NovelToon NovelToon
My Arrogant Prince

My Arrogant Prince

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Poligami / Berondong
Popularitas:308.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wardah Rose

Tidur Pangeran Rayyan Muhannad Arnauth tak akan pernah nyenyak jika ia tak bisa mendapatkan seorang wanita yang menghantui mimpinya tiap malam. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menjadikan wanita itu sebagai salah satu selirnya.

Selir? Bilqist sangat membenci status itu. Dia merasa tak jauh beda dengan wanita simpanan yang tak mempunyai status dan dihargai hanya bila tubuhnya mampu menjadi pemuas napsu sang pangeran.

Sampai tulang belulangnya mengering di gurun pasir pun Bilqist rela. Asalkan dia tidak akan pernah menjadi selir Rayyan Muhannad Arnauth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga

Setelah mereka selesai makan malam, Imran kembali bersama dengan chef untuk membereskan meja mereka. “Istirahatlah, besok kita bicara lagi,” kata Rayyan pada Bilqist. Bilqist hanya menatap Rayyan dan ketika ia hendak meninggalkannya Bilqist baru tahu maksud Rayyan. Ia mengucapkan salam pada Bilqist. “Wa’alaikumussalam,” jawab Bilqist.

Ia menarik napas panjang setelah Rayyan dan pengawalnya meninggalkan ruangan. Harum parfum Rayyan masih tertinggal di udara. “Ini adalah definisi ‘goodbye perfume' sebenarnya,” bisik Bilqist. “Orangnya udah pergi, parfumnya ketinggalan.”

Bilqist menggerakkan kakinya. Beruntung kakinya tak merasakan lidah cemeti jadi kakinya tak merasakan sakit. Ia menurunkan kakinya dan mencoba ke kamar kecil. Bilqist berhenti bergerak ketika berdiri karena merasakan pening tiba-tiba. Ia memijit pelipisnya dan duduk di tepi ranjang sampai pening itu sedikit reda.

Setelah beberapa waktu, Bilqist berhasil mencapai kamar kecil. Ia memperhatikan wajahnya yang sembab dan tak peduli dengan itu. Yang ia perhatikan adalah perban di lengannya. Bilqist melihat punggungnya dari cermin. Ia tak ingin membuka balutan luka yang sudah rapi itu meskipun sangat ingin tahu seberapa parah lukanya, tapi bayangan bagaimana sakit rasanya tadi ketika dicambuk Bilqist tahu kalau ada lukanya yang cukup dalam. “Ini ninggalin bekas kayanya.” Bilqist menghela napas panjang.

Ia menutup rutinitas malamnya dengan menggosok gigi lalu kembali ke ranjangnya. “Jadi, apa yang kulakukan sekarang?” Di saat seperti ini dia sangat merindukan ponselnya. Ia ingin segera menelepon keluarganya tapi tidak bisa sekarang. Dokter Aisyah tidak kembali ke kamarnya. Dia hendak menggerakkan jarinya untuk memencet tombol agar bisa memanggil perawat atau dokter yang berjaga ... tapi Bilqist menahan diri. Sekarang sudah malam dan seharusnya tombol itu digunakan untuk keadaan darurat. “Besok mungkin bisa, Dokter Aisyah tadi mau membantu. Besok ia datang untuk memeriksa lagi,” bisiknya untuk menghibur diri.

Hal kedua yang akan ia lakukan kalau mendapatkan ponsel adalah menggunakan aplikasi penerjemah. Susah sekali berkomunikasi kalau tidak bisa bahasa lokal. Dan yang pasti akan Bilqist lakukan adalah browsing tentang Rayyan.

Jika Bilqist tak memikirkan nasibnya saat ini, dia akui bahwa Rayyan adalah salah satu pria paling menarik yang pernah ia temui selama ini. Ia pasti berduit, well karena beneran anak SULTAN, iya kan? Tapi selain itu, selain ketampanan yang di atas rata-rata dan kenyataan bahwa Rayyan yang bersusah payah menggendongnya hingga sampai ke rumah sakit membuat Bilqist merasa ada sesuatu yang berbeda dari dirinya.

