak Azrel menyuruh tanpa basa-basi.

"O-oke mas, bawa nona ke ruang VIP eh!"

Dua pegawai lainnya datang dan membawa Alifea menuju ruangan UGD VIP. Ramai yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Berisik sekali.

'Nona? Sejak kapan Alifea dipanggik nona?' batin Theia heran, sejak kapan sahabatnya itu jadi dipanggil nona dah?

"Panggilin dokter Matran buat ngecek Alifea!"

"Loh mas, tapi dokter Matran lagi ada konsultasi lo."

Azrel bernafas tak sabar, dia lebih khawatir kalau Alifea kenapa-napa. Toh ini rumah sakit punya papanya, jadi Azrel bisa memerintah.

"Saya nggak mau! buruan panggilin dokter Matran!"

"Tapi mas, dok---"

"Buruan ya Allah suster! kamu mau saya pecat hah?! panggilin dokter Matran sekarang juga! buruan!" teriak Azrel frustasi tak sabaran, akhirnya suster itu menurut saja.

"Siapkan peralatan!"

Suster dan dokter Matran datang dan cepat mengecek Alifea. Sedangkan Azrel dan yang lainnya menunggu di luar. Mukanya tampak sangat khawatir dan matanya hampir mengeluarkan air mata.

'Bertahan, Alifea.'

****

Sudah lebih dari 1 jam Azrel dan lainnya menunggu. Sedangkan dokter belum keluar dari ruangan tempat Alifea.

"Zrel."

Suara Theia terdengar keras di telinga Riksa dan Fathan, tapi tidak dengan Azrel yang dari tadi hanya duduk diam. Terus bolak balik liatin pintu kaca, terus duduk lagi seperti orang lagi berdoa.

"Zrel."

"Azrel!"

"Apaan sih?!" gertak Azrel, menghempas tangan Theia yang memegang bahunya. Nafasnya berderu hebat, agak sembab akibat menangis.

"Ck, lo ada hubungan apa sama sahabat gue hah?! keliatan banget tau dari perlakuan lo," decak Theia, memegang tangannya yang hampir kempes gara-gara Azrel.

"Iya Zrel, gue juga heran. Keliatan perlakuan lo sama dia manis banget gitu ... kayak, gimana gituu ..." oceh Fathan tak karuan.

"Iya, gue juga heran banget. Gue juga pernah lihat sekilas, lo ngecium pipi Alifea di UKS," ujar Riksa santai, sambil memainkan hp nya.

"Hah?! serius?!"

Theia dan Fathan melengo lebar bersamaan.

Riksa hanya mengganguk santai, lalu menyengol Azrel sedikit. Sedangkan Azrel sama sekali tak bergeming.

"Cielah, diem-diem lo suka ya ama Alifea? Ngaku lo," goda Riksa iseng mencubit Azrel.

Plak!

Terlihat Theia yang menampar pipi Azrel keras, mukanya terlihat sangat merah. Seakan-akan akan menumpahkan amarahnya pada Azrel.

"Lo apain sahabat gue hah?! pake cium-cium segala?! jawab!"

Theia menekankan segala kata-katanya sambil

Karna tak kuasa melihat Theia menangis, Azrel terpaksa menjawabnya. Semua kebenaran dia tumpahkan pada sahabat-sahabatnya.

"Dia itu istri gue! paham?! itu makanya gue khawatir! gue nggak mau kehilangan dia Thei!" sarkas Azrel menekankan kata-katanya, menepis tangan Theia darinya.

"H--hah? Is, istri?"

Loading .... loading ....

"Hah?! lo nikah?! ama Alifea?! serius lu?! kagak ngibulin kan?!"

"Lo, lo nikah ama Feli?! what the hell! kenapa kagak ngasih tau gue gubluk! telat dapet gosip tetangga kan gue!"

"Ya, gue kagak kaget sih. Lo udah pernah 'ehem-ehem kan sama Alifea? Ternyata lo masih normal juga ya Zrel," ujar Riksa, reaksinya beda dengan Theia dan Fathan yang sudah seperti mendengar bahwa kiamat akan tiba.

