Ayla Beyza. gadis kelahiran jerman dan sekarang memilih menetap di sebuah negara yang mayoritasnya islam sunni. setelah menyelesaikan studynya. Ayla menyambung hidupnya di turki dengan bekerja di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi.
Ayla berumur 27 tahun, single, cantik, kecantikannya tidak perlu melihat dua kali untuk menilai. di gilai banyak pria bahkan beberapa aktor dan pengusaha muda bisa di buat kecewa oleh si gadis cantik tersebut. bulu matanya yang panjang dan lentik, semakin memperindah parasnya apalagi bibirnya yang kecil membuat para pria ingin melumatnya. tapi sayang semua harus kecewa karna sang empunya hati tersebut hanya menyukai satu laki laki dan cintanya berada di tempat yang salah.
"mungkin benar kata orang'perasaan cinta datang tidak di undang' namun di sini hatiku.... ". Ayla.
Deniz Selim. Seorang dokter spesialis bedah mulut dan juga menjabat sebagai seorang di rektur di sebuah rumah sakit besar milik keluarganya. Deniz pria berdarah turki asli dengan ketampanan yang tidak bisa di ragukan lagi di sertai jenius dan cerdas, sudah berstatus sebagai seorang suami. Deniz sudah memiliki seorang istri yang sangat di cintainya dan pernikahan mereka selalu bahagia dan indah meski mereka belum di karunia seorang anak.
Bagaimana pertemuan dan jalinan cinta keduanya? di saat mereka memiliki kehidupan masing masing. next...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dandelion_me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Ayla merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa di belakangnya yang berada di dalam kamarnya setelah tadi ia baru saja selesai mandi setelah shalat maghrib.
Mata ayla mengerjap sembari menatap ke atap. ia berpikir haruskah ia pergi ke apartemennya aliye atau ia suruh aliye kemari ,suntuk banget sendiri begini. Ayla membalikkan tubuhnya bosan menatap ke walk in closetnya. menatap ke sana membuat dirinya geram dengan seseorang. ughhh..
'rasanya ingin tonjok sekali saja'. batin ayla geram.
Ayla kembali ke posisi semula menatap ke atap kamarnya.
Ting tong...ting tong...
Ayla mengernyit bingung saat suara bel pintunya berbunyi dengan matanya menatap ke pintu kamar.
"aliye...? ". ayla bangkit berdiri dan melangkah ke pintu kamar lalu keluar dari sana.
Ting tong...Ting tong..
Ckleck...
Ayla membuka pintu dan gerakannya sontak berhenti saat matanya melihat siapa yang daritadi menekan bel pintunya.
"kamu? ngapain lagi? bukankah malam itu sudah jelas aku katakan? jangan pernah kemari lagi! dan aku yakin kakekmu juga sudah setuju dan sudah mengatakannya padamu"
Deniz menggeram kesal. 'dia pikir aku mau banget kemari?! '
"dan kamu pikir aku di sini sekarang karna siapa?! ". deniz menggertakkan giginya.
Ayla mengerjap. 'mungkinkah pak khaled? '.
"kakekmu...?". ayla memiringkan kepalanya bertanya ke deniz. sedangkan dirinya masih berdiri di pintu dengan memegang kenop pintu menghalangi deniz agar tidak bisa masuk.
"cepat pakai bajumu dan aku tunggu di sini, jangan lama, waktumu 5 menit untuk berganti"
Kedua alis ayla sontak menyatu.
"excuse me...? kenapa aku harus ganti baju dan untuk apa? "
Deniz memejamkan matanya menahan kekesalan yang mau meledak di dalam dirinya.
Datang kesini saja sudah membuatnya kesal di tambah sekarang harus meladeninya bicara.
"pakai bajumu dan jangan banyak bertanya". geram deniz tajam sembari melototi ayla.
Ayla tersenyum sinis.
"jika kamu tidak menjawab maka lebih baik jangan menekan bel pintuku lagi jika tidak mau aku laporin ke sekurity di depan, anda mengganggu kenyamanan orang". Ayla mau menutup pintu namun dengan cepat deniz menghalangi dengan sepatu kulitnya yang berwarna hitam. sepatu kerjanya. mata ayla sontak menatap ke pakaian deniz.
