NovelToon NovelToon
Higanbana

Higanbana

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Contest / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:160.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Pipit Otosaka

SEASON 6!

*Diwajibkan melihat seluruh deskrip, sebelum baca, ehe ^^

SINOPSIS:
Dennis dan teman-temannya pergi mengunjungi kampung halaman Mizuki sekaligus ingin berlibur di sana. Tak jauh dari rumah Mizuki, mereka menemukan rumah kecil di dalam hutan yang sudah tidak ditempati dan terdapat banyak bunga Lycoris Radiata, atau yang sering disebut oleh orang Jepang sebagai bunga Higanbana.

Bunga itu terlihat indah. Tapi yang membuat heran adalah kenapa bunga itu bisa mekar sebelum waktunya?

Tak hanya itu, salah satu dari mereka tiba-tiba jatuh sakit dan mulai saat itu, kematian aneh yang diakibatkan oleh bunga tersebut kembali bermunculan dan meneror satu desa. Bunga tersebut memang memiliki makna kematian, tapi tidak sebenarnya bisa menyebabkan kematian ketika menyentuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada bunga tersebut?
=============================

GENRE LENGKAP: Horor, misteri, supranatural, teen, romance, gore, action

COVER: ORIGINAL BUATAN AUTHOR!

JADWAL UPDATE: SETIAP HARI!! (Kalau up-nya bolong", positif thinking aja authornya sibuk ya :v)

[ PERINGATAN! Novel ini mengandung unsur kekerasan, pertumpahan darah, pembunuhan yang berlebih (gore). Yang tidak nyaman dengan hal itu, disarankan untuk membaca novel lain. ]

IG: @pipit_otosaka8

Terima kasih telah mampir ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit Otosaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20– Hutan (2)

"Hah ... seharusnya aku tidak ikut liburan ini." Brian yang jalan di belakang pun mengeluh. Dennis yang mendengarnya menghentikan langkah, lalu berbalik badan. "Kamu kenapa, Brian?"

"Ini tidak menyenangkan. Dari tadi terus jalan saja, ga ada apa-apanya. Benar-benar membosankan!"

"Kamu maunya gimana?"

"Seharusnya jalan ini ada tantangannya atau gimana gitu biar lebih seru. Rintangan apa gitu yang ada di depan biar lebih menantang kayak petualangan yang hebat di film-film." Jelas Brian. Lalu ia melirik ke sampingnya dan entah kenapa tiba-tiba ia merasa merinding.

Samping kirinya adalah tembok tanah, lalu samping sebaliknya adalah jurang. Jalannya hanya cukup untuk satu motor. Saat ia mendekati jurang itu dan mengintip kedalamannya, ia langsung mundur ke belakang.

"Brian hati-hati. Nanti kamu jatoh aja. Jangan takut. Ayah di sini." Dennis menyentuh pundak Brian, tapi mendadak Brian langsung menghindar dan mendekati Rei yang berjalan di depan.

Ia kembali membentak ayahnya. "Aku tidak takut apapun! Aku hanya tidak suka saja dengan ketinggian."

"Oke, Brian. Maaf." Dennis menundukkan kepala sambil memainkan ujung rambutnya. Tangan kirinya masih ia masukin ke dalam kantung celana karena ia sedang memegang sesuatu di dalam sana. Yaitu sebuah gantungan berbentuk singa kecil yang imut.

Dennis sebenarnya ingin memberikannya sekarang. Tapi karena lagi-lagi Brian marah-marah terus padanya, ia jadi mengurungkan niat untuk memberikannya. "Mungkin di waktu yang tepat saja. Saat dia senang, hehe ...." Gumam Dennis.

"Oh, mungkin ini suatu rintangan, Brian." Ujar Rei sambil menunjuk ke depan. Ada sebuah batang pohon yang tumbang menghalangi jalan. "Ayo kita singkirkan rintangan itu bersama-sama."

Brian tersenyum senang. Ia berlari menghampiri Rei lalu melakukan apa yang Rei katakan untuk menyingkirkan batang pohon tersebut. Ukurannya tidak terlalu besar, dan sudah rapuh karena sudah busuk. Jadi akan mudah untuk menyingkirkannya.

Setelah itu, Rei mengajak Brian untuk mencari hal lain yang bisa dilakukan sekalian menikmati alam dalam hutan itu. Mungkin bisa sekalian belajar beberapa tumbuhan dalam hutan tersebut.

"Andai aku di posisi Kak Rei." Gumam Dennis dalam hati. Ia kembali iri dengan keakraban Brian dan Rei.

...****************...

