Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tawa Tuan Aditama meledak hambar, memantul dingin di dinding kaca yang menjulang sampai plafon. Pria itu berdiri membusungkan dada, memamerkan lembaran berstempel merah seperti piala kemenangan.
Di belakangnya, Bima menatap Kirei dan Arka dengan cengiran puas yang licik. Topeng anak baiknya sudah copot total, menyisakan kerut dendam yang gamblang.
"Surat kuasa penyerahan seluruh saham Wijaya Group," ujaran Tuan Aditama lambat-lambat, mengeja tiap kata seolah hendak menikmati tiap tetes ketakutan di ruangan itu. "Tanda tangan basah Tuan Wijaya sebelum beliau tidak sadarkan diri. Notarisnya pun sah."
Om Wijaya mundur setindak, mukanya pucat pasi. "Enggak mungkin... Kakek mana mungkin menandatangani surat semacam itu!"
"Buktinya jelas di tangan saya, Wijaya," potong Tuan Aditama tanpa perasaan. "Mulai detik ini, gedung ini, seluruh aset, sampai urusan dapur perusahaan di bawah kendali Aditama Corp. Kalian..." matanya menusuk Kirei dan Arka, "...bukan siapa-siapa lagi di sini."
Ulu hati Kirei serasa dihantam tinju mentah. Jemarinya mencengkeram lipatan rok hitamnya sampai buku jarinya memutih. Kalau kertas itu legal, hilang sudah semua kerja keras mereka semalaman. Kakek bakal bangkrut total, dan pernikahan kontrak ini akan terkelupas tanpa ada benteng hukum yang melindungi.
Arka justru melangkah maju di tengah kepanikan yang melumpuhkan itu.
Gerakannya kelewat santai. Kedua tangannya disusupkan ke dalam saku jaket kulit hitam, melangkah santai sampai berjarak selangkah dari Tuan Aditama. Senyum miring yang provokatif terukir di bibirnya.
"Boleh juga gaya Lo, Pria Tua," celetuk Arka ringan, penuh nada ejekan. "Datang subuh-subuh, bawa-bawa kertas merah, lalu teriak paling nyaring."
Bima membelalak, pasang badan dengan dada dijbusungkan. "Jaga mulut Lo, Arka! Di depan Tuan Aditama, Lo cuma berandalan enggak berguna!"
Arka bahkan tak sudi meliriknya. Matanya terkunci lurus pada Tuan Aditama.
"Kertas merahnya bagus," sambung Arka, matanya menyipit picik. "Cuma ada satu masalah kecil. Notaris yang membubuhi stempel di situ... bukannya Pak Lukman?"
Tuan Aditama menaikkan sebelah alisnya, raut mukanya kaku seketika. "Memangnya kenapa kalau Pak Lukman?"
"Sayang banget," Arka mencabut satu tangannya dari saku, menepuk udara secara dramatis. "Pak Lukman sudah dicokok polisi di bandara Soekarno-Hatta dua jam lalu. Kasus pemalsuan dokumen negara dan pencucian uang."
Deg!
Muka Tuan Aditama mendadak menegang. Warna darah seolah surut dari wajahnya dalam sekejap.
Arka merogoh ponsel dari saku, lalu memutar layarnya ke arah Pak Hartawan dan perwakilan dinas di ujung meja.
"Satu jam sebelum kita kumpul di sini, tim hukum Om Wijaya dibantu teman-teman gue sudah memantau Pak Lukman yang berniat kabur ke Singapura," terang Arka dengan suara berat dan tenang. "Dan tahu apa yang ditemukan polisi di koper pakaiannya?"
Kirei menyipitkan mata. Dadanya bergemuruh hebat saat menyadari arah permainan Arka. Cowok ini ternyata tak cuma menyiapkan strategi serangan balik untuk sekolah... tapi sudah mengunci pergerakan Aditama sejak awal!
"Cap stempel palsu atas nama Kakek Wijaya," sela Kirei cepat, maju berdiri tepat di samping Arka. Suaranya lantang, menancapkan aura dominan yang bikin Bima mematung. "Serta rekaman pengakuan Pak Lukman yang terang-terangan menyebut dibayar lima miliar oleh Keluarga Aditama untuk memalsukan surat itu."
Arka melirik Kirei sekilas, mengukir senyum tipis penuh rasa bangga. "Tepat sekali, Bu Ketua."
Tuan Aditama meremas jemarinya rapat-rapat sampai kertas merah di tangannya remuk. Tangannya bergetar hebat menahan berang yang mendidih. "Ini... ini fitnah! Kalian menjebak saya!"
"Bukan menjebak, Tuan Aditama," raung sirine mobil polisi bersahut-sahutan dari luar gedung, makin lama makin nyaring. Arka menunjuk ke balik jendela kaca besar yang memantulkan kerlip lampu rotator merah-biru di area pelataran. "Itu tim penyidik Polda Metro Jaya. Mereka datang khusus menjemput Anda dan anak angkat kebanggaan Anda ini."
