Suatu hari seorang pemimpin Squadron tentara Khusus bernama Mayor Eldric sedang menjalankan misi khusus bersama pasukannya. Namun, tanpa diduga pada saat pasukan itu hendak pulang mereka tidak sengaja bertemu dengan pasukan musuh dan terkena serangan dari rudal yang dilepaskan pasukan itu. Tersadar setelah Helikopter yang mereka tumpangi jatuh Eldric kini telanjang bulat di tengah hutan?
Kehilangan sebagian ingatan, dia menemukan bahwa dia dipanggil dengan nama berbeda, Allsbert.
Allsbert sendiri kemudian bertemu dengan Seorang Wanita Elves cantik yang terkutuk.
Bagaimana perjalanan Allsbert di dunia yang berbeda dengan dunianya dulu itu?
Genre: Fantasi, Aksi, petualangan, Dunia Lain ( isekai ), Romantis, Survival, Perang, Kerajaan, Zero to Anti-Hero
Original. Update? Saya usahakan sehari 1x pada jam 19.30 WIB. So, Jangan lupa masukin ke Favorit dan rak buku kalian ya! Thank You. Happy Reading~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lana_Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka
" Hah... Hah... Hah " Deru nafas tak beraturan datang dari seorang yang memiliki badan kecil selayaknya anak berusia tiga belas tahun.
Anak itu berusaha tetap berdiri sembari memegangi batang tombak yang telah patah, yang sekarang menancap di mayat serigala di bawahnya.
Tombak sepanjang satu setengah meter itu kini berubah hanya sepanjang setengah meter dan berlumuran darah.
Keadaan tombak itu seperti halnya pemiliknya kini yang juga telah penuh dengan darah dan luka di sekujur tubuhnya.
" Tuanku! " Panggil Archilles cemas dengan nafas yang juga tersengal-sengal.
Allsbert mengadahkan telapak tangannya untuk mengatakan tidak apa.
Namun, kata "Tidak apa" sepertinya kurang tepat untuk saat ini. Terutama untuk tubuh Allsbert yang terluka cukup parah disana-sini.
" Tuan? Tangan Anda? Tubuh Anda! " Seru Archilles cemas.
Archilles memandang Allsbert dengan rasa khawatir yang tidak dibuat-buat. Itu sungguhan. Rasa cemas yang sungguhan diperlihatkan Archilles saat melihat luka-luka di sekujur tubuh Allsbert.
Diingatkan seperti itu, Allsbert kemudian melihat pergelangan tangan kirinya yang menjuntai ke bawah itu sejenak.
Di pergelangan tangan kiri Allsbert nampak terdapat seperti ada dua lubang bekas gigitan yang mengeluarkan darah segar.
Di sekitar luka itu sendiri tertutupi darah sehingga luka di bagian itu sebenarnya tidak terlalu nampak. Tapi yang jelas itu sangat parah. Tulang tangan kirinya jelas patah atau bahkan hancur hingga Allsbert tidak dapat menggerakannya sekarang. Adapun darah-darah segar menetes-netes ke tanah.
Tidak hanya di tangannya saja, sebenarnya hal itu nampak juga terdapat di kaki kanannya dan bekas cakar memenuhi beberapa bagian tubuhnya.
Sebenarnya Archilles juga nampak terluka parah di tubuhnya. Tapi tidak separah dan seperti Allsbert, luka-luka di tubuh Archilles itu tidak terlalu berbahaya karena luka itu dengan cepat akan memulihkan diri juga.
Allsbert kemudian menjatuhkan diri ke belakang, duduk menimpa mayat serigala.
" Hah.. Hah.. Ambilkan aku kain! " Perintah Allsbert.
Archilles segera mengambilkan semua kain yang dimiliki Allsbert.
" Bantu aku dan robeklah kain itu! "
Allsbert menunjuk ke sebuah baju lengan panjang berwarna krem yang dibawanya.
Allsbert memerintahkan Archilles untuk merobek baju itu untuk ia gunakan sebagai perban.
" Ambilkan aku ranting itu! " Perintah Allsbert menunjuk kepada ranting sedang yang berada ditumpukkan kayu bakar.
Archilles kemudian mengambil kayu itu sesuai perintah Allsbert. Allsbert menerima kayu itu.
" Setelah aku mengigit kain ini, tolong ikatkan robekan kain itu dengan kencang ke pergelangan tanganku! " Perintah Allsbert lagi kepada Archilles.
Archilles menganggukan kepalanya seraya berucap, " Baik, Tuan. "
Allsbert kemudian mengigit kain sesuai perkataanya dan menaruh kayu di samping pergelangan tangan kirinya itu.
" Seperti ini Tuan? " Tanya Archilles mengikatkan kain ke pergelangan tangan Allsbert yang berdarah-darah itu.
" Rehih ( Lebih ) " Ujar Allsbert dengan isyarat tangan. Allsbert sendiri berusaha menahan sakit dengan mengigit kain itu.
Setelah selesai. Dibantu oleh Archilles, Allsbert memasang juga perban di kakinya berusaha menghentikan pendarahan.
Kemudian ia merobek satu baju lagi yang ia gunakan untuk membalut luka cakaran di badannya.
Darah meresap dan membuat kain-kain itu basah berwarna merah tua. Meskipun darah masih keluar akan tetapi itu tidak sederas tadi.
Allsbert kemudian melepas kain itu dari mulutnya dengan tangan kanan.
" Hah.. Hah... Aku hanya bisa berharap luka ini tidak infeksi dan pendarahannya berhenti. Lalu, apakah masih ada lagi? " Tanya Allsbert kepada Archilles.