Kelompok Akihiro masih menyusuri jalan sebelah kiri. Sampai sekarang mereka masih belum menemukan apapun yang menarik perhatiannya. Mungkin ada hal unik lain selain danau di dalam hutan itu.

Akihiro masih berjalan santai sambil memakan keripik. Sudah beberapa bungkus keripik yang ia habiskan. Bekas sampahnya ia simpan di dalam tas karena dalam hutan tidak ada tempat sampah dan ia tidak ingin mengotori hutan dengan sampah keripiknya.

"Aaaah ... aku haus." Keluh Rashino yang sudah mulai kelelahan dengan perjalanan ini. Ia berhenti sejenak untuk meregangkan kakinya sejenak setelah duduk di tanah. "Dian, apa kau membawa minum selain cemilan?"

"Tidak. Aku jarang haus dan malah cepet laper." Jawab Akihiro. Ia juga berhenti sejenak untuk menunggu Rashino memulihkan energinya.

"Aih, bukannya bawa air. Dah tau mau jalan-jalan."

"Lah kau sendiri gak bawa air, kan? Tubuhku mah anti haus hausan." Akihiro merasa tidak peduli. Ia membelakangi Rashino, lalu kembali memakan keripiknya sambil mendongak menatap pohon.

Jalan yang mereka lewati lebih sepi dari sebelumnya. Sebelum lewat jalan itu, masih ada kicauan burung dan suara serangga pohon. Tapi sekarang suasananya malah sepi.

"Aaaah ... ternyata makin lama makin panas, ya?" Nashira juga ikut mengeluh. Ia memutuskan untuk melepas kemejanya sejenak. "Masih tidak ada angin yang berhembus."

"Ini awal musim panas, seharusnya tidak sepanas ini sih biasanya. Udaranya juga agak lembab." Akihiro menimpali. Ia juga merasa kepanasan dan malah menyesal telah berpergian dengan pakaian Hoodie.

"Ini aku ada air. Kalau mau ambil aja." Zainal yang sedari tadi diam-diam saja pun akhirnya menawarkan botol minum yang ia bawa untuk Rashino yang membutuhkan.

Rashino merasa senang. Ia langsung menerima botol itu dan menegugknya. Kemudian Nashira merebutnya karena ia ingin minum juga. Setelah itu mendadak, Akihiro yang bilang tidak butuh minum malah merebutnya juga. Hal itu membuat si kembar marah dan malah berebutan botol minum milik Zainal.

"Emm ... itu ... teman-teman ..." Zainal mencoba untuk memanggil mereka yang masih rebutan botolnya. Ia ingin menghentikan mereka tapi tidak pernah didengarkan. Sampai akhirnya mereka menjatuhkan botol minum itu dan isinya keluar semua. Airnya menyerap ke tanah dan menghilang sepenuhnya.

Setelah jatuh, mereka bertiga baru terdiam sambil melongo karena terkejut. Lalu secara perlahan mereka melirik ke Zainal. Akihiro mendorong Nashira pelan untuk menyuruhnya meminta maaf duluan. Tapi dari Nashira, ia malah mendorong Rashino dan menyalahkannya.

"Yaah ... aku tidak bisa minum obat tanpa air." Ujar Zainal pelan. Ia kembali memungut botolnya dan benar saja, tidak ada air lagi yang tersisah untuknya.

"Eh?" Akihiro, Rashino dan Nashira terkejut mendengarnya. Mereka tidak tahu kalau Zainal membawa botol air hanya untuknya meminum obat dijalan. Mereka bahkan tidak tahu Zainal sedang sakit apa sekarang sampai harus minum obat.

"Za–Zain. Aku minta maaf. Emm ... itu ... botolnya ..." Ucap Akihiro duluan dengan ragu. Kemudian si kembar juga melontarkan kata permintaan maaf mereka lalu dengan kompak, mereka berkata, "Kami akan mencoba untuk mencari air di sekitar sini."

Zainal menggeleng pelan dan tersenyum. Ia menyimpan botol minumnya ke dalam tas, lalu menatap ketiga temannya sambil terus tersenyum. "Tidak apa-apa. Tapi kalau memang ada mata air di sini, mohon bantuannya, ya?"

"Siap! Aku–Eh kami akan mencarikan air baru untukmu!" tegas Akihiro sambil memberi hormat pada Zainal. Kemudian ia memaksa si kembar untuk melakukannya juga. Lalu setelah itu mereka bertiga kembali berbalik badan untuk melaksanakan tugas mereka.

Yuni yang cewek seorang diri dalam kelompok itu tidak mempedulikan kelakuan teman-temannya. Ia sedari tadi terus mengamati jalan di sekitarnya. Lalu tak lama, setelah terus melangkah melewati jalan tersebut, ia menemukan mahkota dari sebuah bunga yang berwarna merah.