'dia...baru pulang dari rumah sakit...?'.
Ayla mengerjap dan kembali membuka pintu.
"kakek menyuruhku membawamu bersamaku kerumah karna ada jamuan makan malam dan kamu di haruskan datang, puas sekarang...?".
Ayla mengerjap. ia menatap ke lantai.
'jamuan makan? haruskah aku pergi...?'. ingatan ayla teringat akan nenek deniz yang sangat menyayanginya. jika ia menolak dan ia yakin makan malam ini di buat khusus untuk...
Ayla kembali melihat deniz.
"baiklah, tunggu aku ganti pakaian".
Ckleck...
Ayla menutup pintu meninggalkan deniz menunggunya di luar.
Setelah berganti pakaian, hanya perlu beberapa menit ayla melangkah ke pintu.
Ckleck...
Ayla membuka pintu dan keluar dari apartemennya. deniz yang tadi membelakangi pintu sontak berbalik melihat ayla yang keluar.
Matanya terpaku melihat pakaian yang di gunakan ayla malam ini.
Ayla hanya memakai baju mini dress maron karna menurutnya ini sudah malam dan di padukan dengan ankle heel bootsnya yang berwarna hitam sedangkan tas samping bermerek chanel mini coco bag. rambut ia biarkan tergerai begitu saja semakin membuatnya menawan.
"ayo? ". ajak ayla menyentak lamunan deniz.
Deniz mengerjap dan cepat cepat melangkah ke depan. Dia menggeleng kepalanya.
Deniz melihat baju ayla lalu jatuh ke rambut ayla.
Deniz menarik dalam nafasnya dan bersiap keluar dari lift.
Ayla melangkah mengikuti langkah deniz menuju mobil deniz.
Langkah ayla terhenti saat melihat deniz yang langsung masuk ke dalam mobik tanpa membukakan pintu untuknya.
'apa pria ini tidak tahu caranya basa basi atau kesopanan sedikit...?'.
Tin...tin..
Suara klakson mobil yang tidak lain adalah perbuatan deniz yang menyuruh ayla cepat cepat masuk ke dalam mobilnya.
Ayla menyentak kakinya geram dan kembali melangkah. sampai di samping pintu mobil deniz, ia memutuskan untuk duduk di kursi depan kursi dekat dengan deniz.
'biar dia mati karna geram'.
Brakhhh...
Ayla membanting pintu mobil deniz.
Deniz yang malas meladeni ayla memilih untuk diam dan melajukan mobilnya. karna sekali membuka pembicaraan maka akan panjang dan berakhir dengan dirinya yang naik amarah.
Mobil deniz keluar dari parkiran apartemen tempat tinggal ayla dan tidak lama setelahnya ada beberapa mobil hitam di belakang deniz mengikuti mobilnya.
Deniz yang merasa diikuti saat melihat dari kaca di atas kepalanya merasa kebingungan sendiri. karna sejauh ini ia tidak pernah ada musuh dalam hidupnya apalagi untuk membunuhnya.
Ayla yang merasa sangat senang dan bahagia karna bisa duduk dekat dengan kekasih hatinya di tambah di dalam satu mobil dan semakin tambah senang hati ayla saat merasakan mobil siapa yang ia naiki. mobil deniz, mobil keluaran terbaru tahun ini. ia tahu betul mobil ini meski ia tidak suka sama sekali namun saat naik dengan deniz...ia suka semua dan entah kenapa mobil ini jadi sangat indah.
Ayla tersenyum senyum sendiri. rasanya ia ingin keluar dan loncat loncat di sana.
Raut wajah ayla sontak saja berubah menjadi dingin saat sudut matanya melihat ke kaca spion mobil deniz.
Ayla memutar kepalanya menatap deniz. raut wajahnya terlihat cemas dan panik. mata ayla kembali melihat ke spion mobil deniz lalu ia beralih melihat ke belakang dengan memutar tubuhnya.
Ayla menggertakkan giginya. 'sial, kenapa harus sekarang? '
Deniz yang menyadari ayla juga sudah tahu kalau mereka sedang di ikuti memilih diam.
