NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Satu Malam

Terjerat Cinta Satu Malam

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Irna Mahda Rianti

Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.

Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Eat with you

SESAMPAINYA DI RUMAH HILA ....

Gara memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah pemilik kontrakan. Hila meminta izin pada pemilik kontrakan, agar Gara diperbolehkan masuk ke rumahnya, karena Hila pun malu, jika membawa laki-laki kedalam rumahnya, sedangkan ia hanya tinggal sendiri.

"Gak usah ditutup pintunya," ucap Hila.

"Kenapa?"

"Malu sama orang, kita kan bukan muhrim," jawab Hila.

"Oh, baiklah ...."

Hila mempersilahkan Gara duduk di karpet rumahnya, karena ia tak mempunyai sofa. Hila kini sudah biasa hidup sederhana, jauh dari kata mewah. Gara yang melihat kondisi rumah Hila merasa tak nyaman dan tak betah, karena ia mungkin saja baru pertama kali masuk kedalam rumah kecil seperti ini.

"Aku lapar, keluarkan gado-gado yang tadi ku beli," perintah Gara.

"Iya,"

Hila mengambil piring dan sendok ke dapur. Ia sadar, rumahnya terlalu kecil untuk bangsawan seperti Gara. Hila berharap, setelah Gara makan, ia akan segera kembali ke perusahaan. Ia tak muluk-muluk pada Gara. Ia tak meminta Gara untuk bertanggung jawab akan bayi yang di kandungnya. Hila mencoba kuat, dan tegar untuk tetap berdiri sendiri.

Gado-gado itu pun di buka, dan Hila memberikannya pada Gara. Gara terlihat kesakitan. Mungkin, karena tangannya infeksi saat tadi terkena pecahan gelas.

"Silahkan makan, Gara." Ucap Hila.

"Makasih,"

Gara bingung, tangan kanannya terlilit dasi karena sakit. Ia pun tak bisa makan menggunakan tangan kiri. Ia kesal melihat Hila, karena gadis itu begitu mudahnya melahap gado-gado tanpa melihat Gara yang kesulitan makan. Ingin rasanya Gara meneriaki Hila, karena Hila tak peka. Tapi, apalah dayanya, ia dan Hila sebenarnya sama-sama asing karena sudah lama tak bertemu. Tak mudah bagi Gara, untuk mengakrabkan diri pada Hila.

Hila menatap Gara yang hanya diam saja, "Katanya lapar! Kok gak dimakan sih?"

"Menurutmu? Gara memanyunkan bibirnya.

Hila pun melihat tangan Gara, " Ah, iya. Ya ampun, aku lupa Gara. Maafkan aku, so sorry for that. Terus, kamu makannya gimana dong? Masa pake tangan kiri?"

"Ya udah lah, aku gak makan aja. Silahkan kamu habiskan saja, Hil." Ucap Gara pasrah.

"Katamu, tadi kamu lapar?" Ujar Hila.

"Ya, aku memang lapar. Tapi, aku gak bisa makan gado-gadonya. Ditambah lagi, sekarang sakitnya makin menjadi. Tanganku tak bisa digerakkan dengan baik karena aku menahan rasa sakitnya." Jelas Gara.

"Ah, ya sudah," Hila pun meneruskan makannya.

Entah mengapa, muncul perasaan tak enak karena Hila makan sendiri. Sebenarnya, ia tak tega pada Gara jika Gara tak makan. Hila jelas-jelas mendengar, bahwa Gara lapar. Tapi, jika Hila menyuapinya, Hila merasa canggung dan perasaannya tak enak.

Masa aku harus nyuapin dia, sih? Ya ampun, kok rasanya gak mungkin. Canggung banget aku jadinya kalau harus nyuapin Gara. Aaah, Baby, harus gimana aku? Aku benar-benar dalam kondisi yang membingungkan dan kalau aku biarkan dia, aku merasa bersalah jadinya. Batin Hila.