Setelah menemukan satu mahkota bunga itu, Yuni celingak-celinguk mencari sesuatu. Ia ingin mencari asal dari daun bunga yang ia temukan tersebut. Jadi ia memutuskan untuk jalan duluan dari teman-temannya yang tertinggal di belakang.

Zainal kembali membuka ponselnya. Ia menatap langit, ada beberapa cahaya matahari yang masuk. Hari sudah semakin siang ternyata. Tapi saat melihat jam di ponsel, ternyata masih jam setengah sembilan.

Ia sedikit senang karena di jam segitu, akhirnya ia bisa menghubungi Ethan karena di Indonesia pasti sudah pagi juga dan Ethan pun sudah bangun. Tapi baru saja membuka list kontak, tiba-tiba ponsel Zainal berbunyi. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.

"Halo, Ethan!" Dengan senangnya Zainal menjawab. Ia akhirnya dapat mendengar suara Ethan lagi. Padahal baru semalam mereka teleponan. "Oh, aku baik. Kau hari ini tidak libur, kan? Cepetan bangun. Eh? Emm ... kalau aku lagi jalan-jalan di hutan. Ooh ... oke. Ah, emm ...."

Akihiro kembali mengajak Zainal untuk melanjutkan perjalanan. Zainal hanya mengangguk, tapi ia masih fokus dengan ponselnya. "Kenapa aku jadi berpikiran aneh dengan Zainal dan Ethan."

"Eh, emangnya kenapa?" tanya Rashino.

"Emm ... entahlah. Mereka dekat sekali. Bahkan aku sampai berpikir kalau mereka punya hubungan lebih dari sekedar sahabat." Dengan cepat ia menggelengkan kepala dan menarik kata-katanya. "Ah, tidak mungkin seperti itu. Huh, abisnya kedekatan mereka membuatku jadi salah paham."

"Mereka sudah sahabatan dari kecil, kah?" tanya Nashira.

"Sepertinya begitu, sih." Akihiro mengangguk. "Hehe ... maklum aja sih dekat banget. Namanya juga sahabat dari kecil."

Melihat Zainal masih bisa berteleponan membuat Nashira iri karena ponselnya sama sekali tidak dapat sinyal. Tapi berbeda dengan Zainal yang sepertinya masih bisa berbicara lancar dengan Ethan lewat telepon.

"Semuanya. Coba lihat itu." Yuni memanggil mereka untuk lebih cepat jalannya dan melihat apa yang ia temukan di depan jalan. Di depan Yuni ada banyak ranting dan daun-daun yang masih menempel pada ranting dan dahan pohon. Sangking banyaknya, daun-daun dan ranting itu sampai menutupi jalan. Tapi ada sesuatu dibalik sampah-sampah daun tersebut.

Saat Akihiro, Rashino dan Nashira menyingkirkan daun-daun itu, mereka terkejut dengan temuan Yuni. Karena di dalam sana terdapat sebuah rumah panggung khas Jepang yang sudah tua dan tidak terawat. Sangking terfokus dengan rumah tersebut, mereka tidak sadar kalau mereka telah menginjak beberapa bunga berwarna merah di sekeliling rumah tersebut.

Namun Zainal menyadarinya. Ia melihat banyak bunga merah itu di halaman tak jauh dari rumah tersebut. Depan rumah itu juga terdapat satu pohon yang sendirian bersama dengan sebuah ayunan ban.

Walau rumahnya terlihat tua, tapi halamannya bersih dari dedaunan kering. Seperti masih ada orang yang merawat rumah tersebut.

"Ethan. Aku menemukan bunga yang indah. Warnanya merah." Ujar Zainal. Ternyata ia masih terhubung dengan Ethan, walau kadang terputus-putus karena sudah sinyal.

[ Apa itu? Mawar? ]

"Bukan. Tidak terlihat seperti mawar. Umm ..." Zainal ingin memetik bunga itu untuk memeriksanya lebih dekat. Tapi saat ia menyentuh tangkai bunganya, refleks Zainal langsung menjauhkan tangannya dari bunga tersebut. "Aw!"

[ Zain? Kau baik-baik saja di sana? ] Ethan yang mendengar rintihan Zainal tadi mulai merasa cemas.

Namun Zainal tidak menjawab Ethan. Ia heran dengan bunga merah itu. Saat dirinya menyentuh bunga tersebut, dari tangkainya seperti ada yang menusuk jarinya dengan jarum. Saat Zainal kembali mengecek tangannya, ternyata mengeluarkan sedikit darah seperti habis tertusuk jarum.