Ayla memperbaiki duduknya.
"sepertinya kita di ikuti, aku tidak tahu siapa mereka".
Ayla menarik nafas lalu beralih menatap deniz sembari menyunggingkan senyum tipis.
"Mereka mengincar ku. Hentikan mobilnya deniz?"
Deniz sontak melihat ke arah ayla lalu ke kaca spionnya yang terlihat beberapa mobil hitam mengejar mereka.
Setelah berpikir sejenak. Deniz bersuara menyindir Ayla.
"Ah... Apa mereka pelanggan mu?".
Ayla tersentak dengan ucapan deniz namun ia tidak marah melainkan menyungging senyum geli.
"Kamu benar. Mereka para pelangganku yang tidak terima kalau aku tidak melayani mereka lagi so... Sekarang pinggirkan mobil di sisi jalan itu. Aku akan mengurus mereka dulu." ucap ayla ke deniz sembari menunjuk jalan yang cocok untuk deniz berhenti.
Ayla memang berkata begitu namun kenyataannya ia tidak mau membawa deniz kedalam permasalahan hidupnya. Apalagi ketika mereka melihat deniz maka otomatis mereka akan menggunakan deniz untuk mengancamnya. itu tidak boleh terjadi.
Deniz tidak mengubris perkataan ayla. Dia semakin memajukan mobilnya dengan sangat kencang membuat ke lima mobil hitam di belakang deniz mengejar mereka dengan cepat. Melaju di jalan yang sama sekali tidak ada kendaraan tersebut selain mobil mereka. Ke lima mobil itu membanting setir menghalangi jalan deniz sehingga membuat deniz gelagapan.
"Deniz awasss...". teriak ayla saat melihat dua mobil sudah terparkir di hadapan mereka.
Deniz dengan cepat mengerem mendadak di sertai gertakkan giginya.
Ayla menghela nafas lega begitu melihat kalau mereka masih baik baik saja di tambah mobil deniz tidak kenapa napa.
Deniz menatap kedepan kebeberapa pria yang sudah turun dari mobil mereka dan semuanya memakai setelan hitam. khas seperti anak buah para mafia.
"Apa mereka anak buah para mafia...? kamu berhubungan dengan mafia...?" deniz melotot marah ke arah ayla.
Dia bukan marah dengan ayla karna berhubungan dengan para mafia di masa lalunya tapi dia takut kalau dirinya dan keluarganya termasuk ceyda yang akan terseret ke dalamnya.
Ayla yang dari tadi mengatur kata kata yang cocok untuk deniz agar deniz pergi dari sini atau tidak membuka pintu mobil di saat mereka datang ke arahnya. namun ucapan deniz membuat ide berlian muncul mendadak di kepala kecilnya.
Ayla mendengus sembari tersenyum.
"iya itu mereka, mungkin bos mereka tidak terima! sudahlah, yang penting sekarang deniz...? pergilah, katakan pada pak khaled kakekmu aku minta maaf tidak bisa hadir di undangannya kali ini, mungkin lain kali...?". ayla masih bersikap tenang dengan bercanda. sedangkan hatinya tidak ada yang tahu karna sesekali ayla akan menarik nafas.
Deniz menyatukan alisnya menatap ayla.
"jangan bilang kamu mau keluar dan menangani mereka sendiri...?".
Ayla kembali melihat deniz sebentar sebelum ia kembali melihat ke depan lalu beralih melihat ke pakaiannya dan terakhir jatuh ke sepatunya.
"aku rasa sudah lama mereka tidak merasakan rasa sepatuku dan sialnya kenapa tadi aku tidak memakai sepatu high heels saja? ". ayla menggeram kesal dia tidak peduli lagi dengan keberadaan deniz di sampingnya. fokusnya sekarang adalah ke depan.
Ayla bersiap keluar namun sebelum keluar ia perlu mengurus sesuatu dulu.
"deniz dengar? jika kamu masih tetap di sini dan jika mereka ke sini jangan pernah bukakan pintu mobilnya tetap kunci dari dalam mengerti...?"
Deniz mengernyit melihat ayla lalu kembali melihat ke depan. ia menghela nafas lelah.
