Aku masih mengingat beberapa bulan yang lalu, aku bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi. Setelah mengalami patah hati terburuk sepanjang hidup aku, 5 hari lamanya aku berteman alkohol, dan air mineral, tidak sesuap nasi pun masuk ke lambung ku. Tiba-tiba aku suka membenturkan kepalaku ke dinding agar aku bisa lupa tentangmu.
Aku Farel pria dari keluarga biasa, hidup susah memiliki pacar bernama Joanna yang kemudian meninggalkan aku dan memilih Dave pria kaya, aku memiliki banyak kenangan dengan Joanna, bahkan Ibu dan Ayahku sudah sangat sayang kepadanya.
Aku patah hati setelah dia meninggalkan aku, seorang perempuan bernama Naina yang sudah lama memendam cinta kepadaku mengobati kesepian dan sakit hatiku, Ibuku dan Ayahku mendukung aku untuk menikahi Naina.
Aku mencoba mencintai Naina, apakah aku bisa mencintai Naina seperti saat aku mencintai Joanna?
Aku bekerja dengan Seorang Mafia Kaya raya, dan aku baru tahu kalau Joanna menikah dengan anak Bos ku, aku berniat balas dendam untuk menghancurkan mereka, apakah bisa aku menghancurkan Mafia besar seperti Pak March? Pak March memilik Putri yang sangat sombong dan jutek, bagaimana kisahku dengan Paula nanti? Jangan lupa like yah.terimahkas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartinA Felicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga
Aku menghampiri Paula, dia sedang duduk di makam ibunya. Dia masih menangis, wajahnya merah.
“Paula, kenapa kamu menangis?” Tanyaku.
Dia menoleh, “Dari mana kamu tahu aku di sini?” Tanyanya heran.
“Itu tidak penting, sekarang aku akan menjemputmu, hari ini Pak Dave bertunangan, apa kamu tidak senang kakakmu bertunangan?” Tanyaku.
“Aku senang.” Jawabnya singkat.
“Lalu kenapa kamu ada di sini?” Tanyaku lagi.
“Bukan urusanmu.” Ucap Paula jutek.
“Dalam keadaan sedih aja, dia masih bisa sejutek ini.” Ucapku dalam hati.
Aku masih diam dan berada di sampingnya, aku tungguin dia. Lagi pula aku malas berada di pesta Dave, aku tidak sudi melihat Dave melingkarkan cincin di jari manis Joanna.
“Ngapain kamu masih di sini?” Tanya Paula.
“Aku menemanimu Nona.” Jawabku.
“Aku tidak butuh teman.” Ucap Paula.
“Nona Paula, kamu sedang bad mood, aku tahu caranya bagaimana caranya agar mood mu kembali baik.” Ucapku.
“Aku tidak perlu saran darimu.” Ucap Nona Paula masih ketus.
“Baiklah.” Jawabku.
Gerimis mulai turun, Paula mulai basah, dan aku mengajaknya untuk berteduh dan masuk ke dalam mobil.
“Nona Paula, kita masuk ke mobil yah, ini gerimis semakin deras, Nona bisa sakit.” Kataku.
“Gak, kamu aja yang pergi.” Kata Paula.
“Nona, aku akan tetap di sini, kalau Nona gak mau pergi dari sini.” Ucapku.
Dia sangat keras kepala, buktinya dia lebih memilih hujan-hujanan dan basah dibandingkan masuk ke dalam mobil.
Dia masih menangis, aku tidak bisa membedakan air mata dengan air hujan yang mengalir di pipinya.
“Nona, ini makam Ibu Nona?” Tanyaku penasaran.
“Iya, dia malaikat buatku.” Jawab Paula.
“Nona merindukan Ibunya Nona? Pasti dia merasa bangga punya anak yang sedang merindukannya.” Ucapku.
“Dia tidak pernah bangga padaku.” Jawab Paula ketus.
“Kenapa Nona berkata seperti itu?” Tanyaku lagi.
Aku memang sengaja mengajak Nona Paula ngobrol, aku ingin dia tidak larut dalam kesedihannya, mungkin dengan melakukan tanya jawab seperti ini, aku bisa mengajaknya berbagi kesedihannya.
“Ibuku meninggal tragis.” Ucap Paula.
“Tragis? Kenapa?” Tanyaku.
“Dia dibunuh.” Ucap Paula.
“Nona tahu kejadiannya?” Tanyaku.
“Aku melihat mereka menbunuh ibuku dengan kejam.” Jawab Paula.
“Lalu kenapa mereka membunuh Ibu Nona? Dan Pak March kan orang hebat, dia pasti ditakuti dan disegani, kenapa orang itu bisa membunuh isteri dari orang yang memiliki kuasa?” Tanyaku.
“Bukan urusanmu.” Jawab Paula lagi.
“Iya, maaf Nona, aku memang kepo.” Jawabku.
Nona Paula mulai bersin-bersin, aku membujuknya lagi masuk ke dalam mobil, kali ini aku melakukan sentuhan sultan, aku memeluknya seolah aku mencintainya. Dia langsung nurut dan ikut denganku masuk ke dalam mobil.
“Nona basah, kita pulang ya ke rumah.” Ucapku.