Lutut Bima mendadak lolos kekuatan. Ia ambruk ke lantai marmer dengan muka pias. "N-nggak... enggak mungkin... Ayah, lakukan sesuatu!"
Tuan Aditama tak punya ruang lagi untuk berkutik. Dua polisi berseragam lengkap bersama tim hukum Wijaya Group menerobos masuk, membawa lembaran surat penangkapan resmi.
"Tuan Aditama dan Bima Putra, Anda kami tahan atas dugaan pemalsuan dokumen, penipuan korporasi, dan konspirasi kejahatan terorganisir," tegas petugas sembari mengunci pergelangan tangan Tuan Aditama dan Bima dengan borgol besi.
Saat Bima diseret keluar ruangan, tatapannya menyapu Kirei dengan keputusasaan yang dalam. Kirei memalingkan muka, membiarkan jemarinya merapat di samping paha. Topeng pahlawan Bima sudah hancur lebur, menyisakan ganjaran atas seluruh teror gila yang diciptakannya.
Pukul 08.00 WIB.
Mentari pagi yang hangat menembus kaca-kaca tinggi Wijaya Tower. Udara di ruang rapat yang tadinya mencekam perlahan melunak. Pihak dinas dan Pak Hartawan sudah pamit balik ke sekolah setelah memastikan nama baik Kirei dan seluruh urusan olimpiade aman seratus persen.
Om Wijaya memeluk Kirei erat-erat, air mata haru menetes di pipinya. "Terima kasih, Kirei... terima kasih, Arka. Kalau bukan karena kalian berdua... perusahaan Kakek pasti hancur."
"Ini semua berkat Arka, Om," tutur Kirei tulus, menatap Arka yang berdiri bersandar di dekat jendela besar.
Arka cuma mengibas tangan santai. "Gue cuma menyusun puzzle yang dikumpulkan Kirei semalaman, Om. Kebetulan anak-anak basket gue jago cari info di lapangan."
Om Wijaya terkekeh lebar, menepuk bahu Arka penuh hormat sebelum pamit untuk mengawal proses hukum di kantor polisi.
Kini, tersisa Kirei dan Arka di ruang rapat yang megah itu.
Kirei melangkah mendekat. Angin dari saluran udara ruangan berembus pelan, membelai beberapa helai rambutnya. Ia menatap profil samping Arka—garis rahang yang tegas, mata cokelat pekat yang tajam, dan bahu lebar yang beberapa hari ini menjadi benteng pelindungnya dari segala badai.
"Arka," panggil Kirei lirih.
Arka menoleh. "Kenapa, Bu Ketua? Masih mau menambah poin aturan di rumah?"
Kirei menggeleng pelan. Sebuah senyum manis dan lepas—senyum yang tak pernah ia perlihatkan utuh pada Arka—terbit di wajahnya.
"Makasih," desis Kirei lembut. "Makasih sudah selalu ada buat melindungi gue. Buat semalam... dan buat pagi ini."
Arka tertegun. Iris matanya yang pekat bergetar pelan mendapati senyuman Kirei yang seketika meruntuhkan sisa pertahanannya. Perlahan, ia mengikis jarak sampai ujung sepatu mereka nyaris bersentuhan.
Arka mengulurkan tangan, menangkup dagu Kirei lembut, membawa wajah cewek itu agar menatapnya lurus.
"Gue sudah bilang, kan?" bisik Arka rendah, hangat napasnya berdesir di dada Kirei. "Selama lo di dekat gue... enggak akan ada satu orang pun yang bisa menyakiti istri gue. Dan itu bukan cuma gara-gara janji gue ke Kakek."
Jantung Kirei berdegup gila-gilaan. "Terus... karena apa?"
Arka menunduk perlahan. Aroma kopi dari napas hangatnya menyapu bibir Kirei. Tepat ketika jarak mereka menyisakan selapis udara, ponsel di saku Kirei bergetar panjang.
Bip! Bip! Bip!
Kirei tersentak kaget, mukanya merona hebat saat refleks melangkah mundur. Arka mendesis pelan, tertawa tipis sembari mengusap tengkuknya.
Dengan jemari gemetar, Kirei merogoh ponselnya, membaca pesan singkat yang baru masuk dari rumah sakit.
"Nona Kirei, Tuan Besar Wijaya sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Kondisi beliau sangat stabil dan beliau meminta Anda serta Tuan Arka datang sekarang."
Kirei mendongak, menatap Arka dengan binar bahagia yang meluap. "Arka! Kakek sudah dipindah ke ruang biasa! Kondisinya stabil!"
Arka menyunggingkan senyum miring, merengkuh jemari Kirei dan menyelipkan jari-jarinya di sela-sela jemari cewek itu. "Ya sudah, ayo ke rumah sakit. Biar Kakek tahu musuhnya sudah beres."
Saat mereka berjalan berdampingan keluar dari gedung tinggi itu di bawah siraman cahaya pagi, Kirei paham satu hal. Pernikahan kontrak yang berawal dari paksaan dan denda tinta merah ini telah bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah ikatan nyata yang tak bisa dipisahkan oleh siapa pun lagi.