Pertemuan yang tak di sengaja dalam sebuah pesawat. Hingga menimbulkan ketertarikan dan akhirnya menghadirkan benih cinta di hati seorang pria tampan
Arley Mahardika Altezza pada seorang
gadis cantik Attilah Nasya Ardilla (Ana).
Sementara sang Presdir mempunyai kekasih yang telah dijodohkan dengannya karena balas budi.
Kisah cinta mereka semakin rumit setelah di ketahui ternyata mereka adalah kakak dan adik, sementara mereka telah melakukan hubungan terlarang.
Bagaimana kisah cinta Presdir tampan bersama adiknya ini selanjutnya?
Mampir dan Ikuti yaah...🙏
Dukung author...🙏
dengan memberi like, rate, hadiah, vote, komentar biar author tambah semangat untuk up terus 😊
Karya ini di terbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia. Isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Ruang meeting yang tadinya cool di penuhi canda tawa berubah panas ketika sang presdir masuk dan duduk di depan mereka. Wajah sangar yang menakutkan, tatapan tajam dan dingin seakan ingin menelan mereka hidup hidup. Nada bicaranya yang keras di sertai luapan kemarahan yang berapi-api membuat mereka merinding ketakutan, wajah pucat, bahkan sampai gemetaran.
Ruang meeting yang di hadiri oleh Para Direktur dari seluruh cabang perusahaan dan anak cabang perusahaan Altezz Company yang berada di seluruh daerah tanah air.
Semuanya kena imbas kemarahan Arley.
Mereka datang secar tiba-tiba setelah mendapat satu pesan yang di kirim oleh Heru lewat group perusahaan.
Masing masing diam di tempat duduk dengan tegang tanpa ada yang berani menyela.
Karena mereka sudah mendapat bocoran mengenai isi pertemuan yang di adakan secara tiba-tiba dan tertutup ini. Membahas tentang pemecatan Riko kepala direktur cabang 2 bersama tiga orang karyawan karena telah melakukan tindak korupsi terhadap uang perusahaan di gunakan untuk kesenangan pribadi.
Sudah berulangkali penggelapan dan pencurian uang kas perusahaan terjadi di perusahaan cabang 2 tapi baru terungkap setelah kejadian semalam. Beredarnya video rekaman cctv yang memperlihatkan Riko mengadakan penawaran dan kesepakatan pada seorang gadis dengan bayaran sebanyak 500 juta rupiah untuk melayaninya selama tiga malam. Terlihat Riko menaruh sesuatu dalam minuman sang gadis yang di duga adalah obat perangsang.
Tapi dalam hal ini tidak di sebutkan nama Ana sebagai perempuan yang di bayar Riko untuk melayaninya. Wajah dan sebagian tubuh Ana di tutupi.
Riko bukan hanya sekali ini melakukan pencurian uang perusahaan tapi sudah berulangkali. Hingga membuat perusahaan mengalami kerugian sebesar 200 miliyar selama dua tahun terakhir.
Setelah pemecatan secara tidak hormat, Riko yang terlihat berantakan dengan wajah dan tubuhnya babak belur penuh lebam di giring ke kantor polisi oleh pihak kepolisian yang menyamar menjadi preman.
Bukan hanya Riko, tapi juga tiga orang kaki tangannya yang ikut membantu dan serta menikmati uang hasil curian yang mereka lakukan bersama.
Dalam pertemuan itu, Arley juga memberi sindiran, peringatan dan ancaman kepada beberapa direkturnya yang melakukan korupsi dalam jumlah kecil. Baik pada perusahaan cabang dan juga anak perusahaannya.
Arley mengetahui hal itu tapi Arley hanya sekedar memberi peringatan pada mereka dan menyuruh mereka segera mengembalikan uang curian sebelum di pecat, serta di tindak lanjuti lebih dalam lagi sama halnya seperti Riko.
Beberapa dari mereka yang merasa terkena sindiran Arley langsung bangkit dari duduknya dan berlutut memohon pengampunan dengan tubuh gemetaran.
Mereka berjanji tidak akan melakukan tindak korupsi lagi serta akan bekerja dengan baik.
Mereka juga berjanji akan mengembalikan uang perusahaan.
Rapat pemecatan Riko sekaligus menguak kasus korupsi terjadi di perusahaan besar Altez Company yang berlangsung sangat panas dan mencekam itu akhirnya berakhir.