Allsbert menanyakan apakah masih ada kawanan serigala yang mungkin akan menyerang lagi.
Allsbert tidak menyangka jika tambahan jumlah 10 yang menyerangnya semalam itu bukanlah jumlah maksimum dari para serigala keparat itu.
Kenyataanya para serigala itu terus berdatangan hingga Allsbert tidak ingat untuk bisa menghitung berapa jumlah pasti serigala yang ia kalahkan.
20? 30? Begitu banyak mayat serigala bergelimpangan di sekitar Allsbert.
" Sudah tidak ada, Tuan! Saya pikir mereka ini sudah semuanya! " Jawab Archilles melihat ke sekeliling.
" Begitukah? " Ujar Allsbert singkat.
Dengan kabar bahwa sudah tidak ada serigala yang akan menyerang mereka lagi, Allsbert menjadi sedikit tenang. Namun, itu bukanlah hal baik sama sekali. Adrenalin Allsbert menurun dan itu membawa suatu hal yang krusial bagi Allsbert.
Allsbert kini mulai tambah merasakan rasa sakit yang sebelumnya tidak begitu dirasakannya. Sekujur tubuhnya merasakan perasaan sakit dan perih. Kepalanya pusing karena kehilangan banyak darah.
Pandangan Allsbert berkunang-kunang dan Allsbert mulai tak sadarkan diri.
...****************...
Pagi hari. Lima jam semenjak penyerbuan kawanan serigala gigi pedang semalam.
Allsbert selamat dan bangun menyender di sebuah pohon sedang memandangi sebuah pergerakan di tubuh serigala yang sudah tidak bernyawa.
Jika diamati lebih teliti akan mengetahui bawah pergerakan itu dihasilkan oleh dua ekor serigala kecil yang tidur di antara tumpukan mayat-mayat serigala.
Karena keberadaan mereka tidak terlalu mengancam, Allsbert membiarkannya. Lagipula tubuh Allsbert sekarang terasa begitu sakit, meskipun lelahnya telah berkurang.
Sebenarnya, mungkin saja Allsbert memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Namun, Allsbert lebih memilih untuk beristirahat.
Untuk saat ini Allsbert bersyukur bahwa lukanya tidak mengalami tanda-tanda infeksi dan sepertinya pendarahannya juga telah berhenti.
Walaupun pendarahan di tubuhnya telah berhenti, namun luka itu tidaklah dapat sembuh semudah milik Archilles. Sehingga rasa sakit masih dapat dirasakan Allsbert terutama di tangan kiri dan kaki kanannya.
Namun, Allsbert sendiri kini di haruskan untuk tetap bersiaga dengan tombak ada di tangan kanan. Karena sekarang Archilles tidak sedang berada di tempat itu.
Alasan kepergian Archilles cukup sederhana. Setelah menjalani pertempuran dengan para serigala yang tiada henti seperti semalam membuat Allsbert kehausan.
Lagipula sejak makan malam kemarin Allsbert dan Archilles sendiri tidak meminum apapun. Karena masalah itulah, Archilles kini sedang melaksanakan perintah Allsbert untuk mencari air minum.
Allsbert kemudian mengalihkan pandangannya menuju sosok yang memandangnya.
" Kau sudah bangun Nona. " Sapa Allsbert kepada sosok yang nampak sedang melihat kepada dirinya.
Allsbert menyapa gadis Elves yang telah bangun kemudian berusaha bangun dari tidurnya.
Gadis Elves itu memandang dengan tampang kebingungan karena melihat banyak mayat serigala bergelimpangan.
" Zer da hau? ( Ada apa ini? ) " Tanya gadis Elves itu.
" Aku tidak paham kata-katamu, Nona. Tapi, aku dapat menebak bahwa kau pasti kebingungan. Yah. Banyak hal terjadi semenjak kau pingsan. Apa yang kukatakan? Lagipula kau pasti tidak paham, bukan? " Ungkap Allsbert.
Allsbert cukup lelah untuk memberikan penjelasan dengan bahasa isyarat.
" K Ka– " Kata Gadis itu terpotong.
Gadis Elves itu nampak membuka mulutnya, namun ragu untuk mengucapkan sesuatu.
" K Ka mu ty dak apa? " Ucap gadis itu kembali.
Allsbert sedikit terkejut karena Elves itu berbicara dengan bahasa yang berbeda. Sesuatu yang dapat dipahami Allsbert walau terbata-bata.
" Yah, aku tidak bisa bilang aku baik-baik saja. Namun, aku sudah bersyukur karena pendarahan di tubuhku terhenti sekarang. "
Allsbert sendiri merasa heran dengan tubuhnya sekarang. Memang ini bukanlah pertama kali Allsbert mengalami luka separah ini. Bahkan Allsbert sudah pernah mengalami luka yang lebih parah pada saat masa perang dulu. Namun, dengan luka yang di deritanya semalam yang sudah pasti itu bisa jadi mengancam nyawanya terutama untuk pendarahan yang ia alami, untuk bisa pendarahan berhenti begitu saja itu hanya membuat Allsbert tak habis pikir.
Allsbert tidak pernah berfikir jika itu sebuah keberuntungan. Tapi, Yah, sejak awal keadaan tubuhnya yang berubah mengecil sudah barang tentu bukanlah hal yang wajar juga.
Allsbert kemudian tersadar dari pikirannya karena melihat pergerakan Elves di pandangannya itu.
" Apa yang kau lakukan? " Tanya Allsbert.