"WHAT?! CABUL BAT SIH LO AMA FELI GUE! YA ALLAH, AMPULINAH HAMBAMU INI YANG PENUH DOSA!"

Theia dan Fathan masih menonjok Azrel dengan semburan api pertanyaan, sedangkan Azrel sama sekali tak bergeming. Masih menunggu dokter keluar dari ruangan.

Tiba-tiba, Vina dan dkk nya menuju ke arah Azrel sambil ketakutan. Azrel dan yang lainnya terdiam seketika, ketika melihat Vina berdiri di hadapan mereka.

'Kalo nggak salah, tadi gue denger. Katanya ada adek kelas yang liat Vina ngedorong Alifea ke arah sungai yang pas dihukum. Kayaknya dia nggak bohong deh, habis mukanya panik banget gitu.'

Kata-kata kebenaran Riksa tentang tragedi Alifea tergiang-giang di kepalanya.

"Zrel, gue ..."

Sret!

Azrel berdiri ke arah Vina, tatapannya sangat datar dan dingin. Bahkan hawanya terasa sampai seluruh rumah sakit. Menatap wanita di depannya yang sudah membuat istrinya itu celaka.

"Ngapain lo kesini hah?!" sarkas Azrel serak, rahangnya tertekan. Berusaha menahan emosi di dalam rumah sakit.

"Zrel, gue ... gue ..."

"Jawab lo Vin!"

Vina menggigit ujung bawah bibirnya, kepalanya berusaha menatap wajah Azrel yang bagaikan singa marah. Seperti akan menelan tubuhnya.

"Gue, gue ... maaf gue ..."

PLAK!

"Hah ..."

Tamparan keras berhasil mendarat mulus di pipi kanan Vina, sampai rahang giginya tak sengaja mengeluarkan darah. Azrel berusaha masih mengontrol emosinya pada wanita itu. Tak peduli apa keadaannya. Azrel benar-benar marah pada Vina.

"Zrel, lo ..."

Tapi Azrel memotong ucapan Vina.

"Lo mau ngomong apa hah?! mau ngomong sebenarnya lo bukan yang jatuhin Fea?! mau cari muka di depan gue biar lo kelihatan nggak salah?! kalo urusan lo sama gue jangan sampe lo lampiasin sama Fea Vin! dia sama lo itu beda! gue cinta sama dia, gue sayang sama dia! jangan jadikan penolakan gue lo lepas dendam juga sama Fea! seharusnya lo sadar diri Vin! kalo kita udah bukan apa-apa lagi! lo punya otak kan?! masih waras kan?! cinta lo sama gue itu bukan cinta Vin! dulu lo jadikan gue sebagai pelampiasan aja! lo sama Fea nggak ada hubungan apa-apa! kecuali sama gue! dan sekarang kita juga nggak ada hubungan lagi!"

Teriakan Azrel yang panjang kali lebar itu mengisi kesunyian dalam rumah sakit. Bahkan pegawai, Theia Fathan dan Riksa sampai melongo dan kaget melihat amarah Azrel yang sebesar itu.

Sedangkan Vina, hanya bisa memegangi pipi dan rahangnya yang terluka akibat tamparan Azrel. Air mata hampir keluar dari pelupuk nya. Suaranya tersendat, badannya jadi kaku.

"Ke***at lo Vin!"

Riksa, Theia dan Fathan sedikit iba pada Vina. Tapi mereka tak bisa melakukan apa-apa. Yang ada nanti Azrel akan semakin brutal.

"Zrel, gue minta maaf Zrel. Gue ..."

"Vin, udah Vin. Lo nggak pantes buat kayak gini juga, mending lo keluar aja ya?" sela Riksa, sedangkan Azrel hanya menggelengkan kepalanya. Mengibaskan tangannya, menyuruh agar Vina segera dibawa keluar.

"Bawa dia keluar Riks, muak gue."

"Ayo, Vin."

Riksa membawa Vina menuju parkiran rumah sakit. Azrel kembali duduk dengan emosi yang tak kunjung reda. Theia dan Fathan berusaha menyulutkan emosi sahabatnya itu.