Adalah suatu yang normal kalau seorang wanita menganggap perhatian yang diberikan Rayyan membuat salah tingkah. Bukan GR, tapi Bilqist merasa memang apa yang dilakukan sang pangeran menunjukkan bahwa Rayyan menyukainya. Kadangkala hambatan komunikasi menggunakan lisan membuat orang lebih peka dengan bahasa lain. Bahasa tubuh.

****

Bilqist sangat terkejut mendengar suara Rayyan yang pagi-pagi sudah datang mengetuk pintu kamarnya. “Shabahul Khair,” sapa Rayyan padanya. (Selamat pagi.) Dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan terawat. Senyum itu sendiri bisa mengalahkan indahnya mentari pagi. Apalagi wajahnya yang terlihat segar dengan bulir-bulir keringat dari rambut ikalnya. Untung saja Bilqist memang terbiasa bangun pagi dan sudah membersihkan diri. Dia tak ingin kelihatan memalukan di depan orang penting di negara ini.

Sulit rasanya menjaga mata agar tak memperhatikan penampilan Rayyan. Meskipun hanya memakai celana olahraga polos berwarna hitam dan kaos oblong sewarna saja dia tak tampak seperti orang kebanyakan.

Rayyan membawa seikat bunga yang ia bawa di tangannya. Bilqist tahu bahwa budaya masing-masing negara berbeda, di Indonesia sangat jarang teman membesuk orang yang sakit membawa seikat bunga. Apakah di Julunda juga ada budaya seperti ini?

“Ini untukmu,” kata Rayyan meletakkan bunga ke ranjang Bilqist. Sebuket mawar, lili, aster dan Daisy. Terlihat berwarna-warni dan sangat cantik.

“Terima kasih,” jawab Bilqist sambil tersenyum.

“Di seberang rumah sakit ada toko bunga. Ketika aku lari pagi aku mampir sebentar.”

Dokter Aisyah masih belum ada di antara mereka jadi Bilqist tahu bahwa percakapan di antara mereka berikutnya mungkin tidak akan nyambung. “Di bawah tadi aku ketemu tukang kebun rumah sakit, jadi aku minta dia potekin bunga buat kamu.” Kira-kira begitulah apa yang ditangkap oleh Bilqist dari kalimat Rayyan. Kalimat itu lebih masuk akal daripada Rayyan sendiri yang memetik bunga. “Yah kan anak Sultan, gitu.”

Ia mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban untuk Rayyan. “Bunganya cantik, terima kasih.”

Ada kehangatan yang menelusup di dada Rayyan ketika Bilqist tersenyum dan melihat ke mata Rayyan langsung.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Rayyan kemudian. Ia memasukkan kedua telapak tangannya ke saku.

Ah Bilqist tahu kalimat itu. Itu pertanyaan standar ketika berkenalan dengan orang “Kaifa haaluki?” dan Bilqist menjawabnya dengan jawaban standar, “Alhamdulillah anaa bi Khair, wa anta?”

Rayyan tersenyum melihat Bilqist yang sepertinya senang sekali memahami apa yang dikatakan Rayyan. “Aku baik.”

Rayyan kemudian menarik kursi dan kemudian duduk.

Meskipun Bilqist sangat menyukai penampilan pangeran Rayyan, bahkan mungkin saja jiwa Fangirl-nya meronta-ronta, tapi tetap dia merasa bahwa tidak tepat kalau mereka berdua saja di ruangan itu.

Bilqist melihat ke arah pintu dan mengerutkan dahinya.

“Ada apa?” tanya Rayyan. Bilqist belum menjawabnya tapi Rayyan menyimpulkan sendiri. “Aah kamu pasti lapar? Makanan akan datang sebentar lagi dan kita bisa sarapan bersama.”