Selanjutnya rapat pengangkatan direktur baru perusahaan cabang 2 sebagai pengganti Riko. Mereka di beri istirahat selama 10 menit. Para peserta rapat saling mengemukakan usul dan pendapat bakal calon direktur baru yang dalam pandangan mereka cerdas, berkualitas dan layak menjadi seorang pemimpin.
Selain Ana, Roy, Risma, dan Ririn, ada juga beberapa pegawai dari perusahaan cabang 2 yang hadir di ruang ini.
"Ternyata saat marah, presdir seperti singa kelaparan yang akan mencabik-cabik dan memangsa korbannya.Wajah tampannya berubah sangat seram dan menakutkan." bisik Risma pada Ana, Roy dan Ririn dengan wajah meringis membayangkan kemarahan pimpinannya tadi.
"Ssst diam. Jika pimpinan sampai mendengar ucapanmu, maka tubuhmu yang akan di cabik cabik olehnya." kata Roy dengan tatapan menyeringai.
Tubuh Risma Ririn dan Ana langsung bergidik mendengar ucapan Roy.
Ana sendiri sangat terkejut dan sedikit takut saat melihat kemarahan Arley tadi. Kedua tangannya bahkan sampai gemetaran, meski dia tidak melakukan kesalahan dan menyalahi aturan perusahaan.
Ana tidak menyangka, Arley yang berkata kata lembut tadi kepadanya, mengatakan kata kata cinta, dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang ternyata memiliki sikap tegas, dan keras.
Ana melirik pada Arley yang sedang duduk sibuk dengan berkas berkas keuangan perusahaan cabang 2. Masih terlihat kemarahan di wajah Pimpinannya itu.
"An, lo punya utang cerita pada kami." ucapan Risma membuyarkan lamunannya.
Risman menatapnya lekat.
Dahi Ana mengerut tidak mengerti maksud ucapan Risma.
"Lo nggak cerita semuanya tentang pembicaraanmu sama si bajingan Riko itu. Hingga akhirnya berakhir di hotel." bisik Risma kembali.
"Ho o', Risma benar. Lo nyembunyikan sebagian." timpal Ririn menatap masam pada Ana.
"Ya ampun An, gue benar benar nggak nyangka pak Riko tega melakukan penawaran rendah padamu. Bahkan dia memberimu obat perangsang. Benar benar bejat, biadab tuh orang." kata Roy geram.
Ana mengeluh sedih.
"Tapi syukurlah dia tidak sempat menyentuh mu. Gue nelpon lo semalam kan? Kenapa lo nggak ngomong ke gue. Untung saja semalam ada yang nolongin kamu dikamar hotel." sambung Roy kembali seraya merangkul pundaknya."Seharusnya lo cerita ke gue." kata Riko lagi. Mengelus pundaknya.
"Terus siapa yang nyelamatin lo semalam?" tanya Ririn penasaran.
Ana bingung mau jawab apa. Tak mungkin dia mengatakan Arley yang menolong dirinya."Mu-mungkin orang dari perusahaan. Aku juga bingung kenapa mereka bisa tahu tentang keberadaan ku di kamar hotel itu." jawabnya gugup.
"Mungkin saja mereka memang sudah mengikuti pak Riko dan menangkap basah pada saat bersama dirimu." kata Roy.
"Ok Ana, nevermind about it. Sekarang katakan kenapa lo di undang Presdir tadi keruangannya? Lo lama banget di dalam sana." tukas Risma mengalihkan pembicaraan. Dia menatap Ana lekat.
Ririn dan Roy juga ikut menatapnya karena ingin tahu.
"Hayoo kenapa___ kalian ngapain?" tanya Ririn senyum senyum menggodanya.
"Ih Ririn, apaan sih, mikirnya kotor melulu." Desis Ana kesal. Dia bingung harus jawab apa. Otaknya yang hanya tinggal setengah sendok teh itu cepat berpikir.
"I itu...eee... pimpinan mengintrogasi aku tentang kejadian semalam...iya...itu." katanya gugup dan langsung mengulas senyum. Akhirnya dia bisa mendapatkan alasan kedatangannya ke ruang Arley.