Sesampainya Riksa mengantar Vina ke parkiran, disambut Fanesha dan Dhaiya yang sudah menunggu. Riksa menyerahkan Vina kepada mereka untuk dibawa pulang. Wajah Vina sudah sangatlan sembab.

"Vin, lo nggak papa?"

Duak! Vina menendang depan mobil nya, sampai pecah. Tersulut emosi yang membakarnya.

"Sialan! gue sumpahin lo kena sial, Alifea!"

****

Ceklek! terlihat dokter Matran keluar ruangan.

Azrel segera bangkit, menuju dokter Matran. Sedangkan Theia, Fathan dan Riksa sudah duluan berpamit pulang karena sudah kesorean. Tinggalah Azrel seorang diri.

"Gimana keadannya Fea dok?"

Dokter Matran mengehela nafas sebentar, sedangkan Azrel sudah tak sabaran menunggu sesuatu yang diucapkan Matran.

"Nona Fea, dia ..."

****

Azrel menatapi Alifea jenuh dan sanyu. Menciumi kedua tangan gadisnya itu secara bergantian. Menunggu nya membuka matanya. Wajahnya tak bisa membendung kesedihan atas apa yang terjadi pada istrinya itu.

'Nona Alifea, dia ... hah. Nona Fea sedang terkena koma sebentar, akibat banyaknya air yang tertelan pada dirinya. Kadang itu bisa jadi bahaya kalau saja nona tidak diselamatkan.'

'Ko--koma? Koma Dok?!'

'Bener mas.'

'Ber, berapa lama?'

'Nggak lama kok mas, mungkin karna akibat setengah sadar dan kebanyakan menelan air dalam sungai, badan jadi nona Fea sangat lemah.'

Azrel mengecup kening Alifea, air matanya menitik dikit pada wajah Alifea.

"Maafin aku ya Fe, gara-gara aku. Kamu kena celakanya, aku minta maaf Fe. Karena nggak bisa jadi suami yang baik buat kamu."

****

at, 20.00 pm.

Azrel menjalankan ibadah sebagai seorang muslim. Azrel menyuruh suruhannya membawa barangnya dan barang Alifea ke rumah sakit papanya. Dia mengabari keluarganya, dia dan Alifea di rumah sakit. Dan meminta dijemput besok harinya.

"Allhamdulillah," lirik Azrel menerpa kedua telapak tangannya sehabis sholat dan berdoa.

Dia berharap Alifea segera tersadar dari komanya.

Ketika Azrel berdiri dan merapikan kopiah sholatnya. Sebuah suara mengagetkannya. Sampai membuat air mata turun dari pelupuk Azrel yang basah.

"Kak Azrel?"

Deg.

"Al, Alifea?!"

[Bersambung°]

1
Cici_sleman
jauh bgt bahasanya sm kita2...trllu kasar..
Cici_sleman
emang kutu rasanya hambar yah?😅
V¡K@
pliss jangn meningsoy dulu Fell😭😭😭
V¡K@
Vani kah???!
erni aurelia
kasar bgt ngomongnya,authornya bukan orang Sunda asli ya jadi ga tau klo kata2 yg dipake itu kasar
EM1212
kug ndadak calon istri dan calon suami, semangat membuat karya,,
Erna Candra
iya bahasa nya kasar bgt sm agak lebay 😄
Khenisa Maulida Zulkarnaen
seharusnya ada bahagia dengan anaknya
Khenisa Maulida Zulkarnaen
ga asik endingnya
Khenisa Maulida Zulkarnaen
hedeh ga bngt nih novel masa penjahat hampir 5 taun ga ada yang nglaporin ga bnget
Idan Cedan
thor ko Bahasa mys KaSaR Bgt ya? ??
nur imamah
mana fisualnya thor
Khenisa Maulida Zulkarnaen: bayangin aja pemeranya anda sama pasangan anda
total 2 replies
Hesty agustin13
kak lanjutin dong🙏🥺
Dharaaaeiy: iya makasih😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!