NovelToon NovelToon
Pesona Guru KB

Pesona Guru KB

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Chicklit / Tamat
Popularitas:121.8k
Nilai: 5
Nama Author: @Widiawati

Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,

Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.

Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.

Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakso yang malang!

Matahari hari ini bersinar cerah, langit pun terlihat sangat bersih. Mungkin dikarenakan sehari semalam hujan turun dengan deras menjadikan awan kumulonimbus tak nampak lagi. Hanya serambut awan putih yang menghiasi birunya langit.

Sedari pagi, Rena telah disibukan dengan Hizam. Pagi ini dia agak rewel, mencari-cari bapaknya, bertanya berkali-kali membuat Rena hampir saja kehilangan kendali. Hingga akhirnya Hizam tak berani menanyakan Banu lagi.

Deru motor mendekat, Rena yang sedang bersiap-siap memakai jilbab menghentikan aktifitasnya ketika suara salam terdengar.

"Walaikumsalam," Rena membuka pintu, ternyata ayah Rena yang datang. " Loh, Mbah kakung, tumbenan pagi-pagi? Zam.. Hizam ada kakung nih," Rena memanggil anaknya.

"Iya, Kakung lagi sepi orderan, jadi tidak berangkat. Nih nganterin bubur kesukaan Hizam dari Mbah Putri," Ayah Rena menyerahkan bungkusan rantang kepada Hizam yang baru keluar dari kamar sambil menggendong tas merah gambar kartun super hero favoritnya.

Senyum Hizam mengembang mana kala melihat mbah kakungnya.

"Kakung!" Berlari mendekat "Apa? " Hizam menerima rantang kecil itu dengan bimbingan Mbah Kakungnya, baru kemudian diletakan di atas meja.

"Bubur buat Hizam dari Mbah Putri." Ayah Rena menjawab sambil tersenyum.

"Kakung tau, Bapa tida puyang!" Hizam dengan polosnya bercerita.

Sementara Rena masuk kedalam kamar untuk melanjutkan memakai kerudung, sengaja menghindar dari pertanyaan ayahnya.

"Sejak kapan bapakmu tidak pulang, hem?" Bertanya sambil menggendong Hizam untuk duduk di pangkuannya.

"Mbah kakung, mau ngeteh?" Rena yang sudah siap dengan baju kebesarannya keluar dari kamar.

"Gak usah deh, kamu juga sudah mau berangkat 'kan? "

"Iya, " eem Hizam mau ke rumah uyut atau mau sama kakung? " Tanya Rena.

"Sama tatung aja di lumah!" Hizam semakin mengeratkan pelukan ke kakungnya.

"Ya sudah, Ibu berangkat dulu ya, nitip Hizam ya, Kakung, dan Hizam harus nurut sama kakung ya!" Rena mencium Hizam, kemudian menyalami Bapaknya.

"Apa bener Banu gak pulang, Re? ".

" Iya Pak, dia sedang diluar kota, Nanti sore juga pulang. Ya sudah ya ,Rena berangkat dulu, Asalamualaikum! Oya, bilangin sama Ibu ya, Pak, terimakasih buburnya!" Rena berlalu. Berlama-lama dengan Ayahnya hanya akan menambah panjang pertanyaan ke-kepoan sang Ayah.

Rena menaiki minionnya dan mengendarai dengan santai. Hizam paling suka bila main bersama Kakungnya, walaupun bisa dihitung dengan jari intensitas waktu pertemuan mereka. Karena kesibukan dirinya dan ayahnya yang membuat mereka jarang bertemu.

Sampai di sekolah sudah ada beberapa murid, Rena menyapa mereka satu persatu dan menyalaminya dengan senyum merekah.

Itulah istimewa guru KB. Seburuk apapun hatinya, dia tidak akan pernah menampakkannya di depan murid-muridnya. Anak-anak tidak tahu dan tidak mau tahu, apakah Bu gurunya dalam keadaan senang, susah, sedih maupun bahagia. Yang mereka tau dan mau tahu, ya Bu gurunya bahagia selalu, untuk menemani mereka bermain.

Kebayang tidak sih kalo seorang guru membawa masalahnya ke sekolah? sedih terus, galau terus, murung terus. Murid akan takut dan juga bingung 'kan pastinya atas apa yang sedang terjadi dengan gurunya. Maka dari itu profesional kerja harus di junjung tinggi.

Langkahnya terhenti manakala melihat seorang pria yang amat sangat dia benci sedang menggandeng tangan bocah kecil, yang rambutnya diikat dua mirip seperti telinga kelinci yang bergoyang-goyang. Ya, pria itu adalah Sholeh. Sholeh menggandeng anak perempuan.