Meskipun Bilqist belum mempelajari bahasa Julunda, tapi dia sempat menghafal beberapa kata yang dipakai dalam bahasa Nu’mani. Pada dasarnya ada dua macam bahasa yang biasa dimengerti orang-orang Timur Tengah, yaitu Fusha dan Amiyyah. Fusha adalah bahasa Arab baku, bahasa ini bisa dimengerti hampir oleh semua orang dari negara manapun yang termasuk dalam jazirah Arab. Sedangkan Amiyyah adalah bahasa yang digunakan oleh bangsa negara tertentu. Jika mengerti bahasa Arab, maka akan mudah untuk memahami bahasa negara Julunda ataupun Nu’mani.

Bilqist mengenali kata makanan dalam kalimat yang diucapkan Rayyan. Sebenarnya bukan itu yang menggangu Bilqist tapi ia mengangguk saja.

Rayyan tahu bahwa apa yang ia katakan tidak sama dengan apa yang mengganggu pikiran Bilqist. Bisa terlihat dari matanya. Rayyan menunggu Bilqist bicara, tapi Bilqist tak melakukannya.

Satu menit penuh dalam keheningan. Bilqist tak tahu bagaimana cara untuk memecah keheningan karena apa yang ia katakan mungkin Rayyan tak akan mengerti.

Rayyan memperhatikan Bilqist. Ia terlihat diam saja sambil menunduk. Pandangannya selalu menghindar dari tatapan Rayyan. “Orangtuamu berhasil mengajar kamu dengan baik,” pujinya. Rayyan sudah terbiasa dengan tatapan mata tiap wanita ketika ia lewat atau berada di suatu tempat yang ramai. Ia tahu bahwa menghindari tatapan mata ke lawan jenis itu adalah suatu perintah tapi mereka cenderung melupakannya.

Sedangkan Bilqist, ketika mereka bicara Bilqist tak sampai dua detik lamanya menatap mata Rayyan. Dia lebih memilih melihat kancing kemeja Rayyan. Sekarang karena Rayyan memakai kaos, Bilqist lebih memilih melihat logo yang di bagian dada kanan.

Kalimat Rayyan membuat Bilqist menatapnya. “Orangtua,” ulang Bilqist. Dia tahu satu kata itu.

“Aku harus menghubungi orangtuaku. Aku butuh telepon, Anda bisa meminjamiku telepon?” tanya Bilqist dengan suara memohon.

1
Dewi Djordan
bakal di up g nih atau selesai sampai dsini ?( nanya dgn nada lembut)
Dewi Djordan
bggussssss
Mey Kusrini
hadeeeh
Mey Kusrini
saya suka Al bobol wifi
Mey Kusrini
salam saya pembaca baru pengen langsung skiming aza
Mey Kusrini
ga sabar mau melihat matanya😂
Mey Kusrini
Luar biasa
Erni Fitriana
keren👍🏾
buna
muhannad tuh apa😭
Eskael Evol
keren banget
Eskael Evol
keren thor syukron doa nya🙏
Nuning Setiyawati
ini gak ada ending nya ya thor
novi taurusita
selalu setia menanti kak
Dian Kartika Dewi
hai author. sehat2 ya . kapan lanjut cerita. udah lama nungguin lanjutannya. semoga segera update ya.
bank sha one
aku nunggu up nya othor tayangkuuuh
Babo Saram
ini tidak ada kelanjutan'a ya?
Dewi Djordan
cerita yang sangat menarik,alur y bagus,, tapi sayang up y lamaaa bangetttt,rasanya udah 1 tahun lebih nunggu
Fitri Octawaty
jangan lama lama lanjitin cerita,aku penasan ini🤔🤔🤔
Verdut Ndut
thor kpn up lg suwiii nya torrr 😩😩😩
novi taurusita
karyanya yang bagus sekali, suka dengan tokoh dan alurnya. tak bosan-bosannya untuk melihat up selanjutnya. semangat kakak semoga sehat selalu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!