Hila pun terpaksa menggunakan rasa kemanusiaannya pada Gara. Hila tak tega, jika Gara tak makan. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menyuapi Gara.

"Sini aku suapin," ucap Hila gugup.

Deg, jantung Gara berdegup sangat kencang ketika Hila berkata akan menyuapinya. Gara jadi salah tingkah, dan merasa gugup. Entah perasaan apa yang ada dalam diri mereka. Yang jelas, mereka sama-sama canggung dan merasa saling tak enak satu sama lain.

"E-eh, gak usah, Hil ..." Gara menolak dengan halus.

"Gak apa-apa, Gara. Maafkan aku, semua itu karena aku. Aku janji, aku akan mengobati lukamu, dan aku juga akan membersihkan kantormu. Sekarang, makanlah dulu, gak apa-apa, kamu kan lagi sakit," Hila mulai menyuapi Gara.

"Eh, Hil ... gak usah, gak apa-apa," Gara begitu merasa tak enak.

"Gak apa-apa, Gara, ayo ... Aaaaaaa," Hila benar-benar ingin menyuapi Gara.

Gara pun pasrah, ia menerima suapan pertama yang Hila berikan padanya,

Deg, deg, deg ....

Gugup dan canggung menjadi satu, ketika Hila menyuapi Gara. Gara mengunyah gado-gado dengan berbagai macam rasa. Ada rasa rindu, rasa sayang, rasa cinta, rasa hangat, dan rasa yang tertinggal juga ada diantara mereka berdua. Gara memang malu, karena ini baru kali pertama mereka sehangat dan sedekat ini.

"Makasih, Hil ..." Gara tersenyum.

"Iya, Gar. Maafkan aku, karena aku kamu jadi terluka." Hila merasa bersalah.

Gara tersenyum, "Gak apa-apa, kamu gak salah, kok. Aku yang salah, karena gak teliti jalannya."

Hila hanya tersenyum membalas ucapan Gara, lalu Hila menyuapi Gara kembali. Masih ada perasaan dag dig dug serrr ketika Hila menyuapi Gara. Baik Hila, maupun Gara, keduanya sama-sama merasa aliran darah mereka mengalir lebih cepat karena daya tarik menyuapi tersebut.

Kalau begini, aku jadi merasa bersyukur karena tanganku terkena pecahan kaca. Ada hikmahnya, karena tanganku sakit, jadi aku bisa disuapi oleh Hila. Hangat sekali perbuatannya padaku. Aku tak menyesal tanganku sakit, karena kini aku merasa sangat bahagia. Ternyata, aku nyaman denganmu, Hil ... Batin Gara.

Mereka pun telah selesai makan. Hila mengambilkan minum untuk Gara. Sambil duduk selonjoran, Gara melihat kondisi rumah kontrakan yang kecil tersebut. Ingin rasanya Gara memindahkan Hila ke tempat yang lebih besar dan nyaman.

"Kamu harus pindah, jangan tinggal disini." Perintah Gara.

"Loh, ke-kenapa?" Hila kaget.

"Hil, dengarkan aku ... Kamu sedang mengandung, didalam tubuhmu ada janin milikku. Dia anakku, Hil. Aku ingin dia sehat dan tinggal di tempat yang nyaman. Pindah saja, jangan disini. Didalam kontrakan ini pun, kamu tak punya barang-barang, biar aku berikan apartemen untukmu, dan tinggallah di sana, biar aku memberikan asisten untuk membantu kamu," pinta Gara.

"Enggak perlu, Gar. Memang, kamu adalah bagian dari janin ini. Tapi, dia adalah tanggung jawabku. Aku yang akan mengurus dan mengaturnya. Aku betah tinggal disini, aku tak mau pergi dari tempat ini." Jelas Hila.

"Tapi aku tak mau, anakku tinggal di tempat yang tidak nyaman seperti ini, Hil. Mengertilah, aku ingin anakku mendapat tempat terbaik," ujar Gara.