Rena gamang, antara ingin melangkah maju atau kembali kebelakang.

sial! ngapain lagi tuh cecunguk datang.

Ketika Rena sedang berperang dengan batinnya, dewi penyelamatnya datang. Siapa lagi kalau bukan Bu Genti.

Rena hanya terdiam, menengok kebelakang melihat Bu Genti yang sedang menyapa dan menyalami anak-anak.

"Dia cucu mantan pak lurah, keponakan mas Sholeh, gak usah panik gitu Re, tambah kusut mukamu!" Bu Genti berbisik sambil tersenyum kepada Rena.

Seakan Bu Genti tau perasaan Rena yang sedang kacau balau, beliau menjelaskan apa yang sedang Rena pikirkan sedari tadi.

Tanpa banyak tanya lagi, Rena berjalan. Langsung masuk ke kelas tanpa menyapa Sholeh dan gadis kecilnya itu. Jangankan menyapa, menoleh pun sungkan!

Rena meletakan tasnya di meja. Kemudian mengumpulkan anak-anak untuk membaca Iqro. Satu persatu anak-anak mendekat, bergiliran dan sabar untuk mengantri.

Setelah semua anak selesai membaca Iqro, Bu Genti datang dengan membawa gadis yang tadi di antar oleh Sholeh.

"Nah ini Bu guru Rena, Mba Damai, salim dulu sama Bu Rena!" Sementara Damai mengulurkan tangannya, Rena mencoba tersenyum walaupun kaku.

" Asyalamualaikum, Bu Lena, aku Damai.." Mengulurkan tangan kepada Rena.

Rena tersenyum "Walaikumsalam, Mba Damai" Membalas uluran tangannya dan menyuruhnya untuk duduk. "Mau mengaji bersama Bu Rena? " tawarnya.

Damai mengangguk, sementara Bu Genti meninggalkan mereka berdua.

Rena membimbing Damai untuk membaca ta'awudz dan basmalah sebelum kemudian membaca iqro.

Selesai membaca iqro, Rena memberikannya cap berbentuk bintang, Damai sangat gembira mendapatkannya.

"Benal ya kata Oom kalo, Bu gulu Lena bayik dan syantik!" dengan mata berbinar Damai melihat bintang yang telah dicap di tangan kanannya dan memamerkan kepada Rena.

"Memang Om Damai siapa namanya?" Rena pura-pura tidak tahu.

"Oom Syoleh, oom Dame yang paling tampan Bu gulu. Nanti Dame kenalin syama oom ya ,Bu gulu." Sembari mengkerlingkan sebelah matanya Damai beranjak pergi, berlari bergabung dengan teman barunya.

Setelah semua mengaji, Rena keluar kelas, mengumpulkan anak-anak dan mengajak mereka untuk senam bersama. Rena membimbing mereka untuk berbaris berbanjar, merentantangkan tangan untuk memberikan jarak agar tidak bertabrakan saat bergerak nantinya.

Setelah dirasa sudah siap. Rana menyalakan tape recorder dan melakukan gerakan senam yang diikuti oleh semua anak didiknya. Mereka sangat antusias, bersemangat mengikuti gerakan gurunya.

Musik yang ceria melupakan sejenak kerisauan hati, saat ini mungkin raganya ada di sekolah, tapi hati dan pikirannya berada di tempat lain. Menebar keceriaan ditengah gundah gulana hati, tak ada yang salah bukan. Salahkan saja hatimu yang tak luas menerima keadaan. Syemangat bu Ren!!.

Sudah satu jam Rena duduk di depan laptop. Mencoba masuk ke verval PTK untuk melihat respon pengajuan berkas NUPTK nya sudah sampai dimana. Tapi karena server pusat sedang sibuk mungkin, dia hanya bisa berpuas diri dengan keterangan server eror.

Sementara Bu Genti, yang sejak tadi menghilang entah kemana, sekarang sudah berada di depan Rena dengan membawa tas kresek putih dan dua buah mangkuk di tangan kirinya.

"Ngebakso dulu, Re, gak cape mantengin laptop mulu!" Bu Genti membuka plastik dan memindahkan bakso kedalam mangkuk.

Bau bakso menyeruak memenuhi rongga hidung. Semakin membuat perut bergejolak meminta diisi.

"Baik banget, Bu, tau aja aku belum makan dari kemarin!" Rena mengikuti bu Genti, mengambil se plastik bakso dan menuangkannya ke dalam mangkuk.