"jangan berniat untuk membantuku, pulanglah semua menunggumu di rumah terumata istrimu, kamu tidak maukan...? terjadi apa apa denganmu? dan membiarkan ceyda menangis, mereka akan bermain pisau atau pistol dan dengan kemampuan mu saat melawanku aku yakin tubuhmu akan di cincang habis oleh mereka, dengarkan aku dan pergilah"
Deniz menggeram marah dengan ucapan ayla. ia tadi berniat mau membantu sedikit karna tidak mungkin ia membiarkan seorang wanita melawan lebih dari sepuluh orang pria di luar sana.
"memang siapa yang mau menunggumu, keluarlah dan tangani urusanmu dan ingat jangan bawa bawa keluargaku". ancam deniz tajam.
Ayla tersenyum tipis. gerakan ayla terhenti saat melihat siapa yang turun dari mobil di depannya.
"aku tahu, satu lagi deniz! apapun yang terjadi kamu tidak boleh turun dari mobil! tetap majukan mobilmu...takutnya...ketika mereka melihat wajahmu maka mereka akan mengincarmu tapi itu lebih baik dari pada mereka mengincar ceyda, kamu tidak mau kan...?!". ayla menakuti deniz dan benar saja. ucapan ayla termakan oleh deniz.
Ayla tersenyum kemenangan melihat reaksi deniz. itu artinya pria ini takut, sedikit menyentuh kelemahannya maka dia akan menurut. dan kelemahan deniz adalah ceyda.
Ckleck...
Ayla membuka pintu namun tidak keluar dulu. ia menyempatkan dirinya melihat deniz sebentar.
"so...pergilah, ingat ceyda". ayla keluar dari mobil deniz dan menutup pintunya.
Deniz diam sejenak sebelum menghidupkan kembali mobilnya.
Dia melihat Ayla yang melangkah secara perlahan namun anggun serta ada kesombongan dan juga ke angkuhan di langkah kakinya. Siapapun yang melihat cara ayla melangkah. Saat Ayla mendekati pria yang berdiri sendiri di dekat mobilnya dengan di kawal beberapa penjaga di sampingnya.
Pria itu menggunakan kaca mata hitam dengan satu tablet di tangannya dan terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang melalui handsetnya.
Deniz masih melihat dari dalam mobil.
Ayla yang sedang melangkah, tersenyum miring.
"Malam zack! Lama tidak melihatmu. Aku tidak menyangka malam ini terjadi juga." Ayla berdiri dengan jarak ia dan zack tersebut 2 meter.
Deniz memilih untuk tidak pergi dulu.
"kami tidak mau melukaimu nona? Jadi_ ikutilah kami tanpa melawan."
Ayla mendengus sinis.
"Apa yang membuatmu berpikir _ Aku kan sepatuh itu? Dan_ Sampaikan pada Tuan mu..." Ayla menjeda ucapan nya.
Dia melangkah mendekat ke Zack dan berhenti tepat di samping Zack dan berucap.
"Berhenti mengganggu hidupku."
Pria yang bernama zack itu tersenyum tipis. Dia menutup tab di tangannya lalu menyerahkan ke salah satu anak buahnya di sana.
"Maaf sekali nona! Jika anda melawan. Maka terpaksa kami menggunakan cara keras untuk membawa anda kembali."
"apa Mr. Okan tahu ini...?".
"dia mengkhianati tuan lebih dulu"
Kening ayla berkerut. 'benarkah? jadi...'.
"tidak ada pengkhianatan katakan padanya, semua karna permintaanku dan Mr. okan terpaksa menyetujui, aku yakin dia sudah tahu perjanjiannya".
"tuan menolak karna itu kami di sini sekarang".
Ayla menggertakkan giginya.
"kalau begitu jangan berharap perjanjiannya akan terus berlanjut dan aku akan terus melawan"
"itu hak anda,... lumpuhkan dia". perintah zack ke beberapa anak buahnya.
Ayla sontak memundurkan langkahnya untuk mengambil ancang ancang.
"Reyyan Ferdinand kau benar benar...". geram ayla sebelum menyerang ke enam pria yang mengepungnya.