"Ya ampun, dasar brengsek, katanya pak Heru sudah memberikan alasan kepada Risma Ririn dan Roy. Tapi mereka malah menanyakan kepada diriku. Huh brengsek." batin Ana mengumpat Arley. Dia menoleh pada Arley dengan kesal. Bertepatan dengan Arley juga menoleh kepadanya.
Ana kelabakan langsung membuang mukanya ke arah lain, menghindari tatapan tajam mata lelaki itu.
"Apa dia tahu aku sedang mengumpatnya lagi?" batin Ana tidak tenang.
"Kenapa dia menatapku kesal begitu?" batin Arley masih menatap Ana dari seberang.
"Oohh begitu__kirain lagi ngapain." kata Ririn penuh arti sambil tertawa kecil.
Ara kembali mendesis kesal padanya.
Ponsel Ana bergetar. Dia segera membukanya. Sebuah pesan masuk, segera di bacanya.
"Sayang, aku tidak suka tangan temanmu itu meluk meluk dirimu. Suru dia menjauh darimu jangan dekat dekat apalagi menyentuh mu. Kalau tidak akan ku potong tangannya." pesan dari Arley.
Dahi Ana mengerut,"Siapa yang mengirim ini?" batinnya. Soalnya nomor baru, tidak tersimpan pada kontak teleponnya.
"Aku, kekasihmu. Simpan nomorku." pesan berikutnya dari Arley melihat wajah Ana bingung.
"Kekasih?" batin Ana kembali tambah bingung. Karena dia merasa tidak punya pacar. Tapi tiba-tiba matanya membulat begitu teringat sesuatu
Ana terkejut, dia segera menoleh pada Arley.
Pria itu menatapnya tajam, lalu kembali ke berkas di depannya.
Ana mendengus kesal dalam hati. Dia berpikir bagaimana caranya melepas Roy dari bahunya. Khawatir Roy akan tersinggung. Padahal itu sudah kebiasaan Roy ke pada mereka bertiga. Terutama pada dirinya saat sedih dan punya masalah. Kepada mereka bertiga, Roy sangat peduli.
Ana mengambil pulpen dari dalam tas. kemudian pura pura di jatuhkan. Lalu dia segera menurunkan tubuhnya ke bawah sehingga rangkulan tangan Roy lepas dari bahunya.
"By the way, menurut kalian siapa yang bakal mengganti posisi si 'player ' PK itu?" kata Risma seraya menoleh pada beberapa pegawai senior dari perusahaan cabang 2 yang berada di meja sebelah.
Ana, Roy dan Ririn mengikuti pandanganya.
"Siap pun dia, aku harap tidak memiliki tabiat buruk seperti mantan bos kita." kata Roy.
"Menghargai dan melindungi harga diri karyawan terutama karyawan perempuan." sambung Ririn.
"Dan yang lebih penting buka seorang PK( penjahat kelamin) seperti si bejad Riko." tambah Risma.
Heru mengetuk meja yang berarti rapat akan di lanjutkan kembali.
Semua peserta rapat kembali duduk teratur di tempat masing masing. Arley dengan gagahnya duduk di kursi kebesarannya.
"Uuhhhh, tampan banget ya presdir kita. Betapa gagahnya dia duduk di kursi kebesarannya. Tatapannya yang dingin serta tajam bikin halu dan deg degan." celetuk Ririn terpukau memandangi wajah Arley yang dingin dan angkuh tapi tidak mengurangi ketampanannya.
"Diam Rin, Jangan berisik." bisik Risma menekan telunjuk di bibirnya.
Senyum manis Ririn langsung pudar mendengarkan ucapannya. Dia langsung me rets bibirnya dan diam.
Ana secara sembunyi sembunyi melihat pada Arley. Jujur sebagai wanita normal, dia juga terpukau melihat sala satu ciri khas dari pimpinannya ini. Memiliki mata yang tajam dan dingin, tapi indah berkelopak monolid dengan alisnya yang tegas. Membuat wanita manapun akan luluh, terpana dan kepincut melihatnya.
Ana senyum malu memperhatikannya
secara diam-diam.
"Kenapa lagi dia? Tadi melihatku dengan kesal, sekarang senyum senyum begitu?" batin Arley yang tahu Ana selalu mencuri pandang padanya. Wanita memang sulit di tebak jalan pikirannya.
Tiba tiba Arley tersenyum tipis, terlintas sebuah ide jahil untuk mengerjai gadis ini.