"Galau juga butuh enegi tau, Re!" Bu Genti tertawa. "Gimana jadinya semalam? dapat jatah berapa ronde Banu? " Bu Rena menggoda.

"Gak pulang, Bu." Rena mengaduk-aduk bakso yang sudah dihadapannya. Sepertinya sudah tidak ada lagi minat pada bakso di depannya.

"Eh, seriusan Ren? Sampai begitu? " Bu Genti menghentikan bakso yang hendak masuk kedalam mulut, terlalu kaget dengan perkataan Rena. "Tapi kamu tau 'kan dia dimana?" Melanjutkan perkataan dan makannya.

Rena hanya menggelengkan kepala, rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya, perlahan tapi pasti air mata yang sudah dia simpan sedari tadi meluncur deras begitu saja. Padahal belum sesuap pun bakso gratisan dari Bu Genti memanjakan lidahnya.

Malang sekali nasibmu bakso. Tak tersentuh sama empunya, belum.. belum tersentuh😅😅

********

Jangan dibiasakan nangis kalau di depan makanan ya gaes, rasanya kasihan aja. Dikiranya kita gak bersyukur atas apa yang udah ada di depan mata!!

Dan nangis juga butuh energi kan😂

Abisin dulu makanannya, baru boleh nangiss🤣.

Jangan lupa like dan vote ya..

Terimakasih🙏💕

1
Arita Med HATTA
debt collector kali thor
Arita Med HATTA
awal yg apik.....mulai baca ya thor
Evi Ambon
ya Allah cerita sebagus gini .......
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
Aku mikirnya KB itu singakatan dari Keluarga Berencana,ternyata Kelompok Bermain🤭✌
Wiwit Widiawati: Terima kasih, sudah berkenan singgah di cerita pesona guru KB🤗 selamat membaca, Kak.
Semoga tulisan saya bermanfaat 🤗
total 1 replies
fa_zhra
next
fa_zhra
salam dr pembaca sejati
fa_zhra
semangat kak
fa_zhra
assalamualaikum,,,saya dari purwokerto.salam kenal author.saran nih,kenapa pake inisial ga langsung sebutin aja purwokerto biar sekalian promosi kota kita tercinta.🙏
Istinah Syang Keluarga
alhamdulillah.
Istinah Syang Keluarga
aku 😢😭😭😭 baca ungkapan sholeh pada Banu
Istinah Syang Keluarga
baru bisa baca lagi. zifakianara yg lucu, dan menggemaskan.
Sagitarian
salken bu Rena bu Genti
😍😘🤗
Wiwit Widiawati: salam kenal kak Jen❤️🤗🥰
total 1 replies
sryn387
berasa lagi baca kisah nyata
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
Wiwit Widiawati: Terimakasih kak Pelangi🤗
Bersedia membaca pesona guru KB 😘
50% halu 50% riil.
kalau bonchapnya riil ya
hahahahah
Big love untuk panjenengan😘🤗🤗
total 1 replies
sryn387
owhhh,,,,pantesan hizam sering dititipin di uyutnya,ternyata uti sambung to
Wiwit Widiawati: iya hizam gak punya nenek dari ibu nya🤧🤧
total 1 replies
Eny Imam
👍👍👍👍💝💝💝💝
Yayuk Bunda Idza
bonchapnya kerenn..
Wiwit Widiawati: Terimakasih kak yayuk🤗🤗
sehat-sehat yaa
total 1 replies
Indah Miftakul J
Mb wiwit belum bisa move on mantai kmren y sampe mendoannya juga ikut nongol wkwkkwkwk
Wiwit Widiawati: Itu juga pantainya asli looohh😅😅
sayang caffenya pencahayaannya saat d foto f bagus, apa yang ambil foto ya g pinter ya😅😅😅
total 2 replies
Yayuk Bunda Idza
rasanya tak ingin berakhur, serasa mbaca kisah sendiri, meski agak beda " alhamdulillah suami masih sama., semoga bwrjodoh higga hingga jannah-Nya dan menua bersama"
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁

terima kasih thor....sukses selalu...
Wiwit Widiawati: aamiin, doa terbaik mbak yayuk Dan keluarga😘 salam untuk suami Dan anak-anak yaa🤗🤗
total 1 replies
Eny Imam
makasih thor
Wiwit Widiawati: Terimakasih sudah membersamai Pesona Guru KB hingga akhir🤗🤗
total 2 replies
fans songong tapi sholihah
yaah udah tamat aja bunda,,
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!