Kamu hanya peduli pada anakmu saja? Iya? Batin Hila.

"Enggak, Gara. Jangan ganggu kehidupanku, ini adalah anakku. Semuanya tanggung jawabku. Kamu tak berhak atas dia, walaupun kamu turut andil dalam pembuatannya. Kamu tak bisa memerintah aku, karena kamu dan dia hanya ada ikatan darah saja, tapi tak akan ada dalam ikatan tertulis seperti kartu keluarga. Itu tak akan menguatkan. Jadi, jangan ikut campur! Karena dia milikku, bukan milikmu." Tegas Hila.

Deg. Seperti mendapat tamparan keras, Gara tertampar dengan ucapan Hila. Ya, Gara mengerti. Gara hanya menabur benih, tapi tak menghalalkan Hila, apalagi memberinya nafkah. Ingin rasanya Gara mengulang kisah hidupnya dari awal, tapi semua sudah terlanjur. Ada Bianka yang akan datang padanya sebentar lagi. Bahkan, semuanya pun dipercepat karena sebentar lagi Gara akan diangkat menjadi Direktur.

"Baiklah, kalau kamu memaksa untuk tetap tinggal disini. Tapi, kumohon kali ini jangan menolak keinginanku. Karena sebentar lagi kamu akan melahirkan, aku akan membelikan semua perlengkapan bayi dan perlengkapan kamu juga. Aku akan menyuruh Bagas untuk membeli semuanya," Tegas Gara.

"Kamu tak perlu repot-repot Gar, aku bisa membelinya sendiri." Tegas Hila.

"Jangan menolak, Hila. Aku mohon ... jangan menolak! Hanya itu yang bisa kuberikan padamu, please ..." Gara terus merayu Hila.

"Ah, iya. Baiklah. Terima kasih,"

Sejujurnya, aku ingin memberimu status, Hil ... tapi, apa aku bisa melakukannya? Sementara sebentar lagi aku akan bertunangan, dan dihari jadi pengangkatanku, Ayah akan memberi tahu semua orang tentang Bianka. Aku harus bagaimana? Bisakah aku batalkan semuanya dan hidup dengan Hila? Jujur, aku terlalu pengecut untuk mengakui semuanya. Aku takut Ayah murka dan membunuhku ... Batin Gara.

*Bersambung*

JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA ... Vote dan hadiahnya juga, biar aku semangat❤❤❤

1
falea sezi
g rela jalang Bianca dpet gata
falea sezi
males deh di bkin mati anaknya/Shame/
falea sezi
hmmmm emank murahan klo g murahan g bsa hamil uda jalang sombongnya
Nur Aini
Luar biasa
Nur Aini
Lumayan
Sovi Yana
keren ceritanya lanjutan elang
Pitri Minarti
duh gara kata katanya menyejukkan banget👍💚
Pitri Minarti
sedih banget😭😭😭
Eka Rauf Ginting
capek capek baca bayinya meninggal.. alur ceritanya jga bertele tele..
ningnong
😭😭😭😭😭
SR.Yuni
Demi nama besar rela korbankan kebahagiaan anak, anak akhirnya cari jalan keluar yg salah dan fatal akibatnya. Mendidik anak bukan berarti menentukan jalan hidup anak.
Sri Widjiastuti
indahnya pengorbanan!!
Sri Widjiastuti
Aamiin.... setuju calista
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
kluarga gara sama jg dng keluarga sahila lebih mementingkn harta
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
aq kok kasihan sama sahila ya
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
dasar pengecut sagara, gue benci laki2 kek bgtu, pengen ku bejet2
Ernawati
iiihhh davian kok gitu sih
Ernawati
semoga gata dapat wanita yg baik karna dia sulit jtuh cinta
Chandra-Jelita
author nya ternyata termasuk gemar nonton sinetron, sampai jadi referensi di ceritanya 🤔🤣🤣🤣🤪
Kadek Bella
gimana lanjutannya Calista sama elang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!