"Nona Attilah Nasya Ardillah." panggilan sedikit keras membuat Ana terperanjat dan langsung mengalihkan pandangannya pada arah suara.
Arley__Iya__ Arley yang memanggilnya membuat tubuhnya langsung tegang.
"Ya tuhan, kenapa dia menyebut namaku? Apa dia tahu aku sedang memikirkannya? apa dia seorang paranormal sehingga bisa tahu saat aku memikirkannya?" batin Ana gelisah.
"I_iya pak." jawabnya gugup dan segera berdiri.
"Katakan, seorang pemimpin yang baik dalam pandangan anda seperti apa?" Tanya Arley tersenyum menyeringai melihatnya kelabakan dan gugup.
Mata Ana membulat mendengar pertanyaan tiba tiba itu. Dia berpikir cepat.
"Jujur, bertanggung jawab, cerdas. Dan yang paling penting, menghargai karyawan, menjadi contoh yang baik bagi karyawannya." jawabnya dengan cepat.
Arley tersenyum tipis mengakui kecerdasan gadis ini, hanya dalam waktu 5 detik langsung bisa menjawab pertanyaannya.
Arley mengalihkan pandangannya pada Roy.
"Pak Roy."
"Siap pak." Roy langsung menjawab di antara keterkejutannya, lalu dia segera berdiri.
"Kemari." Arley memajukan tangannya. Menyuruh Roy ke depan.
Sedikit deg degan Roy langsung melangkah mendekat kursi pimpinannya. Semua mata mengarah padanya.
Arley segera berdiri, begitu Roy tiba di dekatnya. Roy semakin tegang dan sedikit takut atas pemanggilannya ke depan.
"Apa aku membuat kesalahan?" batinnya.
"Seseorang berkata kepada ku, bahwa kinerja anda di perusahaan cabang dua sangat baik. Bukan hanya di kantor tapi juga di lapangan. Anda sosok pekerja keras yang tekun bekerja untuk kemajuan perusahaan. Anda juga jujur, bertanggung jawab, cerdas, rendah hati, memiliki empati pada sesama sahabat dan karyawan. Selalu memberikan ide kreatif untuk perubahan dan kemajuan perusahaan." kata Arley menatapnya."Dan aku percaya pada ucapan orang itu." kata Arley seraya melirik pada Ana.
Ana tersenyum, mengerti siapa orang yang di maksud Arley. Yaitu dirinya.
"Oleh karena itu, aku mengangkat dirimu menjadi Direktur perusahaan cabang 2 menggantikan direktur yang lama. Selamat atas jabatan barumu pak Roy Mantovani." ucap Arley kembali sambil menyodorkan tangan kanannya pada Roy yang langsung di sambut Roy tanpa sadar.
Roy terbelalak mendengar ucapannya. Dia benar-benar sangat terkejut. Terdengar tepuk tangan dari Ana, Risma dan Ririn.
"Selamat pak Roy." kata mereka.
Roy masih tidak percaya dengan jabatan barunya sebagai Direktur.
Dia tertawa kecil, senang, sekaligus sedih.
"Apa ini benar? ini bukan mimpi kan?" ucapnya masih tidak percaya. Dia mencubit kuat pipinya, lalu menjerit. Penghuni ruang rapat itu tertawa melihat tingkah lucunya.
Roy tertawa, matanya berkaca-kaca. Tanpa sadar dia mengambil tangan kanan Arley dan menjabatnya erat.
"Terimakasih atas kepercayaan dan amanah yang bapak berikan pada saya. Saya berjanji tidak akan mengecewakan bapak, saya akan bekerja keras dan mengabdikan diri pada Altezz Company." katanya antusias penuh semangat.
Arley mengangguk dan menepuk bahunya pelan. Lalu menoleh pada Ana yang sedang tersenyum padanya. Arley segera keluar dari ruangan itu menuju ruang kerjanya, di ikuti Heru dan Joy.
Roy mendapat ucapan selamat dari semua yang ada di situ. Meski ada beberapa orang yang tidak begitu senang dengan jabatan direktur yang di berikan padanya. Mereka menganggap Roy masih terlalu muda, tidak cukup berkompeten untuk menjadi seorang Pemimpin.
...Bersambung....
Jangan lupa dukung author ya dengan memberi like, komentar, hadiah Kopi, bintang lima dan vote 🙏 Terimakasih 🙏
plisss buat season 2 nya