“Gak, aku gak mau.” Jawabnya.
“Tapi kalau kita gak pulang, Nona bisa masuk angin.” Ucapku lagi.
“Kita ke Butik. Aku mau beli baju ganti di sana.” Ucap Paula.
Aku bersedia menemaninya ke Butik, aku bawa dia ke Butik dan dia belanja baju ganti, dia memintaku untuk membelikan pakaian dalam.
“Buset, aku?” Tanyaku heran.
“Kenapa? Kamu mau membantah perintahku? Aku anak Bos mu.” Ucapnya lagi.!
“Baik.” Jawabku.
Aku meninggalkan Paula di Butik itu, aku pergi ke store yang menjual pakaian dalam wanita yang berada masih di dalam mall itu, para pelayan toko sedikit tersenyum saat aku mencari pakaian dalam wanita.
“Ukurannya apa Mas?” Tanya Pelayan toko.
“Ukuran siapa?” Kataku.!
“Ukuran isteri Mas.” Jawab Pelayan toko tersenyum.
“Aku belum menikah.” Jawabku.
“Maksud saya, yang akan memakai dalaman ini ukuran apa Mas?” Tanyanya lagi.
“Aku tidak tahu masalah ukuran, tapi sepertinya ukurannya kecil.” Jawabku.
Aku membelinya dan menyerahkannya kepada Paula, Paula melihat dan mengatakan, “Ini kan terlalu kecil, gak muat sama aku.” Ucapnya.
“Aku gak tahu.” Jawabku.
“Beliin ukuran M.” Ucap Paula.
“Dan beliin Br* ukuran 34 juga.” Ucap Paula lagi.
Aku kembali lagi ke store itu, aku mencari Br* dan dalaman, aku katakan ukurannya seperti yang dikatakan Paula.
“Br* ukuran 34 A,B,C atau D Mas?” Tanya Pelayan toko itu lagi.
“Saya gak tahu, kasih aja D.” Ucapku.
Aku tidak mau ambil pusing, pertama kalinya aku membeli barang seperti ini, dan aku menyerahkannya kepada Paula.
“Gede amat D?” Ucapnya.
“Nona Paula, lebih baik kegedean biar bisa dipakai sampai kepala lima.” Ucapku.
“Kamu pikir ini apaaan?” Tanyanya lagi.
“Nona, aku sudah beli dan aku gak tahu sizenya, lagian ini juga bagus kan warnanya, ada bunganya lagi.” Kataku.
“Dasar orang kampung.” Ucapnya sambil masuk ke ruang ganti.
Dia menggantinya, dan saat ini dia sudah tidak mengenakan baju yang basah lagi, sedagkan aku mulai kedinginan karena terkena hujan tadi.
“Kamu gak beli baju ganti?” Tanyanya.
“Tidak usah Nona, aku pulang ganti baju di rumah saja, sayang duitnya.” Ucapku.
“Pelit banget sih.” Jawab Paula.
“Gak pelit, tapi aku tidak seperti Nona yang hidup bergelimang harta, aku ini orang susah yang bekerja untuk menjadi tulang punggung keluargaku.” Kataku.
“Yauda, motor kamu gimana?” Tanya Paula lagi.
“Aku menitipkannya di tukang bunga dekat makam, nanti akan kujemput, aku permisi ke rumah dulu ganti baju.” Kataku izin.
“Aku ikut.” Ucap Paula.
“Ikut? Nona... aku akan mengantarkan nona ke rumah, acara pertunangan Pak Dave pasti sudah mulai.” Ucapku.
“Aku mau ikut denganmu, baru kita ke rumahku.” Katanya merengek.
“Dasar keras kepala, kalau tidak dimaui pasti akan berabe urusannya.” Ucapku.
Aku masuk ke dalam mobil, dia duduk di sampingku, kami melaju menuju rumahku. Setibanya di rumah, dia melihat rumahku yang sempit.
“Rumah kamu sempit ya.” Ucap Paula.
“Iya, Nona nunggu di dalam mobil saja yah, aku masuk ke dalam ganti baju.” Ucapku.
Aku turun dari mobil, aku sapa ibuku yang sedang berdiri di pintu rumah. “Ibu pikir tadi siapa yang datang, rupanya kamu Nak. Itu mobil siapa Nak?” Tanya Ibuku.
“Mobil Bos aku Bu, dan di dalam ada anak Bos aku yang galak banget, ibu gak usah lihat-lihat entar dia matok ibu lagi.” Ucapku bercanda.
“Kamu bisa aja. Baju kamu basah, kamu ujan-ujanan dimana?” Tanya Ibuku.
“Panjang ceritanya Bu, tapi ntar aja aku ceritain, sekarang aku buru-buru karena aku mau anter anak Bos aku.” Ucapku lagi sambil mengganti baju.
Paula turun dari dalam mobil, dia melihat bunga yang ditanam ibuku di depan rumah, kemudian Ibu menyapanya.
“Kamu suka bunga juga Nak?” Tanya Ibuku basa basi.
“Gak, aku gak suka. Tapi almarhumah ibuku dulu suka bunga.” Ucapnya sedikit lembut.
kamu baik baiknaja kan?