Entah kenapa tangannya bisa berdarah. Padahal bunga itu tidak memiliki duri dan Zainal baru menyentuhnya sedikit.

Namun tak lama, ia merasakan hal aneh yang mendadak masuk ke tubuhnya. Sesuatu telah membuat jarinya gatal dan ngilu. Ia merasa ada yang bergerak di dalamnya, tapi ia tidak tahu apa itu.

"Ugh," Tangan Zainal yang tertusuk itu mendadak mati rasa lalu kepalanya mulai sakit sampai ia mengeluarkan suara rintihannya karena tak kuat menahan sakitnya. Dengan cepat ia mematikan teleponnya yang masih terhubung dengan Ethan karena tidak ingin temannya mendengar suaranya untuk saat ini.

"A–apa yang ... Sakit. Aaakh!" Zainal terus menekan-nekan kepalanya dengan niat bisa meredakan rasa sakitnya. Tapi ternyata sesuatu di dalamnya seperti sedang menusuk-nusuk kepalanya. Bukan sekedar sakit kepala biasa.

Mendengar teriakkan Zainal barusan telah membuat Nashira berbalik badan setelah mendengarnya. Dengan cepat, lelaki itu langsung menghampiri Zainal dan menangkap tubuhnya yang ingin terjatuh ke tanah.

Akihiro, Rashino dan Yuni juga ikut menghampiri Zainal dan Nashira. "A–apa yang terjadi?!" tanya Akihiro cepat.

"Entah. Aku juga tidak tahu." Nashira menggeleng cepat. Ia ingin bertanya pada Zainal tentang keadaannya. Tapi ternyata Zainal sudah kehilangan kesadarannya lebih dulu di pangkuannya.

*

*

*

To be continued–

1
Apriyan_Claymore280401
Cahya sama natsuki malah sibuk sendiri, padahal keadaan nya sedang tegang malah adu bacot🤣🤣🤣
Apriyan_Claymore280401
Dian masih sempet sempetnya melawak,sok buat rencana tau nya peta yang di bawanya aja salah.bikin ngakak🤣🤣🤣
dunia cerita
yaampun Dennis anak mu itu ingin ku bejek bejek rasanya
Mpit
Luar biasa
Karci Deka
ya bagus
Anak Emak
udah update nih
Dark Black
novel baru bulan januari tanggal berapa thor?
Mpit: 15 Januari
total 1 replies
Rosi
novel nya ada di apk apa kak author, penasaran mo baca yang collab antara Dennis dan Derrel soalnya karakter favorku
Mpit: tetep di sini,, ga pindah ke mana",, cuma nanti January mulai liris
total 1 replies
Rita Rahimah Bintang
novel si anonim ap judul ny. biar baca
Mpit: cek aja ke profilnya yang [ Anonim ]
total 1 replies
Aulia Lia
novel baru yeey(≡^∇^≡)
Alinnn
cakep cakep banget yak😌
Hyuka
terus chara berambut putih siapa? rada lupa
Mpit: ooh Alex itu,, ga masuk dia :v
total 3 replies
Hyuka
Dennisnya kagak reinkarnasi
Hyuka: :| Si Alam
total 2 replies
.SAID.
End juga akhirnya, gak yangka kak dennis bakalan pergi 😭😭😭.

di tunggu novel selanjutnya nya kak pipit, tetap semangat 💪💪💪
bian: Tetap mengharapkan denis ber rengkarnasi dari awal😭😭
total 2 replies
nata
Uda end?
Mpit: iya...
total 1 replies
♛ɢɪɴᴢᴢ☠♛
anak kls 5 SD pacaran 🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣🤣🤣
♛ɢɪɴᴢᴢ☠♛: dasar bocil 😭🤣
total 2 replies
Mr.XXX
Update lagi thor penaran selanjutnya.Tetap semagat ya bikin karya karyanya!
Mr.XXX: iya sama sama thor
total 2 replies
Lely
wah like pertama ternyata😁
Mpit: nice ~
total 1 replies
.SAID.
Bawang bertaburan, auah 😭😭😭. akhirnya tamat juga novel, saya harap cerita selanjutnya Brian jadi tokoh utamanya .


Kak Dennis kau ialah pelawan yang sebenarnya. kau bisa menyimpan rasa sakit di relung hatimu, kau kuat untuk menerima takdir. kau ialah pahlawan sebenarnya 😭😭😭😭


Hiks... hiks... hiks... 😭😭😭😭


biasa akhir cerita menyenangkan, kali ini berbeda 😭😭😭
Angel Poerba
sedih😭😭😭Dennis udh pergi untuk selamanya
Angel Poerba: masih lanjut kk ?
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!